Janganlah Menghakimi, Agar Kamu Tidak Dihakimi

oleh Dr. Marcellino D’Ambrosio

“Kasihi musuhmu dan berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain.” “Janganlah menghakimi, agar kamu tidak dihakimi” (Luk 6:27-38). Kedengarannya mengagumkan untuk beberapa orang. Tapi bagi beberapa orang, hal itu kedengaran tidak masuk akal. Seorang filsafat abad 19 dari Jerman, Friedrich Nietzsche mengajarkan hal berpikir seperti ini memimpin komunitas kepada masyarakat yang benar-benar lemah. Karl Marx mengajarkan perkataan Yesus ini membantu para kapitalis menjaga si tertindas dibawah kontrol mereka. Apakah Yesus menginginkan kita menjadi keset kaki, orang tolol yang mengijinkan diri kita sendiri dimanfaatkan oleh setiap penggertak, diktator, dan gangster yang akan datang menyerang?

Mari kita lihat kehidupan Yesus dan Daud. Daud tidak membunuh Saul, yang diurapi Tuhan (1Sam 26). Tapi dia juga tidak menyerahkan dirinya sendiri. Dia menentang ketidakadilan dari Raja yang gelisah, bahkan ketika dia menghormatinya dan menolak untuk pengucapan yang menjadi kebencian. Ketika masyarakat dari Nazaret menginginkan untuk melempar Yesus dari tepi bukit yang curam, Dia menyelinap melalui kerumunan dan melarikan diri (Luk 4:29-30). Waktu-Nya belum tiba. Ketika Henry VIII menceraikan isterinya, lalu menikah dengan yang lain, dan menyatakan dirinya sebagai kepala dari Gereja, kanselirnya Thomas More diam-diam mengundurkan diri dan melakukan apa saja yang dia bisa secara etis untuk menghindari dirinya dipenjara dan di hukum mati (tontonlah film A Man for All Seasons).

Tapi ketika akhirnya kesaksian palsu mendorong kepada penghukuman dan hukuman mati bagi Tuhan Yesus dan murid abad ke 16-Nya, Thomas More, sudah waktunya untuk memberikan kesaksian kepada kebenaran dengan darah mereka. Sudah waktunya untuk memberikan pipimu yang lain.

Perhatikan sikap Tuhan kita terhadap orang yang menyiksa-Nya – “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Dan perkataan Thomas More kepada sang algojo, memberinya sebuah tip: “Jangan ragu untuk melakukan tugasmu, karena kamu mengirimku kepada Tuhan.”

Cinta yang baik sekali terkadang meminta kita mengatakan perkataan yang keras. Yesus memanggil para Farisi munafik dan mengekspos didepan umum bagaimana mereka membodohi diri mereka sendiri dan melanggar hukum Allah (Mrk 7). Setelah kalimat itu dibacakan di persidangannya, Thomas More dengan lantang memproklamirkan keseisi ruang sidang yang penuh sesak, bahwa Raja tidak memiliki hak untuk menyatakan dirinya sebagai Kepala Gereja dari Inggris.

Tapi tunggu sebentar. Bukankah itu menghakimi? Bukankah Yesus mengatakan untuk tidak menghakimi atau mengutuk?

Apa yang manusia bisa atau harus lakukan adalah menghakimi kedudukan pokok orang tersebut sebelum Allah, berdasarkan motivasi dari dalam hati. Orang bisa melakukan hal yang buruk sekali berdasarkan ketakutan, luka atau misinformasi. Mengingat perkataan Yesus: “mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” Tapi apa yang mereka lakukan itu buruk sekali, namun. Hanya Tuhan yang berkompeten untuk menghakimi hati. Kita bisa dan harus menghakimi apakah tujuan kelakuan seseorang itu buruk atau baik, benar atau salah. Dan terkadang menjadi tugas kita untuk memberitahukan kepada mereka bahwa itu salah dan mengutuki hal tersebut. Aborsi adalah salah. Tapi bukan berarti wanita ini atau dokter ini jahat, terpisah dari Tuhan, dan akan pergi ke neraka. Dan bukan berarti saya lebih baik dan lebih bijak daripada wanita ini atau dokter. Yesus berkata siapa yang diberi banyak, akan dituntut lebih banyak. Mungkin wanita ini dan sang dokter pulang kerumah dari klinik aborsi telah melakukan lebih dengan apa yang telah mereka berikan daripada saya. Itu bukan tugas saya untuk mencari tahu. Itu panggilan Tuhan.

Panggilan saya untuk mengasihi dan benar-benar peduli kepada mereka untuk berbicara tentang kebenaran kepada mereka, dan membantu mereka untuk mendapatkan dukungan yang mereka perlukan untuk hidup menurut kebenaran itu sendiri.

Dr. Bernard Nathanson, pelaku pendukung aborsi, dan Norma McCorvey, si “Roe” dari  Roe vs Wade, adalah aktivis pro-life sekarang ini. Kenapa? Karena mereka bertemu para pro-life yang hidup berdasarkan etika Injil, yang walaupun membenci dan mengutuk dosa, sungguh-sungguh mencintai orang yang berdosa.

Cinta seperti itu adalah supernatural. Hal ini hanya mungkin bagi Allah dan bagi mereka yang membiarkan cinta-Nya bekerja melalui mereka. Apakah cinta seperti itu merubah seseorang? Contoh dari Yudas dan para Farisi berpendapat tidak. Namun contoh dari Norma McCorvey dan Dr. Nathanson menunjukkan bahwa bagi mereka yang hatinya terbuka, cinta seperti itu tidak dapat dikendalikan.

sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: