How to Win the Culture War – Peter Kreeft

Bagaimana memenangkan Budaya Peperangan
1. Kita sedang berperang
2. Mengetahui musuh kita
3. Senjata

1. Kita sedang berperang
Untuk memenangkan sejumlah peperangan dan perang macam apapun, saya pikir ada tiga hal terpenting yang harus kita ketahui, yaitu:

bahwa kita sedang berperang;

siapa musuh kita;

dan senjata atau strategi apa yang dapat mengalahkannya.

Kita tidak dapat memenangkan sebuah peperangan: pertama, jika kita dengan senang hati menjahit panji-panji perdamaian di medan perang; atau kedua, jika kita terlalu sibuk memperjuangkan perang-perang sipil melawan sekutu-sekutu kita; atau, ketiga, jika kita menggunakan senjata-senjata yang keliru. Sebagai contoh, kita harus melawan api dengan air-bukan dengan api.

Dengan demikian pembicaraan ini merupakan sebuah checklist tiga poin yang sangat mendasar dan sederhana yang harus dipastikan bahwa kita semua minimal paling tidak mengetahuinya.

Saya mengasumsikan Anda tidak akan tiba pada pembicaraan bertajuk “Bagaimana memenangkan budaya peperangan” jika Anda berpikir semuanya adalah baik. Jika Anda terkejut ketika diberitahu bahwa keseluruhan peradaban kita berada dalam krisis, saya menyambut kepulangan Anda dari liburan yang menyenangkan di bulan.

Banyak pikiran tampak gila (akibat pengaruh fase bulan), puttering (puttering=melakukan pekerjaan yang nyata namun tidak memiliki tujuan yang spesifik) dengan bahagia di sekitar Titanic, dengan sopan menyusun kursi-kursi dek-khususnya para intelektual, yang diharapkan lebih membuka mata mereka, bukan sebaliknya. Namun kenyataannya, mereka lebih sering menyerupai the bland leading the bland (the bland leading the bland=orang yang memimpin sama tidak menariknya dengan orang yang ia pimpin, sehingga apapun hasilnya, akan menjadi tidak menarik?). Saya telah menverifikasi berulang kali prinsip yang menyatakan bahwa hanya ada satu hal yang diperlukan bagi Anda untuk mempercayai apa saja dari 100 ide-ide terkonyol yang mungkin dibayangkan oleh manusia: Anda harus memiliki Ph.D.

Sebagai contoh, ambil majalah Time-silahkan lakukan. Henry Thoreau mengatakan, “Jangan membaca sebuah periode waktu dalam sejarah, melainkan bacalah kekekalan”. Dua April yang lalu, artikel terdepan mereka didedikasikan kepada pertanyaan, “Mengapa segalanya menjadi makin lebih baik?” Mengapa hidup begitu menyenangkan di Amerika dewasa ini? Mengapa setiap orang merasa begitu puas dan optimis mengenai kualitas hidup di masa depan? Saya membaca artikel tersebut dengan sangat hati-hati dan menemukan bahwa tidak sekalipun mereka mempertanyakan asumsi mereka. Mereka hanya bertanya-tanya, “Mengapa?” dan Anda berpikir Enlightenment optimist (?) dan dogma kemajuan (telah) mati?

Hal ini menjadi nyata setelah membaca artikel tersebut bahwa setiap aspek dari hidup yang mereka sebutkan, setiap alas an mengapa segalanya menjadi semakin baik dan baik, adalah ekonomi. Orang memiliki lebih banyak uang. Titik. Akhir dari diskusi. Kecuali kaum miskin, tentunya. Tapi mereka tidak masuk hitungan karena mereka tidak menulis (majalah) Time. Mereka bahkan tidak membacanya.

Saya mencurigai bahwa (majalah) Time pada dasarnya sama dengan (majalah) Playboy, hanya saja dengan pakaian yang tertutup. Bagi playboy jenis yang satu, dunia merupakan satu contoh besar dari rumah pelacuran. Bagi yang lainnya, dunia merupakan satu piggy bank (piggy bank=celengan koin anak-anak yang biasanya berbentuk seperti babi?) yang besar. Bagi kedua jenis playboy tersebut, sesuatu menjadi semakin baik dan baik. Tanya saja kepada 75% orang Amerika yang menyukai Bill Clinton, perpaduan sempurna dari keduanya.

Mereka menyukainya (Bill Clinton) untuk alasan yang sama orang Jerman menyukai Hitler pada mulanya ketika mereka memilihnya: efisiensi ekonomi. Autobahns dan Volkswagens. (Tersedianya) Pekerjaan dan perumahan. Hitler telah bekerja dengan keras mewujudkan keajaiban ekonomi terbesar di abad itu pada tahun 1930an. Apa lagi yang menjadi persoalan sepanjang kaisar memberikan kamu roti dan sirkus? Bagaimanapun orang-orang adalah babi, dan bukan orang kudus. Mereka menyukai kelimpahan lebih dari kehormatan.

Saya pikir kebirahian seksual dan ketamakan ekonomi merupakan kembaran yang alami, karena nafsu dan ketamakan hampir dapat dipertukarkan. Kenyataannya, masyarakat kita kadang-kadang tampak tidak mengetahui perbedaan antara seks dan uang. Mereka memperlakukan seks seperti uang dan memperlakukan uang seperti seks. Mereka memperlakukan seks seperti uang karena mereka memperlakukannya sebagai media pertukaran, dan mereka memperlakukan uang seperti seks karena mereka mengharapkan uang mereka untuk mengandung dan bereproduksi sepanjang waktu. Oleh karena itu, kita membutuhkan suatu pendidikan seks yang sangat mendasar.

Namun, terdapat sebuah sanggahan yang tak terbantahkan dari “filosofi babi”; yang sederhana adalah fakta statistic bahwa bunuh diri–indeks ketidakbahagiaan yang paling terang-terangan—secara langsung, maupun tidak langsung sebanding dengan kesejahteraan. Semakin kaya Anda dan semakin kaya Negara Anda, semakin besar kemungkinan bahwa Anda akan mendapati hidup begitu menyenangkan sehingga Anda akan memilih untuk bunuh diri dengan menembak kepala Anda (Mungkin hal itu merupakan kulminasi dari keterbukaan pikiran).

Bunuh diri di antara para remaja telah meningkat 5000 persen sejak hari-hari bahagia di era 50an. Jika bunuh diri, khususnya dari generasi yang akan datang, bukan merupakan sebuah indeks krisis, maka saya tidak tahu apa itu.

Hampir semua orang kecuali para pemikir “mendalam”, mengetahui bahwa kita berada dalam deep doo-doo (deep doo-doo=sebuah situasi dengan hasil yang belum diketahui hingga saat ini yang mana situasi ini umumnya diakibatkan oleh adanya kesalahan dalam penilaian, contohnya seperti seseorang yang karena salah penilaian menginjak tanah yang dengan penuh kotoran dan tidak tahu bagaimana harus melangkah keluar). Para murid mengetahuinya, namun tidak demikian dengan para guru—para pembentuk pikiran, khususnya media. Setiap orang di rumah sakit kecuali para dokter mengetahui bahwa kita sedang sekarat. Malam telah menjelang. Bunda Teresa mengatakan dengan sederhana, “Ketika seorang ibu tega membunuh bayinya, apa yang tersisa dari peradaban untuk diselamatkan?”. Apa yang Chuck Colson beri label sebagai “masa kegelapan baru” sedang mengancam; sebuah kegelapan yang membaptis dirinya sendiri sebagai Pencerahan pada saat kelahirannya tiga abad yang lalu. Dan dunia baru yang berani ini telah terbukti hanya menjadi sebuah mimpi lama yang tanpa spirit/semangat.

Kita dapat melihat hal ini sekarang, pada abad genosida yang telah ditutup—abad yang pada saat kelahirannya dibaptis sebagai “Abad Kristen” oleh pendiri-pendiri dari sebuah majalah yang secara setia didedikasikan pada nubuatan palsu.

Kita juga telah memiliki beberapa nabi sejati yang telah memperingatkan kita. Kirkegaard, 150 tahun yang lalu, dalam Present Age (1846). Dan Spengler hampir 100 tahun yang lalu dalam Abad Kemunduran Dunia Barat. Dan G. K. Chesterton, yang menulis 75 tahun yang lalu bahwa, “Bidaah besar berikutnya tidak lain adalah sebuah serangan terhadap moralitas, dan secara khusus pada moralitas seksual. Dan kegilaan di masa depan tidak akan datang dari Moskow tetapi dari Manhattan.” Dan Aldous Huxley, 65 tahun yang lalu, dalam Brave New World. Dan C. S. Lewis, 55 tahun yang lalu, dalam The Abolition of Man. Dan David Reisman, 45 tahun yang lalu, dalam The Lonely Crowd. Dan Alexander Solzhenitsyn, 20 tahun yang lalu, dalam pidato pembukaannya di Harvard. Dan John Paul the Great, orang terbesar dari abad terburuk dalam sejarah, yang bahkan lebih galak dari Ronald Reagan (yang berani menamakan mereka “kerajaan setan”) dengan memanggil kita “budaya kematian”. Itu merupakan budaya kita—dan juga budaya, termasuk Italia, yang mana sekarang memiliki angka kelahiran terendah di seluruh dunia; dan Polandia, yang mana sekarang ingin berbagi dalam sisa-sisa holocaust (holocaust=tindakan pengrusakan yang besar dan menghilangkan kehidupan) aborsi besar dunia Barat.

Jika Tuhan sebagai pemilik dari kehidupan tidak bereaksi terhadap budaya kematian ini dengan penghakiman, maka Tuhan bukanlah Tuhan. Jika Tuhan tidak menyayangkan darah dari ratusan juta orang, yang menjadi korban tidak bersalah dari budaya kematian ini, maka Tuhan dari Injil, Tuhan dari Abraham, Tuhan dari bangsa Israel, Tuhan dari para nabi, Tuhan dari anak-anak yatim dan janda, Pembela dari yang tidak berdaya, adalah sebuah mitos buatan manusia, sebuah dongeng, sebuah impian menyenangkan yang sesubstansi dengan sebuah mimpi.

“Tetapi,” Anda mungkin keberatan, “Bukankah Tuhan dari Injil juga mengampuni?” Ya benar. Namun si bebal, yang keras hati, selalu menolak pengampunan dari Tuhan. Pengampunan, yang merupakan anugrah rahmat dari Tuhan, haruslah diberikan dan diterima dengan sukarela. Bagaimana pengampunan itu dapat diterima oleh kaum relativis moral yang menolak bahwa terdapat sesuatu yang perlu diampuni? (Kecuali ketakterampunan. Tidak ada yang dihakimi, yang ada adalah paham yang menghakimi. Tidak ada yang kurang, melainkan keangkuhan.) Bagaimana seorang Farisi atau seorang psikolog yang popoler dapat diselamatkan?

Tetapi, Anda mungkin keberatan, bukankah Tuhan dari Injil berbelaskasihan? Ya benar. Namun Ia tidak berbelaskasihan terhadap Moloch dan Baal dan Ashtaroth dan kepada kaum Kanaan, yang melakukan pekerjaan mereka, yang menyebabkan anak-anak mereka berjalan melewati api. Mungkin tuhanmu berbelaskasihan pada pekerjaan pengurbanan manusia–tuhan dari kebutuhanmu, tuhan dari pilihan religiusmu—Namun bukan Tuhan dari Injil. Baca buku. Lihat data.

Namun bukankah Tuhan dari Injil terungkap paling penuh dan final dalam Perjanjian Baru dibandingkan dalam Perjanjian Baru? Dalam Yesus yang lembut dan penuh kasih daripada Jehovah yang ganas dan penuh amarah? Pertentangan tersebut adalah heresy. Hal itu adalah heresy lama dari Gnostic-Manichean-Marcionite, yang tidak pernah mati sama halnya dengan setan yang menginspirasikannya. Data kita menyanggahnya; data hidup kita, yang merupakan data ilahi dan data yang berbicara. Jadi namaNya adalah “Sabda” Tuhan. Data ini menyanggah hipotesis bidaah yang belum jelas ketika Ia berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.”

Pertentangan antara Yesus yang baik hati dan Jehovah yang buruk menyangkal esensi Kekristenan yang sebenarnya—Identitas Kristus sebagai Anak Allah. Mari kita ingat pelajaran biologi kita sebaik pelajaran teologi kita. Karakter atau perilaku anak biasanya mirip dengan karakter dan perilaku bapaknya. Jika Yesus bukan lagi Anak dari Tuhan tersebut maka Barney adalah anak dari Hitler.

Akankah Yesus mengungkapkan jati diriNya yang sebenarnya? Ia melakukannya dengan senang hati. Injil merupakan pop-up books (pop-up book=sebuah buku, biasanya buku untuk anak-anak, yang mengandung satu atau lebih halaman seperti struktur tiga dimensi yang meloncat keluar ketika sebuah halaman dibuka); buka halaman-halamannya dan ia meloncat keluar. Mari kita memberanikan diri melihat pada data kita. Mari kita melihat bagaimana lembut dan baik hatinya Yesus sesungguhnya ketika berkata tentang dosa-dosa kaum Kanaan, tentang budaya kematian.

Beberapa abad yang lalu, kaum-kaum Kanaan tersebut biasa menjalankan liturgi-liturgi mereka yang mengurbankan manusia, devosi-devosi kepada setan dengan membunuh bayi, di lembah Gehenna, atau Ge Hinnom, persis di luar Yerusalem. Itu merupakan tempat aborsi yang luas, seperti budaya kita. Ketika umat Tuhan memasuki Tanah Terjanji, Pangeran Perdamaian memerintahkan mereka untuk mematikan pertumbuhan praktek-praktek jahat dari kaum Kanaan tersebut. Bahkan setelah hal itu dilakukan, orang-orang Yahudi tidak berani untuk tinggal di lembah tersebut atau bahkan melangkahkan kaki ke sana. Mereka menggunakan tempat itu untuk membakar sampah-sampah mereka. Dengan demikian tanah terjanji iblis menjadi tempat penimbunan sampah dari Tuhan. Dan api tersebut tidak pernah padam, baik siang maupun malam (ingat, tidak ada penyulut api di sana.)

Sekarang, Yesus yang lemah lembut dan baik hati memilih tempat ini, yaitu Gehenna, sebagai gambaranNya untuk neraka. Dan ia memberitahu banyak pemimpin dari orang-orang terpilihNya bahwa mereka menuju kesana dan bahwa mereka telah menuntun banyak orang lain kesana bersama dengan mereka. Ia mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Agen-agen IRS dan orang-orang internal White House berjalan mendahului kamu ke dalam Kerajaan Tuhan.” Itu merupakan terjemahan modern dinamis yang sama. Ia berkata, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Itulah data kita. Itulah Yesus yang sesungguhnya. Dan itulah Yesus yang sama dahulu, sekarang, dan sepanjang segala masa. Saya tidak berpikir dia telah mulai memproduksi batu kilangan yang terbuat dari styrofoam.

Tetapi, bukankah Tuhan adalah penyayang dibandingkan seorang pahlawan? Tidak, Tuhan adalah penyayang yang sekaligus seorang pahlawan. Pertanyaan tersebut gagal memahami apa itu kasih, alangkah besar kasih yang dimiliki Tuhan. Kasih memerangi kebencian, pengkhianatan dan keegoisan dan semua musuh dari Kasih. Kasih senantiasa berjuang; tanya saja pada orang tua manapun.

Kasih orang muda, seperti halnya kasih pada anak anjing, mungkin hanya sekedar rasa sayang dalam dunia modern dewasa ini, tetapi kasih-ayah dan kasih-ibu adalah peperangan. Tuhan adalah sungguh-sungguh kasih, tetapi kasih seperti apa? Kembali ke data kita. Apakah kitab suci menyebutNya “Allah anak anjing” atau “Allah orang muda” ataukah “Allah Bapa”? Dalam kenyataannya, setiap halaman dari Buku ini bangkit berdiri siap berperang dengan ujung tombak, dari Kitab Kejadian 3 hingga Wahyu 20. Jalan dari surga yang terhilang menuju surga yang diperoleh kembali dibasahi dengan darah. Inti sebenarnya dari kisah tersebut adalah sebuah salib, jika pernah ada sebuah contoh yang sempurna dari simbol konflik, maka contoh itu adalah sebuah salib. Tema tentang peperangan spiritual tidak pernah absen dalam Kitab Suci dan tidak pernah absen dalam hidup dan tulisan-tulisan dari satu orang santa pun. Namun tema tersebut hampir tidak pernah hadir dalam pendidikan religius murid-murid saya di BC (BC merupakan kependekan dari Barely Catholic=Hampir Bukan Katolik).

Kapanpun saya membicarakan hal ini, mereka tertegun dan diam, seolah-olah mereka masuk ke dunia lain secara tiba-tiba. Ya hal itu benar. Mereka telah berjalan melalui lemari pakaian untuk bertemu dengan singa dan penyihir. Melewati kabut yang hangat—mantel bulu dari psikologi yang menyamar sebagai agama—ke dalam salju yang dingin di dunia Narnia, dimana penyihir berambut putih menjadi tuan dari dunia ini dan Aslan bukanlah seekor singa jinak melainkan seorang pahlawan. Sebuah dunia dimana mereka bertemu dengan Kristus Sang Raja, bukan Kristus anak kucing. Selamat datang kembali dari bulan, anak-anak.

Siapa tidak mengetahui bahwa kita sedang dalam peperangan? Siapa tidak tahu bahwa bangsa barbar berada di gerbang? Bukan, di dalam gerbang, menulis naskah dari tontonan TV dan film-film dan buku-buku teks sekolah umum dan keputusan-keputusan yuridis. Jawabnya adalah hanya mereka yang berada di dalam gelembung bulan akademis atau gelembung program-program pendidikan religius yang establish, dengan nabi-nabi non profit mereka yang menyuarakan “Damai, damai” ketika tidak ada perdamaian; juga mereka yang menyusun lagu nina bobok yang sedikit liberal secara berlebihan dan menjemukan yang kita dengarkan dengan sabar sebagai lagu kontemporer.

Penjual obat-obat terlarang mengetahui bahwa kita sedang dalam peperangan. Para pelacur tahu bahwa kita sedang dalam peperangan. Para pengemis di Calcutta tahu kita sedang dalam peperangan. Para nenek Polandia kita tahu kita sedang dalam peperangan. Orang-orang Kuba tahu kita sedang dalam peperangan. Penduduk asli Amerika dulunya tahu kita sedang dalam peperangan—hingga kita memberi mereka minuman keras dan kemudian kasino-kasino perjudian untuk menumpulkan pikiran sadar mereka yang berbahaya.

Darimana datangnya budaya kematian? Disini. Amerika adalah pusat dari budaya kematian. Amerika adalah satu-satunya negara superpower budaya di dunia. Jika saya belum mengejutkan Anda, sekarang saya akan melakukannya. Tahukah Anda apa orang-orang Muslim menyebut kita? Setan Besar (Orang-orang Muslim yang tidak taat pun memanggil kita demikian, namun hal itu tidak membuat perbedaan. Kita adalah apa kita.) Dan tahukah Anda saya menyebut mereka apa? Saya menyebut mereka benar.

Namun Amerika memiliki dasar historis dan konstitusional yang paling adil dan lebih bermoral dan paling bijak dan paling Alkitabiah di dunia. Ya. Seperti Israel kuno jaman dulu. Dan Amerika adalah salah satu dari negara-negara paling religius di dunia. Ya, seperti Israel kuno jaman dulu. Dan Gereja di Amerika besar-besar, kaya dan bebas. Ya, seperti Israel kuno jaman dulu.

Dan jika Tuhan masih menyayangi gerejaNya di Amerika, Dia akan segera membuatnya menjadi kecil dan miskin dan teraniaya sama seperti yang Ia lakukan terhadap Israel kuno jaman dulu—sehingga Dia dapat menjaganya tetap hidup dengan memangkasnya. Jika Dia menyayangi kita, Dia akan memangkas kayu yang mati. Dan kita akan berdarah. Dan darah dari para martir akan menjadi benih dari Gereja kembali dan musim semi kedua akan datang dan tunas-tunas baru dihasilkan—tapi bukan tanpa darah. Hal itu tidak pernah terjadi tanpa darah, tanpa pengurbanan, tanpa penderitaan. Karya Kristus, jika itu benar-benar karya Kristus dan bukan tiruan yang nyaman, tidak pernah terjadi tanpa salib. Apapun yang terjadi tanpa salib bisa jadi merupakan pekerjaan yang baik, namun itu bukan karya Kristus. Karena karya Kristus berdarah. Karya Kritus merupakan sebuah transfusi darah. Itulah cara bagaimana keselamatan terjadi.

Dan jika kita mengenakan sarung tangan pada tangan kita untuk menghindari serpihan-serpihan dari salibNya, jika kita mempraktekkan seks spritiual aman, kontrasepsi spiritual, maka kerajaanNya tidak akan datang dan karyaNya tidak akan terlaksana. Dan dunia kita akan mati.

Saya tidak hanya bermaksud bahwa peradaban Barat akan mati; itu hanya satu hal yang remeh. Maksud saya adalah jiwa-jiwa abadi akan mati—milyaran Ramone dan Vladimir dan Tiffany dan Briget akan menuju ke neraka. Itulah yang menjadi taruhan dalam peperangan ini. Tidak hanya apakah Amerika akan menjadi sebuah republik pisang atau apakah kita akan melupakan Shakespeare atau bahkan apakah beberapa teroris nuklir akan membakar hangus sebagian umat manusia, namun sebaliknya apakah anak-anak kita dan anak-anak dari anak-anak kita akan melihat Tuhan selamanya. Itulah yang menjadi taruhan dalam pertarungan Hollywood versus Amerika. Itulah sebabnya mengapa kita harus bangun dan tersadar dan mencium bau mayat, jiwa yang membusuk, dan anak-anak yang sekarat.

Mengetahui bahwa kita sedang dalam peperangan di sepanjang masa, namun khususnya dalam masa-masa seperti sekarang ini, merupakan prasyarat pertama untuk memenangkannya.

2. Mengetahui Musuh kita
Prasyarat kedua adalah mengetahui musuh kita. Siapa musuh kita?

Selama hampir setengah milenium, Protestan dan Katolik telah menganggap satu sama lain sebagai permasalahan dan telah menanggapi permasalahan tersebut dengan menempatkan tubuh-tubuh mereka di kuburan pada medan perang dan jiwa-jiwa mereka di neraka (dengan maksud untuk membebaskan diri dari permasalahan tersebut).

Secara berangsur-angsur, cahaya menjadi terang. Protestan dan Katolik bukanlah musuh; mereka adalah saudara seiman yang dipisahkan yang berjuang bersama melawan musuh yang sama. Siapa musuh tersebut?

Selama hampir dua ribuan tahun, orang Kristen menganggapnya adalah orang Yahudi dan melakukan hal-hal yang tidak mencerminkan Kristus pada Bapa-bapa Gereja kita dalam Iman, dimana kita membuatnya hampir tidak mungkin bagi orang-orang Yahudi untuk melihat Tuhan mereka—Tuhan yang sejati—di dalam kita.

Saat ini, banyak orang Kristen menganggapnya adalah orang Muslim. Namun mereka seringkali lebih taat kepada Kristus yang tidak utuh yang mereka miliki dibandingkan kita terhadap Kristus yang utuh yang kita miliki, dan hidup lebih saleh mengikuti kitab suci mereka yang dapat salah dan nabi mereka yang dapat salah dibandingkan kita yang mengikuti Kitab kita yang tak dapat salah dan Nabi kita yang tak dapat salah. Jika Anda membandingkan stabilitas keluarga dan perlindungan anak di tengah orang-orang Muslim dan ditengah orang-orang Kristen dalam dunia dewasa ini; atau jika Anda membandingkan tingkat aborsi, perceraian, perzinahan dan sodomi di antara orang-orang Muslim dan orang-orang Kristen dalam dunia dewasa ini; dan jika Anda berani menerapkan data ini prinsip-prinsip yang diumumkan oleh para nabi dalam Kitab Suci kita sendiri ketika mereka berulangkali mengatakan bahwa Tuhan memberkati mereka yang menaati hukumNya dan menghukum mereka yang tidak, maka saya pikir Anda akan tahu mengapa Islam bertumbuh lebih cepat dibandingkan Kekristenan dewasa ini. [Ed. Catatan: kata-kata ini dibawakan tahun 1998]

Muslim-muslim yang taat mengabdi kepada Tuhan yang sama, meskipun melalui sebuah jaringan komunikasi yang berbeda dan lebih primitif. Hal yang sama, menurut saya, juga berlaku pada orang-orang Mormon dan saksi Yehuwa dan Quakers.

Kalau begitu siapa musuh-musuh kita? Banyak dari kita berpikir musuh-musuh kita adalah kaum liberal, namun untuk satu hal, istilah tersebut hampir tanpa arti fleksibel, dan untuk lainnya, merupakan istilah politik dan bukan istlah religius. Apapun yang baik atau buruk mengenai bentuk-bentuk apapun dari politik liberalisme, hal itu bukan penyebab maupun obat dari kanker spiritual yang membuat peperangan budaya ini menjadi sebuah peperangan spiritual-sebuah masalah hidup atau mati. Kehidupan dan kematian abadi, bukan kehidupan dan kematian ekonomis ataupun politik. Apakah Jack dan Jill naik ke surga atau turun ke neraka tidak akan ditentukan oleh apakah cek kesejahteraan pemerintah meningkat atau menurun.

Musuh-musuh kita bahkan bukan kaum anti Kristen yang fanatik yang ingin membunuh kita, apakah mereka kaum totaliter komunis China yang memenjarakan dan menganiaya orang-orang Kristen ataupun para teroris Muslim Sudan yang memperbudak dan membunuh orang-orang Kristen. Mereka bukan musuh-musuh kita; mereka adalah pasien kita. Merekalah yang kita sedang coba untuk selamatkan. Kita adalah perawat-perawat Kristus. Beberapa dari pasien berpikir bahwa para perawat adalah musuh-musuh mereka, tetapi para perawat tahu dengan lebih baik. Perkataan kita untuk mereka adalah, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Musuh-musuk kita bahkan bukan ulat busuk dalam budaya kita sendiri—media dari budaya kematian, Larry Flynts dan Ted Turners dan Howard Sterns dan Time-Warners dan Disneys. Mereka, juga, adalah korban, meskipun mereka juga pasien kita—meskipun mereka membenci rumah sakit dan berlarian berkeliling sambil meracuni pasien-pasien yang lain. Namun para peracun tersebut adalah pasien kita, juga, karena barangsiapa meracuni ia terdahulu diracuni oleh dirinya sendiri.

Ini juga berlaku atas para aktivis gay dan lesbian dan penyihir-penyihir feminis dan tukang-tukang aborsi. Jika kita merupakan sel-sel dalam tubuh Kristus, kita melakukan apa yang Ia lakukan terhadap orang-orang ini. Kita masuk ke selokan-selokan mereka dan mengambil mereka yang mati secara spiritual dan memeluk mereka yang meludah ke kita dan bahkan menumpahkan darah kita bagi mereka, jika perlu. Jika kita tidak seluruhnya secara fisik masuk ke selokan-selokan seperti yang dilakukan Mother Teresa, kita masuk ke selokan-selokan spiritual, karena kita pergi kemana kita dibutuhkan. Jika kita tidak secara fisik memberikan darah kita, tetap kita memberikan hidup kita dengan memberikan waktu kita. Karena hidup adalah waktu—“selama hidup.” Waktu kita adalah darah hidup kita (Mohon jangan memiliki anak jika Anda tidak memahaminya.)

Musuh-musuh kita bukan para bidaah dalam Gereja—orang-orang Kristen Kafetaria, orang-orang Kristen a la carte, orang-orang Kristen Saya-lakukan-dengan cara saya. Mereka juga adalah pasien-pasien kita, meskipun mereka adalah para pengkhianat. Mereka adalah orang-orang yang tertipu. Mereka adalah korban-korban dari musuh kita—bukan musuh kita.

Musuh-musuh kita bukan para teolog di beberapa, sebut saja, departemen teologi Kristen yang telah menjual jiwa-jiwa mereka demi 30 keping beasiswa dan lebih menyukai pujian dari rekan-rekannya dibandingkan pujian dari Tuhan mereka.

Bukan pula Christophobes yang mengenakan kondom-kondom spiritual karena takut Kristus akan membuat jiwa mereka dan jiwa-jiwa murid mereka mengandung dengan Hidup aktifNya yang mengkhawatirkan. Bukan pula para pembohong yang menyangkal kebenaran sederhana murid-murid mereka dalam mengenali—Guru-guru perampok yang merampok murid-murid mereka dari Kristus yang Hidup. Mereka, juga, adalah pasien-pasien kita. Dan kita, juga, melakukan apa yang mereka lakukan—meskipun dengan enggan—dalam setiap dosa-dosa kita.

Musuh kita bahkan bukan segelintir pelayan-pelayan dan pastor-pastor dan pendeta-pendeta dan uskup-uskup dan rabi-rabi yang sungguh jahat, para pengasuh peleceh yang merusak anak-anak kecil Kristus yang dulu mereka bersumpah untuk melindungi dan oleh karenanya layak menerima hadiah batu kilangan-bulan-ini dari Kristus.

Siapa, kalau begitu, musuh kita? Pasti Anda mengetahui dua jawaban tersebut. Semua santa sepanjang sejarah Geraja telah memberikan dua jawaban yang sama. Karena jawaban-jawaban ini berasal dari dua sumber yang sama, yaitu dari Sabda Tuhan di kertas dan Sabda Tuhan di kayu—dari setiap halaman Perjanjian Baru dan dari Kristus. Mereka adalah alasan Ia menuju ke salib.

Hingga kini mereka belum diketahui dengan baik. Pada kenyataanya, jawaban pertama hampir tidak pernah disebutkan dewasa ini diluar, sebut saja, kalangan kaum fundamental. Tidak sekalipun dalam hidup saya dapat saya ingat pernah mendengar sebuah khotbah tentang itu dari mimbar Protestan maupun Katolik.

Musuh-musuh kita adalah setan-setan. Malaikat-malaikat yang jatuh. Roh-roh jahat.

Budaya sekular kita mempercayai bahwa setiap orang yang mempercayai hal ini paling tidak adalah seorang yang tidak berpendidikan, seorang fanatik yang berpikiran sempit dan mungkin gila secara mental. Hal ini sesuai secara logika, oleh karenanya, bahwa Yesus Kristus adalah seorang yang tidak berpendidikan, seorang fanatik yang berpikiran sempit dan gila secara mental.

Kebanyakan dari budaya religius kita benar-benar malu pada gagasan ini, karenanya malu pada Kristus. Karena Dialah yang memberikan kepada kita jawaban ini: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Itu setan, tentu saja, bukan Tuhan, yang bekerja untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, bukan untuk memusnahkannya. Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum.” Dan Petrus mempelajari pelajaran tersebut dan meneruskannya kepada kita dalam suratnya yang pertama: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Siapa bertahan, ia teguh dalam iman.”

Paulus, juga, mengetahui bahwa perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Paus Leo XIII melihat kebenaran ini. Ia menerima sebuah penglihatan mengenai abad ke 20 yang akan datang—sebuah penglihatan yang mana sejarah secara mengejutkan telah membuktikan kebenarannya. Ia melihat setan pada awal jaman mempertimbangkan satu abad untuk melakukan pekerjaannya yang terburuk di dalamnya, dan Setan memilih abad ke 20. Paus Leo ini, dengan nama dan hati seekor singa diliputi dengan kecemasan oleh terror dari penglihatan ini sehingga ia jatuh pingsan seperti seorang wanita Victorian. Ketika ia kembali sadar, ia menyusun sebuah doa bagi seluruh Gereja untuk digunakan sepanjang abad peperangan spiritual ini.

Malaikat Agung St. Mikhael, belalah kami dalam peperangan. Jadilah pelindung kami dalam melawan segala kejahatan dan jebakan setan. Kami mohon dengan rendah hati agar Allah menaklukkannya, dan engkau, O panglima balatentara surgawi, dengan kuasa Ilahi, usirlah ke neraka setan dan semua roh jahat yang berkeliaran di seluruh dunia yang hendak menghancurkan jiwa-jiwa. Amin.

Doa ini diketahui oleh setiap orang Katolik dan didoakan di akhir setiap Misa—hingga tahun 1960an. Tepat ketika Gereja Leo terkena bencana yang sangat tiba-tiba, yang hingga kini belum kita beri nama, tetapi para sejarawan di masa depan seharusnya sudah: Bencana tersebut yang telah mengambil setengah dari imam kita, tiga perempat dari biarawati kita, dan sembilan persepuluh pengetahuan teologis anak-anak kita dengan membelokkan iman Bapa-bapa Gereja kita kedalam keragu-raguan para pembangkang kita dalam perubahan ajaib dari mujizat pertama Kristus di Kana, mengubah anggur dari Injil menjadi air psychobabble (psychobabble = menggunakan bahasa yang sarat dengan terminologi psikologis)

Restorasi Gereja, dan oleh karena itu dunia, mungkin sebaiknya dimulai dengan restorasi doa Lion dan penglihatan Lion. Karena ini merupakan penglihatan dari semua orang kudus, semua rasul, dan Tuhan kita sendiri—penglihatan akan setan yang nyata, sebuah neraka yang nyata, dan sebuah peperangan spiritual yang nyata.

Saya mengatakan ada dua musuh. Yang kedua bahkan lebih mengerikan daripada yang pertama. Ada satu mimpi buruk yang lebih mengerikan bahkan daripada dikejar oleh setan, bahkan daripada ditangkap oleh setan, bahkan daripada disiksa oleh setan. Mimpi buruk tersebut adalah menjadi setan. Kengerian diluar jiwa Anda sudah cukup mengerikan, namun tidak semengerikan kengerian didalam jiwamu. Kengerian didalam jiwa , tentu saja, adalah dosa. Dengan kata lain, apa, jika ada keberanian membicarakannya dewasa ini, memunculkan rasa malu dari orang Kristen dan kutuk dari kaum sekular, yang mengutuk hanya kutukan, menghakimi hanya paham yang menghakimi, dan percaya satu-satunya dosa adalah mempercayai adanya dosa.

Semua dosa adalah pekerjaan setan, meskipun ia seringkali menggunakan daging dan dunia sebagai alatnya. Dosa berarti melakukan pekerjaan setan, merusak dan menghancurkan pekerjaan Tuhan. Dan kita melakukan ini. Itulah satu-satunya alasan mengapa setan dapat melakukan pekerjaan jahatnya di dunia kita. Tuhan tidak akan mengijinkannya melakukan hal itu tanpa persetujuan rela kita.

Dan itulah alasan paling mendalam mengapa Gereja lemah dan mengapa dunia sekarat. Karena kita bukan orang kudus.

3. Senjata
Dan hal itu memberikan kita hal penting ketiga untuk diketahui—senjata yang akan memenangkan peperangan dan mengalahkan musuh kita. Semua yang dibutuhkan adalah orang-orang kudus.

Dapatkah Anda bayangkan apa yang 12 lagi Mother Teresa atau 12 lagi John Wesleys akan lakukan untuk dunia lama yang malang ini? Dapatkah Anda bayangkan apa yang akan terjadi jika hanya 12 orang dalam ruangan ini melakukannya? Berikan Kristus 100 persen hati mereka dengan 100 persen hati mereka 100 persen waktu dan tidak menahan apapun, sama sekali tidak ada apa-apa?

Tidak, Anda tidak dapat membayangkannya—lebih dari yang dapat dibayangkan siapapun bagaimana 12 anak laki-laki Yahudi yang baik dapat menaklukkan Kekaisaran Romawi.

Anda tidak dapat membayangkannya, namun anda dapat melakukannya. Anda dapat menjadi seorang kudus. Sama sekali tidak ada seorangpun dan sesuatupun yang dapat menghentikanmu. Itu adalah pilihan bebasmu.

Ini salah satu dari kalimat-kalimat paling bagus dan menakutkan yang saya pernah baca, dari buku Serious Call karangan William Law, “Jika Anda mau melihat kedalam hati Anda sendiri dengan kejujuran yang sepenuhnya, Anda harus mengakui bahwa hanya ada satu alasan mengapa Anda bahkan sekarang bukan seorang kudus. Anda tidak sepenuhnya menginginkannya.”

Pemahaman tersebut menakutkan karena merupakan sebuah dakwaan, namun bagus dan penuh harapan karena juga merupakan sebuah tawaran, sebuah pintu yang terbuka. Setiap dari kita dapat menjadi seorang kudus. Kita sungguh-sungguh dapat. Kita sungguh-sungguh dapat. Saya mengatakannya tiga kali, karena saya pikir kita tidak sungguh-sungguh mempercayainya dalam kenyataan. Karena jika kita mempercayainya, bagaimana dapat kita tahan menjadi sesuatu yang kurang?

Apa yang menahan kita? Takut membayar harga. Berapa harganya? Jawabannya sederhana. T.S. Eliot memberikannya ketika ia mendefinisikan Kekristenan sebagai “sebuah kondisi kesederhaan yang lengkap (menuntut tidak kurang dari semuanya)”. Harganya adalah segalanya—100 persen. Kemartiran, jika diperlukan, dan mungkin sebuah kemartiran yang lebih buruk daripada kematian yang cepat karena digantung atau dipancang, kemartiran dengan menjadi sekarat setiap hari, sekarat setiap menit sepanjang hidupmu. Menjadi sekarat terhadap seluruh keinginan-keinginan dan rencana-rencana mu—termasuk rencana-rencana mu tentang bagaimana menjadi seorang kudus.

Atau sebaliknya, bukan menjadi sekarat terhadap keinginan-keinginanmu tetapi menjadi sekarat terhadap dirimu dalam keinginan-keinginanmu. Saya pikir ini kedengaran jauh lebih banyak bersifat mistis dibandingkan sebenarnya. Hal itu hanya memberikan kepada Tuhan sebuah cek kosong. Hal itu sungguh-sungguh islam, kepatuhan yang sempurna. Terjadilah. Kepunyaan Maria. Lihatlah apa yang dilakukannya (fiat) 2000 tahun yang lalu ketika Maria melakukannya (fiat); ia membawa Tuhan turun dari surga dan oleh karena itu menyelamatkan dunia.

Hal ini dimaksudkan untuk terus berlanjut. Jika kita melakukan kepunyaan Maria, yang islam, dan hanya jika kita melakukan hal itu, maka semua kerasulan kita akan bekerja—khotbah dan pengajaran dan tulisan dan katekisasi (pengajaran dengan tanya jawab) dan penugasan dan kebapakan dan keibuan dan pembelajaran dan perawatan dan bisnis dan kepastoran dan kependetaan kita—semuanya.

Tahun lalu, seorang uskup Katolik Amerika meminta salah satu imam di keuskupannya untuk memberikan rekomendasi cara-cara meningkatkan panggilan terhadap imamat. Imam tersebut menjawab dalam laporannya, “Cara terbaik untuk menarik pria dalam keuskupan ini kepada imamat, Yang Mulia, adalah kanonisasi anda.”

Mengapa bukan punyamu?

Namun bagaimana? Kita selalu ingin tahu bagaimana. Berikan saya sebuah metode, sebuah teknologi, sebuah sarana untuk tujuan ini. Apa arti pertanyaan tersebut, “Bagaimana saya dapat menjadi seorang kudus?” Atau “Berikan pada saya sebuah sarana hingga akhir kekudusan.” Itu berarti, “Berikan pada saya sesuatu yang lebih mudah daripada kekudusan, yang akan menyebabkan kekudusan. Sehingga jika saya melakukan sesuatu ini atau mendapatkan sesuatu ini, maka sesuatu ini akan menjadi masa pertengahan, penghubung antara saya dan kekudusan.”

Tidak. Tidak ada satupun. Tidak ada doa-doa, tidak ada meditasi-meditasi, tidak ada program-program 12-langkah, tidak ada yoga-yoga, tidak ada teknik-teknik psikologis, tidak ada teknik-teknik sama sekali. Tidak akan ada tombol untuk ditekan bagi kekudusan, selain daripada kasih. Karena kekudusan semata-mata kasih: mengasihi Tuhan dengan segala jiwa dan pikiran dan kekuatanmu.

Bagaimana Anda mengasihi? Anda hanya melakukannya saja. Sebuah penyebab tidak dapat menghasilkan sebuah akibat yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Dan tidak ada sesuatupun dalam dunia ini yang lebih besar daripada kekudusan, tidak ada sesuatupun yang lebih besar daripada kasih. Oleh karena itu, tidak ada penyebab, tidak ada penyebab dari manusia, dapat menghasilkan kekudusan. Tidak akan pernah ada teknologi apapun untuk kekudusan.

Tentu saja, Tuhan adalah penyebabnya. Rahmat adalah penyebabnya. Roh Kudus adalah penyebabnya. “Oh baiklah, mengapa Tuhan tidak menyebabkannya saja? Jika kekudusan bukan hal lakukanlah-sendiri namun hal hanya-Tuhan-yang-dapat-melakukannya, maka mengapa Tuhan tidak menjadikan saya seorang kudus? Jika hanya rahmat yang dapat melakukannya, mengapa Ia tidak memberikan kepada saya rahmat itu?”

Karena Anda tidak menginginkannya. Jika Anda menginginkannya, Ia akan memberikannya. Ia menjanjikan hal itu: “Semua yang mencari menemukan.” Hal ini kembali pada “katakan saja ya.” Hal ini secara tak terbatas lebih mudah dibandingkan dengan yang kita pikirkan, dan itulah sebabnya hal ini menjadi sukar. Kata yang sukar dalam formula “katakan saja ya” tersebut adalah kata “saja.”

Kita merasa nyaman dengan Kristus dan teologi atau Kristus dan psikologi atau Kristus dan Amerika atau Kristus dan Partai Republik atau Kristus dan Partai Demokrat atau Kristus dan suara atau Kristus dan diet. Namun Kristus saja, semua Kristus, Kristus yang diminum langsung, tanpa dicampur, kita dapati jauh terlalu berbahaya bagi cita rasa kita.

Aslan bukanlah seekor singa yang jinak. Katakan saja ya padaNya? Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan ia lakukan dengan Anda!

Saya mengakhiri dengan sebuah klaim terhadap ketakdapatsalahan. Saya memberikan anda dua prediksi yang tak dapat salah: Satu, jika Anda kita tidak menggunakan senjata ini, kita tidak akan memenangkan peperangan ini. Dua, jika kita menggunakan senjata ini, kita akan memenangkan peperangan ini. Atau yang lebih sulit, sepanjang kita menggunakan senjata ini, kita akan memenangkan peperangan ini, dan sepanjang kita tidak menggunakannya, kita tidak akan memenangkannya.

Kita dapat menang, karena yang kita gunakan disini adalah senjata yang paling tidak terkalahkan di dunia , pasukan yang paling kuat di alam semesta. Untuk menerjemahkannya dari yang abstrak menjadi yang konkrit, senjata tersebut adalah Darah Kristus. Bukan Kristus tanpa darah, bukan semata-mata sebuah gagasan yang indah. Dan bukan darah tanpa Kristus, bukan semata-mata pengorbanan dan kemartiran manusia, tetapi Darah Kristus.

Kembali ketika ada lebih banyak orang komunis di Rusia dibandingkan di universitas-universitas Amerika, Uskup Agung Fulton Sheen seringkali berkata bahwa perbedaan antara Rusia dan Amerika adalah bahwa Rusia adalah salib tanpa Kristus, dan Amerika adalah Kristus tanpa salib.

Tidak satupun akan menang. Tidak satupun akan bekerja. Tidak pengorbanan tanpa kasih tidak juga kasih tanpa pengorbanan. Namun Darah Kristus akan bekerja. Karena darah tersebut mengalir dari Hati KudusNya, dan inti dari Hati itu adalah agape, kasih ilahi. Itulah sebabnya mengapa ia akan bekerja—karena kasih tidak pernah menyerah.

Dan itulah sebabnya mengapa kita tidak akan pernah menyerah dan mengapa kita akan menang. Mengapa kita yang makanannya adalah Darah ini tidak terkalahkan.

Pengacara sekuler, sukses, dan keras kepala Gerry Spence menulis: “Seorang anak laki-laki kecil bertemu dengan penggertaknya. Ketika anak laki-laki kecil itu dijatuhkan, ia bangun dan menyerang kembali, berulang-ulang, hingga pada akhirnya ia akan menang. Karena tidak ada sesuatupun di dunia semengerikan seorang lawan yang berdarah dan babak belur yang tidak akan pernah menyerah.” Tidak pernah.

Winston Chuchill membawakan pidato pembukaannya yang paling pendek dan paling dikenang sepanjang masa di almamaternya selama Perang Dunia II: “Jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah menyerah.” Itu saja.

Kita akan memenangkan peperangan tersebut, karena tidak masalah seberapa banyak kita jatuh, tidak masalah seberapa banyak kita gagal dalam usaha menjadi orang kudus, tidak masalah seberapa banyak kita gagal pada kasih, kita tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah menyerah.

sumber terjemahan

One comment

  1. Yohanes · · Balas

    Menurutku tulisan sangat bagus. Kita tahu bahwa memang sedang ada peranh – tahu siapa musuhnya – dan tahu memilih dan menggunakan senjatanya.
    Salam damai.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: