Strategi Iblis Menggoda Manusia

Catatan penulis : Kutipan dibawah ini diambil dari buku C.S. Lewis yang berjudul The Screwtape Letters, yaitu kumpulan surat paman iblis kepada keponakannya untuk menggoda manusia. Untuk memahami bacaan ini, maka harus diingat bahwa yang dimaksud pasien dalam teks ini adalah manusia yang digoda, Sang Musuh adalah Allah. Jangan lupa bahwa surat ini ditulis oleh PAMAN IBLIS (Screwtape) KEPADA KEPONAKANNYA (Wormwood). Melalui surat ini kita juga bisa mengetahui strategi iblis dan mempelajarinya untuk mencegah godaan yang mungkin terjadi. Penekanan dan komentar (dalam tanda “[…]”) berasal dari penulis.

Bab 6 : Kehendak Intelek dan Fantasi

Yang terkasih Wormwood,

Aku senang sekali mendengar profesi dan usia pasienmu membuka peluang hal itu bisa terjadi, pasti dia akan dipanggil untuk mengikuti wajib militer. Nah, kita bisa membuatnya berada dalam ketidakpastian semaksimal mungkin, dan seluruh pikirannya akan diisi dengan bayang-bayang akan masa depan yang saling bertentangan. [disini kita melihat bahwa iblis mencoba untuk masuk melalui ketidakpastian akan masa depan] Masing-masing bayangan itu akan membangkitkan harapan atau pun ketakutan.[dan ketidakpastian itu akan mennyebabkan munculnya harapan atau ketakutan] Tak ada hal lain yang lebih baik untuk mengalihkan pikiran manusia dari Sang Musuh, selain melalui ketegangan dan kebimbangan.[ketegangan dan kebimbangan sebagai akibat dari ketidakpastian ini dapat mengalihkan pikiran kita kepada Tuhan, sehingga orang cenderung fokus pada bayangan akan masa depan dan melupakan Tuhan] Ia menginginkan manusia peduli terhadap apa yang mereka lakukan; tetapi kita akan membuat mereka mengkhawatirkan apa yang terjadi pada diri mereka.

Pasienmu itu tentu saja sudah mengetahui bahwa dia harus sabar menaati kehendak Sang Musuh. Maksud Sang Musuh dalam hal ini adalah supaya dia sabar menerima semua penderitaan yang terjadi padanya – semua kegelisahan dan ketegangan yang dialaminya pada saat ini. Untuk hal inilah dia seharusnya mengatakan “jadilah kehendak-Mu”, dan tugas sehari-hari menanggung hal ini akan disediakan makanan baginya setiap hari. Tugasmu adalah memastikan bahwa si pasien tidak pernah memikirkan ketakutan pada saat ini sebagai salib yang ditetapkan baginya, biarlah yang dipikirkannya hanya yang ditakutinya itu saja [disini iblis mencoba untuk membuat manusia tidak menganggap ketakutan itu sebagai salib yang harus dipikul, pada kalimat selanjutnya tampaknya sang iblis merubah strategi]. Biarkan dia menganggap semuanya itu salib-salibnya [sekarang manusia digoda untuk memikirkan bahwa semua ketakutan itu adalah salib]: biarkan dia melupakan bayang-bayang masa depan itu yang tidak semuanya akan menimpanya, karena semuanya saling bertentangan [setelah diisi dengan bayangan masa depan, sekarang manusia diminta untuk melupakannya]. Selanjutnya, biarkan dia mencoba bersikap tabah dan sabar menghadapi semuanya itu. Karena kepasrahan sejati, kepada selusinan hipotesis takdir lainnya, pada saat yang bersamaan, sangatlah mustahil baginya, dan Sang Musuh tidak akan banyak menolong [begitu cepatnya perubahan strategi yang baru, dan manusia akan digoda untuk memasrahkan masa depan kepada berbagai kemungkinan yang akan terjadi, bukannya kepada Tuhan, sekali lagi iblis berusaha menjauhkan manusia dari Tuhan] mereka yang berusaha melakukan itu : karena kepasrahan kepada penderitaan aktual pada masa kini, bahkan meskipun penderitaan itu mengandung ketakutan, jauh lebih mudah dan Sang Musuh biasanya ikut campur tangan secara langsung untuk menolongnya.

Sebuah hukum rohani penting berlaku disini. Memang telah kujelaskan bahwa bisa kau perlemah doa-doanya dengan mengalihkan perhatiannya dari Sang Musuh [strategi baru!] itu sendiri ke pikirannya sendiri mengenai Sang Musuh. Pada sisi lain, [NB]ketakutan menjadi lebih mudah dikendalikan jika pikiran si pasien beralih dari hal yang ditakutinya ke perasaan ketakutan itu sendiri. Ketakutan dianggap sebagai suatu kondisi pikirannya sendiri, yang tidak dikehendaki pada saat ini; dan ketika dia menganggap ketakutan ini sebagai salib yang sudah ditentukan baginya, dia pasti akan menganggap ketakutan itu hanya sebagai kondisi pikiran saja [makna salib direduksi hanya menjadi sebuah kondisi pikiran, bukan sebuah kenyataan berat yang seharusnya dipikul umat katolik]. Aturan umumnya bisa dirumuskan seperti ini; dalam semua aktivitas pikiran yang sesuai dengan maksud kita, doronglah si pasien untuk tidak menyadarinya dan terus memusatkan perhatiannya pada objeknya, tetapi untuk semua aktivitas pikiran yang dikehendaki Sang Musuh harus dibengkokkan menjadi tertuju pada dirinya sendiri [terlihat jelas sekali rencananya]. Berikan ejekan atau sesosok tubuh wanita untuk menarik perhatiannya pada hal-hal lahiriah, sehingga dia tidak lagi berpikir “aku sekarang sedang memasuki fase yang disebut Kemarahan – atau fase yang disebut Nafsu”. Sebaliknya, biarkan dia menganggap “perasaanku sekarang makin saleh, atau makin murah hati.” Tariklah perhatiannya pada hal-hal batiniah saja supaya dia tidak lagi melihat keluar dari dirinya sendiri, yang memungkinkannya berjumpa dengan Sang Musuh ataupun para tetangganya.

Sehubungan dengan sikapnya yang semakin terbiasa terhadap peperangan, engkau seharusnya tidak banyak bergantung pada perasaan-perasaan kebencian semacam itu. Manusia, baik dari kubu Kristen atau pun anti-kristen, hanya senang mendiskusikannya secara berkala saja. Di dalam kepedihannya, si pasien tentu bisa terdorong untuk membalas dendam terhadap para pemimpin Jerman; sebesar apapun perasaan dendamnya, itu bagus! Tetapi dendam seperti itu biasanya hanya sejenis kebencian yang sensasionil atau isapan jempol belaka pada si korban – hanya ada di dalam khayalannya saja. Dia sendiri belum pernah berjumpa dengan orang-orang itu dalam kehidupan nyata – mereka hanyalah figur-figur fiktif yang diperolehnya dari gambar-gambar di Koran. Hasil dari kebencian khayalan semacam itu sering kali paling mengecewakan, dan dibandingkan dengan manusia-manusia lainnya, penduduk Inggris adalah orang-orang yang paling tidak bersemangat menyangkut hal ini. Mereka adalah sejenis makhluk yang lantang menyatakan bahwa penyiksaan masih terlalu baik untuk para musuh mereka, tetapi kemudian mereka tetap menyuguhkan teh dan rokok untuk pilot-pilot Jerman terluka, yang muncul di depan pintu mereka.

Lakukanlah apa yang engkau kehendaki. Di dalam jiwa pasienmu pasti ada kebajikan sebagaimana dia juga memiliki kebencian. Yang terpenting adalah mengalihkan kebencian itu kepada para tetangga di dekatnya yang dijumpainya setiap hari, dan doronglah dia melakukan kebajikan ke tempat yang jauh, ke orang-orang yang tidak dikenalnya. Dengan demikian, kebencian menjadi benar-benar nyata dan kebajikan hanyalah bayang-bayang saja [intinya, manusia digoda untuk membenci orang-orang yang berada di dekatnya, dan mencintai orang yang berada jauh darinya]. Tidak ada faedahnya sama sekali engkau kobarkan kebencian pasienmu terhadap Jerman jika pada saat yang sama sebuah kebiasaan berbuat baik yang merusak [tidak mendidik] tumbuh juga diantara dia dan ibunya, karyawannya, dan orang-orang yang dijumpainya di kereta api. Bayangkan manusiamu itu sebagai suatu rangkaian lingkaran konsentris dengan titik pusat berisi kehendaknya, kemudian lingkaran inteleknya, dan terakhir lingkaran fantasinya. Sulit berharap bisa sekaligus ditiadakan segala sesuatu yang berbau Sang Musuh dari semua lingkaran itu : tetapi engkau harus mendorong kebajikan itu ke arah luar hingga akhirnya kebajikan itu berada pada lingkaran fantasinya saja; sedangkan semua kualitas yang kita kehendaki didorong masuk ke dalam lingkaran Kehendak. Kebajikan itu menjadi sangat fatal bagi kita, hanya jika kebajikan itu menjangkau Kehendak dan menjelma menjadi suatu kebiasaan. (Tentu saja, yang kumaksud bukanlah omelan, celoteh, dan gertakan gigi yang disadarinya, yang secara keliru dianggapnya sebagai Kehendak oleh pasienmu; tetapi maksudku adalah pusat utama – yang disebut Hati oleh Sang Musuh). Segala jenis kebajikan yang hanya khayalan, meskipun sesuai dengan inteleknya atau bahkan dicintai dan dikaguminya, tidak akan menjauhkan seseorang dari rumah Bapa Kita : bahkan semua itu malah membuatnya semakin terpikat ketika dia melakukannya.

Pamanmu yang setia,

SCREWTAPE

One comment

  1. bernadeth jessi wahyuni · · Balas

    Pikiran Buruk: Apakah Dosa dan Bagaimana Mengatasinya?:

    oleh: P. John Bartunek, LC, ThD

    Saya hendak mengajukan pertanyaan sehubungan dengan “pikiran-pikiran buruk” – pikiran-pikiran negatif, kotor, atau bahkan menghujat salah satu dari ketiga Pribadi Tritunggal Mahakudus atau Santa Perawan Maria. Saya mengerti bahwa hal ini dapat terjadi dalam kasus-kasus ketidakseimbangan psikologis, atau ketidakmatangan, yang saya pikir sedikit saja bersalah. Dalam konteks mereka yang berupaya mengembangkan kehidupan rohani, pikiran buruk tampak sebagai pencobaan-pencobaan yang dikilaskan di hadapan kita oleh iblis sebagai suatu bentuk pertarungan rohani. Pengertian saya adalah bahwa karena pencobaan bukanlah dosa, tindakan terbaik adalah mengabaikannya. Di samping itu, sebab orang lebih mudah mendapatkan pikiran-pikiran macam ini ketika letih atau lapar atau dalam keadaan stress, akal sehat akan mengajukan pentingnya makan, tidur, olahraga dan doa. Tetapi, singkat kata, di manakah “garis batasnya”? Saya mengasihi Allah dan tak pernah sedikitpun menghendaki dekat-dekat dengan “dosa tak terampuni melawan Roh Kudus”; akan tetapi pikiran-pikiran buruk ini dapat menakutkan. Bilamana dan bagaimanakah orang mengakukannya? Bagaimanakah orang menata hidup rohani agar murni dalam pikiran?

    Pertanyaan yang diajukan di atas itu sendiri mengandung banyak kebijaksanaan. Sesungguhnya, juga mengandung banyak pertanyaan (tiga, tepatnya). Sebelum menjawab, kita perlu melakukan satu pembedaan lagi.

    Bagi orang yang telah berusaha secara aktif dan tulus meneladani Kristus, pikiran-pikiran buruk dapat dikilaskan secara langsung oleh iblis, sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan di atas; akan tetapi ada juga dua sumber lainnya. Pertama, pikiran buruk dapat dikilaskan dari alam bawah sadar kita sendiri. Jika seorang mengalami suatu pertobatan (atau kembali) setelah bertahun-tahun hidup dalam gaya hidup dosa yang terpusat pada diri sendiri, maka gema dari gaya hidup yang lama itu akan masih bergaung di bawah permukaan pikiran. Dari waktu ke waktu gema itu dapat menyeruak ke permukaan dan muncul di alam sadar, dalam upaya mendapatkan kembali tempat dalam kehendak. Dalam kasus ini, pikiran-pikiran buruk tidak ditanamkan secara langsung oleh iblis. Jika kita menolak upaya-upaya terakhir dari kebiasaan lama kita ini, maka mereka pada akhirnya akan kehilangan energi dan kemunculannya akan semakin berkurang.

    Kedua, pikiran-pikiran buruk dapat merupakan akibat dari kecerobohan. Kita dikelilingi oleh pengaruh-pengaruh mental yang non-Kristen dan kerapkali yang tidak Kristiani; gambar-gambar di internet, papan-papan reklame dan iklan-iklan, gagasan-gagasan dalam artikel, film, buku dan tayangan televise, nilai-nilai merusak yang diselipkan ke dalam musik dan karya seni duniawi. Jika kita membiarkan diri kita meneguk racun-racun ini, dampaknya akan muncul di kemudian hari, mengacaukan pikiran dan akhirnya menarik kita meninggalkan persahabatan dengan Kristus.

    Menjaga Benteng

    Jadi, jawaban pertama dari ketiga pertanyaan di atas: kita dapat bertumbuh dalam pikiran yang murni dengan memelihara indera dan akal budi kita dari masukan-masukan yang beracun. Ini tampaknya sedikit kolot dalam suatu masyarakat yang majemuk, tetapi berdasar pada pikiran sehat. Kita berhati-hati akan makanan yang kita telan, sebab kita tahu itu mempengaruhi kesehatan jasmani kita. Hendaknyalah kita terlebih lagi berhati-hati akan apa yang secara sengaja kita biarkan masuk ke dalam hati dan pikiran, sebab itu akan mempengaruhi kesehatan rohani kita. (Suatu gambar favorit yang dipergunakan oleh para penulis rohani adalah gambar sebuah jembatan-tarik dan sebuah benteng. Kita tidak menurunkan jembatan ketika para musuh datang mengetuk; kita menyimpan jembatan dengan aman di tempatnya guna melindungi benteng dari serangan musuh.

    Seorang isteri yang secara rutin membaca novel-novel roman picisan (yang adalah bentuk tak kentara dari pornografi), atau yang setiap hari menikmati opera sabun yang menggairahkan, menyumbat pembuluh-pembuluh nadi perkawinannya dan membahayakan diri terhadap suatu serangan jantung rohani. Seorang suami yang pergi ke bar-bar yang menyuguhkan striptease demi “sekedar memperlancar bisnis” melewatkan lebih banyak waktu bersama teman-teman atheis daripada bersama teman-teman yang mencari Kristus; dan ia yang tidak berinisiatif untuk melindungi diri dari tayangan pornografi di internet, tidak memelihara kondisi rohani. Dalam kedua kasus ini, “pikiran buruk” dan gagasan hujta akan semakin dan semakin sering muncul, bahkan tanpa provokasi langsung oleh iblis. Dalam kasus-kasus ini, sekurang-kurangnya kita bertanggung jawab sebagian atas pikrian-pikiran jahat yang muncul untuk mencobai kita, dan kita sepatutnya mengakukan kelalaian ini dalam Sakramen Tobat, dan Allah akan memberikan kekuatan agar kita terlebih selaras dengan kehendak-Nya.

    Pertahanan Diri Rohani

    Satu taktik lain yang berguna untuk mengembangkan kemurnian pikiran adalah dengan menanggapi secara positif pikiran-pikiran buruk yang muncul, dari manapun sumbernya. Sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan di atas, begitu kita mengenali kilasan suatu pikiran buruk, hal terakhir yang ingin kita lakukan adalah memberikan perhatian padanya. Jika kita dapat sekedar mengabaikannya dan kembali melakukan kehendak Allah dengan segenap hati dan segenap pikiran, itu bagus. Tetapi jika pikiran-pikiran buruk itu dahsyat dan bertubi-tubi, mengabaikannya tidaklah selalu mudah. Dalam kasus-kasus demikian, kita perlu mempunyai suatu rencara yang telah disusun sebelumnya. Kita perlu siaga untuk mengenyahkannya dengan doa sementara kita berupaya mengalihkan perhatian kita kembali pada kehendak Allah. Hal ini dapat dilakukan dengan suatu doa vokal sederhana seperti Bapa Kami atau Salam Maria; dapat pula dengan suatu ayat favorit dari Kitab Suci yang dipergunakan sebagai perisai melawan yang jahat (misalnya “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku…” Mazmur 23:1).

    Baru-baru ini saya mendengar kisah seorang yang bergulat untuk mengatasi pencobaan-pencobaan seksual dengan mewajibkan diri menyanyikan madah pujian hingga pikiran-pikiran sensual tersingkir – ia mengatakan bahwa pada akhirnya ia telah menghafalkan empat bait lengkap hingga lebih dari selusin madah pujian dalam upayanya bertumbuh dalam kemurnian. Jika kita gagal bertempur secara aktif, dengan semangat iman, melawan pikiran-pikiran buruk yang mencobai kita, atau jika semangat kita untuk bertempur lesu, maka kita patut mengakukan kelalaian ini dalam Sakramen Tobat, dan Allah akan memberi kita kekuatan agar menjadi terlebih gagah berani.

    Garis Batas

    Ini membawa kita ke pertanyaan pertama di atas mengenai di manakah kita harus menarik garis batas. Jika kita tahu bahwa keadaan-keadaan tertentu (penggunaan media tertentu, atau kelelahan jasmani dan stress, sebagaimana dinyatakan dalam pertanyaan) cenderung meningkatkan intensitas, frekwensi ataupun daya pikat pikiran-pikiran buruk, kita bertanggung jawab untuk melakukan upaya yang pantas guna menghindari keadaan-keadaan tersebut. Delapanpuluh jam kerja dalam seminggu mungkin memberimu promosi yang engkau damba, tetapi apakah mendapatkan promosi itu sepadan nilainya dengan membahayakan diri dalam kesempatan-kesempatan dosa? Yesus tidak berpendapat demikian, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Matius 16:26). Akan tetapi, terkadang keadaan ada di luar kendali kita (bayi yang rewel membuat kita tidak tidur ssemalaman). Itulah saat ketika Tuhan mengundang kita untuk terlebih lagi bergantung kepada-Nya dan kepada sarana-sarana ketekunan yang Ia anugerahan kepada kita (sakramen-sakramen, doa, persahabatan yang sehat, pasangan yang mengasihi…).

    Jika kita secara aktif melakukan upaya yang pantas dalam menjalankan bagian kita untuk mengamalkan hidup yang terpusat pada Kristus, hidup seimbang dan bertumbuh dalam kemurnian pikiran, dan kendati demikian gagasan-gagasan dan gambar-gambar jahat masih mengganggumu, maka pikiran-pikiran jahat itu sungguh tak memenuhi syarat sebagai bahan pengakuan. Pikiran-pikiran yang demikian lebih seperti cuaca rohani yang buruk. Dalam arti ini, baik disebutkan bahwa banyak santa/santo mengalami pencobaan-pencobaan hujat yang dahsyat dan bertubi hingga akhir hidup mereka, ketika mereka telah maju dalam kehidupan rohani. Iblis mengirimkan pencobaan-pencobaan ini guna memicu kegelisahan dalam upaya meruntuhkan kepercayaan mereka kepada Allah dan mengacaukan kedamaian jiwa mereka. Jika itu terjadi pada kalian, segera kembangkan payung doa dan ketaatan pada kehendak Allah, dan tanggunglah badai selama Allah mengijinkannya terjadi. Sementara kalian melakukannya, kalian akan berlatih dalam segala keutamaan-keutamaan utama Kristen, dan dengan demikian bertumbuh dalam kekudusan dan membangun Gereja.

    Damai Kristus, P John Bartunek, LC

    sumber : “Is it a sin to have bad thoughts? How do I deal with bad thoughts?” by Father John Bartunek, LC; Copyright © 2009 Catholic Spiritual Direction; http://rcspiritualdirection.com/blog

    Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Spiritual Direction”

    Catholic Spiritual Direction – Seek Him – Find Him – Follow Him
    rcspiritualdirection.com
    Percakapan Obrolan Berakhir
    Dilihat 20:58

    Kamera
    Pilih stiker atau emotikon

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: