Gereja selalu menyimpulkan obyek iman (apa yang ia percaya) di dalam syahadat, khususnya yang pertama dan yang paling mendasar, Syahadat Para Rasul, yang kita sebutkan diawal Rosario; dan Syahadat Nicea, yang kita sebutkan di setiap Misa Minggu.
Mereka disebut “creeds/ syahadat” karena mereka dimulai dengan kata “Aku percaya,” dimana didalam latin adalah “credo.”
Pokok dari obyek iman bukanlah syahadat, tetapi Allah. Syahadat memberi definisi apa yang kita percaya tentang Allah. (Mereka tidak memberi definisi tentang Allah itu sendiri. Allah tidak bisa didefinisikan. Hanya benda yang terbatas yang bisa didefinisikan.) Katekismus mengatakan: “Kita tidak percaya kepada rumus-rumus, tetapi kepada kenyataan yang diungkapkannya…” (Katekismus Gereja Katolik 170). Santo Thomas Aquinas mengatakan: “Tindakan iman orang yang percaya tidak berakhir dalam proposisi tetapi didalam realitas.” Syahadat seperti peta jalan yang akurat; mereka diperlukan tetapi mereka tidak cukup. Melihat peta jalan bukanlah pengganti untuk melakukan perjalanan.
Jadi “Iman adalah ikatan pribadi manusia dengan Allah” (Katekismus Gereja Katolik 150). Dan “sekaligus, tidak terpisahkan dari itu, persetujuan secara bebas terhadap segala kebenaran yang diwahyukan Allah.” (Katekismus Gereja Katolik 150). Kita percaya semua kebenaran yang telah Allah wahyukan kepada kita (yang diringkaskan didalam syahadat) karena kita percaya Allah, “yang tidak menipu ataupun ditipu”
sumber: booklet The Luke E Hart Series Basic Element of the Catholic Faith; Part One: Faith; by Peter Kreeft.










