Empat Puluh Hari Akan Hidup Baru

oleh: Dr. Marcellino D’Ambrosio, Catholic theologian and speaker

Artikel ini mencakup kenapa masa Lent (pra-Paskah) memiliki empat puluh hari, arti dari nomor 40 didalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan arti dari puasa dan cobaan yang didapat oleh Yesus di gurun pasir. Ditulis menurut aslinya sebagai komentar dalam bacaan Kitab Suci untuk Minggu pertama di masa pra-Paskah.

Dalam bahasa Inggris, masa khusus sebelum Paskah disebut “Lent” (indo: pra-Paskah). Kata ini datang dari “lengthening” (perpanjangan) dari waktu hari terang yang berkembang dari kegelapan musim dingin menuju ke cahaya baru musim semi. Tapi bahasa lain, seperti Spanyol, memiliki nama untuk musim ini mengambil dari kata empat puluh. Ini adalah masa empat puluh hari.

Oke, kita melakukan penitensi selama empat puluh hari karena Yesus berpuasa empat puluh hari di gurun. Tapi apakah anda pernah bertanya kenapa Ia pergi keluar sana selama empat puluh hari ketimbang tujuh atau sepuluh atau lima puluh?

Jadi kenapa empat puluh? Mungkin karena empat puluh minggu wanita membawa bayi yang sedang berkembang dalam rahimmnya sebelum kehidupan baru datang.

Semua “empat puluh” ini adalah perlu dan tidak begitu nyaman, pembukaan untuk sesuatu yang baru. Dalam kasus Nuh, ini adalah kelahiran baru dari dunia penuh dosa yang telah dibersihkan oleh amukan air bah. Didalam kasus Musa, ini adalah kelahiran orang-orang perjanjian. Untuk umat-umat Israel yang sebagai pengembara, ini adalah start awal, untuk hidup tenteram  di tanah yang dijanjikan.

Dan Yesus? apa arti empat puluh hari yang dijalankan-Nya? Kelahiran dari Israel baru, dibebaskan dari dosa, rekonsiliasi dengan Allah, dan diatur oleh hukum Roh daripada hukum yang dipahat di batu.

Tapi pikir kembali kepada cerita Musa dan umat Israel. Ada seseorang yang tidak mau mereka untuk pergi ke gurun untuk mempersembahkan persembahan kepada Tuhan mereka. Firaun tidak menerima kerugian dari pekerja yang murah. Ketika Yesus memulai misi pembebasan, ada tuan budak lain yang mana tidak lebih rela daripada Firaun untuk membiarkan kaki tangannya keluar tanpa perlawanan.

Sejak tahun enam puluhan, secara modern dibeberapa tempat untuk menolak [mengakui adanya eksistensi] Iblis, [dilihat] sebagai relik dari mitos kuno atau fantasy abad pertengahan. seseorang [yang digambarkan dengan] ekor runcing dan [memegang] garpu rumput muncul dengan mudahnya didalam film kartun dan kostum pesta, tapi bagaimana kita bisa menerima image itu secara serius? di dalam Kitab Suci, mereka berkata, mari dibaca “Setan” cuma simbol kejahatan manusia belaka.

Pandangan seperti itu jelas bertentagan dengan Kitab Suci, Tradisi, dan pengajaran Magisterium baru-baru ini. Pertempuran kita bukan melawan daging dan darah, kata Santo Paulus. Jika anda tidak tahu musuhmu dan taktiknya, anda menuju kepada kekalahan.

Godaan yang Yesus terima di gurun menunjukkan kita taktik dari “Dark Lord” (Tuan Kegelapan). Roti, menyimbolkan semua penyokong kehidupan fisik kita, adalah berkat yang luar biasa. Tapi Setan mencoba untuk membuat materi adalah hal yang utama, mengalihkan kita dari kelaparan yang sangat dalam dan makanan abadi. Kekuatan politik dan semua kepemimpinan dimaksudkan oleh Tuhan demi melayani kebaikan bersama; Setan membengkokkan hal ini untuk membuat pemimpin mementingkan diri sendiri, tiran penindas seperti dirinya sendiri. Nafsu akan kekuatan dan ketenaran secara ironis memimpin tidak untuk berkuasa tapi diperbudak oleh Dark Lord (ingat apa yang terjadi pada Nazghoul didalam Lord of the Rings). Lalu ada godaan agama, paling licik dari semua–Memanipulasi Tuhan untuk kejayaan kita sendiri, menggunakan hadiahnya untuk membuat orang melihat kita daripada melihat diri-Nya. Kedengaran seperti orang farisi.

Yesus menang dalam pergulatan pertama ini. Dia menunjukkan kepada kita bagaimana untuk menjaga agar tidak terjepit. Puasa mematahkan yang tak semestinya kepada berkat materiil dan menstimulasi nafsu makan spiritual kita. Pelayanan yang rendah hati mematahkan cengkraman kesombongan. Penyembahan yang hormat akan keaslian iman mematahkan takhayul, sihir dan semua kesombongan agama. Dan Firman Allah menunjukkan sebagai pedang Roh, melalui senjata rahasia inilah memotong kebohongan musuh.

Jadi empat puluh hari kita? waktunya untuk menggunakan model taktik yang digunakan oleh kapten kita dan menghancurkan benteng. Berdoa, berpuasa, melayani dengan rendah hati. Roti surgawi dari Ekaristi dan Firman Tuhan. Jika kita menerapkan semuanya dengan rajin selama masa pra-Paskah ini, sarat dengan kemungkinan, kita bisa masuk kedalam kebebasan yang lebih besar. Kegelapan bisa memberi jalan untuk meningkatkan cahaya. Sesuatu yang baru dan sangat luar biasa bisa lahir didalam kita.

artikel asli: http://www.crossroadsinitiative.com/library_article/7/Forty_Days_of_Lent.html

One comment

  1. Masa pra paskah membuat kita utk berbenah di dlm hati melalui abu yg di berikan kepada kita marilah kita intropeksi diri kita masing2 AMIN lord of the jesus……….

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: