Bagaimana Pius XII Melindungi Orang Yahudi

oleh Jimmy Akin

diterjemahkan dari artikel yang berjudul How Pius XII Protected Jews (silakan diklik) di http://www.catholic.com

Paus Pius XII (Eugenio Pacelli)

Abad dua puluh ditandai oleh genosida pada skala yang mengerikan. Salah satu dari genosida tersebut adalah Holocaust yang dilakukan oleh Nazi Jerman, yang membunuh kira-kira 6 juta Yahudi Eropa dan hampir sebanyak korban lainnya.

Selama masa gelap ini, Gereja Katolik yang digembalakan oleh Paus Pius XII, yang membuktikan dirinya sebagai musuh Nazi yang tak kenal lelah, memutuskan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang Yahudi yang hidup semampu yang ia bisa. Namun sekarang Pius XII hampir tidak mendapatkan penghargaan untuk tindakannya sebelum atau selama perang.

Penulis Anti katolik Dave Hunt menulis, “Vatikan tidak punya alasan untuk persetukuannya dengan Nazi atau untuk penghargaan kelanjutan kepada Hitler di sisi lain dan sikap diam [Pius XII] yang bergemuruh mengenai pertanyaan Yahudi di sisi lain….[Paus] melanjutkan dalam aliansi dengan Hitler sampai akhir perang, menuai ratusan juta dollar dalam pembayaran dari pemerintah Nazi kepada Vatikan.” [1]

Jack Chick, yang terkenal karena buku komiknya yang anti katolik, mengatakan kepada kita dalam Smokescreens, “Ketika perang dunia II berakhir, Vatikan bertindak dengan sangat memalukan. Paus Pius XII, setelah membangun mesin perang Nazi, melihat Hitler kehilangan peperangannya melawan Rusia, dan ia dengan segera melompat ke sisi lain ketika ia melihat tulisan tangan di dinding…Paus Pius XII sudah harus berdiri dihadapan hakim di Nuremberg. Kejahatan perangnya pantas mendapat hukuman mati.”[2]

Seseorang dengan mudah tergoda untuk melupakan tuduhan-tuduhan ini, yang dengan liar keluar dari realitas, seperti omong kosong dari orang-orang tanpa melihat kebenaran sejarah. Hal ini akan meremehkan kekuatan dari tuduhan yang salah untuk mempengaruhi orang-orang : Banyak yang mempercayai kata-kata mereka.

Melangkah keluar dari mimpi buruk dunia fantasi Hunt dan Chick dan kembali kepada sinar matahari dari dunia nyata, kami menemukan bahwa, tidak hanya Pius XII yang tidak berteman dengan Nazi, namun oposisinya kepada mereka dimulai sebelum perang, sebelum ia dipilih menjadi paus, ketika ia masih sebagai Kardinal Eugenio Pacelli, Sekretaris Negara Vatikan.

Pada 28 April, 1935, 4 tahun sebelum perang dunia pertama dimulai, Pacelli, melakukan pidato yang membangkitkan perhatian media dunia. Berbicara kepada 250.000 peziarah di Lourdes, Prancis, Pius XII masa depan menyatakan bahwa Nazis “berada dalam realita penjiplak buruk yang menggunakan kesalahan-kesalahan lama dengan kertas emas baru. Hal ini tidak membuat perbedaan apakah mereka berkumpul pada bendera revolusi sosial, apakah mereka dibimbing oleh konsep yang keliru tentang dunia dan kehidupan, atau apakah mereka dipengaruhi dengan kuat oleh takhayul ras dan pemujaan darah [blood cult].”[3]. Ia berbicara seperti ini, selain dari pendapat pribadi dan sejumlah catatan protes yang dikirim Pacelli ke Berlin dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Negara Vatikan, yang membuatnya memperoleh reputasi sebagai musuh partai Nazi.

Jerman juga tidak senang dengan Paus yang berkuasa saat itu, Pius XI, yang menunjukkan dirinya sebagai lawan tanpa henti dari “tujuan akhir” jerman yang baru – bahkan [Pius XI] menulis dalam seluruh ensiklik, Mit Brenender Sorge (1937) untuk mengutuk mereka. Ketika Pius XI wafat pada 1939, Pihak Nazi sangat membenci harapan bahwa Pacelli terpilih sebagai penerus Pius XI.

Dr. Joseph Lichten, seorang Yahudi Polandia yang berkeja sebagai diplomat dan kemudian sebagai pejabat resmi dari Jewish Anti-Defamation League of B’nai B’writh, menulis :”Pacelli telah dengan jelas mendirikan posisinya, karena pemerintahan Fascist Italia dan Jerman berbicara keras menentang kemungkinan terpilihnya untuk menggantikan Pius XI pada Maret, 1939, meskipun kardinal sekretaris negara telah melayani sebagai papal nuncio di Jerman dari tahun 1917 sampai 1929…Hari setelah pemilihan, Morgenpost Berlin berkata :”Pemilihan cardinal Pacelli tidak diterima di Jerman karena ia selalu melawan Nazisme dan hampir menentukan kebijakan-kebijakan Vatikan dibawah pendahulunya”[4]

Mantan diplomat Israel dan sekarang Yahudi Ortodoks Rabbi Pinchas Lapide menyatakan bahwa Pius XI,”memiliki alasan yang baik untuk membuat Pacelli sebagai arsitek kebijakan anti Nazinya. Dari 44 pidato yang dibuatnya sebagai Nuncio Pacelli di tanah Jerman antara 1917 dan 1929, paling sedikit 40 [pidato tersebut] menyerang nazisme atau pengutukan ajaran Hitler … Pacelli, yang tidak pernah bertemu the Fuhrer (Sang Penguasa), menyebutnya ‘neo-paganisme.’[5]

Beberapa minggu setelah Pacelli dipilih sebagai Paus, German Reich’s Chief Security Service mengeluarkan laporan rahasia mengenai paus yang baru. Rabbi Lapide menyediakan sebuah kutipan :

“Pacelli telah membuat dirinya sendiri terkenal melalui serangannya kepada Sosialisme Nasional selama masa jabatannya sebagai cardinal sekretaris negara, sebuah fakta yang membuatnya memperoleh persetujuan yang ramah oleh negara-negara demokratis selama pemilihan paus … Berapa banyak Pacelli dirayakan sebagai sekutu negara demokratis secara khusus ditekankan oleh media Prancis.” [6]

Malangnya, kebahagiaan pemilihan paus yang kuat yang akan melanjutkan penentangan Pius XI kepada Nazi digelapkan oleh perkembangan politik yang mengancam di Eropa. Perang akhirnya terjadi pada 1 September 1939, ketika pasukan Jerman menyerbu Polandia. Dua hari kemudian Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman.

Awal tahun 1940, Hitler berupaya untuk mencegah Paus yang baru mempertahankan posisi anti nazinya yang ia ambil sebelum pemilihannya sebagai paus. Ia mengirimkan bawahannya, Joachim von Ribbentrop, untuk menghalangi Pius XII mengikuti kebijakan pendahulunya. “Von Ribbentrop, yang mengadakan pertemuan resmi formal pada 11 Maret 1940, memberikan pidato yang panjang lebar mengenai hal yang tak terkalahkan dari Reich Ketiga, kemenangan Nazi yang tak dapat dihindarkan, dan kesia-siaan kesejajaran paus dengan musuh-musuh the Fuhrer (Sang penguasa). Pius XII mendengarkan secara seksama [pidato] von Ribbentrop dengan tenang dan sopan. Kemudian ia membuka buku besar di mejanya, dan dalam bahasa jerman yang sempurna, mulai mendeklamasikan sebuah katalog mengenai penyiksaan yang diberikan oleh Reich Ketiga di Polandia, mendaftarkan tanggal, tempat, dan detail-detail yang tepat dari tiap kejahatan. Para pendengar menyimpulkan; posisi paus dengan jelas tak tergoyahkan.” [7]

Paus [Pius XII] secara rahasia bekerja untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang Yahudi yang masih hidup dari Nazi, yang kampanye pembasmiannya dimulai pada fase yang paling intens hanya setelah Perang dimulai. Disinilah anti katolik berusaha membuat keuntungan bagi mereka : Pius XII dituduh dengan sikap diamnya yang seperti pengecut atau dengan dukungan yang tegas terhadap pemusnahan jutaan Yahudi oleh Nazi.

Sebagian besar dorongan untuk menodai Vatikan mengenai perang dunia II datang, dengan cukup tepat, dari karya fiksi – drama panggung yang disebut The Deputy, ditulis setelah perang oleh penulis sandiwara tidak terkenal yang adalah orang Jerman beragama protestan bernama Rolf Hochhuth.

Drama tersebut muncul pada tahun 1963, dan drama tersebut melukiskan potret paus yang penakut untuk berbicara keras secara umum menentang Nazi. Ironisnya, Hochhuth bahkan mengakui bahwa paus secara material sangat aktif dalam mendukung kaum Yahudi. Sejarawan Robert Graham menjelaskan :”Penulis drama Rolf Hochhuth mengkritik Paus untuk sikap diamnya, namun ia mengakui bahwa, pada level tindakan, Pius XII dengan murah hati menolong kaum Yahudi dengan upaya yang terbaik. Hari ini, setelah seperempat abad, presentsi yang sewenang-wenang dan berat sebelah yang ditawarkan kepada public, kata “diam” telah mengambil konotasi yang lebih luas. Kata “diam” ini juga berarti “acuh”, “apati”, “tidak berbuat sesuatu”, dan secara impilisit, untuk anti-semitisme.”[8]

Gambaran fiksi Hochhuth mengenai paus yang diam (meskipun aktif) telah diubah oleh rumor anti-katolik ke dalam gambaran paus yang diam dan tidak aktif – dan oleh beberapa orang yang secara aktif pro monster nazi. Jika ada kebenaran terhadap tuduhan bahwa Pius XII diam, sikap diamnya tidak keluar dari kepengecutan moral dalam menghadapi nazi, tapi karena paus sedang melacarkan perang yang subversive, perang rahasia menentang Nazi untuk menyelamatkan kaum Yahudi.

Perlunya untuk menahan diri dari pernyataan-pernyataan public yang profokatif pada momen yang rumit secara penuh disadari dalam lingkungan Yahudi. Hal ini sebenarnya adalah aturan dasar bagi semua lembaga pada masa perang di eropa yang dengan bersemangat merasakan kewajiban untuk melakukan semua kemungkinan terhadap korban-korban kekejaman Nazi dan secara khusus bagi Yahudi yang berada dalam bahaya dportasi kepada “tujuan yang tidak diketahui.”[9]. Konsekuensi-konsekuensi negatif dari berbicara keras dengan kuat [menentang nazi] akan terlalu diketahui.

“Dalam satu contoh tragis, uskup agung Utrecht diperingatkan oleh Nazi untuk tidak memprotes deportasi dari Yahudi keturunan Belanda. Ia berbicara keras sebagai pembalasan terhadap Yahudi Katolik di Belanda yang dihukum mati. Salah satu dari mereka adalah filsuf Karmelit, Edith Stein.”[10]

Sementara pihak anti-katolik berharap Paus untuk mengeluarkan, dalam teritori axis dan selama masa perang, pernyataan propaganda menentang nazi, paus menyadari bahwa hal tersebut bukanlah sebuah pilihan jika ia sungguh ingin menyelamatkan orang Yahudi yang masih hidup daripada mug for the cameras (bersikap berlebihan atau berpura-pura).

Keinginan untuk mempertahanakan sebuah low profile diekspresikan oleh orang-orang yang diselamatkan oleh Pius XII. Sepasang Yahudi dari Berlin yang ditahan di kamp konsentrasi namun melarikan diri ke Spanyol dengan bantuan Pius XII, menyatakan :”Tidak seorangpun diantara kami menginginkan Paus untuk mengambil sikap terbuka. Kami semua adalah pelarian, dan pelarian tidak berharap untuk ditunjuk. Gestapo akan menjadi semakin tertarik dan akan mengintensifkan inkuisisinya. Jika Paus telah memprotes, Roma akan menjadi pusat perhatian. Lebih baik jika Paus tidak berkata apa-apa. Kami semua membagi pendapat kami pada waktu itu, dan ini masih merupakan kepercayaan kami sekarang.”[11]

Sementara AS, Inggris, dan negara-negara lain sering menolak untuk mengizinkan pengungsi Yahudi untuk berimigrasi selama perang, Vatikan mengeluarkan puluhan ribu dokumen palsu untuk memungkinkan orang-orang Yahudi untuk masuk diam-diam sebagai orang Kristen sehingga mereka bisa melarikan diri dari Nazi. Terlebih lagi,bantuan keuangan yang disediakan Pius XII bagi orang Yahudi sudah sangat nyata. Lichten, Lapide, dan penulis sejarah Yahudi mencatat dana tersebut dalam jutaan dollar – dollar yang lebih berharga dari yang mereka miliki sekarang.

Akhir 1943, Mussolini, yang telah bertentangan dengan kepausan sepanjang masa jabatannya, dikeluarkan dari kekuasaannya oleh orang Italia, tapi Hitler, yang merasa takut bahwa Italia akan bernegosiasi perdamaian terpisah dengan sekutu, melakukan invasi, mengambil kendali, dan menggunakan Mussolini sebagai penguasa boneka. Pada masa ini, ketika kaum Yahudi di Roma diancam – mereka yang kepadanya Paus memiliki kemampuan langsung untuk menolong – sungguh menunjukkan keberanian dan ketabahannya.

Joseph Lichten mencatat pada tanggal 27 September 1943, salah satu komandan Nazi menuntut komunitas Yahudi di Roma membayar seratus pound emas dalam waktu 36 jam atau tiga ratus Yahudi akan diambil sebagai tahanan. Ketika Konsili Komunitas Yahudi hanya sanggup mengumpulkan 70 pounds emas, mereka berbalik ke Vatikan.

“Dalam memoarnya, Chief Rabbi Zolli di Roma menulis bahwa ia dikirim kepada Vatikan, dimana persetujuan telah dibuat untuk menerimanya sebagai “engineer” yang dipanggil untuk melakukan survey sebuah konstruksi masalah sehingga Gestapo yang mengawasi Vatikan tidak menghalangi masuknya [Rabbi Zolli]. Ia disambut oleh bendahara dan sekretaris negara Vatikan, yang memberitahunya bahwa Bapa Suci sendiri telah memberikan perintah agar kekurangan [dari 70 pounds emas] dipenuhi dengan wadah berisi emas yang diambil dari uang Vatikan.”[12]

Pius XII juga mengambil posisi umum mengenai kaum Yahudi di Italia :”Paus berbicara keras dengan kuat dalam pertahanan mereka dengan penangkapan missal pertama kaum Yahudi tahun 1943, dan L’Osservatore Romano mengeluarkan artikel menentang penahanan kaum Yahudi dan penyitaan barang property mereka. Media Fascist menyebut artikel vatikan “juru bicara Yahudi.”[13]

Sebelum invasi Nazi, Paus telah bekerja dengan sulit untuk mengeluarkan orang Yahudi di Italia melalui emigrasi; ia sekarang dipaksa untuk mengubah perhatiannya untuk menemukan tempat persembunyian bagi mereka.”Paus mengirimkan perintah bahwa bangunan religious diberikan untuk tempat berlindung Yahudi, bahkan pada harga pengorbanan pribadi yang besar pada bagian penghuninya; ia mengizinkan biara-biara dan tempat tinggal biarawati, dari aturan biara yang melarang masuk ke dalam rumah-rumah religius,[untuk ditinggali] bagi mereka kecuali bagi beberapa orang luar secara khusus, sehingga rumah-rumah religius tersebut dapat digunakan sebagai tempat persembunyian. Ribuan Yahudi – sekitar 4000-7000 – disembunyikan, diberi makan, diberi pakaian, dan tidur di 180 tempat berlindung di kota Vatikan, gereja-gereja dan basilica-basilika, gedung administrative gereja, dan rumah-rumah paroki. Sejumlah Yahudi yang tidak diketahui berlindung di Castel Gandolfo, tempat istirahat Paus pada musim panas, rumah-rumah pribadi, rumah sakit, dan institusi-institusi perawatan; dan Paus bertanggung jawab secara pribadi untuk perawatan anak-anak Yahudi yang dideportasi dari Italia.”[14]

Rabbi Lapide mencatat bahwa “di Roma kami melihat daftar 155 biara-biara dan tempat tinggal biarawati – Italia, Prancis, Spanyol, Inggris, Amerika, dan juga Jerman—sebagian besar merupakan properti extraterritorial Vatikan…yang melindungi 5000 Yahudi di seluruh masa pendudukan Jerman. Tidak kurang dari 3000 Yahudi ditemukan berlindung pada suatu waktu di Castel Gandolfo; 60 tinggal selama 9 bulan id Universitas Gregorian Yesuit, 6 orang tidur di ruang bawah tanah Pontifical Bible Institute.”[15]

Perhatikan secara khusus bahwa Paus tidak semata-mata mengizinkan kaum Yahudi bersembunyi di gedung-gedung gereja yang berbeda di sekitar Roma. Ia mennyembunyikan mereka juga di Vatikan sendiri dan di tempat peristirahatan musim panasnya, Castel Gandolfo. Keberhasilannya dalam melindungi Yahudi Italia menentang Nazi sangat menonjol. Lichten mencatat bahwa setelah perang berakhir ditentukan bahwa hanya 8000 Yahudi diambil dari Italia oleh Nazi [16] – jauh lebih sedikit di negara eropa lainnya. Bulan Juni, 1944, Pius XII mengirim telegram kepada admiral Miklos Horthy, penguasa HUngaria, dan sanggup untuk menghentikan sementara deportasi 800.000 Yahudi dari negara tersebut.

Upaya Paus tidak berjalan dengan tidak diketahui oleh otoritas Yahudi, bahkan selama perang. Chief Rabbi Yerusalem, Isaac Herzog, mengirimkan kepada paus pesan pribadi yang berisi ucapan terima kasih pada 28 Februari 1944, yang didalamnya ia berkata :”Umat Israel tidak akan pernah melupakan apa yang His Holiness dan his illustrious delegasikan, yang diinspirasi oleh prinsip-prinsip abadi agama yang membentuk fondasi peradaban yang benar, yang dilakukan bagi kita saudara dan saudari yang malang dalam sejarah tragis kita, yang adalah bukti yang hidup dari Penyelenggaraan ilahi di dunia ini.”[17]

Pemimpin Yahudi lainnya juga setuju. Rabbi Safran dari Bucharest, Romania, mengirimkan catatan terima kasih kepada papal nuncio pada 7 April 1944: “Tidak mudah bagi kami untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan kehangatan dan penghiburan yang kami alami karena perhatian dari paus tertinggi, yang menawarkan jumlah yang besar untuk melepaskan penderitaan dari Yahudi yang dideportasi…Yahudi Romani tidak akan pernah melupakan fakta-fakta sejarah yang penting ini.”[18]

Chief Rabbi Roma, Israel Zolli, juga membuat pernyataan terima kasih:”Apa yang Vatikan lakukan tidak akan terhapuskan dan secara abadi terukir di hati kami…para imam dan bahkan pejabat gereja yang tinggi melakukan hal-hal yang selamanya akan menjadi kehormatan katolisisme.”[19]

Setelah perang Zolli menjadi katolik dan, untuk menghormati Paus atas apa yang telah dilakukan bagi kaum Yuhadi dan peran yang ia mainkan dalam konversi Zolli, ia mengambil nama”Eugenio” – nama Paus Pius XII – sebagai nama baptisnya. Zolli menekankan bahwa konversinya adalah untuk alasan-alasan teologis, yang sudah pasti benar, namun fakta bahwa Paus telah bekerja begitu keras demi kaum Yahudi tidak diragukan lagi memainkan peran dalam menginspirasinya untuk melihat kepada kebenaran-kebenaran kristiani.

Lapide menulis:”Ketika Zolli menerima baptisan tahun1945 dan mengambil nama Kristen Pius XII, Eugene, sebagian besar Yahudi Roma diyakinkan bahwa konversinya adalah tindakan terima kasih atas bantuan selama masa perang pada pengungsi Yahudi dan, mengulangi penolakan yang meskipun, banyak yang merupakan pendapatnya. Oleh karena itu, Rabbi Barry Dov Schwartz menulis dalam issu musim panas, 1964, mengenai Yudaisme konservatif :”Banyak orang Yahudi dibujuk untuk pindah agama setelah perang, sebagai tanda terima kasih, kepada institusi yang telah menyelamatkan kehidupan mereka.”[20]

Pada buku berjudul “tiga Paus dan kaum Yahudi” Lapide memperkirakan jumlah Yahudi yang tersebar sebagai akibat dari pelemparan beban Gereja oleh Pius XII ke dalam perjuangan rahasia untuk menyelamatkan mereka. Setelah menjumlah orang Yahudi yang selamat di berbagai area dan mengurangi jumlah yang diselamatkan oleh sebab-sebab yang lain, seperti upaya terpuji dari beberapa protestan eropa,”Jumlah akhir orang Yahudi yang hidup dalam penyelamatan yang dilakukan Gereja Katolik paling sedikit 700.000 jiwa, namun dalam semua kemunngkinan jumlahnya mendekati…860.000.”[21]. Hal ini merupakan jumlah yang lebih besar dari organisasi pertolongan Yahudi di eropa, yang dikombinasikan, sanggup untuk diselamatkan. Lapide menghitung bahwa Pius XII dan Gereja Katolik merupakan organisasi pertolongan paling berhasil di seluruh eropa selama perang, melebihi palang merah dan semua lembaga pertolongan lainnya.

Fakta ini berlanjut untuk diketahui ketika Pius XII wafat tahun 1958. Buku Lapide mencatat puji-pujian sejumlah pemimpin Yahudi terhadap Paus dan jauh dari setuju dengan Jack Chick yang [berkata] bahwa [Paus Pius XII] pantas mati karena “kejahatan perangnya”, Pemimpin-pemimpin Yahudi yang sangat memuji [Paus Pius XII] yaitu[22] :

“Kami berbagi dukacita dunia terhadap kematian Yang Suci Pius XII …. Selama 10 tahun teror Nazi, ketika orang-orang kami melewati kemartiran yang mengerikan, Paus meninggikan suaranya untuk menghukum para penganiaya dan untuk mengasihi korban-korban mereka” (Golda Meir, wakil Israel untuk PBB dan kelak Perdana Menteri Israel)

“Dengan terimakasih spesial kami mengingat seluruh yang telah dia (Paus Pius XII) lakukan untuk orang-orang Yahudi teraniaya selama salah satu masa tergelap dalam seluruh sejarah mereka (orang Yahudi)” (Nahum Goldmann, President of the World Jewish Congress)

“Lebih dari orang lain, kami telah memiliki kesempatan untuk mengapresiasi keramahan yang besar, yang dipenuhi dengan belas kasihan dan keluhuran budi, yang Paus tampilkan selama tahun-tahun penganiayaan dan teror yang mengerikan” (Elio Toaff, Chief Rabbi of Rome, following Rabbi Zolli’s Conversion)

Akhirnya, mari kita simpulkan dengan sebuah kutipan dari catatan Lapide yang tidak diberikan pada saat kematian Paus pius XII, melainkan diberikan setelah Perang oleh figur Yahudi yang paling terkenal pada abad ini, Albert Einstein: “Hanya Gereja Katolik yang memprotes melawan serangan gencar Hitlerian terhadap kebebasan. Sampai di situ lalu saya tidak tertarik lagi terhadap Gereja, tapi sekarang saya merasa sebuah kehormatan besar bagi Gereja, yang sendirian telah memiliki keberanian untuk berjuang bagi kebenaran spiritual dan kebebasan moral.” [23]

Catatan Kaki :

[1] Dave Hunt, A Woman Rides the Beast (Eugene, Oregon: Harvest House, 1994), 284.

[2] Jack Chick, Smokescreens (China, California: Chick Publications, 1983), 45.

[3] Robert Graham, S.J., ed., Pius XII and the Holocaust (New Rochelle, New York: Catholic League for Religious and Civil Rights, 1988), 106.

[4] Joseph Lichten, “A Question of Moral Judgement: Pius XII and the Jews,” in Graham, 107.

[5] Pinchas E. Lapide, Three Popes and the Jews (New York: Hawthorn, 1967), 118.

[6] Ibid., 121.

[7] Lichten, 107.

[8] Graham, 18.

[9] Ibid., 19.

[10] Lichten, 30.

[11] Ibid., 99.

[12] Ibid., 120.

[13] Ibid., 125.

[14] Ibid., 126.

[15] Lapide, 133.

[16] Lichten, 127.

[17] Graham, 62.

[18] Lichten, 130.

[19] American Jewish Yearbook 1944-1945, 233.

[20] Lapide, 133.

[21] Ibid., 215.

[22] Ibid., 227-228.

[23] Ibid., 251.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: