Arsip Tag: iman

7 Kutipan Katolik

Pope Francis Quote 1

“Janganlah puas menjalani kehidupan Kristiani yang biasa-biasa saja. Berjalanlah dengan kebulatan tekad disepanjang jalan kekudusan” – Paus Fransiskus

“Mulailah dari sekarang…percayalah padaku, jangan menunggu sampai besok untuk mulai menjadi orang kudus” – St. Theresia Lisieux

“Ketika anda berkata “YA” kepada Allah tanpa syarat, anda tidak akan tahu seberapa jauh “YA” tersebut akan membawa anda” – Hans ur Von Baltashar Continue reading


7 Kutipan Katolik tentang Penderitaan

“…setiap momen dalam hidup kita memiliki tujuan, bahwa setiap tindakan kita, tidak peduli betapa menjemukan atau rutin atau sepele kelihatannya, tetap ada martabat dan kepantasan yang melampaui pemahaman manusia…Karena ini artinya bahwa tidak ada momen yang sia-sia, tidak ada kesempatan yang terlewatkan, karena setiap kesempatan dalam kehidupan manusia, memiliki tujuan dalam rencana Allah. Pikirkanlah harimu, sekarang dan kemarin. Pikirkanlah pekerjaan yang kamu lakukan, orang-orang yang kamu temui, momen demi momen. Apa artinya bagimu – dan apa artinya itu bagi Allah? Apakah pertanyaan ini terlalu sederhana untuk dijawab, atau kita hanya takut untuk menanyakannya karena rasa takut akan jawaban yang harus kita berikan?” – Romo Walter Ciszek

“Diambang batas itu aku takut untuk menyeberanginya, hal-hal tiba-tiba tampak begitu sederhana. Hanya ada satu visi, Allah, yang adalah segala didalam segala; hanya ada satu kehendak yang mengarahkan segala hal, yaitu kehendak Allah. Saya hanya harus melihatnya, membedakannya dalam setiap situasi dalam diri saya, dan membiarkan diri saya dipimpin oleh-Nya. Allah ada dalam segala hal, menopang segala hal, mengarahkan segala hal. Untuk membedakannya dalam setiap situasi dan kondisi, untuk melihat kehendak-Nya dalam segala hal, artinya menerima setiap situasi dan kondisi dan membiarkan diri dibimbing dalam keyakinan dan kepercayaan yang sempurna. Tidak ada yang bisa memisahkan saya dari-Nya, karena Ia ada dalam segala hal. Tidak ada bahaya yang mengancam saya, tidak ada rasa takut yang menggoncangkan saya, kecuali rasa takut akan kehilangan pandangan akan Ia. Masa depan yang tersembunyi, tersembunyi dalam kehendak-Nya dan karenanya dapat saya terima tidak peduli apapun yang ia bawa. Masa lalu, dengan segala kegagalannya, tidak dilupakan; ia tetap ada untuk mengingatkan saya akan kelemahan kodrat manusia dan kebodohan dalam menempatkan iman dalam diri. Tapi hal ini tidak lagi menekan saya. Saya tidak lagi melihat kepada diri saya untuk membimbing saya, tidak lagi bergantung padanya dalam cara apapun, sehingga ia tidak dapat membuat saya gagal. Dengan menyangkal, secara menyeluruh dan terakhir, saya merasa lega dari konsekuensi semua tanggung jawab. Saya dibebaskan dari kecemasan dan kegelisahan, dari setiap ketegangan, dan dapat mengapung tenang pada gelombang penyelenggaraan Allah dalam kedamaian jiwa yang sempurna” – Romo Walter Ciszek

“Bila Allah memberikan kamu panenan cobaan yang melimpah, ini merupakan tanda kekudusan besar yang Ia kehendaki untuk kamu capai. Apakah kamu ingin menjadi orang kudus yang besar? Mintalah Allah mengirimkanmu banyak penderitaan. Api Kasih Ilahi tidak pernah bangkit lebih tinggi ketika diberi makan oleh kayu Salib, yang adalah kasih tak terhingga yang digunakan Penyelamat kita untuk menyelesaikan pengorbanan-Nya. Semua kesenangan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kemanisan yang ditemukan dalam empedu dan cuka yang ditawarkan kepada Yesus. Itulah, hal-hal yang sulit dan menyakitkan yang ditahan untuk Yesus Kristus dan bersama Yesus Kristus.” – St. Ignatius Loyola Continue reading


Katekese Tahun Iman : Makna Keselamatan dan Tujuan Kebangkitan

Saudara-saudari terkasih,

Pada katekese terkahir kita telah memusatkan perhatian pada peristiwa Kebangkitan Yesus, dimana wanita memainkan peran yang spesial. Sekarang saya ingin berefleksi tentang maknanya bagi keselamatan. Apa artinya Kebangkitan bagi kehidupan kita? Dan mengapa, tanpa kebangkitan iman kita menjadi sia-sia? Iman kita didasarkan pada kematiandan kebangkitan Kristus, seperti rumah yang dibangun diatas fondasi : bila mereka tidak kuat, seluruh rumah hancur. Di Salib, Yesus mempersembahkan diri-Nya, memikul dosa kita keatas diri-Nya, dan dalam Kebangkitan mengalahkannya semua, Ia menghapuskan dan membuka kita kepada jalan untuk dilahirkan kembali kepada kehidupan baru. St. Petrus mengungkapkannya dengan singkat diawal surat Pertama-Nya, seperti yang kita dengar :”Tepujilah Allah dan Bapa Tuhan Kita Yesus Kristus, yang dalam kerahiman-Nya yang besar memberikan kita kelahiran baru ke dalam pengharapan yang hidup melalui Kebangkitan Yesus Kristus dari mati, kepada warisan yang tak dapat musnah, tak ternoda, tak memudar, tersimpan di surga bagimu” (1:3-4) Continue reading


“Iman Tidak Bisa Dinegosiasikan”

Berikut ini adalah kutipan dari Homili Paus Fransiskus :

“Bagaimana dengan iman kita sendiri? Kuatkah? Atau kerap kali seperti air mawar yang keruh?. Ketika kesulitan-kesulitan hidup datang “apakah kita berani seperti Petrus atau merasa segan?”

“Petrus tidak kehilangan iman, ia tidak jatuh kepada kompromi-kompromi, karena “iman tidak bisa dinegosiasikan”.

“Dalam sejarah umat Allah,telah ada pencobaan ini: menyurutkan iman sebagian, pencobaan menjadi sedikit ‘seperti yang dilakukan semua orang’, yaitu ‘tidak menjadi sangat, sangat tegar”.  Tetapi saat kita mulai menyurutkan iman, mula imengkompromi iman, sedikit menjualnya kepada penawar tertinggi, maka kita memulai jalan kemurtadan, yaitu jalan ketidaksetiaan kepada Tuhan”.

“Contoh iman dari Petrus dan Yohanes membantu kita, memberikan kita kekuatan, tetapi, dalam sejarah Gereja ada banyak martir sampai sekarang, karena untuk menemukan martir-martir tidak perlu mengunjungi kuburan atau ke Koloseum: martir-marti rhidup saat ini, di banyak Negara.”

“Umat Kristen mengalami penganiayaan atas iman mereka. Di beberapa Negara banyak dari mereka tidak boleh membawa salib: mereka dihukum apabila melakukannya. Saat ini, pada abad XXI, Gereja kita merupakan Gereja para martir,  yaitu orang-orang yang berbicara seperti Petrus dan Yohanes: “Kami tidak dapat berdiam terhadap apa yang telah kami saksikan dan dengarkan”.

“Dan hal ini memberikan kekuatan kepada kita, yang kerap kali memiliki iman yang agak lemah.  Memberikan kita kekuatan untuk bersaksi dengan hidup, iman yang telah kita terima, yang merupakan rahmat dari Tuhan kepada semua bangsa“.

“Tetapi, kita tidak dapat melakukannya sendiri: itu adalah sebuah rahmat. Yaitu rahmat iman, yang harus kita mohon setiap hari:  ‘Tuhan …peliharalah imanku, tambahlah imanku, agar selalu kuat, pemberani, dan bantulah aku di dalam saat-saat di mana – seperti Petrus dan Yohanes – aku harus memberikan kesaksian iman di hadapan banyak orang. Berikanlah aku keberanian‘.Ini akan menjadi sebuah doa yang indah pada hari ini: semoga Tuhan membantu kita untuk memelihara iman, membawanya maju, dan untuk menjadi, kita, wanita dan pria yang beriman. Amin“

Sumber


Katekese Tahun Iman : Aku Percaya akan Allah : Bapa yang Mahakuasa

Katekese Rabu lalu kita merenungkan perkataan syahadat :”Aku percaya akan Allah.” Tapi pengakuan iman mengkhususkan penegasan ini : Allah, Bapa yang mahakuasa, Pencipta langit dan bumi. Karenanya saya ingin berefleksi bersamamu tentang definisi utama dan fundamental yang dihadirkan Syahadat kepada kita : Ia adalah Bapa kita.

Tidaklah selalu mudah berbicara tentang kebapakan. Khususnya di dunia barat, keluarga-keluarga terpecah, meningkatnya penyerapan komitmen kerja, kepedulian, dan seringkali adanya rasa lelah untuk menyeimbangkan biaya keluarga, invasi media massa yang mengganggu kehidupan sehari-hari adalah beberapa dari banyak faktor yang dapat mencegah hubungan yang damai dan konstruktif antara bapa dan anak.

Sekarang komunikasi menjadi sulit, kepercayaan dapat hilang dan hubungan dengan sosok ayah menjadi problematic. Bahkan membayangkan Allah sebagai bapa menjadi problematic, karena tidak memiliki model acuan yang memadai. Bagi mereka yang memiliki pengalaman dengan ayah yang otoriter atau kaku, atau ayah yang acuh yang kurang dalam memberkan afeksi, atau bahkan ketiadaan ayah, tidaklah mudah memikirkan Allah sebagai Bapa dan dengan penuh kepercayaan menyerahkan diri pada-Nya. Namun wahyu biblis membantu kita mengatasi kesulitan ini dengan menceritakan kita tentang Allah yang menunjukkan kita apa arti sesungguhnya menjadi “bapa”, dan khususnya Injil yang mewahyukan wajah Allah sebagai Bapa yang mencintai bahkan memberi Putra-Nya sendiri demi keselamatan manusia. Continue reading


Katekese Tahun Iman : Aku Percaya akan Allah

…Syahadat dimulai dengan “Aku percaya akan Allah”. Ini adalah pernyataan yang fundamental, terlihat sederhana dalam esensinya, tapi membuka dunia yang tak terbatas dari hubungan kita dengan Tuhan dan dengan Misteri-Nya. Percaya akan Allah mengimplikaskan kelekatan pada-Nya, menyambut Sabda-Nya dan ketaatan sukacita pada Wahyu-Nya…Mampu berkata bahwa kita percaya akan Allah adalah sebuah karunia dan komitmen, ini adalah rahmat ilahi dan tanggung jawab manusia, dalam mengalami dialog dengan Allah yang karena kasih, “berbicara kepada manusia sebagai seorang teman” (Dei Verbum 2), berbicara pada kita agar, dalam dan dengan iman, kita masuk dalam persekutuan dengan-Nya.

Dimana kita bisa mendengar Allah berbicara pada kita? Kitab Suci adalah hakekatnya, dimana Sabda Allah menjadi dapat didengar bagi kita dan memperkaya kehidupan ita sebagai “teman-teman” Allah. Seluruh kitab suci menceritakan Wahyu Allah kepada manusia, seluruh kitab suci berbicara tentang iman dengan mengisahkan cerita yang didalamnya Allah membawa rencana penebusan-Nya dan membuat diri-Nya dekat dengan manusia, melalui figur terang dari orang-orang yang beriman dan percaya pada-Nya, kepada kepenuhan wahyu Tuhan Yesus.

Berhubungan dengan ini, bab 11 dari Surat kepada jemaat di Ibrani adalah yang paling indah, yang berbicara tentang iman dan menekankan tokoh biblis besar yang hidup dan menjadi model bagi semua orang beriman :”Iman adalah realisasi dari apa yang diharapkan dan bukti terhadap hal-hal yang tidak terlihat”(11 :1). Mata iman karenanya mampu melihat yang tak terlihat dan bisa berharap melampui semua pengharapan, seperti Abraham, yang dikatakan Paulus dalam surat di Roma (percaya, berharap terhadap pengharapan)”(4:18) Continue reading


Katekese Tahun Iman : Tahap-Tahap Pewahyuan

“Allah datang kepada kita dalam hal-hal yang paling baik kita ketahui dan dapat diverifikasi dengan mudah, hal-hal dari rutinitas sehari-hari, terpisah darinya kita tidak dapat memahami diri sendiri ” (cf. John Paul II, Encyclical Fides et Ratio, n. 12).

St, Markus Penginjil mencatat kotbah Yesus dalam kata-kata yang singkat dan jelas :”waktunya telah tiba, dan kerajaan Allah sudah dekat” (Mark 1:15). Apa yang menerangi dan memberi kepenuhan makna kepada sejarah dunia dan manusia mulai bersinar di Gua Bethlehem; ini adalah Misteri yang…akan kita kontemplasikan saat Natal : keselamatan, yang dibawa dalam Yesus Kristus. Dalam Yesus dari Nazaret Allah menunjukkan wajah-Nya dan meminta manusia untuk memilih mengenal dan mengikuti Dia. Wahyu Allah sendiri dalam sejarah masuk ke dalam hubungan dialog kasih dengan manusia, memberi makna baru bagi seluruh perjalanan manusia. Sejarah bukanlah semata-mata keberlanjutan abad, tahun atau hari, tapi rentang waktu dari sebuah kehadiran yang memberikan kepenuhan makna dan membukanya untuk membunyikan harapan.

Dimana kita bisa menemukan tahap-tahap dari pewahyuan Allah ini? Kitab suci adalah tempat terbaik untuk menemukan proses ini, dan Saya… mengundang semua orang, dalam tahun  Iman ini, untuk membuka Kitab Suci lebih sering, untuk memegang, membaca dan melakukan meditasi padanya dan memberikan perhatian lebih besar pada Bacaan Misa MInggu; semua ini adalah makanan yang berharga bagi iman kita. Dalam membaca Perjanjian Lama kita bisa melihat bagaimana Allah ikut campur dalam sejarah umat pilihan, umat yang dengannya Ia membuat perjanjian : ini bukan peristiwa yang sekejap kemudian memudar hingga menjadi terlupakan, Melainkan, peristiwa ini menjadi ”ingatan (memori)”, yang secara bersama mereka membentuk “sejarah keselamatan”, tetap hidup dalam kesadaran umat Israel melalui perayaan peristiwa keselamatan. Karenanya dalam kitab keluaran, Tuhan memerintahkan Musa untuk merayakan Paskah Yahudi, peristiwa besar pembebasan dari perbudakan di mesir, dengan kata-kata ini :”Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu, dan kamu akan melaksanakannya sebagai pesta bagi Tuhan; di seluruh generasimu, kamu akan menaatinya sebagai sebuah ketetapan selamanya ” (12:14) Continue reading


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.170 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: