Sejarah dan Mitos : Inkuisisi (Pendahuluan)

diterjemahkan dari artikel History and Myth : Inquisition (silakan diklik) oleh Robert P. Lockwood

(NB : Artikel akan diedit kembali dan dipostkan sambungannya)

Baca lanjutan dari artikel tersebut disini (akan ditambah link nanti) :

“Marilah kita berdoa agar setiap dari kita, melihat kepada Tuhan Yesus, bersikap lembut dan merendahkan hati, akan mengenali bahwa bahkan pria-pria gereja, dalam nama iman dan moral, kadang-kadang telah menggunakan metode-metode yang tidak sesuai dengan injil dalam menjalankan kewajiban agung membela kebenaran” – Joseph Cardinal Ratzinger, Jubilee Request for Forgiveness, 12 Maret 2010

“Inkusisi yang menghasilkan penyiksaan dan pembunuhan jutaan umat Kristen yang hanya kejahatan adalah sebuah penolakan dari heresy katolik dan sebuah komitmen untuk mengikuti Kitab Suci sebagai satu-satunya otoritas untuk iman dan kebiasaan. Yohanes Paulus II belum mengakui inkuisisi, ia telah gagal untuk melabelkan sesame paus [sebagai] para pembunuh mereka” – Jerry Kaifetz

Diantara banyaknya kesulitan dalam mrnunjukkan isu anti-katolisisme adalah asumsi-asumsi cultural, desas-desus historis dan kebijaksanaan konvensional yang mengobarkan prejudice (prasangka). Banyak orang Amerika, Katolik dan non Katolik, memiliki pemahaman sejarah, juga sebagai cara berpikir, yang membawa bagasi propaganda post-reformasi atau prasangka pencerahan abad 19. Mitos-mitos yang diciptakan dalam kegemaran anti-katolik telah menjadi bagian tubuh kebudayaan dan diterima sebagai kebenaran yang sangat jelas (1). Kita semua mengetahui, sebagai contoh, bahwa astronomer Galileo disiksa (tortured) dan dipenjara selama bertahun-tahun oleh inkuisisi. Ia kemudian menarik kembali teori spesifiknya mengenai rotasi bumi yang mengelilingi matahari, tapi dengan berani mengeluh dengan lantang ketika ia meninggalkan aula pengadilan. Eppus si muove! (“Dan itu bergerak – and yet it does move”). Realitas historis, bagaimanapun, adalah bahwa Galileo tidak pernah disiksa, ia tinggal dalam kenyamanan di kedutaan besar Florentine selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan, dan petikan ketidaktaatan adalah legeda yang dibuat hampir 125 tahun setelah kematiannya (2).

Hal yang umum untuk mitos-mitos ini adalah sejarah yang ditambahkan yang bermaksud untuk menggambarkan katolisisme sebagai musuh dari pikiran bebas, kehadiran asing dalam masyarakat demokratis, dan sebagai bentuk jahat dari tahayul abad pertengahan yang bertahan pada ketidaktahuan orang beriman dan kehendak kekerasan Gereja untuk berkuasa. Sama seperti ketika mitos-mitos ini berfungsi sebagai tujuan dalam reformasi dan diabadikan dalam dunia progress dan scientism pencerahan abad 18 dan 19, mereka juga sekarang berfungsi sebagai tujuan dalam iklim orang sekuler. Meskipun dikembangkan dalam perang propaganda antara katolisisme dan gereja-gereja yang tidak taat (dissenting) abad 16, perangkap-perangkap teologis dari mitos-mitos ini telah dilucuti dalam banyak kasus. Mitos-mitos tersebut sekarang hanyalah asumsi historis yang sederhana yang digunakan untuk merusak dan membuang posisi gereja, secara khusus dalam area publik, tanpa keharusan untuk menganalisa dan menunjukkan posisi-posisi tersebut. Mitos-mitos ini adalah alat-alat retorika umum yang berguna karena mereka secara universal dipahami dan diterima.

Di masa kita, kita melihat ciptaan dari mitos dalam tuduhannya terdapat sikap diam dan kolaborasi dengan Nazi dan Paus Pius XII selama perang dunia kedua. Meskipun tuduhan-tuduhan tersebut bertentangan dengan bukti sejarah yang jelas, mereka menjadi kebijaksanaan konvensional yang dikeluarkan kembali oleh kolumnis dan penjelasan tanpa pembuktian (3). Dari sekian banyak mitos-mitos sejarah tentang katolik dan katolisisme, bagaimanapun, mungkin mitos yang paling mudah menyebar adalah mitos-mitos yang berpusat pada inkusisi secara umum dan inkuisisi Spanyol secara khusus. Dari abad 16 sampai awal abad 20, legenda inkusisi semakin besar daripada sejarahnya. Legenda inkusisi ini bertahan dalam imajinasi, setelah dibuktikan kesalahannya oleh para sejarawan.

Tambahan yang bagus dari legenda yang bertahan sampai sekarang ada pada tanggal 20 Mei 2000, edisi The Times, harian regional di Northwest Indiana dan suburban Chicago. Ditulis oleh Jerry Kaifetz, pemilik perusahaan manufaktur kimia dengan gelar doktorat dari Seminari Teologi Bethani di Alabama, ini adalah respon terhadap papal jubilee “Permohonan Pengampunan (Request for Forgiveness) pada bulan Maret 2000. Kaifetz menulis,”Paus belum mengakui inkusisi berdarah dan mengerikan selama 600 tahun menentang pengikut kitab suci yang rendah hati, yang dimulai Paus Innocent III (1198-1213). Beberapa sarana yang digunakan untuk menyiksa “heresy” keluar dari penolakan mereka terhadap otoritas Gereja termasuk “The Iron Maiden“,” “Hanging Cages,” “The Judas Cradle” “Skinning the Cat,” “The Head Crusher”, “The Heretic’s Fork,” “The Barrel Pillory”, “The Rack” “The Knee Splitter”, “The Breast Ripper”, dan sarana-sarana lain yang terlalu banyak untuk digunakan atau terlalu jahat untuk dideskripsikan dengan detail. Inkuisitor diperintahkan secara langsung oleh Paus dan bertindak secara langsung bertindak atas namanya. Pengadilan diadakan secara rahasia dan inkuisitor bertindak sebagai hakim, juri dan penuntut. Orang yang tertuduh (accused) tidak pernah direpresentasikan. Inkusisi yang menghasilkan penyiksaan dan pembunuhan jutaan umat Kristen yang kejahatannya hanya penolakan heresy (kesesatan) katolik dan komitmen untuk mengikuti kitab suci sebagai satu-satunya otoritas iman dan praktek. Yohanes Paulus II belum mengakui inkuisisi, ia telah gagal untuk melabelkan sesame paus [sebagai] para pembunuh mereka(4).

Kaifetz, menulis dalam [buku] puncak Milenium Baru, dengan rapi meringkas kesalahan-kesalahan, pernyataan yang dilebih-lebihkan dan mitos-mitos inkuisisi yang didirikan dalam perang religius abad 16. Sementara ia mendekati inkusisi dari perspektif bentuk tradisional anti-katolisisme religius, gambaran yang ia hadirkan akan dibagikan oleh banyak orang hari ini, termasuk beberapa orang katolik.

Apakah sesungguhnya inkuisisi itu? Jika didefinisikan secara umum, inkuisisi adalah penyelidikan gerejawi, yang artinya penyelidikan yang dilaksanakan secara langsung oleh, atau dibawah naungan Gereja. Investigasi dilaksanakan pada waktu tertentu pada wilayah tertentu dibawah otoritas uskup lokal dan pengangkatannya, atau dibawah naungan papal-appointed legates, atau perwakilan dari ordo-ordo religius yang tugasnya didelegasikan oleh Kepausan. Tujuan investigasi-investigasi khusus terhadap situasi lokal. Penyelidikan biasanya melibatkan proses yudisial yang ditujukan untuk memperoleh pengakuan (confession) dan rekonsiliasi dengan Gereja dari mereka yang memegang pandangan heretic atau terlibat dalam aktivitas yang bertentangan dengan ajaran atau kepercayaan Gereja. Tujuannya adalah untuk mengamankan penyesalan orang, dan untuk memelihara kesatuan Gereja. Investigasi-investigasi diatur dengan kerja sama dan keterlibatan otoritas temporal. Jika investigasi ini menghasilkan temuan kesesatan doctrinal serius dan ketidakrelaan untuk mengingkari kesesatan, adalah tanggung jawab otoritas sekuler untuk melaksanan hukuman. Keunikan dari inkusisi adalah Gereja memimpin investigasi, dan bahwa Gereja bekerja sama erat dengan otoritas sipil. Dalam negara protestan setelah reformasi, peran yang membedakan kongregasi religius tidak secara perlu ada, dan investigasi, pemeriksaan dalam sidang pengadilan dan hukuman terhadap dissenter terutama adalah adalah tanggung jawab negara.

Asumsi-asumsi umum mengenai inkusisi – mitos inkuisisi – dengan rapi diringkas dalam opini Kaifetz, dan secara garis besar adalah sebagai berikut :

  • Inkuisisi itu sistem pengadilan tunggal yang disatukan dan bertanggung jawab langsung kepada paus dan dikendalikan hanya oleh kepausan.
  • Inkuisisi yang ada diseluruh Eropa selama hampir 700 tahun, didirikan pada abad ke 12 dan berlanjut awalabad 19. Sebelum Reformasi, inkusisi mefokuskan pada sebuah gereja “rahasia” dan “tersembunyi”, miripdengan gereja-gereja Reformasi.
  • Inkuisisi terutama ditujukan untuk para reformis Protestan awal abad ke 16 dan Inkuisisi Spanyol sendirimembunuh dan menyiksa ratusan ribu, jika tidak jutaan reformis Protestan.
  • Penyiksaan jahat dan unik secara rutin digunakan,terutama dalam Inkuisisi Spanyol.
  • Inkuisisi Spanyol ada secara independen dari otoritas kerajaan Spanyol dan ada semata-mata sebagai perpanjangan tangan Gereja, seperti halnya semua Inkuisisi lainnya.
  • Inkuisisi ini merupakan sarana bagi Gereja untuk menjalankan wewenang atas ilmu pengetahuan.
  • Penganiayaan perbedaan pendapat keagamaan adalah unik untuk inkuisisi dan Gereja Katolik di Eropa.

Asumsi-asumsi mengenai inkuisisi dan bagaimana inkuisisi bekerja adalah bagian dari bagasi kultural peradaban barat. Mereka [i.e. asumsi-asumsi tersebut] adalah mitos daripada sejarah. Namun, akan sangat salah untuk menutupi kesalahan inkuisisi, atau berupaya untuk menjelaskan historisitasnya, Dalam kata-kata permohonan maaf kepausan, umat Katolik harus memahami bahwa ada banyak peristiwa masa lalu dimana “orang gereja, dalam nama iman dan moral, kadang-kadang telah menggunakan metode-metode yang tidak sesuai dengan injil dalam menjalankan kewajiban agung membela kebenaran.” Inkuisisi ada dan tetap bagian membingungkan dari sejarah katolik. Namun, karikatur inkuisisi yang sebagian besar dari kita telah ketahui dan yang sering digunakan dalam polemik anti-katolik sedikit hubungannya dengan realitas inkuisisi.

Pendahuluan

Dalam ringkasan yang sangat sederhana, Gereja setelah kematian para rasul memiliki iman yang “bersatu dalam jemaat yang berpencar : bahwa Kristus adalah Putra Allah, bahwa Ia akan kembali untuk mendirikan kerajaan-Nya diatas bumi, dan semua yang percaya kepada-Nya, pada hari Penghakiman Akhir akan dihadiahi kebahagiaan abadi”(5). Meskipun demikian, umat Kristen sangat segera perlu untuk memberikan definisi yang lebih baik terhadap kepercayaannya selagi konflik dan perdebatan muncul. Sejak awal (seperti yang tercatat di kitab suci(6)) komunitas Kristen dipaksa untuk menghadapi orang-orang yang bersikeras dalam ajaran-ajaran yang bertentangan dengan iman apostolik. Untuk sebagian besar, Gereja perdana menyelesaikannya dengan teguran, penghindaran, dan jika orang bersikeras dalam kesalahannya, orang tersebut diusir secara paksa dari komunitas. Hal ini juga menuntun Gereja pada pemahaman yang meningkat dari otoritas universal tahta Petrus di Roma sebagai pembela “deposit iman.” Selagi iman Kristen tumbuh di seluruh kekaisaran Roma dan otoritas Gereja menyelesaikan kontroversi-kontroversi mengenai ajaran-ajaran esensial, pernyataan iman berkembang. Kredo-kredo ini (pernyataan kepercayaan fundamental) muncul sebagai respon terhadap ajaran-ajaran berbeda yang dilihat oleh pemimpin Kristen sebagai kesalahan fundamental.

Dengan kemenangan Konstantine pada dekade kedua abad keempat, diikuti oleh konversi/pertobatan sebagian besar kekaisaran Roma pada akhir abad tersebut, kekristenan menjadi iman kekaisaran. Sementara hal ini mengakhiri zaman kemartiran dibawah penganiayaan berkala oleh Roma, hal tersebut menciptakan kesulitan-kesulitan tersendiri. Hal yang paling jelas adalah hubungan Gereja – khususnya otoritas Gereja –dengan Kaisar-kaisar Kristen. Masalahnya adalah bahwa, in certain respect, masalah tersebut akan mengganggu hubungan Gereja dengan pemerintah sampai perubahan-perubahan dramatis dari akhir abad 19 dan 20. Pemerintah ingin mengatur Gereja dalam batas-batasnya, melihat iman sebagai penghubung yang tak dapat dihindarkan kepada stabilitas societal, identitas, dan sebagai fondasional kepada kekuasaan royal. Pada waktu yang sama, Gereja ingin dilihat secara terpisah dan diatas “Kota Manusia” ini, sementara juga melihat dalam lengan sekuler, sarana untuk menjamin kepercayaan orthodox.

Ini adalah periode bermasalah yang membingungkan – dan kadangkala tidak jelas –kontroversi-kontroversidoktrinal setelah disahkannya kekristenan dan sebagai iman menjadi agama resmi kekaisaran Roma di akhir abad keempat. Kekuasaan kekaisaran Roma akan menyisipkan dirinya ke dalam kontroversi doctrinal, kadang-kadang dengan dukungan kepemimpinan Gereja, pada waktu yang lain dengan Gereja yang berdiri sebagai oposisi. Dengan akibat yang dapat mendatangkan bencana dari kesesatan doctrinal pada Gereja dan kesatuan sosial, bagaimanapun, ada konsensus yang bertumbuh bahwa penggunaan “lengan sekuler” diperlukan, bahkan St. Agustinus berargumen mendukungnya (7). Karena kaisar Kristen menduduki tahta kekaisaran, pandangan heretic dilihat tidak hanya sebagai pelanggaran kesatuan Kristen, tapi sebagai tindakan penghianatan terhadap negara. Hal ini perlu sekali untuk sebuah pemahaman bagaimana kesesatan dilihar, khususnya di peradaban barat. Ini bukan masalah penegakan disiplin gerejawi yang sewenang-wenang, atau persesuaian/konformitas doktrinal. Kesesatan dilihat sebagai kejahatan yang mengancam kesatuan komunitas, juga sebagai ancaman terhadap keselamatan jiwa-jiwa. Kesesatan bukanlah semata-mata tindakan individual – kesesatan adalah serangan terhadap negara sendiri. Hal ini menjadi bagian yang tertanam dari pemikiran orang Eropa, yang diwariskan oleh otoritas raja dan kepemimpinan gerejawi Gereja, juga oleh Reformer protestan abad 16. Selama periode awal inicanon dan hukum sipil dikembangkan untuk menghadapi kesesatan yang akan menjadi sumber untuk menunjukkan ketidaktaatan (dissent) religius dalam Milenium kedua.

Setelah pelemahan otoritas kekaisaran Roma pada abad kelima, kesesatan, mungkin sebuah kemewahan dari kekayaan dan waktu luang, berkurang dalam urusan penting dari evanjelisasi Eropa barat non-roma. Sementara perdebatan teologis muncul dari abad keenam sampai abad kesepuluh, Gereja berjuang untuk mendirikan independensi dari campur tangan kaisar timur dan dominasi penguasa lokal picik walaupun pada saat yang sama berkembang struktur gerejawi dan disiplin kleris(9). Karena pembaharuan kepausan dan pertobatan eropa tercapai, gerakan reformasi berkuasa dimulai pada abad kesebelas yang menegaskan kembali perlunya kesatuan kepercayaan dan sarana untuk menunjukkan ketidataatan doktrinal yang mengancam Gereja dan masyarakat.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: