Q: Bagaimana posisi Gereja Katholik dalam masalah Predestinasi ?

A: Gereja tidak memiliki hanya satu posisi dalam hal predestinasi. Ada beberapa pemikiran yang berbeda untuk pertanyaan ini. Gereja telah menetapkan parameter untuk mencegah orang-orang masuk terlalu jauh pada kedua ujung, dan tetap berada dalam batas-batas yang diperbolehkan untuk menginterpretasikan secara bebas.

Untuk melawan Pelagianisme, Gereja memerlukan parameter untuk menolak preposisi sbb :

  • Kejatuhan Adam hanyalah sebuah contoh yang menjelaskan bagaimana manusia berdosa, dan tidak menjauhkan manusia dari rahmat dan nature kejatuhan (nature dosa) tidak diteruskan kepada kita semua.
  • Manusia bisa melawan dosa, dibenarkan, dan memperoleh kehidupan kekal tanpa rahmat Tuhan.
  • Rahmat karunia Allah diberikan kepada kita hanya secara external, seperti melalui Hukum Mosaic, Pengajaran, dan contoh kehidupan Kristus.
  • Rahmat karunia diberikan kepada manusia sehingga ia dapat lebih mudah melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan.

Untuk melawan Semi-Pelagianisme, Gereja memerlukan parameter untuk menolak preposisi sbb :

  • Manusia bisa menginginkan keselamatan tanpa memerlukan rahmat Allah.
  • Manusia bisa sampai kepada Allah tanpa rahmat Allah.
  • Manusia tidak memerlukan rahmat Allah untuk bisa bertahan sampai pada akhirnya.

Untuk melawan Calvinisme, Gereja memerlukan parameter untuk menolak preposisi sbb :

  • Manusia tidak bisa menolak rahmat karunia Allah.
  • Semua orang yang sudah pernah dibenarkan di-predestinasi-kan akan bertahan dalam pembenaran.
  • Allah menciptakan manusia hanya untuk kemudian membuang mereka.
  • Kematian Kristus hanya untuk menebus dosa orang-orang yang telah dipilih.
  • Apapun yang kita lakukan adalah dosa yang diukur dengan paling tidak beberapa patokan.
  • Keinginan manusia hanya bebas dari keharusan eksternal tapi tidak dari motif internal.

Di dalam batasan-batasan yang sudah diberikan, Gereja memperbolehkan kebebasan untuk menginterpretasikan. Batasan ini sudah cukup luas. Contoh, seseorang dapat percaya pada pendapat St. Thomas Aquinas, yang dekat (tapi tidak sama dengan) Calvinisme.

Di artikel yang lain saya melihat betapa dekatnya ini dengan Calvinisme, sehingga menghasilkan versi Thomist dari formula “TULIP” Calvin :

T: Total inability to achieve salvation without divine grace

Ketidak-mampuan Total untuk memperoleh keselamatan tanpa rahmat karunia Tuhan

U: Unconditional election

Pemilihan tanpa syarat

L: Limited intent for the atonement’s efficacy

Pembatasan maksud bagi kompensasi nilai

I: Intrinsically efficacious grace

Rahmat intrinsic yang punya arti dan effektif.

P: Perseverance of the elect

Kepastian bagi yang terpilih

Saya belum menyelesaikan artikel untuk meneliti seberapa dekat seorang Katholik bisa sampai pada posisi lawan Protestant—Arminianisme—meskipun saya bermaksud untuk melakukannya suatu saat nanti.

Dibandingkan konflik yang kentara dalam dunia Protestant antara Calvinist, Arminian dan mereka yang terperangkap ditengah-tengah (tidak termasuk didalamnya Hyper-Calvinist, Semi-Pelagian, dan Pelagian yang ada di dalam dunia Protestant), dunia Katholik dapat dikatakan cukup damai. Perbedaan pemikiran tentang predestinasi tidak dalam kondisi yang bertentangan satu sama lain dan bisa hidup damai dalam satu gereja. Hal ini bukanlah issue yang dapat memecah belah Gereja bagi Katholik.

Pernah di abad 16 dan 17 ketika sekolah sekolah ini berada kondisi perseteruan satu sama lainnya, tapi Paus Paul V melarang pemimpin kedua sekolah—Thomism (mirip dengan Calvinisme) dan Molinism (mirip dengan Arminianisme)—untuk saling menuduh satu sama lain sebagai penganut ajaran sesat, dan kontroversi berhasil diredam. Sejak saat itu tidak ada kepentingan yang cukup mendesak untuk menyelesaikan debat tersebut. Meredam debat-debat yang merusak, dan mempunyai potensi untuk memecah belah gereja adalah salah satu keuntungan memiliki seorang Paus.

sumber: http://www.cin.org/users/james/questions/q123.htm

diterjemahkan oleh: -O- (ekaristi.org)

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: