Cinta kepada Lazarus

oleh Dr. Marcelino D’Ambrosio

Kisah Injil tentang kebangkitan dari Lazarus di Yoh 11 menunjukkan kepada kita kenapa Yesus bisa mencintai beberapa teman dan muridnya lebih dari pada yang lainnya, kenapa kematian bukanlah alamiah dan indah, perbedaan antara resurrection (kebangkitan) dan resuscitation (tindakan untuk mengembalikan kesadaran) dan arti yang lebih dalam dari mukjijat Yesus atau “tanda” seperti yang mereka panggil di Injil keempat.

Beberapa merasa sulit untuk menerima bahwa Allah lebih mencintai beberapa orang daripada yang lain. Itu sungguh tidak adil, mereka berkata.

Tetapi Allah menjadi manusia. Jika Dia tidak mencintai sedikit lebih daripada yang lain, Yesus tidak akan menjadi benar-benar manusia. Karena manusia memiliki keluarga dan teman-teman. Disaat kita bisa berbuat baik dan bahkan mempertaruhkan nyawa kita untuk orang asing,  kita memiliki ikatan intim yang spesial dan kasih sayang dengan lingkaran kecil.

Dari umur dua belas, Yesus memiliki khususnya satu orang yang dicintai. Didalam Injil dari murid yang dikasihinya, kita belajar bahwa Yesus memiliki satu keluarga yang khususnya dicintai dengan cara seperti itu. Keluarga itu adalah Maria, Marta, dan saudara mereka Lazarus.

Jadi bukanlah sebuah kejutan kepada semua bahwa Yesus tidak segera datang ketika mendengar Lazarus sakit. Tentu saja Dia orang yang sibuk. Tetapi Yesus telah meletakkan semuanya berkali-kali sebelum menyembuhkan orang asing. Ini, di sisi lain, adalah satu dari teman tersayang-Nya. Jangan khawatir, Dia menjelaskan kepada murid-murid-Nya. Penyakit ini tidak akan berakhir dengan kematian.

Bayangkan terkejutnya mereka ketika dia memberi tahukan kepada mereka beberapa hari yang lalu Lazarus telah meninggal dan saatnya untuk mengunjungi makamnya. Yesus tahu apa yang akan Dia lakukan. Tetapi ketika Dia bertemu dengan Maria yang putus asa dan teman-temannya yang menangis, Dia tidak memarahi mereka karena menangis. Dia tidak mengatakan kepada mereka harus memakai pakaian putih dan bersuka cita karena saudara mereka pada akhirnya pulang kesurga. Tidak, Dia ikut menangis bersama mereka.

Beberapa orang menerima kematian sebagai kejadian alamiah dari kehidupan manusia. Yang lain berpikir kematian adalah portal menuju ke keabadian. Yesus melihat kematian sebagai musuh. Bapa-Nya tidak pernah berniat agar kita mengalaminya. Faktanya, Dia melarang Adam dan Hawa hanya satu hal – sebuah buah yang akan membuat mereka menjadi subjek dari itu. Kematian datang kedalam dunia melalui iblis yang iri, bukan melalui rencana Tuhan. Kematian merenggut jiwa dari tubuh. Hal itu merobek cinta seseorang dari pelukan keluarga mereka. Jadi dihadapan mereka yang terluka oleh sengatan kematian, Yesus menangis.

Mukjijat Yesus didalam Injil selalu bersumber dari belas kasihan-Nya kepada penderitaan. Tetapi Dia selalu memiliki lebih didalam pikiran-Nya, dari pada hanya menolong korban yang terbaring didepan-Nya. Karya ajaib-Nya di Injil Yohanes adalah tanda karena mereka menunjukkan diluar dari mereka sendiri pada suatu hal yang lebih besar yang Dia akan lakukan untuk memperoleh sebuah kebaikan yang lebih besar dari semua itu.

Inilah kenapa Yesus  pertama-tama mengijinkan Lazarus untuk mati. Karena ketika Dia memanggil dia keluar dari makam, Yesus membuatnya menjadi jelas untuk apa Dia datang. Ajaran-Nya tentu saja indah. Dan obat-Nya merubah hidup. Tetapi orang yang bijak dan sehat tetap saja menghadapi kengerian dari kematian. Jika Yesus adalah benar-benar penyelamat, Dia harus menyelamatkan kita dari maut. Dan keselamatan akan menjadi kekal. Lazarus resuscitation (catatan peerjemah: tindakan untuk mengembalikan kesadaran) hanyalah penundaan dari pelaksanaan hukuman mati. Beberapa tahun kemudian, orang-orang yang berduka harus berkumpul disekitar tempat tidurnya sekali lagi.

Jadi, di hadapan kerumunan banyak yang berkumpul untuk pemakaman, Yesus memanggil Lazarus keluar dari makam. Demonstrasi kekuatan diatas kematian dari Yesus ini merupakan tanda dari kebangkitan-Nya yang akan datang, dan Lazarus dan juga kita.

Ini adalah mukjijat terakhir yang terekam atau “tanda” di dalam Injil Yohanes. Yesus tahu akan itu. Anda dan saya bahwa berita dari mukjijat ini, dibawa kembali ke Yerusalem oleh banyak saksi mata, akan menyebabkan kepada penerimaan Yesus sebagai Tuhan dan Mesias. Tetapi Tuhan tahu hal tersebut akan memiliki efek yang berlawanan. Hal itu mendemonstrasikan kepada musuh-Nya Ia adalah sebuah ancaman yang hebat. Mereka harus bertindak cepat untuk menghentikan hal ini secepatnya.

Tetapi semua ini merupakan rencana-Nya. Karena ini didalam kontrol-Nya. Dia berencana untuk mengorbankan nyawa-Nya dengan sepenuh hati, untuk mengalami penyiksaan yang mengerikan dari penyaliban, yang pahit merenggut tubuh dari jiwa dan teman dari teman. Dia rela melakukan ini karena dengan cara ini, Dia tahu Dia akan menyelesaikan lebih untuk kita daripada yang Ia telah lakukan untuk Lazarus-kemenangan atas kematian yang akan kekal selamanya.

Artikel ini sebagai refleksi dari bacaan Minggu ke lima dari Pra-Paskah, Tahun A (Yeh 37:12-14; Mzm 130; Rm 8:8-11; Yoh 11:1-45)

sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: