Sejarah dan Mitos : Inkuisisi Abad Pertengahan

“Melalui kepercayaan awal abad pertengahan, telah diajarkan melalui penggunaan kredo-kredo sederhana, dan perilaku telah diatur oleh serangkaian aturan-aturan penitensial dan oleh kekayaan liturgy yang dilakukan oleh spesialis yang terlatih. Aturan-aturan ini telah mencapai pertobatan sebagian besar eropa utara kepada kekristenan sampai tahun 1000. Mereka telah menggambarkan dunia sebagai tempat pencobaan dan prospek keselamatan didalamnya sebagai hal yang tidak cukup.

Namun sepanjang abad kesebelas semangat reformasi religius berargumen bahwa prospek keselamatan akan meningkat dengan besar jika dunia direformasi. Dengan reformasi kepausan pada akhir abad kesebelas Gereja Latin mulau untuk memikirkan program besar menyucikan dunia.“(10). Reformasi kepausan melibatkan kebebasan dari dominasi oleh aristokrat Italia yang terjadi di abad kesepuluh (11). Dipimpin oleh kepausan yang lebih kuat, “program besar menyucikan dunia” adalah kombinasi keperluan Gereja untuk mereformasi kehidupan institusionalnya, membebaskan dirinya dari kontrol oleh raja-raja (lords) sekuler, dan untuk membangun masyarakat Kristen. Hal ini membutuhkan pemahaman yang lebih jelas dari iman yang esensial diantara orang beriman dan sebuah tuntutan terus-menerus untuk perilaku Kristen yang tepat. Juga ada rasa takut yang tumbuh bahwa” Mereka yang berbeda pendapat dari kepercayaan atau tingkah laku dalam cara yang secara eksplisit didefinisikan sebagai bukan Kristen muncul bukan sebagai jiwa berdosa di dunia yang dipenuhi godaan, tapi sebagai penghancur arah dunia baru…”(12)

 

Penguasa Kristen dan orang-orang awam berbagi perspektif yang sama. “Inkuisisi” sebagai proses formal gereja tidak dikodifikasi sampai abad 13. Tapi dalam dua abad sebelumnya, ada suatu gerakan kuat untuk menujukkan ketidaktaatan religius dengan kuat. Menjadi “heretik” berarti menghadapi keadilan masa dan sidang tertentu oleh pengadilan sekuler.

 

Dua kesesatan abad 12 dan 13 yang melahirkan inkuisisi abad pertengahan adalah Cathars (atau albigensians) dan Waldensians. Cathars secara esensial memegang [pandangan] bahwa “allah jahat” perjanjian lama menciptakan dunia material dan melihat Gereja sebagai instrument dunia material. Waldensian mengotbahkan menentang kekayaan, klerikalisme dan menolak hakekat sakramental Gereja. Kedua gerakan ini pada tingkat tertentu, dan menjadi agak popular di Prancis selatan, Italia utara, dan bagian-bagian Jerman. (13) (Reformer protestan pada abad 16 sering menunjuk pada gerakan ini sebagai bagian dari tuduhan “diam”: Gereja yang ada sejak zaman apostolik, seperti yang disarankan Kaifetz. Kenyataannya, Cathars dan Waldensians memiliki persepsi non-kristen “dualistik” Allah dengan nyata. Sumber dari persepsi tersebut adalah filsafat pagan secara esensial. Pandangan mereka unik pada waktu itu dan akan menakutkan reformer protestan abad 16.

 

Sampai akhir abad 12, kesesatan dipertimbangkan sebagai tanggung jawab uskup lokal. Diasumsikan bahwa penguasa sekuler (juga massa) akan mengambil tindakan. Tanggapan Gereja tetap terutama untuk membujuk, dan jika harus, mengekskomunikasi heretik. Namun sebuah evolusi terjadi. “Konsili Lateran Ketiga 1179menghasilkan beberapa kanon yang mengutuk – terutama untuk mengekskomunikasi dan penyangkalan dari penguburan Kristen – dan beberapa pengutukan kesesatan yang tersebar dengan luas, dengan deskripsi spesifik kepercayaan dan praktek heretik, juga penghormatan sebanding kepada prajurit salib bagi mereka yang berjuang menentang heretik dan pembelanya. Pada 1184 Paus Lucius III mengeluarkan decretal Ad abolendam…disebut “piagam berdirinya inkuisisi”(14). Dekrit Paus Lucius memanggil mereka yang heretik yang ditemukan oleh gereja lokal untuk diserahkan kepada pengadilan sekuler. Pada 1199, Paus Innocent III (1198-1216) mengidentifikasi kesesatan sebagai penghianatan. Sebagai bagian dari gerakan reformasi aneh yang kuat, termasuk dukungan devosi-devosi popular, penekanan yang menigkat mengenai katekese, dan pemusnahan pelanggaran klerikal, Paus Innocent II melihat kesesatan sebagai penghancur jiwa-jiwa. Ketika Albigensians di Perancis Selatan membunuh perwakilan kepausan tahun 1208, Innocent mengajukan “perang salib” menentang sekte heresy. Kekerasan dari “Perang Salib Albigensian” selanjutnya tidak sesuai dengan reformasi dan rencana Innocent, yang menekankan edukasi, pengakuan dosa, dan reformasi klerik dan khotbah untuk menyerang balik kesesatan (15). Namun, karena kontrol massa dan penguasa picik yang sedikit peduli terhadap reformasi intervensionist Innocent, tentara dari Perancis utara menyapu bersih benteng-benteng sesat selama 20 tahun. Kesesatan Albigensian dengan efektif menghilang.

 

Fanatisme massa lokal yang tidak terkendali dari pemburu kesesatan, keacuhan dari pejabat gereja tertentu, kekerasan pengadilan sekuler dan penumpahan darah dari perang salib Albigensian menuntun pada upaya menentukan oleh kepausan untuk menggunakan kendali yang lebih besar terhadap determinasi dan penyiksaan kesesatan. Hal ini mengizinkan suatu pengukuran persuasi dan konversi, daripada penyiksaan sederhana oleh pengadilan sekuler yang menekankan hukuman daripada keselamatan. Awal trend yang dimulai pada awal abad,papal legates dari kuria, atau hakim lokal yang ditunjuk oleh paus mulai menggunakan pengadilan inkuisisi. Kepausan juga mulai menggunakan Mendicant Religious Orders, khususnya Dominikan (didirikan pada 1220), dan kemudian Fransiskan (didirikan pada 1209) untuk memerangi kesesatan dengan berfungsi sebagai pengaku, pengkhotbah, dan hakim(16). Tahun 1231, Paus Gregory IX (1227-1241) secara khusus memberi kuasa kepada Dominikan sebagai hakim kepausan untuk kesesatan. (17)

 

Selama 20 tahun ke depan ada pertumbuhan status legislasi kanonik yang sangat spesifik untuk menghadapi kesesatan. Meskipun tidak berfungsi sebagai pengadilan sekuler eropa pada waktu itu, hukuman untuk kesesatan – termasuk penyitaan property dan formalitas dari penyerahan heretik keada pengadilan sekuler untuk hukuman – menjadi terkodifikasi dalam pengadilan gerejawi (18). Hal ini, kemudian, adalah pendirian resmi dari inkuisisi abad pertengahan. [Hukuman terhadap kesesatan] terdiri dari campuran pengadilan episkopal, juga hakim kepausan yang ditunjuk dan perwakilan resmi paus. Hal ini memiliki ikatan yang dekat terhadap penguasa sekuler yang, keadaan sebenarnya, menguatkan penghakiman pengadilan gerejawi karena kesesatan telah menjadi sama dengan penghianatan. Tidak ada kantor pusat di inkuisisi abad pertengahan, tidak ada otoritas yang melingkupi. Uskup-uskup lokal, atau anggota-anggota dari Mendicant Orders yang ditugaskan selama periode tertentu pada area tertentu, mendirikan pengadilan gerejawi untuk investigasi kesesatan. Mereka menggunakan prosedur umum terhadap prosedur legal eropa kontemporer. Pada akhir abad 14 dan kebanyakan pada abad 15 , karya pengadilan gerejawi “terjadi berkala (intermittent) dan kadang-kadang tidak ada.” (19).

 

Pengadilan inkuisisi abad pertengahan berfungsi seperti rangkaian pengadilan masa lalu. Hukum dan buku manual dikembangkan yang merinci bagaimana inskuisisi berfungsi. Pengadilan inkuisisi mulai dengan kedatangan di area inkuisitor, mungkin anggota ordo Dominikan. Mereka akan berkhotbah kepada hirarki dan umat awam mengenai area bahaya-bahaya kesesatan. Sebuah “periode rahmat” akan diperluas untuk mengizinkan pengakuan dosa dari praktek-praktek ketidaktaatan tanpa sidang pengadilan selanjutnya. Sidang pengadilan diadakan bagi mereka yang menolak untuk mengaku dosa dibawah periode rahmat. Bagi mereka yang kembali ke Gereja, pengampunan diberikan dan suatu bentuk tobat diberlakukan. Mereka yang tidak menolak kesesatan mereka diekskomunikasi dan diserahkan kepada otoritas sekuler.

 

Untuk kebanyakan bagian, pengadilan-pengadilan ini berfungsi mirip dengan bagian pengadilan sekuler pada waktu itu meskipun secara umum, hukuman dan [tindakan] penebusan dosa kurang kasar. Investigasi-investigasi diadakan secara rahasia dan nama-nama saksi tidak diberikan kepada orang tertuduh, secara umum karena rasa takut akan pembalasan. (Nama-nama saksi diketahui oleh inkuisitor dan disimpan dalam catatan tertulis. Para hamik diberikan instruksi yang detail dalam buku pedoman mengenai bagaimana mendeteksi saksi palsu. Mereka yang tertuduh juga diizinkan untuk mencatat musuh-musuh mereka dan saksi-saksi yang muncul pada daftar tersebut sering tidak diperhatikan). Kesimpulannya, dekrit-dekrit sidang dijadikan umum.

 

Sejumlah pertanyaan muncul berkaitan dengan inkuisisi abad pertengahan tersebut. Yang pertama dan terpenting mengenai mitos inkuisisi, berkaitan dengan penggunaan penyiksaan untuk memperoleh pengakuan. Bukti diperlukan untuk menghukum dan dalam ketiadaan bukti, pengakuan diperlukan. Seperti yang dijelaskan panjang lebar oleh Peters :

 

“Tradisi Roma dan hukum kriminal abad pertengahan telah menjadikan penyiksaan sebagai sebuah elemen dalam kesaksian para saksi lain yang meragukan, dan sebuah prosedur dapat dipicu oleh bukti-bukti parsial yang cukup untuk mengindikasikan bahwa bukti yang lengkap – sebuah pengakuan – mungkin, dan tidak ada bukti-bukti lengkap lainnya yang tersedia. Prosedur penyiksaan sendiri dijaga oleh sejumlah protokol dan perlindungan untuk pembela, dan juri dengan ketat membatasi tempatnya dalam proses yang tepat. Pengakuan yang dibuat setelah atau dibawah penyiksaan harus diulangi dengan bebas pada hari berikutnya tanpa penyiksaan atau pengakuan tersebut dianggap tidak sah. Secara teksnis, karenanya, penyiksaan dengan tegas adalah sarana untuk memperoleh hanya bukti lengkap yang tersedia…tugas penyiksaan bukan hanya – atau bahkan terutama – untuk menghukum para heretik yang keras kepala, namun untuk menyelamatkan jiwanya jika mungkin, dan untuk memelihara kesatuan Gereja. Dalam hal ini kepentingan mereka sering berlawanan dengan orang-orang awam (yang dengan sederhana menginginkan heretik dihancurkan sebelum keseluruhan komunitas menderita) dan petugas yudisial kekuasaan temporal, yang hanya berusaha untuk menghukum.” (21)

 

Pedoman dari buku pedoman sangat ketat dan penyiksaan tidak digunakan untuk menghukum, seperti yang umum [terjadi] di pengadilan sekuler. Daftar mengerikan Kaifetz adalah sebuah penemuan propaganda setelah reformasi mengenai Inkuisisi Spanyol daripada realitas inkuisisi abad pertengahan. Tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan di zaman kita, tapi tindakan tersebut minimal dapat dimengerti sebagai bagian prosedur yudisial yang diterima pada waktu itu. Biar bagaimanapun, penggunaan penyiksaan dalam pengadilan inkuisisi kurang luas, dan kurang kejam, daripada norma-norma pengadilan sekuler. (22)

 

Pertanyaan juga muncul berkaitan dengan kepercayaan mereka yang dituntut. Tuduhan umum yang dibuat oleh reformer abad 16 adalah tuduhan bahwa “heretik” sederhananya adalah umat Kristen yang percaya alkitab, pertanda pemberontakan protestan. Sebagaimana juga akan terlihat dalam Inkuisisi Spanyol, bukan ini masalahnya. Kesesatan Albigensian adalah ketidaktaatan religus terluas pada periode inkuisisi abad pertengahan. Albigensianisme adalah penyangkalan esensial pemahaman Kristen akan Allah yang menuntun pada sejumlah keyakinan aneh dan praktek (seperti percabulan yang tidak berdosa). Tapi untuk kebanyakan bagian, “pandangan kesesatan” hampir tidak disusun dalam teologi sistematis, khususnya sebelum abad 16. Mereka yang dituntut biasanya bodoh, pembuat masalah, pembual, dan pemabuk yang mengakui penghujatan. Mereka jarang memegang sistem kepercayaan yang bertentangan. (Sementara mereka yang tertuduh menjadi penyihir akan menjadi perhatian utama reformer, hal ini jauh dari sidang inkuisisi. Sidang sporadik untuk ilmu sihir oleh hakim inkuisisi akan terjadi di area berbeda pada waktu yang berbeda, meskipun secara umum [hal tersebut] dipertimbangkan sebagai urusan pengadilan sekuler dan aktivitas dari pikiran yang terdelusi daripada heretik)

 

Sebagai tambahan, tindakan-tindakan yang bertentangan dengan iman pada umumnya dituntut, daripada kepercayaan. Percabulan, penolakan untuk menghadiri sakramen-sakramen, tidak memperhatikan praktek religius dan devosi sering dituntut oleh sidang inkuisisi. Rohaniwan yang memiliki gaya hidup tidak bermoral atau berbicara dalam ketidaktahuan menentang ajaran-ajaran moral yang diterima adalah fokus utama inkuisisi, juga mereka yang berbicara menentang inkuisisi. Konsep kebijakan pemikiran kaku yang mencari “gereja bawah tanah” reformed adalah angan-angan – dan propaganda – berabad-abad kemudian.

 

Pertanyaan terakhir berkaitan dengan keluasan inkuisisi sebelum abad 16, juga kesatuan dan kelanjutannya sepanjang abad dan dalam wilayah-wilayah yang berbeda. Setelah penindasan kesesatan Albigensian di Perancis Selatan pada abad 13, sidang inkuisitorial bertambah besar dan menyusut dalam menghadapi kebutuhan lokal. Di Perancis sendiri, sidang-sidang terutama berada di tangan otoritas sekuler. Pada beberapa area – seperti Inggris – kesesatan adalah masalah yang lebih kecil, dan pengadilan gerejawi yang menghakimi kesesatan dimanfaatkan dengan sebentar-sebentar. Sementara ada pengadilan inkuisitorial, [pengadilan tersebut] berada di bawah supervisi otoritas Gereja lokal dan bekerja berdekatan dengan lengan sekuler. Contoh yang paling terkenal dari penggunaannya di Inggris sebelum pemberontakan Luther di abad 16 ditujukan pada para pengikut John Wycliff pada kuartal terakhir abad 14 dan awal abad 15.

 

John Wycliff adalah imam dan instruktur di Oxford dimana ia mengembangkan teologi predestinasi – bahwa orang-orang telah “ditentukan” untuk diselamatkan atau tersesat dan perbuatan baik yang mereka lakukan adalah tanda pemilihan mereka, bukan sarana kepada keselamatan. Tidak dapat terhindarkan, teologi ini telah menuntun pada kesimpulan bahwa sakramen-sakramen, imamat dan Gereja tidak diperlukan. Pandangan Wycliff menjadi popular, khususnya seperti yang mereka maksudkan bahwa parlemen Inggris – kekurangan uang dan bersiap untuk berperang dengan Perancis – tidak perlu memajukan upeti (tribute) pada Paus. Wyclif dipanggil di hadapan konsili para uskup untuk menjelaskan posisinya, tapi pertemuan ini berahir ketika perkelahian terjadi antara rombongan pengiring orang penting yang bersenjata dengan anggota-anggota audiens. Pandangan Wycliff diajukan kepada Paus Gregory XI yang mengeluarkan pengutukan dan memerintahkan para uskup untuk mengadakan inkuisisi. Jika Wycliff masih mempertahankan pandangan tersebut, ia diekskomunikasi dan diserahkan kepada otoritas sekuler. Selagi sidang para uskup dimulai, intervensi royal – dan massa diluar – meyakinkan para uskup untuk menghentikan sementara penerusan sidang. Paus Gregory XI kemudian meninggal dan menghasilkan skisma kepausan yang membiarkan Wycliff meneruskan pembelajarannya. Bagaimanapun, ketika ia melancarkan serangan pada ekaristi, banyak para pengikutnya sebelumnya mengabaikannya. Sebuah pemberontakan revolusioner oleh petani dan buruh dilihat sebagai hasil perbuatannya, and dukungan royalnya juga melemah. Ia dipanggil untuk datang ke Roma, namun meminggal pada malam tahun baru 1384. (23) Pengikutnya yang tersisa, yang disebut Lollards, akan menghadapi inkuisisi lokal.

 

Di Negara Jerman, sidang inkuisisi jarang terjadi. Sebagai tambahan, sidang inkuisisi yang dipimpin dibawah otoritas uskup lokal sering diidentifikasi dengan otoritas sekuler. Seperti pada banyak kasus, otoritas-otoritas sekuler sering juga mengadakan sidang. Pengecualian penting adalah kasus John Hus di Bohema. Hus telah menyerap elemen-elemen ajaran Wycliff – dan paus sebagai Anti-Kristus – Hus diperintahkan untuk hadir pada Konsili Constance tahun 1414, dimana Gereja berupaya untuk menyelesaikan klaim yang diperdebatkan kepada kepausan dan menetapkan reformasi gerejawi. Hus dihukum oleh konsili dan diserahkan kepada otoritas sipil yang menghukumnya tahun 1415 (24). Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa eksekusi Hus adalah sebuah kesalahan.

 

Pada pertengahan akhir abad 14, inkuisitor yang ditugaskan kepausan telah menghilang dari banyak bagian-bagian eropa. Pengadilan inkuisitorial, dilaksanakan dibawah keuskupan lokal yang bekerja sama dengan otoritas temporal dan berhadapan dengan situasi-situasi lokal. Kontrol regional adalah proses inkuisisi – dan masalah-masalah regional – menjadi dominan (25). Inkuisisi tunggal dan besar yang dikendalikan kepausan tidak pernah ada di Eropa. Perkiraan terdekat adalah pada pertengahan akhir abad 13, tapi tidak bertahan lama.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: