Minggu Palma: Kemenangan dari Kerendahan Hati

Oleh: Dr. Marcelino D’Ambrosio

Minggu Palma di banyak Gereja Kristiani melibatkan pohon palma dan peringatan masuknya Yesus ke Yerusalem, ditengah-tengah sorakan Hosanna (bhs Ibrani artinya Tuhan menyelamatkan). Tapi apa arti dari perjalanan-Nya ke Yerusalem dengan menunggangi keledai?

Minggu Palma – Ketika seorang pahlawan penakluk dari dunia kuno berkendara memasuki kota dengan kemenangan, dengan menggunakan kereta kerajaan atau menunggangi kuda jantan yang agung. Legiun tentara menemaninya didalam arak-arakan kemenangan. Membuat lengkungan kemenangan, dihiasi oleh patung yang sudah diukir, yang telah didirikan untuk mengabadikan kemenangannya yang gagah berani.

Setelah mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan membangkitkan yang mati, sudah waktunya Raja dari segala Raja untuk memasuki Kota Suci. Tapi untuk melakukan itu, Ia tidak menunggangi kuda perang, tapi seekor keledai. Teman-teman-Nya menemani Dia bukan dengan mengacungkan pedang, tapi ranting pohon palma. Monument kemenangan-Nya, didirikan seminggu kemudian, bukan sebuah monumen, tapi sebuah kayu salib.

Kehidupan awal-Nya didunia sangatlah penuh dengan kesulitan serta hina. Dan akhir hidup-Nya pun tidak ada bedanya. Kayu dari palung menggambarkan terlebih dahulu kayu dari salib.

Dari awal sampai akhir, detailnya sangat memalukan. Tidak mendapatkan kamar dipenginapan. Lahir ditengah-tengah bau busuk dari kandang. Diburu oleh pengikut Herodes. Tumbuh besar di sebuah propinsi dari Kerajaan Roma yang sangat terpencil-Galilea, dimana aksen kota sangat tebal, dimana anda bisa memotongnya dengan sebuah pisau. Bagaimana pelayan perempuan dari Imam Besar bisa mengetahui Petrus adalah murid dari Yesus? aksen orang udik yang membuatnya dikenali (Mat 26:73). Murid-murid Yesus bukanlah orang berbudaya, orang terpelajar yang berbakat. Mereka ditarik dari tempat daerah terpencil yang hidup secara sederhana.

Ketika satu dari teman terdekat-Nya menawarkan untuk mengkhianati-Nya, Dia tidak membutuhkan jutaan uang. Harga Yesus dikenali tidak lebih seperti di Perjanjian Lama “book value” untuk seorang budak–tiga puluh keping perak (Kel 21:32). Ketika Dia telah diserahkan ke orang Roma, Ia tidak diberi hukuman seperti yang dijatuhkan kepada warga negara Roma. Memenggal kepala adalah cara cepat, cara bermartabat untuk mengeksekusi seseorang. Sebaliknya Yesus malah diberikan hukuman yang diperuntukkan bagi budak dan anggota pemberontak dari masyarakat yang terbuang – pencambukan dan penyaliban. Kedua hukuman ini bukan hanya tentang rasa sakit, tapi tentang penghinaan. Pada Palestina abad pertama, pria dan wanita biasanya menutupi diri mereka sendiri dari kepala sampai kaki, bahkan ditengah panas yang menghanguskan. Orang yang disalib ditanggalkan pakaiannya dan dipertontonkan kepada semua untuk dilihat.

Tapi ini bukanlah cerita utama dari kekerasan dan penghinaan. Minggu Suci ini lebih banyak bercerita tentang cinta dan kerendahan hati.

Itulah kenapa di Sabtu Paskah kita membaca perkataan yang sangat kuat dari surat Paulus dari Filipi (2:6-11). Walaupun Firman itu Allah, tinggal diatas kemuliaan surgawi, Dia dengan bebas terjun kedalam kesengsaraan manusia, menggabungkan dirinya sendiri kepada sifat lemah kita, memasuki kedalam dunia kita yang bergolak. Seolah olah jika tindakan kerendahan hati ini tidaklah cukup, Ia lebih jauh lagi merendahkan diri-Nya sendiri, menerima status sebagai seorang budak. Tindakan-Nya membungkuk untuk mencuci kaki murid-murid-Nya (Yoh 13) adalah perumpamaan dari kehadiran utuh manusia -Nya, atas tindakan ini dianggap sangat tidak bermartabat bahkan budak Israel tidak dipaksa untuk melakukannya.

Tapi bukan hanya itu. Yesus tidak dipaksa untuk melakukannya. Ia secara sukarela merendahkan diri-Nya didalam kelahiran-Nya, didalam karya pelayanan-Nya, di dalam kematian-Nya. Tidak ada seorang pun yang menggambil nyawa-Nya. Ia dengan sukarela menyerahkan nyawa-Nya sendiri (Yoh 10:18). Orang lain tidak mempunyai kesempatan untuk merendahkan diri-Nya; Ia merendahkan dirinya sendiri.

Ini harus terjadi. Adam yang kedua harus memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh yang pertama. Apa dosa orang tua kita yang pertama? Mereka tidak taat karena mereka ingin tahu apa yang Allah tahu, ingin menjadi seperti Allah, untuk memuliakan diri mereka sendiri diatas Allah (Kej 3). Mereka digigit oleh ular, dan disuntik dengan bisa yang mematikan dari rasa angkuh. Penawarnya, anti-racunnya tiada lain adalah kerendahan hati. Pencucian kaki, mengendarai keledai, Adam Baru akan mengancurkan kepala ular yang mematikan dengan cara mencintai, kerendahan hati, ketaatan.

Yang sulung lahir dari banyak saudara merendahkan diri-Nya sendiri untuk menjadi debu dari mana Adam Pertama dibuat-tentu saja kerendahan hati datang dari kata “humus” (bhs latin artinya, tanah). Tapi Allah menanggapi kerendah hati-Nya dengan mengagungkan Ia jauh diatas Caesar, raja-raja, dan bahkan bintang hollywood. Dan Ia mengundang kita untuk membagi kemuliaan-Nya bersama-sama dengan-Nya. Tapi pertama-tama kita harus berjalan dijalan-Nya menuju kemuliaan, jalan kerajaan dari salib.

Artikel Minggu Palma ini adalah refleksi dari bacaan Minggu Palma, Tahun A (Matius 21:1-11, Yesaya 50:4-7; Mazmur 22; Filipi 2:6-11; Matius 27:14-27:66)

sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: