PREDESTINASI, KESELAMATAN, DAN PEMBUANGAN

Perbandingan antara Calvinisme dan Katholikisme

TIGA BELAS POINT PREDESTINASI DAN KESELAMATAN

  1. Tuhan, dalam keabadian, secara tidak-dapat-salah dapat melihat dan secara tepat dapat menentukan semua kejadian dimasa yang akan datang.
  2. Meskipun demikian, ini tidak berarti meniadakan kebebasan manusia.
  3. Sebagai konsekuensi, manusia tetap bebas untuk memilih menerima rahmat dan melakukan kebajikan atau menolaknya dan melakukan kejahatan.
  4. Tuhan menginginkan agar semua orang memperoleh kebahagiaan kekal.
  5. Kristus telah mati bagi semua orang, meskipun demikian tidak semua orang membiarkan dirinya untuk memperoleh rahmat penebusan.
  6. Tuhan telah melihat dan kemudian menentukan, kebahagian kekal dan perbuatan baik yang dilakukan oleh orang-orang yang terpilih.
  7. Tuhan tidak mem-predestinasi-kan seorangpun untuk secara positif pergi ke neraka, maupun untuk berbuat dosa.
  8. Sebagai konsekuensi, sama seperti tidak ada orang yang bisa selamat jika menentang Allah, orang-orang yang berdosa akan mati karena kejahatan yang dilakukannya sendiri.
  9. Tuhan sejak awal mula dapat melihat kesakitan abadi yang akan dialami oleh para pendosa, dan telah menentukan hukuman karena dosa-dosa yang mereka lakukan.
  10. Walaupun demikian, Tuhan tidak gagal karena tetap memberikan rahmat meskipun orang itu kemudian menjadi pendosa, atau melewatkan mereka yang tidak di-predestinasi-kan.
  11. Kehidupan para pendosa di dunia, bisa berupa orang Kristen yang religius dan adalah anggota Gereja, di lain fihak, orang yang di-predestinasi-kan bisa berasal dari luar Kristen atau Gereja.
  12. Tanpa wahyu khusus, tidak ada seorangpun bisa tahu dengan pasti bahwa dirinya termasuk orang yang terpilih.
  13. Dengan keyakinan kita dalam Kristus dan keteguhan dalam ketaatan (2 Pet 1:10) kita bisa mendapatkan apa yang dinamakan “kepastian moral” (moral certitude) terhadap keselamatan kita.

RANGKUMAN DARI PENGAJARAN GEREJA KATHOLIK

1. Tuhan mengetahui semuanya, termasuk mereka yang akan diselamatkan (KAUM TERPILIH). 2. Pengetahuan Tuhan (sebelum sesuatu itu terjadi) tidak menghilangkan, tapi melibatkan, kehendak bebas. 3. Tuhan ingin agar semua orang diselamatkan. 4. Yesus mati untuk menebus semua orang. 5. Tuhan memberikan rahmat yang cukup bagi semua orang agar bisa selamat. 6. Manusia, dalam melakukan kehendak bebasnya, dapat menerima atau menolak rahmat Tuhan. 7. Mereka yang menerima rahmat akan diselamatkan, atau ‘lahir-baru’. 8. Mereka yang lahir-baru dapat murtad atau jatuh kedalam dosa. 9. Tidak semua orang yang telah diselamatkan akan tetap teguh dalam rahmat Tuhan. 10. Mereka yang tetap teguh adalah yang mereka yang dipilih oleh Tuhan. 11. Mereka yang tidak teguh, atau yang tidak menjawab rahmat, akan dibuang. 12. Karena kita selalu dapat menolak Tuhan dalam kehidupan ini, kita tidak pernah dapat benar benar yakin bahwa kita akan tetap teguh. 13. Kita secara moral bisa memiliki keyakinan akan keselamatan kalau kita terus menerus memelihara iman dan menjalankan firman Tuhan (1 Yoh 2:1-6; 3:19-23; 5:1-3,13).

PERBEDAAN PENTING

1. Predestinasi bukan Predeterminasi :

“Predestinasi tidak lebih dari pengetahuan dan kepastian (sebelum sesuatu terjadi) bahwa pemberian rahmat karunia akan dapat memastikan keselamatan dari semua yang diselamatkan.” (St. Augustine, Persever 14:35) Predestinasi adalah kepastian Tuhan akan kebahagiaan kaum terpilih. Pengetahuan Tuhan yang tidak mungkin salah (termasuk predestinasi) melibatkan kehendak bebas manusia. Pengetahuan Tuhan tidak bisa memaksa manusia dengan menggunakan kekerasan yang tidak dapat dihindari, untuk alasan sederhana yang mendasar, tidak lebih daripada pengelihatan akan kejadian sejarah yang kelak akan terjadi. Tuhan mengetahui semua aktifitas bebas manusia dengan tepat bahwa orang tersebut akan bersedia melaksanakannya, predestinasi bukanlah predeterminasi dari keinginan manusia.

2. Pemilihan adalah konsekuensi dari pengetahuan Tuhan :

Secara definisi, kaum TERPILIH adalah mereka yang telah dilihat Tuhan secara tidak dapat salah akan diselamatkan (Roma 8:28-30). Dengan definisi ini, adalah tidak mungkin bagi orang yang terpilih untuk terlepas, tepatnya karena Tuhan mengetahui sejak semulal siapa saja yang tidak akan lepas. Tetapi karena pemilihan tergantung pada pengetahuan Tuhan yang tidak dapat salah, kita tidak punya cara untuk mengetahui apakah kita masuk dalam kategori yang terpilih – Tuhan mengetahui dengan pasti orang yang dipilihNya, tapi kita tidak. Kaum terpilih dipredestinasi dalam pengertian bahwa Tuhan mengenal mereka, dan berkenan kepada mereka dengan memberikan rahmat, sehingga mereka diselamatkan.

3. Kehendak bebas bisa menghalangi dan menolak rahmat Allah :

“Dan kamu orang orang yang bertegar-tengkuk (keras kepala)… kamu selalu menolak Roh Kudus” (Kis 7:51). Malaikat-malaikat mempunyai rahmat dan intelektual yang lengkap dan sempurna, dan meskipun demikian mereka tetap bisa jatuh kedalam dosa. Seberapa dekat orang Kristen yang lahir-baru, yang memiliki rahmat tapi juga mengandung nature yang bernoda dan intelektual yang gelap, untuk dapat berdosa. Paulus menyebutkan dosa-dosa yang dapat menjauhkan seorang manusia dari Kerajaan Tuhan: perzinahan, percabulan, homoseksual, mencuri, keserakahan, dan lain-lain (1 Kor 6:9-10).

Ketika Yesus diberi pertanyaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan seseorang untuk memperoleh kehidupan kekal, Ia menjawab, “taatilah perintah-perintah Allah,” dan kemudian menyebutkan perintah-perintah moral dalam perikop tersebut (Mat 19:16-21). Kitab wahyu menggambarkan tempat mereka adalah lautan belerang yang bernyala, kematian kedua: “tetapi bagi orang-orang pengecut, pengkhianat, pembunuh, pezinah” dan seterusnya (Wahyu 21:8). Apakah orang Kristen yang sudah lahir-baru bisa melakukan dosa-dosa ini ? Dan jika mereka mati dalam dosa-dosa ini, bagaimana mungkin mereka mewarisi surga? Jikalau Adam dan Hawa dapat jatuh dari keadaan berahmat, pastilah kita dapat jatuh pula. Pastilah kita bisa mengeraskan hati-hati kita dan menolak Roh Kudus.

4. Kita tidak boleh mencampur-adukkan Pemilihan dan “Lahir Baru”:

Pandangan tentang mereka yang telah “lahir-baru” (dalam ajaran Katholik dan pengertian selama sejarah Kristen adalah mereka yang telah dilahirkan kembali “oleh Air dan Roh” dalam Sakramen Baptis – Yoh 3:3,5; Kis 2:38) tidak berarti bahwa mereka pasti akan bertahan dan memperoleh hidup kekal. Orang Kristen yang lahir-baru dapat jatuh. Jikalau tidak demikian kehendak bebas dan dosa (yang mematikan) hanyalah khayalan dalam kehidupan sekarang yang penuh pencobaan dan ziarah. Jika demikian semua kata-kata dalam Alkitab untuk tetap teguh sampai pada akhirnya agar bisa selamat (cf Mat 10:22; 24:13; Fil 2:12-13) akan menjadi tidak masuk akal.

PERBANDINGAN KONTRAS ANTARA CALVINISME DAN KATHOLIKISME

Calvin : Ke-maha-kuasa-an Allah menentukan kehendak (manusia).

Catholic : Ke-maha-kuasa-an Allah mengikut-sertakan kehendak bebas (manusia).

Calvin : Predestinasi adalah predeterminasi.

Catholic : Predestinasi adalah ramalan (mengetahui sebelum terjadi) yang tidak dapat salah.

Calvin : Allah menghendaki hanya yang dipilih yang akan selamat.

Catholic : Allah menghendaki keselamatan semua orang.

Calvin : Allah memberikan rahmat hanya kepada orang yang dipilih.

Catholic : Allah memberikan rahmat kepada semua orang, namun tidak semua orang mau menerima dan menanggapinya.

Calvin : Kristus mati hanya bagi orang-orang yang dipilih.

Catholic : Kristus mati bagi semua orang.

Calvin : Allah telah menentukan sebelumnya bahwa beberapa orang akan masuk ke neraka.

Catholic : Manusia memperoleh nilai kenerakaan karena kejahatan mereka sendiri.

Calvin : Mereka yang dipilih adalah mereka semua yang telah lahir-baru.

Catholic : Mereka yang dipilih adalah mereka yang bertahan teguh sampai pada akhirnya.

Calvin : Rahmat menguasai / menentukan kehendak bebas manusia.

Catholic : Rahmat membantu menyempurnakan kehendak bebas yang menanggapi rahmat tersebut.

Calvin : Mereka yang menerima rahmat (lahir-baru) tidak mungkin murtad.

Catholic : Mereka yang menerima rahmat dapat dengan bebas berbuat dosa dan kehilangan rahmat.

Calvin : Mereka yang dipilih akan berhasil berteguh sampai akhir.

Catholic : Mereka yang dipilih adalah mereka yang mampu berteguh sampai akhir.

Calvin : Mereka yang dipilih dijamin akan diselamatkan.

Catholic : Ya, tapi hanya Allah yang mengetahui siapa saja mereka.

Calvin : Predestinasi menghapuskan nilai baik dan buruk manusia.

Catholic : Predestinasi mengikut sertakan didalamnya nilai baik dan buruk manusia.

Kesesatan Pelagianisme adalah karena mereka percaya bahwa manusia sendirian (tanpa rahmat Allah) bertanggung jawab terhadap keselamatannya sendiri. Calvinisme mulai dengan basis yang berlawanan bahwa Tuhan sendirilah yang bertanggung jawab terhadap keselamatan manusia.

CALVINISME TIDAK BERALASAN

Calvin meletakkan alasan predestinasi melulu berada dalam keinginan mutlak Allah. Namun dengan membuat Allah sendiri yang bertanggung jawab terhadap semuanya, Calvin menghilangkan unsur kebebasan kooperatif manusia untuk berkehendak dan mendapatkan kebahagiaan kekal. Maka dari itu ia secara logika dipaksa untuk mengakui bahwa rahmat Allah tidak dapat ditolak dan pasti berhasil untuk menentang kebebasan dari kehendak ketika dipengaruhi rahmat, dan untuk menolak karunia supernatural yang intrinsic dalam diri manusia (sebagai alasan kedua untuk memperoleh kebahagiaan kekal).

Tidak berhenti pada Tuhan benar-benar bertanggung jawab bagi keselamatan kaum terpilih, namun Dia juga harus bertanggung jawab bagi pengutukan orang-orang yang jahat, sampai kepada titik dimana mereka mengingini dosa-dosa mereka. Karena Tuhan menginginkan semua yang baik untuk umat yang dipilih, dan semua yang buruk bagi yang jahat, Calvin percaya bahwa Kristus hanya mati bagi umat yang dipilih (ini ditentang oleh Geisler, dengan tulisan dalam buku : Chosen But Free (Dipilih namun tetap bebas)

“Menurut Alkitab, kemudian, dengan jelas ditunjukkan, kita berkata bahwa Tuhan telah menetapkan dalam keabadianNya dan rencanaNya yang tidak terubahkan, mereka yang Ia kasihi dan kemudian menentukan sekali untuk selamanya, bahwa mereka akan menerima keselamatan, dan mereka yang, ada di sisi lain, Ia serahkan pada kebinasaan.

“Kami menyatakan bahwa, bagi kaum yang terpilih, rencana ini dimulai dari pengampunannya yang diberikan secara bebas, tanpa memperdulikan kepatutan manusia; tapi melulu oleh keputusanNya yang sulit untuk dipahami namun tidak mungkin bisa disalahkan, Dia telah menutup pintu kehidupan bagi mereka yang telah diserahkan kepada maut.” (John Calvin, Institutes of the Christian Religion Book III:21:7)

Keselamatan dan penghukuman tergantung sepenuhnya pada kehendak Allah – manusia sepenuhnya di-predeterminasi untuk menjadi sesuatu atau yang lainnya melalui rahmat yang tidak mungkin dapat ditolak, yaitu tanpa mempedulikan tanggapan atau penolakan manusia terhadap keinginan Allah. Karena rahmat tidak dapat ditolak, keinginan dari orang yang di-predeterminasi tidaklah bebas untuk menanggapi rahmat dan kemudian pekerjaan-pekerjaan Allah, sehingga orang yang diselamatkan menjadi betul-betul dipilih secara acak. Lebih mengganggu lagi, karena keinginan dosa juga tidak bisa ditolak tanpa rahmat Tuhan, keinginan orang-orang jahat juga tidak benar benar bebas untuk berdosa dan melakukan pekerjaan setan, sehingga pembuangan ke neraka juga tidak disebabkan oleh kejahatan dan penurunan nilai-nilai diri sendiri.

CALVINISME TIDAK ALKITABIAH

Coba pertimbangkan apa artinya ini dan apakah ini alkitabiah :

1. Tidak ada kehendak yang betul betul bebas (ditolak dengan pengalaman, dan dengan ajaran untuk meminta maaf, menata ulang, mematuhi perintah Allah, melakukan perbuatan amal, dan berteguh sampai akhir).

2. Dengan demikian tidak ada karunia dan kehilangan karunia (ditolak oleh seluruh Alkiab yang menjadi saksi adanya karunia dan penghukuman dari Allah menimpa semua orang tergantung pada perbuatan-perbuatan mereka, e.g. Mat 16;27; Rom 2:5-10; 2 Kor 5;10; Wah 22:11-12; etc).

3. Allah menghendaki keselamatan hanya bagi mereka yang dipilih (Ditolak dengan 1 Tim 2:4; 2 Petrus 3:9; Mat 23;37; Ezek 18:23-32; 33:11; etc).

4. Kristus wafat hanya untuk mereka yang dipilih. (Ditolak dengan yoh 3:16-17; 4:42; 1 Yoh 2:2; 4:9-14; Roma 5;6,18; 2 Kor 5;14-15; 1 Tim 2:6; 4:10; etc).

5. Allah memeberikan rahmat hanya bagi mereka yang dipilih. (Ditolak dengan Titus 2:11; Yoh 1:9,16; Rom 2:4; etc).

6. Tuhan sejak awal mula langsung menentukan kaum yang dipilih untuk diselamatkan, termasuk perbuatan-perbuatan baik mereka. (Ini mengesampingkan unsur kebebasan manusia untuk menanggapi rahmat Tuhan)

7. Allah sejak awal mula langsung menentukan kaum yang akan dimusnahkan, termasuk dosa-dosa mereka. (Ditolak dengan Yak 1:13-14; Sirakh 15;11-20; 1 Kor 10:13 dan mengesampingkan penolakan murni yang berasal dari kehendak manusia).

8. Kaum yang dipilih akan diselamatkan tanpa memperdulikan usaha dan perbuatan mereka sendiri. (Ini menolak upah surgawi).

9. Kaum yang tidak dipilih akan dimusnahkan tanpa kesalahan mereka sendiri. (Ini menolak kesalahan yang murni dilakukan manusia dan layak mendapatkan penghukuman).

Diantara dua ekstrim ini, dogma Katholik tentang predestinasi tetap memelihara makna yang tepat, karena dogma ini mengajarkan kebahagian kekal sebagai karya Tuhan dan buah rahmatNya dan juga sebagai buah dan upah dari perbuatan baik yang telah ‘diketahui’ Allah sebelumnya.

AJARAN KATHOLIK TENTANG PREDESTINASI DAN KESELAMATAN

Keseluruhan proses predestinasi dan keselamatan terdiri dari 5 langkah ini :

A. Karunia pertama terhadap pekerjaan, khusunya iman sebagai titik awal, dasar dan akar pembenaran (Konsili Trent, session VI, bab 8.)

B. Beberapa tambahan karunia sehari-hari bagi keberhasilan pembenaran dan pengorbanan (1 Kor 6:11)

C. Pembenaran itu sendiri sebagai awal bagi keadaan berahmat dan kasih

D. Peneguhan akhir atau paling sedikit rahmat untuk meninggal dengan tenang

E. Jalan menuju kebahagiaan abadi dan kemenangan (Rom 8:28-30)

Posisi ajaran Calvinist konsisten dengan dirinya sendiri, tapi tidak consistent dengan pengalaman manusia atau dengan Alkitab. Ajaran tsb tidak sesuai dengan kebebasan kehendak manusia untuk menerima atau menolak, dosa dan kebajikan, kemungkinan kehilangan rahmat, upah dan penghukuman, dan bahwa pengampunan dan rahmat diberikan secara universal. Allah yang digambarkan oleh ajaran Calvin bersifat dictator dan tidak dapat diperkirakan.

Posisi ajaran Katholik konsisten dengan dirinya sendiri, dengan pengalaman manusia dan dengan Alkitab. Pengetahuan dan ketetapan Allah bagi kaum yang terpilih kepada kemenangan surgawi adalah keinginan universalNya dan pemberian rahmat yang cukup untuk menyelamatkan semua orang, termasuk didalamnya adalah kebebasan kita untuk menanggapi rahmatNya, perbuatan mulia yang berhak atas upah surgawi, dan kemungkinan yang betul2 nyata – dalam kehidupan ini untuk mendapatkan cobaan dan melakukan ziarah – yang dapat menolak rahmat dan keselamatan sehingga layak menerima hukuman neraka.

sumber: http://www.bringyou.to/apologetics/num21.htm

diterjemahkan oleh: -O- (ekaristi.org)

One comment

  1. Reformed · · Balas

    jika manusia punya kemampuan dengan jehendaknya untuk menolak kasih karunia Allah, maka pertanyaan sederahannya adalah: SIAPAKAH YANG MENJADI ALLAH? Manusia atau ALLAH??

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: