“…setiap momen dalam hidup kita memiliki tujuan, bahwa setiap tindakan kita, tidak peduli betapa menjemukan atau rutin atau sepele kelihatannya, tetap ada martabat dan kepantasan yang melampaui pemahaman manusia…Karena ini artinya bahwa tidak ada momen yang sia-sia, tidak ada kesempatan yang terlewatkan, karena setiap kesempatan dalam kehidupan manusia, memiliki tujuan dalam rencana Allah. Pikirkanlah harimu, sekarang dan kemarin. Pikirkanlah pekerjaan yang kamu lakukan, orang-orang yang kamu temui, momen demi momen. Apa artinya bagimu – dan apa artinya itu bagi Allah? Apakah pertanyaan ini terlalu sederhana untuk dijawab, atau kita hanya takut untuk menanyakannya karena rasa takut akan jawaban yang harus kita berikan?” – Romo Walter Ciszek
“Diambang batas itu aku takut untuk menyeberanginya, hal-hal tiba-tiba tampak begitu sederhana. Hanya ada satu visi, Allah, yang adalah segala didalam segala; hanya ada satu kehendak yang mengarahkan segala hal, yaitu kehendak Allah. Saya hanya harus melihatnya, membedakannya dalam setiap situasi dalam diri saya, dan membiarkan diri saya dipimpin oleh-Nya. Allah ada dalam segala hal, menopang segala hal, mengarahkan segala hal. Untuk membedakannya dalam setiap situasi dan kondisi, untuk melihat kehendak-Nya dalam segala hal, artinya menerima setiap situasi dan kondisi dan membiarkan diri dibimbing dalam keyakinan dan kepercayaan yang sempurna. Tidak ada yang bisa memisahkan saya dari-Nya, karena Ia ada dalam segala hal. Tidak ada bahaya yang mengancam saya, tidak ada rasa takut yang menggoncangkan saya, kecuali rasa takut akan kehilangan pandangan akan Ia. Masa depan yang tersembunyi, tersembunyi dalam kehendak-Nya dan karenanya dapat saya terima tidak peduli apapun yang ia bawa. Masa lalu, dengan segala kegagalannya, tidak dilupakan; ia tetap ada untuk mengingatkan saya akan kelemahan kodrat manusia dan kebodohan dalam menempatkan iman dalam diri. Tapi hal ini tidak lagi menekan saya. Saya tidak lagi melihat kepada diri saya untuk membimbing saya, tidak lagi bergantung padanya dalam cara apapun, sehingga ia tidak dapat membuat saya gagal. Dengan menyangkal, secara menyeluruh dan terakhir, saya merasa lega dari konsekuensi semua tanggung jawab. Saya dibebaskan dari kecemasan dan kegelisahan, dari setiap ketegangan, dan dapat mengapung tenang pada gelombang penyelenggaraan Allah dalam kedamaian jiwa yang sempurna” – Romo Walter Ciszek
“Bila Allah memberikan kamu panenan cobaan yang melimpah, ini merupakan tanda kekudusan besar yang Ia kehendaki untuk kamu capai. Apakah kamu ingin menjadi orang kudus yang besar? Mintalah Allah mengirimkanmu banyak penderitaan. Api Kasih Ilahi tidak pernah bangkit lebih tinggi ketika diberi makan oleh kayu Salib, yang adalah kasih tak terhingga yang digunakan Penyelamat kita untuk menyelesaikan pengorbanan-Nya. Semua kesenangan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kemanisan yang ditemukan dalam empedu dan cuka yang ditawarkan kepada Yesus. Itulah, hal-hal yang sulit dan menyakitkan yang ditahan untuk Yesus Kristus dan bersama Yesus Kristus.” – St. Ignatius Loyola Continue reading