Arsip Tag: syahadat para rasul

4. Iman dan Syahadat

Gereja selalu menyimpulkan obyek iman (apa yang ia percaya) di dalam syahadat, khususnya yang pertama dan yang paling mendasar, Syahadat Para Rasul, yang kita sebutkan diawal Rosario; dan Syahadat Nicea, yang kita sebutkan di setiap Misa Minggu.

Mereka disebut “creeds/ syahadat” karena mereka dimulai dengan kata “Aku percaya,” dimana didalam latin adalah “credo.”

Pokok dari obyek iman bukanlah syahadat, tetapi Allah. Syahadat memberi definisi apa yang kita percaya tentang Allah. (Mereka tidak memberi definisi tentang Allah itu sendiri. Allah tidak bisa didefinisikan. Hanya benda yang terbatas yang bisa didefinisikan.) Katekismus mengatakan: “Kita tidak percaya kepada rumus-rumus, tetapi kepada kenyataan yang diungkapkannya…” (Katekismus Gereja Katolik 170). Santo Thomas Aquinas mengatakan: “Tindakan iman orang yang percaya tidak berakhir dalam proposisi tetapi didalam realitas.” Syahadat seperti peta jalan yang akurat; mereka diperlukan tetapi mereka tidak cukup. Melihat peta jalan bukanlah pengganti untuk melakukan perjalanan.

Jadi “Iman adalah ikatan pribadi manusia dengan Allah” (Katekismus Gereja Katolik 150). Dan “sekaligus, tidak terpisahkan dari itu, persetujuan secara bebas terhadap segala kebenaran yang diwahyukan Allah.” (Katekismus Gereja Katolik 150). Kita percaya semua kebenaran yang telah Allah wahyukan kepada kita (yang diringkaskan didalam syahadat) karena kita percaya Allah, “yang tidak menipu ataupun ditipu”

sumber: booklet The Luke E Hart Series Basic Element of the Catholic Faith; Part One: Faith; by Peter Kreeft.


2. Peran Iman Dalam Agama

Satu penjelasan yang diberikan pada kata “religion (agama)” yang didalam bahasa latin disebut religare artinya “relationship (hubungan)” – hubungan dengan Allah.

Semua agama-agama mempunyai tiga aspek: creed, cult, dan code; words, worship, dan works; teology, liturgi, dan moralitas.
Jadi ada tiga bagian didalam agama Katolik: 1) apa yang Katolik Percaya, 2) bagaimana Katolik berdoa, dan 3) bagaimana Katolik hidup.

Hal ini juga menjadi tiga perhatian dalam Katekismus Gereja Katolik. (Katekismus membagi perhatian yang kedua kedalam dua bagian: public worship-penyembahan umum dan private prayer-doa pribadi; maka dari itu menjadi empat bagian.)

Seluruh agama berakar dari iman. Moralitas adalah menghidupi iman. Liturgi adalah perayaan dari iman. Doa adalah apa yang iman lakukan.

Iman Katolik diringkas didalam dua belas pasal dari Syahadat Para Rasul.
Liturgi Katolik diringkas didalam Misa dan tujuh sakramen.
Doa Katolik diringkas didalam tujuh petisi dari doa Bapa Kami.
Moralitas Katolik diringkas didalam Sepuluh Perintah Allah.

Syahadat Para Rasul adalah ajaran dari Kristus dan rasul-Nya. Hal itu menetapkan apa yang kita percayai ketika kita percaya ajaran-ajaran Kristus.
Sepuluh Perintah Allah menetapkan jalan untuk mentaati dua perintah besar Kristus: untuk mengasihi Allah dan sesama.
Misa membuat Kristus benar-benar hadir dan sakramen-sakramen adalah tindakan-Nya.
Doa Bapa Kami adalah jawaban Kristus atas permintaan para murid-Nya: “Ajarkan kami untuk berdoa.”
Jadi seluruh iman Katolik jika diringkas semuanya didalam Kristus.

sumber terjemahan dikutip dari booklet The Luke E Hart Series; Basic Element of the Catholic Faith; Part One: Faith; by Peter Kreeft.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.169 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: