Harapan didalam penderitaan

Dr. Marcellino D’Ambrosio

Bayangkan: Anda sepuluh tahun lewat yang lazimnya usia untuk pensiun. Sudah waktunya untuk berbalik dan beristirahat. Anda hidup di kota yang hebat dimana semuanya berada di jari tanganmu-kesempatan untuk berbelanja, even budaya, semua sanak-saudara dan teman-teman abadi. Tiba-tiba Allah muncul dan memanggilmu untuk berkemas, menumbangkan hidup anda, dan menyuruh pergi ke sebuah padang gurun yang tak ada peradabannya.

Inilah yang terjadi pada Abram di Kejadian 12. Dia hidup di Mesopotamia, tempat lahir peradaban. Dia 75 dan dia serta istrinya tidak muda lagu. Dia bahkan tidak mengetahui nama Allah yang memanggilnya.

Tidakkah engkau “mendiskusikan” soal ini sedikit? Bukan Abram. Kitab Kejadian melaporkan tidak ada obrolan, bukan “iya-tapi.” Di dalam pernyataan yang pas, Kitab Kejadian secara sederhana mengatakan “Abram pergi sebagaimana Allah arahkan dia.”

Itulah iman. Abram mendengar perintah dari Allah yang dia tidak bisa lihat, mempercayai bahwa Allah ini harusnya tahu apa yang Dia katakan tentang, dan memulai sebuah perjalanan ke sebuah tempat yang dia sendiri tidak tahu dimana. Patut diingat bahwa Paulus berkata “kita berjalan dengan iman, bukan dengan penglihatan.” (2Kor 5:7). Itulah kenapa Abraham adalah teladan yang hebat untuk iman didalam Perjanjian Lama. Karena iman bukan hanya tentang percaya. Ini tentang berjalan. Tak pelak lagi pilihan Abraham untuk berjalan memerlukan penderitaan yang besar. Apa motivasi yang mendorong dia untuk melakukan itu? Mudah. Ada sesuatu yang Allah janjikan kepadanya yang sangat ia inginkan. Dia memiliki segalanya-istri, properti, pelayan, dan semua kenyamanan makhluk yang diberikan oleh peradabannya. Namun ia tidak memiliki seorang anak. Dan untuk seorang Semit seperti Abram yang tidak percaya macam apapun tentang akhirat, seorang anak adalah satu-satunya tiket untuk keabadian. Seorang anak, rupanya akan , pergi keluar dan menurunkan anak, untuk memelihara nama ayahnya dan memori hidup. Tuhan menjanjikan tidak hanya keturunan, tapi anak cucu yang begitu banyak dan besar, bahwa semua komunitas di bumi akan menemukan berkat didalam nama Abram.

Jadi itulah keinginan untuk kemuliaan pada masa depan yang memungkinkan Abram untuk berjuang dengan penderitaan diperlukan dalam menjawab panggilan. Keinginan ini disebut harapan.

Kira-kira tahun 1900 kemudian, St. Paulus menulis kata-kata ini kepada Timotius “menanggung bagian dari penderitaanmu dalam membawakan Injil” (2Tim 1:8). Menjadi seorang Kristiani pada awal tahun 300 berarti mengambil resiko segala sesuatu. Jika orang Roma menangkapmu, itu bisa berarti penyiksaan atau mati atau, jika anda dapat keluar dengan mudah, penyitaan semua harta anda. Kenapa orang mau mengambil kesempatan ini? untuk alasan yang sama Abram memeluk harapan-penderitaan. Mereka telah diberi sebuah visi dan sebuah janji untuk kemuliaan kekal. Mereka mengerti bahwa tidak ada barang duniawi yang bisa menyamai dengan kebahagiaan yang abadi ini dan begitu pula rela menderita apapun kerugian yang dibutuhkan dalam rangka untuk mengamankan itu. Dalam hal ini, mereka mengikuti guru mereka yang “untuk sukacita yang telah ditetapkan sebelum dia memikul salib, memandang rendah rasa malu.” (Ibr 12:2)

Sadar akan trauma dari Para Rasul yang akan segera menderita melalui kengerian penyaliban-Nya, Tuhan Yesus memberikan pemimpin mereka sebuah visi harapan untuk menyokong mereka. Dia pergi kepuncak gunung Tabor dan akhirnya nampak sebagai mana Dia sebenarnya. Dalam mengantisipasi kemuliaan-Nya yang telah bangkit, Terang dunia mengijinkan keIlahian-Nya yang mempesonakan untuk diungkapkan. Hukum dan Para Nabi menjadi saksi-Nya melalui Musa dan Elia. Suara Bapa menggelegar menegaskan bahwa ini adalah putra yang dikasihi-Nya. Roh Kudus diwujudkan sebagai awan kemuliaan shekinah yang telah memimpin Israel dalam perjalanan padang pasir mereka. Transfigurasi ini adalah adegan yang menyatakan keseluruhan Kitab Suci, Kabar Baik dari kehidupan yang mulia, dimenangkan oleh Juruselamat, yang abadi selamanya.

Tapi pengalaman itu sendiri tidak berlangsung lama. Itu tidak diberikan kepada mereka supaya mereka bisa mendirikan tenda dan tinggal disana. Berjalan yang perlu dikerjakan. Jalan kecil yang dipanggil Via Dolorosa diberikan sebelum Dia dan sebelum mereka seperti biasanya. Pengalaman yang disebut Transfigurasi untuk menunjukkan kepada mereka jalan dari salib ini bukan jalan untuk kematian, tapi melalui kematian menuju hidup, yang membuat seolah kematian kelihatannya tetapi sebuah sesuatu yang tak berharga.

Artikel ini aslinya muncul di Our Sunday Visitor sebagai refleksi dari Kejadian 12:1-4, Maz 33, 2 Tim 1:8-10 dan Mat 17:1-9, bacaan untuk Minggu ke 2 dari masa Pra-Paskah, Tahun A dan dicetak ulang disini dengan ijin.

sumber: http://www.crossroadsinitiative.com/library_article/452/Hope_in_Hardship.html

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: