Arsip Tag: Misa Tridentine

Spiritualitas Liturgi Kuno : Pengaruh dalam Doa


I. Kesadaran Terhadap Dosa

II. Penyangkalan Diri, Pemisahan dan Mortifikasi (Mati Raga)

III. Kesempurnaan dalam Kebajikan (Virtue)

IV. Pengaruh Doa

Oleh Romo Chad Ripperger, F.S.S.P. – Musim Panas 2001

IV. Pengaruh dalam Doa

Aspek terakhir adalah pengaruh dalam doa. Kita telah menyebutkan bahwa keheningan itu perlu untuk menaikkan tingginya doa. Sementara doa vokal tidak disyaratkan, yang disyaratkan adalah doa mental dan tujuh tingkat doa yang lain. St. Agustinus berkata bahwa tidak ada orang yang bisa menyelamatkan jiwanya jika ia tidak berdoa. Adalah fakta bahwa doa mental dan doa secara umum telah runtuh diantara kaum awam (dan klerus) selama 30 tahun terakhir. Ini adalah kesanku bahwa perkembangan ini sesungguhnya berhubungan dengan ritual Misa. Sekarang, dalam ritus baru, segalanya berpusat disekitar doa vocal, dan aspek komunal doa ditekankan secara hebat. Hal ini menuntun orang-orang untuk percaya bahwa hanya bentuk-bentuk doa vocal dan komunal yang memiliki nilai yang sebenarnya. Konsekuensinya, orang-orang tidak berdoa sendiri (secara mental) lebih lama.

Ritual kuno, di sisi lain, sebenarnya mendorong kehidupan doa. Keheningan selama Misa sesungguhnya mengajarkan orang-orang bahwa mereka harus berdoa. Sesorang akan tersesat karena gangguan atau ia akan berdoa. Keheningan dan dorongan untuk berdoa selama Misa mengajarkan orang-orang untuk berdoa dengan cara mereka sendiri. Sementara itu, mereka tidak berdoa menurut cara mereka sendiri  sejauh mereka harus menggabungkan doa-doa dan kurban-kurban  pada Kurban dan doa imam, tindakan ini dilakukan secara interior dan mental dan begitu alami mengatur mereka menuju bentuk doa. Ini adalah salah satu alasannya, setelah Misa diucapkan berdasarkan ritual kuno, orang-orang secara alami lebih tenang dan cenderung untuk berdoa. Jika semuanya dilakukan secara vocal dan lantang, maka ketika doa vocal berhenti dilakukan, orang berpikir doanya berakhir. Sangat sulit untuk mendapatkan orang-orang yang menghadiri ritus Misa baru untuk membuat ucapan syukur yang pantas melalui doa setelahnya karena hasrat dan fakultas mereja telah membiasakan mereka untuk berbicara dengan lantang.

Ritual kuno juga memberikan seseorang rasa surgawi. Karena altar menandai garis yang membagi antara yang profane dan yang suci, antara yang surgawi dan duniawi, dan imam naik ke altar untuk mempersembahkan Kurban, ritus tradisional meninggalkan rasa ditariknya seseorang ke dalam surga dengan imam. Bagian ini secara alami menarik kita dalam doa dan memberikan kesadaran akan transendensi dan supernatural yang adalah kunci dalam kehidupan spiritual. Banyak referensi pada para kudus yang mendukung devosi dan bukan menimalkannya. Bahasa latin menyediakan kesadaran akan misteri. Keindahan ritual, lingkungan yang secara alamiah mengalir dari ritual sendiri (seperti gereja yang didesain untuk ritual), chant (lagu pujian) – semua hal ini menuntun pada kontemplasi, pencarian yang ada di atas.

Kesimpulan

Dengan jelas, kita tidak menjelaskan sepenuhnya semua aspek spiritual dari ritual kuno, namun empat area yang kita bahas memperlihatkan bahwa ritual kuno dan bentuk ritual yang lebih baru memiliki spiritualitas yang berbeda. Jika Gereja menangkap kesadaran akan transenden untuk orang awam, jika kita memiliki imam yang suci dan rendah hati, jika kita memiliki ritual yang dijalankan oleh kasih dan karenanya memiliki Allah sebagai satu-satunya fokus kerinduan dan keinginan kita, Gereja harus menghidupkan kembali liturgi bahwa Allah sendiri yang membentuk liturgi ketika Kristus berada di bumi dan melalui tangan kasih para kudus sepanjang sejarah. Kita tidak bisa dipuaskan dengan liturgi yang adalah karya tangan kita. Untuk alasan ini, Aku tidak menyetujui teori bahwa kita perlu menghasilkan ritual yang lain. Kita perlu mengembalikan karya Allah, karena ritual kuno melakukan semuanya, ritual kuno mengajarkan kita bahwa kita tidak memerlukan ekspresi diri kita. Kita membutuhkan Allah.

Romo Chad Ripperger, F.S.S.P. adalah professor di seminari keuskupan St. Gregory dan seminari Our Lady of Guadalupe, keduanya di Nebraska.

Sumber


Spiritualitas Liturgi Kuno : Kesempurnaan dalam Kebajikan


I. Kesadaran Terhadap Dosa

II. Penyangkalan Diri, Pemisahan dan Mortifikasi (Mati Raga)

III. Kesempurnaan dalam Kebajikan (Virtue)

IV. Pengaruh Doa

Oleh Romo Chad Ripperger, F.S.S.P. – Musim Panas 2001

III. Kesempurnaan dalam Kebajikan

Hal ini membawa kita pada topik selanjutnya : kesempurnaan dalam kebajikan. Misa lama, sejauh Misa ini melucuti diri kita, merendahkan diri kita. Hal ini perlu, karena setiap dari kita menderita dari kesombongan. Selain itu, dengan tidak member kita kontrol terhadap ritual, ritus lama melahirkan kesabaran (meekness), kebajikan dimana seseorang tidak menuju ke ekstrim dalam tindakan atau reaksi seseorang. Ada banyak cerita tak terhitung dari awam dan imam yang marah setelah menghadiri ritus baru karena sesuatu yang dilakukan selebran. Imam tidak seharusnya menjadi sebab kemarahan selama Misa. Dengan menjadi sebab amarah, ia mengikis kesabaran umat awam. Dengan ritual yang sudah tetap, ritual tersebut menyediakan imam untuk mengikuti rubric, dan mengucapkan Misa dengan hormat, meminimalkan kesempatan bahwa imam akan membuat umat marah. Dalam cara ini, ritus lama menjamin kesabaran.

Kerendahan hati adalah akar kebajikan dalam concupiscible appetite, yaitu, hal dalam diri kita yang menarik kita terhadap harta benda jasmani. Kerendahan hati adalah kebajikan dimana seseorang tidak menghakimi orang lain lebih besar daripada dirinya. St. Thomas Aquinas memberitahu kita bahwa ini adalah akar dari semua kebajikan dan tidak ada kebajikan lain yang bisa ada tanpanya. Misa lama membuang kesombongan dan melahirkan kerendahan hati karena Misa bukan tindakan kita atau produk kita tapi adalah produk dan tindakan Allah. Selain itu, dengan menghadapi misteri yang tak dapat diatasi dalam hidup kita, hal ini secara alami menyebabkan adanya rasa kekecilan diri kita bila dibandingkan dengan Allah. Hal ini menempa cara kita berprilaku karena kita berada dalam kehadiran seseorang yang menyebabkan “kekaguman”,yang merupakan rasa keheranan atu kekaguman. “Kekaguman” secara alami menyebabkan kita untuk berhenti dan menganggap diri kita dalam terang yang mengagumkan, kekaguman memikat hati kita dan mengurangi apa yang kita lakukan. Ritual kuno – yang melahirkan kerendahan hati dan kesabaran, yang diatasnya semua kebajikan menjadi ada – mengingatkan kita akan kata-kata Kristus, yang berkata “Belajarlah dari Aku, karena aku sabar dan rendah hati”. Di lain kata, “Aku menyesuaikan diriku pada kebenaran, dan Aku tidak bangga dan tidak menghakimi diriku lebih besar daripada Aku, Aku tidak terlalu ekstrim dalam bertindak”. Inilaha apa yang harus diinginkan dalam ritual apapun. Ritual harus berbicara pada kita  – bukan dalam kata-kata ktia, tapi dalam kata-kata Kristus. Dalam cara ini ritual kuno dapat dilihat secara metafora, “Belajarlah dari Aku, karena Aku sabar dan rendah hati”

Ketika kesabaran dan kerendahan hati berada di tempatnya, kebajikan penghormatan mengalir secara alami. Rasa hormat adalah kebajikan yang terkandung dalam kebajikan keadilan yang lebih universal, dan secara khusus dalam agama, dimana seseorang mempertahankan dalam kehormatan dan kepercayaan suatu hal yang biasanya suci. Ritual kuno membantu kita untuk menghormati hal-hal yang kudus, karena, pertama-tama, kita rendah hati dan menyadari keagungan hal-hal suci. Kedua, kita mendekati Allah dalam kesadaran akan penyangkalan diri dan pengabdian, dan dalam hal inilah keunggulan ritual kuno. Karena imam membungkukkan kepala, berlutut dengan satu kaki dan sering merendahkan diri dalam doa-doa sehingga Allah dapat melihat tindakannya dan disenangkan.

Keperkasaan juga diajarkan dalam ritual kuno, jika bukan sama sekali bahwa ini merupakan peperangan spiritual. Sejak awal, ketika imam berpakaian dengan memakai amik (amice), ia berdoa, meminta Tuhan kita bagi topi baja keselamatan sehingga ia dapat bertarung melawan serangan iblis. Juga, karena imam tidak tunduk pada komite liturgis tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan, ritus tradisional menguatkan imam dan menegaskan kemabli aspek maskulin dari imam.

Disini kami sangat merekomendasikan artikel oleh Romo James McLucas tentang the emasculation of the priesthood, (The Latin Mass, 1998), dimana ia berargumen bahwa ritual yang lebih baru, sebenarnya, mengambil dari imam hal-hal yang maskulin : peran dalam menyediakan dan melindungi keluarga spiritualnya. Dalam ritual kuno, ia sendiri menggembalakan keluarga spiritualnya dengan membagikan Komuni Kudus. Hal ini juga berarti ia bisa melindungi misteri-misteri suci. Penghapusan sistematik dari semua hal ini yang menekankan kemaskulinan dan peran kebapakan imam telah melemahkan visi kita tentang imamat. Selain itu, kita cenderung mendapatkan apa yang kita persembahkan sebagai contoh. Karenanya, jika kita menempatkan dihadapan orang-orang pandangan imamat yang dilemahkan yang memiliki sedikit atau tidak ada kebajikan keperkasaan sama sekali, kita dapat berharap imam menjadi lemah dan feminim, dan menarik seminarian yang mengikutinya. Keperkasaan didefinisikan sebagai melakukan tindakan berat dan ritual kuno menyediakan imam untuk memperolah jenis keperkasaan yang terbesar dan tersulit : disiplin diri melalui penyangkalan diri.

Ritual kuno juga menghindari pelanggaran terhadap keadilan. Kitab Hukum Kanonik yang baru menyatakan bahwa kaum awam memiliki hak untuk menghadiri liturgi yang diucapkan berdasarkan rubrik. Sekarang semua opsi telah mengikis kesadaran bahwa imam harus  menyerahkan kepada umat; aliran misa berada pada kebijaksanaannya (NB : Mungkin terjemahannya kurang tepat, jadi ini kata-kata dalam bahasa inggris : Now all the options have eroded the sense that the priest must render to the people their due; the flow of the Mass is at his discretion.). Hal ini menuntun imam berpikir bahwa ia bisa melakukan apapun yang ia suka. Sementara dokumen Gereja dengan jelas menyatakan bahwa ia tidak bisa melakukan hal tersebut, faktanya adalah segala pilihan mengandung prinsip implisit “lakukan apa yang kau inginkan”. Inilah sebabnya, ketika ritual keluar dari tangan imam, ritual secara alami melahirkan kesadaran akan keharusan keadilan dalam diri kita semua. Karena ketika imam melakukan sesuatu yang bertentangan dengan rubrik, atau bahkan dalam rubrik tapi termasuk sebagai opsional, ini memberikan umat kesadaran bahwa imam tidak begitu peduli tentang apa yang Allah inginkan seperti apa yang ia inginkan, khususnya jika seseorang yang menghadiri Misa tidak menyukai opsi tertentu.  Akhirnya, ritual Misa adalah tentang Allah, dan harus mencari jalan terbaik menyerahkannya pada Allah. Hal ini datang melalui kesadaran mendalam terhadap keadilan. Melalui kurban kepada Allah dan kesesuaian ritual pada kurban itu, kita menyadari dengan hormat pada Allah, kita tidak memiliki klaim keadilan sejauh kita adalah ciptaan belaka. Karena itu, Misa haruslah tentang Allah dan bukan diri kita. Ritual kuno membantu kita melupakan dan melepaskan diri kita dalam penyerahan keadilan pada Allah melalui Kurban.

Ritus Kuno melahirkan iman, harapan, dan kasih. Ia melahirkan iman karena ritus kuno unggul dalam eksresi teologi katoliknya. Iman datang melalui pendengaran dan kita mendengar Iman dalam doa-doa ritual kuno. Ritual melahirkan harapan dikarenakan rasa mendalam dari transenden dan partisipasi kita dalam transenden. Ritus kuno melahirkan kasih karena membantu kita menyadari bahwa pemujaan adalah tentang Allah, bukan kita. Kasih didefinisikan sebagai kasih kepada Allah dan sesama demi Allah. Bahkan ketika kita mencintai sesame, itu haruslah demi Allah. Oleh karena itu ritual membantu kita untuk memusatkan segalanya pada Allah, karenanya memberikan arahan tepat bagi kehidupan spiritual kita. Bahkan jika bukan ini, ritual kuno melahirkan kasih jika tanpa alasan lain bahwa hal ini  menjaga ketidaksempurnaan seseorang dengan mengambil kemampuan seseorang untuk memaksakan dirinya pada orang lain, dengan demikian mengalihkan amarah, menyakiti perasaan dan hal yang mirip seperti itu.

Sumber


Kardinal Ranjith Seputar Liturgi dan Inkulturasi (Part 5)

Dalam Anjuran no 62, paus menyarankan bahwa perayaan Misa dalam Bahasa Latin dan penggunaan Gregorian Chant dapat dilakukan pada kesempatan tertentu dalam bagian liturgi. Apa yang anda pikirkan tentang apa yang dirasakan umat katolik Asia tentang ini? Sudahkah anda mendeteksi keinginan untuk Misa dalam bahasa Latin diantara umat katolik Asia?

 

Sacrosanctum Concilium tidak pernah mendukng pengabaian total bahasa latin atau Gregorian chant. SC menyatakan bahwa “penggunaan bahasa latin, kecuali ketika hukum tertentu mengatur hal sebaliknya, harus dipertahankan dalam ritus latin…Tapi karena penggunaan bahasa pribumi…seringkali bisa menjadi keuntungan besar bagi orang-orang, penggunaan yang lebih luas dapat dibuat khususnya dalam pembacaan, instruksi dan beberapa doa dan chants (lagu pujian)” [SC 36 L 1-2]. Selain itu, SC mengharapkan “tempat yang pantas diberikan bagi bahasa pribumi dalam misa yang dirayakan dengan umat, khususnya dalam bacaan dan ‘doa umum’, dan juga sebagai kondisi lokal yang menjamin, dalam bagian-bagian yang menjadi bagian umat” [SC 54]

Dalam kutipan yang sama, Konsili menghendaki kepedulian diperhatikan “memastikan bahwa kaum beriman juga sanggup untuk mengatakan atau bernyanyi bersama dalam bahasa latin bagian-bagian ordinary Misa yang menjadi bagian mereka” [ibid].

Poinnya adalah bahwa bahasa pribumi bukanlah bahasa normal liturgi dari Sacrosanctum Concilium tapi bahasa Latin, dengan ijin yang diberikan bagi bahasa pribumi untuk digunakan dalam area yang khusus seperti bacaan, beberapa doa dan chants dan bagian-bagian umat. Apa yang menonjol adalah bahwa SC mendukung penggunaan bahasa Latin bahkan dalam “bagian-bagian Ordinari Misa yang menjadi bagian umat”

Sayangnya, pengabaian semu total dari Bahasa Latin terjadi hampir dimana-dimana segera setelah Konsili, jadi hanya generasi katolik lama di Asia yang memiliki gagasan penggunaan Bahasa Latin dalam liturgi dan Gregorian Chant. Dengan vernakularisasi liturgi yang kutan dan pembentukan seminari, penggunaan bahasa Latin hampir sama sekali menghilang dari sebagian besar Asia.

Aku tidak yakin jika ada kerinduan yang ditandai dengan kembalinya bahasa Latin dalam liturgi di Asia. Saya berharap demikian. Beberapa orang katolik yang menyadari keindahan bahasa Latin mengemukakan keinginan seperti itu. Mereka telah melihat atau datang untuk mengalami liturgi yang dirayakan dalam bahasa Latin di Roma atau tempat lain dan terpesona olehnya. Orang lain terpeseona oleh Ritus Latin lama, Misa Pius V sekarang dirayakan di beberapa tempat di Asia.

Tapi porsi umat katolik Asia, lebih besar masih tidak menyadari nilai bahasa Latin dalam Misa Kudus. Aku penasaran apa yang akan mereka katakana jika suatu bentuk bahasa latin diperkenalkan kembali. Mereka mungkin menyukainya, dan mengetahui semangat devosi yang dibawa umat katolik Asia dalam diri mereka, hal ini tentu membantu memperdalam iman mereka labih jauh. Umat kita tahu bahwa tidak semua realitas ilahi berada dalam jangkauan pemahaman manusia dan bahwa harus ada ruang untuk suatu kesadaran misteri spiritual dalam pemujaan.

Selain itu, hal ini baik untuk Gereja di Asia tidak untuk tetap memotong dari tren-tren baru yang muncul secara universal, salah satunya adalah apresiasi baru warisan Gereja Latin bi-milenial. Bukan dimaksudkan bahwa kita mengabaikan bahasa pribumi (vernakular) dan menerima Latin in toto. Suara dan penggunaan bahasa latin yang sungguh-sungguh, sejalan dengan SC, akan menjadi keuntungan bagi semua. Selain itu, di Asia beberapa agama lain mempertahankan bahasa “liturgis” resmi, seperti Sanskrit untuk Hinduisme dan Pali untuk Buddhisme. Ini bukanlah bahasa sehari-hari tapi hanya digunakan dalam pemuhaan. Bukankah mereka mengajarkan kita pelajaran bahwa “bahasa liturgis” yang tidak umum digunakan bisa lebih baik mengemukakan mistisisme batin dari “Kekudusan” dalam pemujaan?


Spiritualitas Liturgi Kuno : Penyangkalan Diri, Pemisahan dan Mortifikasi (Mati Raga)


I. Kesadaran Terhadap Dosa

II. Penyangkalan Diri, Pemisahan dan Mortifikasi (Mati Raga)

III. Kesempurnaan dalam Kebajikan (Virtue)

IV. Pengaruh Doa

Oleh Romo Chad Ripperger, F.S.S.P. – Musim Panas 2001

II. Penyangkalan Diri, Pemisahan dan Mortifikasi (Mati Raga)

Aspek spiritual kedua dari ritual kuno yang diwujudkan dalam sejumlah cara dalam ritus lama adalah kesadaran akan penyangkalan diri dan mati raga. Satu dari manifestasi paling jelas dari penyangkalan diri adalah keheningan ritus lama. Ketika kita bertemu seseorang yang memiliki sifat buruk yang banyak bicara, biasanya karena orang ini penuh dengan dirinya sendiri. Adalah fakta dari kodrat manusia bahwa kapanpun kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan disposisi fisik, kita mendapat kesenangan tertentu darinya. Orang-orang sering berbicara tentang berada dalam “mood” untuk hal-hal tertentu dan bukan yang lain, dan ketika mereka mendapat hal yang sesuai dengan mood mereka, mereka mengalami kesenangan tertentu didalamnya. Berbicara juga sama :  hasrat dapat melekat pada berbicara, dan ini secara tepat apa yang dihalangi oleh ritus lama. Dengan mengharuskan keheningan umat, ritus lama menyediakan kesempatan bagi hasrat berbicara untuk dilucuti dari mereka yang hadir.

Aku telah banyak berdiskusi dengan orang awam yang datang di ritus lama pertama kali dan mereka sering menemukan perubahan hasrat secara tiba-tiba karena keheningan. Mereka tidak mengekspresikannya dengan tepat, tentu, tapi selagi mereka berbicara, hal ini menjadi jelas bahwa mereka tidak suka fakta bahwa mereka tidak dibicarakan dan tidak melakukan perbuatan berbicara pada diri mereka sendiri. St. Yohanes Salib terbiasa berkata bahwa sebelum ia masuk kedalam kontemplasi mistik, “rumah”nya, seperti yang ia sebut, menjadi sunyi; dan melalui hal ini maksudnya adalah semua hasrat dan fakultasnya telah menjadi dima. Ini adalah tanda bagi kita bahwa ktia harus diam, kita harus dilucuti dari diri untuk meningkatkan tingginya kesempurnaan, dan Misa lama membantu pemahaman ini. Juga, hal ini mengajarkan kita bahwa kita tidak harus menjadi pusat perhatian dengan berbicara bagi ritual untuk memiliki makna dan signifikasni yang lebih mendalam.

Ritual lama juga membantu perkembangan pemisahan (detachment) dari sisi imam dan umat karena ritual secara lengkap ditentukan oleh Bunda Gereja yang Kudus. Kita melihat dalam Perjanjian Lama bahwa Allah memberi setiap detail instruksi tentang bagaimana Ia harus dipuja. Ini adalah kunci dalam memahami liturgi dalam dua cara. Pertama, liturgi bukanlah tindakan kita, melainkan tindakan Allah melalui sarana imam; liturgi bukan sesuatu yang kita lakukan, liturgi secara esensial adalah sesuatu yang Allah lakukan, karena konsekrasi tidak bisa terjadi tanpa Allah yang adalah sebab pertama Kurban. Cara kedua, adalah Allah dan bukan kita, yang menentukan bagaimana kita akan memuja-Nya. Hal ini sudah menjadi kegagalan yang paling penting di masa modern : keinginan untuk menentukan bagi diri kita bagaimana kita memuja Allah. Hal ini salah karena terserah Allah untuk memberitahu kita jenis pemujaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan-Nya, dan, karenanya, hanya Ia yang harus menentukan ritual. Disebutkan di awal bahwa Allah telah membentuk liturgi sepanjang waktu melalui para kudus, yang dipenuhi dengan kasih Allah – segala yang mereka lakukan datang dari Ia dan kembali pada-Nya. Ritus lama mengajarkan kita pelajaran spiritual penting bahwa jika kita akan menjadi kudus menyenangkan Allah, maka adalah tugas kita untuk menyesuaikan pada liturgi dan tidak membuat liturgi menjadi sesuatu perbuatan kita atau membuat liturgi menyesuaikan dengan kita.

Selain itu, karena Allah yang harus menentukan ritual, kita belajar bahwa Misa bukan tentang kita tapi tentang Allah. Kita hanyalah aspek sekunder dari ritus. Hal ini jelas dalam ritual kuno bahwa kontrol terhadap liturgi diambil dari kita, dan kita mengakui liturgi bukan tentang kita. Sementara keinginan kita untuk memperoleh manfaat dari Misa, keuntungan kita pada akhirnya harus kembali kepada Allah; kita menjadi kudus karena Misa memberikan Allah kemuliaan yang lebih besar. Jadi bahkan aspek yang mempengaruhi kita akhirnya adalah tentang Allah.

Ritus tradisional, dengan menentukan bagaimana ritual dilakukan, menyediakan dua keuntungan spiritual penting bagi imam. Pertama adalah kedamaian, karena ia dapat pergi dan menyesuaikan dirinya pada kehendak Allah dengan mengikuti rubrik Misa karena rubrik tersebut telah ditentukan; sebagai imam Aku tidak bisa berkata kebebasan sebesar apa yang telah diberikan. Ia tidak harus mencemaskan apa yang akan ia pilih dan katakan karena ia khawatir tentang apa yang dipikirkan umat. Ia tidak harus mendengarkan komite liturgis yang berusaha memberitahunya apa yang harus dilakukan. Kedua, ritus tradisional mengajarkan penyangkalan diri imam dan kadang-kadang mati raga ketika ritual berada diluar tangannya. Misa bukan tentang imam; misa tidak harus dihambat oleh kepribadiannya. Jelas, hanya imam yang bisa mempersembahkan misa, tapi ia dapat kehilangan dan melupakan dirinya ketika keseluruhan ritual ditentukan Gereja, yang adalah Suara Allah. Hal ini memungkinkan ia melupakan diri dan segalanya sehingga ia dapat dengan sempurna masuk ke dalam misteri dan realitas kudus, dan karenanya menurunakan keuntungan terbesar darinya.  Dalam cara yang paling sempurna, ia berindak in persona Christi – dalam pribadi Kristus – karena kepribadiannya diminimalkan dan ia bisa menjadi seperti Kristus. Karena ia mengucapkan Misa menghadap Allah dan bukan umat, kepribadiannya, atau kekurangannya, tidak menunjang ritual. Ia sanggup membiarkan kepribadiannya memudar pada background sehingga ia bisa berkonsentrasi penuh dalam hadir kepada Allah. Disini ketika kita berbicara pelayanan, imam melayani Allah pertama dan terutama. Terlalu sering ketika istilah “pelayanan” digunakan dalam dihubungkan dengan imamat, biasanya artinya adalah semacam pelayanan sosial, bukan arti sebenarnya dari pelayanan kepada Allah.

Misa lama memiliki dua jenis pilihan, keduanya diatur dengan susah payah. Pertama, pada hari-hari tertentu, berdasarkan kondisi-kondisi tertentu, Misa Votive dapat dikatakan, tapi itu adalah suatu hal eksterior bagi ritual. Kedua, pada situasi dan hari tertentu, doa-doa opsional yang ditentukan sebelumnya dapat ditambahkan pada propers, contoh : berdoa untuk hujan, kedamaian, atau semacam itu. Tapi hal ini diatus dengan susah payah sehinga imam mengerti sementara ia boleh memilih untuk melakukannya, kapan dan bagaimana tidak secara keseluruhan bergantung padanya. Poinnya adalah, pilihan dalam ritual harus diminimalkan untuk membantu perkembangan ketaatan kepada superior, penyangkalan diri dengan pengurangan kehendak diri, semuanya perlu bagi kehidupan spiritual. Jika banyak pilihan diijinkan, hal ini menghalangi penyangkalan diri imam dan mendorong kehendak diri, karena ritual menadi subjek pilihanya. Hal ini juga meninggalkan kesan bahwa liturgi sungguh perbuatan imam daripada tindakan yang dilakukan Allah melalui ia.

Berkurangnya pilihan mengajarkan imam pemisahan dan hal ini juga mengajarkan umat awam penyangkalan diri karena mereka tahu mereka tidak bisa berusaha memanipulasi imam untuk melakukan dalam liturgi apa yang mereka inginkan, karena hal ini berada diluar tangannya. Pemisahan adalah kunci pada diskusi liturgi dan suara kehidupan spiritual apapun. Manusia modern telah kehilangan pemisahan mengenai liturgi dan ia secara terus menerus menundukkannya pada hasratnya. Tapi ktia memerlukan pemisahan, dan diskusi tentang restorasi liturgis apapun mengharuskan orang-orang pertama-tama untuk memisahkan diri dari apa yang mereka inginkan sehingga mereka tahu apa yang Allah inginkan. Selain itu, banyaknya pilihan dan kurangnya pemisahan dalam liturgi telah menuntun kepada semacam Imanenisme. Imanenisme adalah filosofi atau gagasan yang menganggap segala yang penting adalah tentang kita dan datang dari ktia. Jika bukan dari ktia, maka itu tidak memiliki makna atau signifikansi. Imanenisme berasal dari dua kata Latin, in dan manere yang artinya tetap didalam. Karena manusia tidak sanggup mencapai surganya sendiri (Babel dan heresi Pelagian dengan jelas menggambarkannya ), liturgi haruslah dari dan tentang Allah untuk menarik kita keluar dari diri kita dan mendorong kesadaran transenden, perjuangan yang berakar secara mendalam pada hati manusia.

Liturgi kuno juga menyediakan kedalaman pada kehidupan spiritual seseorang untuk tiga alasan. Pertama, liturgi menarik kita keluar dari diri dan membawa ktia pada Allah; jika kita tetap dalam diri dan jika kita membentuk liturgi dengan kehendak kita dan akhirnya tentang kita, kita ditakdirkan pada kedangkalan. Sejauh liturgi diluar tangan kita, kita menyadari bahwa liturgi melampaui kita, liturgi itu misterius dan sejauh liturgi itu tentang Allah, selamanya bisa dikontemplasikan. Kedua, liturgi didirikan diatas tradisi. Tradisi menyediakan mekanisme dimana manusia dapat mengabaikan dirinya pada Allah yang membentuk tradisi bukannya mengambil kontrol dirinya dan membuang liturgi. Di lain kata, tradisi menyediakan mekanisme dimana warisan spiritual dan liturgis para kudus dapat diberikan pada tiap generasi, yang bisa menggunakannya demi keuntungan spiritual mereka. Seperti seseorang yang tidak atau akar historisnya dan karenanya tidak mengetahui dirinya, manusia modern telah memilih untuk menolak tradisi liturgis dan menggantikannya dengan dirinya, hanya untuk tersesat dalam diri dan tidak pernah sungguh memahami dirinya. Tradisi menyediakan jalan untuk kaum muda untuk mendasarkan diri pada kebijaksanaan masa lalu. Hal ini berlaku tidak hanya untuk hal-hal kultural tapi juga pada liturgi dan kehidupan spiritual.

Hal ketiga yang disediakan liturgi kuno adalah pengulangan. Sekarang manusia modern menolak pengulangan karena ia memiliki perasaan mendalam pada hal-hal baru. Sesuatu yang baru, tentu, memberikan hasrat kita kegembiraan tapi tidak selalu menandakan kedalaman. Untuk masuk kedalam sesuatu yang mendalam diperlukan waktu dan pertimbangan berulang dari sebuah hal. Repetitio mater discendi, seperti yang kita ucapkan dalam bahasa Latin : pengulangan adalah ibu pembelajaran. Prinsip ini berlaku tidak hanya untuk belajar tapi juga untuk kehidupan spiritual ktia. Dengan mengulangi doa, maknanya menjadi lebih diketahui bagi kita dan karenanya sanggup dimasuki dalam kesempurnaan yang lebih dan dengan kedalaman lebih besar. Karena ritus kuno mengijinkan pengulangan dan bukan sesuatu yang baru, ia menyediakan cara dimana orang-orang dapat fokus pada misteri-misteri yang hadir bukannya hal-hal baru yang terus menerus muncul. Dengan keheningan yang mendiamkan indra ktia dan pengulangan yang merupakan ciri tiap Misa, kita sanggup berpartisipasi dan masuk dengan lebih sempurna dalam misteri Misa. Terlalu sering partisipasi disamakan dengan aktivitas fisik bukannya bentuk partisipasi yang lebih tinggi dan aktif yang merupakan partisipasi spiritual.

Sesuatu yang baru mengakibatkan ketamakan spiritual. Maksud ketamakan spiritual adalah kecacatan dimana seseorang mencari kesenangan dan peduli pada diri sendiri hanya untuk konsolasi (hiburan) yang dikirim Allah dan bukan menggunakan konsolasi sebagai sarana untuk lebih bertumbuh dalam kekudusan. Ketamakan spiritual terjadi ketika orang-orang melakukan hal-hal religius dan spiritual karena konsolasi atau kesenangan yang didapat dari tindakan tersebut, kesenangan ini yang menjadi akhir tindakan, dan bukannya Allah. Sesuatu yang baru mengakibatkan ketamakan karena orang-orang cenderung untuk berpikir bahwa hal yang lebih baru selalu lebih baik, dan tiap hal baru membawa mereka pada kesenangan baru. Disini kita melihat bahwa sesuatu yang baru dapat dengan mudah memperburuk dengan membuat orang-orang terhibur, tapi bahanya adalah sejauh hal itu mendorong orang untuk berhenti melihat Allah dan memandang pada hal baru yang memuaskan hasrat kita, hal ini menghalangi pertumbuhan spiritual kita. Semua penulis spiritual yang sangat suci memperingatkan bahwa ketamakan spiritual sangat berbahaya bagi kehidupan spiritual.

Ritual kuno sebenarnya menghancurkan ketamakan spiritual pada tiga tingkat. Pertama, semua keheningan membuang hasrat kita untuk berbicara. Adalah fakta bahwa beberapa orang menyukai doa vocal karena “spiritual high”, yang datang melalui perbuatan berbicara. Kedua, pengulangan memastikan bahwa hasrat, yang terus menerus menginginkan hal baru, tidak dipuaskan. Pengulangan dalam kebaikan spiritual adalah sesuatu yang dihargai pada tingkat intelektual, bukan pada tingkat hasrat (appetitive). Hasrat kita dapat bosan ketika mengalami hal yang sama; intelek, di sisi lain, sanggup untuk melihat nilai suatu hal tiap kali ia menemuinya. Ketiga, kesenangan tertentu datang karena berada dalam kontrol sesuatu. Ini adalah alasan lain bahwa ritual harus ditetapkan atau ditentukan oleh Gereja dan bukan oleh kita. Karena sejauh ritual ditentukan oleh pilihan kita diantara banyak pilihan dan bukan menurut hukum universal Gereja, kita mengambil kesenangan tertentu dengan mengontrolnya. Tapi dengan menomorduakan keinginan alami terhadap kebaikan spiritual.

Juga, sementara bukan bagian ritual yang lebih baru, beberapa bentuk musik digunakan didalamnya karena hasrat kesenangan yang didapat dari musik dan bukan untuk kegunaannya dalam menarik pikiran dan kehendak dalam persatuan lebih dekat dengan Allah. Hal ini menuntun umat mencampurkan pengalaman menyenangkan dengan mengalami Allah yang sesungguhnya. Akibarnya, hal ini membawa umat untuk berpikir bahwa pengalaman Allah yang autentik selalu menyenangkan. Sementara di kehidupan mereka, dalam kehidupan, pengalaman-pengalaman akan Allah sering kali berat dan sangat menyakitkan – bukan karena kekurangan dalam Allah yang membantu kita, tapi karena ketidaksempurnaan dan keberdosaan yang menyebabkan penderitaan ktia. Seperti yang dikatakan St. Theresa dari Avila “Allah, jika ini adalah caramu memperlakukan teman-temanmu, tidak mengherankan Engkau memiliki sedikit dari mereka”

Poinnya adalah musik dan segala aspek ritual harus diarahkan untuk menghentikan orang-orang dari kesenangan yang dirasakan dan konsolasi sebagai andalan kehidupan spiritual mereka. Inilah alasannya kenapa Gregorian Chant (lagu gregorian), yang memiliki daya pikat pada intelek dan kehendak, secara alami melahirkan doa, yang didefinisikan sebagai pengangkatan pikiran dan hati kepada Allah. Gregorian chant  tidak menyerukan emosi dan hasrat; tapi keindahannya secara alami menarik kita pada kontemplasi kebenaran-kebenaran ilahi dan misteri ritual.

Dengan memiliki ritual yang telah ditentukan oleh hukum universal Gereja, seseorang menghindari pemaksaan disposisi dan kehidupan spiritualnya pada orang lain atau pada orang yang menghadiri Misa. Di lain kata, hal ini menghindari seseorang memaksakan dirinya atau mengganggu kehidupan spiritual umat awam dengan pilihan-pilihan yang ia buat yang mengalir dari disposisi interiornya dan kehidupan spiritualnya. Karena orang-orang berbeda dalam disposisi secara alami, ketika ritual menjadi produk individu atau beberapa orang, ritual kehilangan daya pikat spiritual bagi umat, yang mungkin tidak membagi disposisi yang sama.

Ritus tradisional, di sisi lain, menghindari bahaya tersembunyi ini melalu penentuan ritual itu sendiri. Satu dari keuntungan ritual kuno adalah ritual tidak mempedulikan paroki mana yang kamu hadiri; karena ritual dimana-mana sama. Sejauh opsi-opsi untuk ritus baru mengijinkan partikularisasi ritual, ritual berhenti menjadi katolik (universal). Sebenarnya, di zaman hyper-mobilitas, tampak tidak bijaksana untuk mengubah ritual. Aku menyadari ini ketika aku pergi ke Roma dan menghadiri Misa dalam bahasa Italia. Jika Misa dalam bahasa latin berdasarkan ritus kuno, Aku akan merasa berada di rumah saat Misa; tapi, Aku memiliki kesan bahwa Aku semata-mata adalah pengamat dari luar. Inilah kenapa bahasa Latin dan ritual yang tetap mengijinkan misa memiliki daya pikat universal : seseorang dapat menghadirinya dalam setiap negara, setiap paroki di duni dan masih merasa berada di rumah. Sementara kita tidak mengerti homili atau khotbah ketika berada di negara asing, kita bisa masuk ke dalam ritual dengan kedalaman yang sama dan semangat yang kita rasakan di paroki asal kita. Hal ini juga menghindari masalah umat yang pergi ke paroki lain yang berusaha mencari imam yang pilihannya dalam Misa cocok dengan disposisi mereka.

Bahasa latin juga menyediakan bentuk penyangkalan diri dengan melepaskan terjemahan ritual dari lembaga yang
meragukan. Bahasa inklusif adalah contoh klasik dari apa yang telah kita gambarkan : keinginan kelompok kecil untuk memaksakan spiritualitasnya pada orang lain. Keinginan untuk bahasa inklusif adalah manifestasi dari pengharapan bahwa ritual harus menyesuaikan pada kelompok dan bukan sebaliknya. Bahasa latin merusak gagasan ini karena, seperti yang dikatakan Paus Yohanes XXIII dalam Veterum Sapientia, setiap orang sama dihadapan bahasa Latin. Bahasa Latin menggerakkan jenis penyangkalan diri pada kita karena kita tidak bisa memanipulasi bahasa latin untuk tujuan kita sendiri. Latin juga mencegah ketertarikan imam pada improvisasi saat berbicara, dan mencegah pemaksaan disposisi pribadinya pada mereka yang menghadiri misa.

Bahasa latin, rubrik yang tetap, hal-hal ini melucuti diri kira sehingga kita tidak menjadi apapun. St. Yohanes Salib sering mencatat bahwa kita harus tidak menjadi apa-apa sehingga Allah dapat menjadi segalanya dalam diri kita, atau seperti kata-kata St. Yohanes Pembaptis (yang bisa diterapkan pada ritual kuno),” Aku harus makin kecil agar Ia semakin besar”. Pengosongan diri, yang dilakukan ritual kuno, adalah persyaratan untuk spiritualitas autentik.

Sumber


Spiritualitas Liturgi Kuno : Kesadaran Terhadap Dosa


I. Kesadaran Terhadap Dosa

II. Penyangkalan Diri, Pemisahan dan Mortifikasi (Mati Raga)

III. Kesempurnaan dalam Kebajikan (Virtue)

IV. Pengaruh Doa

Oleh Romo Chad Ripperger, F.S.S.P. – Musim Panas 2001

Diantara para ahli liturgi dan teolog, merupakan hal yang secara umum dianggap benar bahwa tiap bentuk ritual mewujudkan semacam spiritualitas yang pantas untuk ritual tersebut. Contohnya, ritus timur cenderung untuk menekankan aspek kehidupan spiritual juga peran icon-icon dalam meningkatkan devosi kepada Tuhan Kita, Bunda Kita dan para kudus. Ritus Misa kuno mewujudkan sebuah spiritualitas dan pelajaran spiritual yang bisa memikat setiap generasi dan wakti. Ritual kuno yang dimaksudkan adalah ritus yang dikodifikasi oleh St. Gregorius Agung yang menjalani perkembangan organik yang sangat lambat sepanjang ratusan tahun. Missal terakhir yang dipromulgasikan, yang menikmati pertumbuhan organik adalah Missal 1962.

Merupakan sebuah persepsi umum dalam Gereja sekarang bahwa perkembangan liturgis dari periode abad pertengahan, sebenarnya, mengalami kemunduran dan bahwa kita harus kembali pada periode apostolik dan Gereja awal untuk mengetahui apa sesungguhnya liturgi itu juga mengetahui kehendak Allah mengenai liturgi. Hal ini adalah gagasan yang secara mendasar salah. Selain dari fakta bahwa pakar liturgi modern (dan kata modern yang aku maksudkan adalah 100 tahun terakhir) tidaklah akurat dalam pemahaman mereka mengenai liturgi Gereja awal, gagasan bahwa perkembangan liturgis abad pertengahan adalah penyimpangan sungguh merupakan penolakan terhadap perkembangan autentik yang berdsarkan pada pemahaman Misa sebagai kurban. Juga, figur-figur yang mendengarkan kembali ke era ketika liturgi dianggap “primitif” yang biasanya mereka maksudkan bahwa liturgi menyesuaikan kepada kesalahan teologi Misa sebagai perjamuan.

Poinnya bukan untuk memberikan pelajaran sejarah, tapi untuk menjelaskan satu dari premis-premis dimana esai ini didasarkan  bahwa ritus misa kuno sesungguhnya merupakan produk tangan Allah yang menggunakan para kudus sepanjang sejarah untuk mengembangkannya berdasarkan tujuan kudus-Nya. Keinginan untuk menolak warisan liturgis kita tampak bagiku sesungguhnya sebagai keinginan untuk menolak hal-hal yang telah Allah lakukan. Sejauh itu adalah karya Allah dan para kudus, liturgi mewujudkan prinsip-prinsip spiritual tertentu dalam hakekat ritual yang pantas untuk direfleksikan. Jelas, kami tidak bisa menjelaskan semuanya, jadi kita akan membatasi diskusi pada empat aspek : 1. Kesadaran akan keberdosaan kita, 2. Perlunya penyangkalan diri, 3. Kesempurnaan dalam kebajikan, dan 4. Aspek-aspek tertentu tentang doa. Keempat hal tersebut adalah elemen esensial dari suara kehidupan spiritual.

I. Kesadaran terhadap Dosa

Pertama adalah kesadaran terhadap keberdosaan kita. Ritus misa kuno memulai dengan doa di kaki altar, yang mengawali misa dengan Imam mengarahkan dirinya ke altar – altar masa mudanya. Altar, tentu, adalah tempat dimana kurban demi dosa-dosa kita terjadi, dan imam meminta Allah untuk menghakimi penyebab [dosanya]. Dengan segera, ada pemahaman yang jelas bahwa terdapat kebaikan dan keburukan di dunia ini. Karena Confiteor (pernyataan tobat) disyaratkan dalam setiap Misa, ritual kuno menjadikannya jelas bagi kita bahwa kita telah berdosa dan imam, serta umat, mengakukan dosa-dosa mereka tidak hanya kepada Allah tapi juga kepada seluruh pengadilan surgawi – yaitu kepada para kudus secara spesifik juga kepada semua orang kudus secara umum. Imam sendiri harus mengakukan keberdosaannya secara independen dari umat, keduanya merupakan contoh bagi mereka dan tanda bahwa imam perlu untuk sangat menyadari akan keberdosaan pribadinya. Imam meminta untuk dibasuh dan diampuni berkali-kali sepanjang ritual untuk membantu perkembangan kesadaran kerendah hatian dan ketidakpantasan dihadapan Allah untuk melakukan fungsi yang menjadi miliknya. Tidak ada imam yang berdoa dengan serius dapat dikalahkan dengan kesombongan. Selagi imam naik ke altar, ia memohon agar dosa umat dihapuskan dan kemudian selagi ia menghormati altar ia memohon secara khusus agar semua dosanya diampuni.

Tentu ada Kyrie (Tuhan kasihanilah kami), yang merupakan permohonan kemaha-rahiman Allah, dan sebelum injil imam memohon lagi agar hati dan bibirnya dibersihkan. Selain dari Confiteor, mungkin ingatan yang paling penting bagi imam untuk dosa-dosanya terkandung dalam doa persembahan (offertory) Suscipe, sancte Pater. Imam berkata selama doa ini bahwa ia mempersembahkan Hosti tak bernoda untuk “menebus dosa-dosaku yang tak terhitung, pelanggaran dan kelalaian”

Perlu bagi imam untuk mengingat dirinya secara terus menerus akan keberdosaannya dan kecenderungan pada kejahatan sehingga ia akan termotivasi untuk mengeluarkan dosa dari hidupnya. Juga perlu bagi imam untuk melakukan ini sehingga ia mengenali ketidakpantasannya untuk mempersembahkan kurban dan perlunya untuk berjuang demi kemurnian dan kekudusan untuk mempersembahkan kurban dengan pantas. Karena langkah pertama menuju kesempurnaan kedudsan adalah menyadari dan mengakui keberdosaannya, doa-doa ini sangat penting untuk kehidupan spiritual para imam. Tidak ada dari kita yang sadar akan skandal dan dosa yang dihubungkan dengan imam selama 40 tahun yang lalu harus berkeinginan bahwa doa-doa ini dikeluarkan dari persembahan atau Misa. Orang awam harus menginginkan bahwa imam tidak berdosa, dan salah satu cara yang difasilitasi adalah dengan mengenali dalam doa-doa di Misa bahwa ia mempersembahkan kurban ini tidak hanya untuk umat tapi juga untuk dirinya. Jika imam memiliki suara hati yang sensitif dan tahu bahwa ia harus murni demi mempersembahkan kurban, ia patut mendapat rahmat lebih dari Allah untuk umat. Sekarang orang-orang berkata bahwa selama Misa itu valid, kondisi imam tidak penting. Sementara itu benar bahwa imam tidak harus dalam kondisi berahmat untuk mempersembahkan Misa dengan valid, bagaimanapun, ia memiliki kewajiban untuk menjadi sekudus mungkin untuk mendapatkan lebih bagi mereka dalam perawatan pastoralnya

Terdapat dua jenis hadiah (merit) dalam Kurban Kudus Misa. Pertama adalah Kurban Tuhan kita sendiri dimana, melalui tangan imam, Ia dipersembahkan kepada Allah Bapa untuk penebusan dosa-dosa kita. Disini kita merujuk kepada fakta bahwa Misa adalah partisipasi dalam Kurban Kalvari dan hadiah yang mengalir dari Kurban ini tak terbatas karena yang dipersembahkan juga tak terbatas. Tapi sebagai tambahan pada hadiah utama atau esensial ini, terdapat hadiah sekunder yang mengalir dari tiga hal : (1) kekudusan imam, (2) kekudusan umat yang bergabung dalam kurban khusus mereka pada Kurban imam, dan (3) ritual itu sendiri. Untuk memperoleh lebih banyak buah dari Misa, kita harus melakukan semuanya yang kita bisa untuk membantu imam menjadi kudus, contoh : dengan mempersembahkan doa-doa baginya dan bermati raga untuknya sehingga ia akan memperoleh kekudusan hidup. Tapi hal ini hanya mungkin ketika imam secara terus menerus diingatkan akan kemampuannya untuk jatuh dalam dosa jika ia tidak bergantung pada rahmat Allah. Ini tidak membantu kita untuk mengabaikan realitas dan menghapuskannya dari ritual. Sebaliknya, kesadaran akan keberdosaan kita secara absolut perlu demi kemajuan spiritual kita, dan ritual kuno tidak kekurangan hal ini.

Kata kultur (culture) berasal dari kata Latin “cultus”. Sementara topik kita tidak mengijinkan kita untuk terlalu jauh dalam diskusi, kita seharusnya sadar akan fakta bahwa kultus – yaitu, liturgi atau ritual-ritual agama yang paling lazim, sesungguhnya menentukan kultur masyarakat. Kita telah melihat hal ini secara historis selama revolusi Protestant dan kita telah melihatnya dalam kehidupan kita : ketika Gereja mengubah ritual Misa, subkultur katolik dalam negara ini runtuh. Poinnya adalah bahwa jika kita ingin mengubah kultur ktia, kita harus memiliki ritual yang mempunyai kesadaran yang peka terhadap keberdosaan kita; jika kita berharap masyaralat kita memiliki kesadaran dosa, imam ketika mendekati altar harus memiliki rasa keberdosaannya. Karena semua rahmat datang ke dunia dengan memakai Gereja Katolik, jika ritual kita lemah, mungkin kita menipu dunia dari rahmat yang ritual kita persembahkan dimaksudkan untuk disampaikan.

Sumber


Katekese Mengenai Misa Tridentine – Part 2

Gadis kecil berlutut dan menerima komuni di lidah

Bagian pertama katekese Misa Tridentine bisa dibaca dengan mengklik kalimat ini

Daftar istilah-istilah TLM beserta artinya (klik kalimat ini)

Sebagai pendatang baru di Misa Forma Extraordinary, bagaimana aku memahami teks-teks Latin?

Karena Misa Romawi dalam Forma Extraordinary selalu dalam bahasa Latin, berguna sekali untuk memiliki terjemahan doa-doa Misa untuk membantu umat untuk berpartisipasi. Jadi, untuk lebih memahami Misa dalam Forma Extraordinary, banyak paroki menyediakan Missale Booklet yang menyediakan teks Latin, terjemahan vernacular (bahasa pribumi), dan panduan untuk postur yang harus diikuti di Misa (yaitu duduk, berdiri, dan berlutut). Continue reading


Katekese Mengenai Misa Tridentine – Part 1

Artikel ini didedikasikan untuk Alm. Romo Bhakti SCJ atas dukungannya

terhadap pelaksanaan Misa Tridentine

Daftar istilah-istilah TLM beserta artinya (klik kalimat ini)

Apa itu Misa Tridentine?

Misa Tridentine mengambil nama dari Konsili Trente (1545-1563) yang memuat sedikit penyesuaian dari ritus Roma. Namun demikian, secara garis besar, Misa Tridentine tidaklah memasukkan praktek baru yang berbeda dengan tradisi penyembahan yang telah berlangsung secara organik di Roma dan negara- negara Eropa sejak tahun 300-an. Maka Ritus Tridentine lebih tepat disebut sebagai ritus Tradisional Roma. Liturgi Tridentine termasuk dalam edisi 1570- 1962 di Roman Missal, berdasarkan Bulla Quo Primum oleh Paus Pius V. (Jawaban dikutip dari katolisitas.org) Continue reading


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.170 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: