Arsip Tag: Allah

Pentingnya Aturan dalam Liturgi

Quote Liturgy

Dalam suatu diskusi tentang liturgi, khususnya tentang bagaimana berliturgi dengan benar, seringkali saya temui perlawanan dan penolakan untuk berliturgi dengan benar sesuai dengan hukum dan aturan liturgi yang berlaku secara universal. Apabila seseorang diingatkan tentang cara berliturgi yang benar, apabila mereka dikritik karena berliturgi secara keliru (misalnya memasukkan band dalam misa, mengganti homili dengan drama, memasukkan tarian dalam misa, dst), mereka akan cenderung marah dan menyampaikan beberapa respon, yang bisa dirangkum sebagai berikut :

  • Saya ingin memuji dan memuliakan Tuhan. Yang penting kan hati kita, tidak perlu terlalu kaku soal liturgi..toh itu kan buatan manusia. Jangan jadi orang yang fundamentalis…menafsirkan secara ketat aturan liturgi
  • Ah kalian itu mirip seperti orang Farisi yang ketat pada aturan, padahal yang penting bagaimana saya bisa lebih merasakan kehadiran Tuhan, bagaimana saya bisa mengalami Tuhan…
  • Tuhan kan melihat isi hati manusia…
  • Aturan2 liturgi itu gak penting, yang penting itu karya nyata…
  • dst

Lalu bagaimana seharusnya sikap seorang katolik dalam berliturgi?

Paus Benediktus XVI, dalam bukunya “The Spirit of Liturgy”, berkata bahwa hukum fundamental dari liturgi adalah “kami tidak tahu dengan apa kami harus beribadah kepada Allah” (Kel 10 : 26). Perhatikan bahwa pernyataan tersebut menunjukkan bahwa : manusia itu tidak bisa mengetahui dengan pasti, apakah yang dilakukannya sudah sesuai dengan kehendak Allah, kecuali Allah yang telah menyatakannya pada kita. Continue reading


Katekese Tahun Iman : Pencipta Langit dan Bumi

Syahadat, yang dimulai dengan menggambarkan Allah sebagai “Bapa yang mahakuasa”, kemudian mengatakan bahwa Ia adalah “Pencipta langit dan bumi”, mengulangi pernyataan yang dimulai oleh Kitab Suci. Pada ayat pertama Kitab Suci, kita membaca :”Pada awal mula Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1). Allah ada sumber segala hal dan dalam keindahan ciptaan menyingkapkan kemahakuasaan-Nya sebagai Bapa yang penuh kasih.

Allah diwujudkan sebagai Bapa dalam ciptaan, sebagai asal usul kehidupan, dan dalam tindakan menciptakan menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Gambaran yang digunakan dalam kitab suci ini sangat suggestive (Yes 40.12, 45.18, 48.13, Maz 104,2.5, 135.7, Pr 8, 27-29; Gb 38-39). Seperti Bapa yang baik dan berkuasa, Ia mempedulikan apa yang telah ia ciptakan dengan kasih dan kesetiaan tidak pernah kurang (Maz 57.11, 108.5, 36.6). Karenanya, Penciptaan menjadi tempat untuk mengetahui dan mengenal kemahakuasaan Tuhan dan kebaikan-Nya, dan menjadi panggilan iman bagi umat beriman karena kita menyatakan Allah sebagai Pencipta. “Oleh iman, – tulis pengarang Surat kepada Umat Ibrani – kita memahami bahwa dunia dibentuk oleh Sabda Allah, agar dunia yang kelihatan menampakkan apa yagn tidak terlihat” (11:3). Iman mengimplikasikan, karenanya, mampu mengenali yang tak terlihat, dengan mengidentifikasi jejak-jejaknya dalam dunia yang kelihatan. Umat beriman bisa membaca kitab alam yang agung dan memahami bahasanya (Maz 19:2-5), alam semesta berbicara pada kita tentang Allah (Rom 1:19-20), tapi kita membutuhkan Sabda Wahyu-Nya, yang menstimuliasi iman, agar manusia dapat mencapai kesadaran penuh akan realita Allah sebagai Pencipta dan Bapa. Dalam buku-buku dari Kitab Suci inteligensi manusia bisa menemukan, dalam terang iman, kunci interpretatif untuk memahami dunia. Bab pertama kitab Kejadian memegang tempat khusus, dengan presentasi agung dari tindakan kreatif Ilahi yang disingkapkan sepanjang tujuh hari : pada hari keenam Allah membawa Ciptaan pada kepenuhannya dan pada hari ketujuh, Sabat, Ia menghentikan semua aktivitasnya dan beristirahat. Hari kebebasan bagi semua, hari persekutuan dengan Allah dan dengan ini, Kitab Kejadian memberitahu kita bahwa pikiran Allah yang pertama adalah menemukan kasih yang menanggapi kasih-Nya. Pemikiran kedua adalah menciptakan dunia material untuk menempati kasih ini didalam ciptaan-ciptaan ini yang dengan bebas menanggapi-Nya. Struktur ini berarti bahwa teks ini ditandai oleh pengulangan yang signifikan. Enam kali, contohnya, frase ini diulangi :”Allah melihat hal itu baik” (ay 4.10.12.18.21.25), dan akhirnya, ketujuh kalinya, setelah penciptaan manusia : “Allah melihat segala sesuatu yang Ia telah ciptakan, dan menemukan bahwa semuanya ini sangat baik” (ay 31) Continue reading


Katekese Tahun Iman : Aku Percaya akan Allah

…Syahadat dimulai dengan “Aku percaya akan Allah”. Ini adalah pernyataan yang fundamental, terlihat sederhana dalam esensinya, tapi membuka dunia yang tak terbatas dari hubungan kita dengan Tuhan dan dengan Misteri-Nya. Percaya akan Allah mengimplikaskan kelekatan pada-Nya, menyambut Sabda-Nya dan ketaatan sukacita pada Wahyu-Nya…Mampu berkata bahwa kita percaya akan Allah adalah sebuah karunia dan komitmen, ini adalah rahmat ilahi dan tanggung jawab manusia, dalam mengalami dialog dengan Allah yang karena kasih, “berbicara kepada manusia sebagai seorang teman” (Dei Verbum 2), berbicara pada kita agar, dalam dan dengan iman, kita masuk dalam persekutuan dengan-Nya.

Dimana kita bisa mendengar Allah berbicara pada kita? Kitab Suci adalah hakekatnya, dimana Sabda Allah menjadi dapat didengar bagi kita dan memperkaya kehidupan ita sebagai “teman-teman” Allah. Seluruh kitab suci menceritakan Wahyu Allah kepada manusia, seluruh kitab suci berbicara tentang iman dengan mengisahkan cerita yang didalamnya Allah membawa rencana penebusan-Nya dan membuat diri-Nya dekat dengan manusia, melalui figur terang dari orang-orang yang beriman dan percaya pada-Nya, kepada kepenuhan wahyu Tuhan Yesus.

Berhubungan dengan ini, bab 11 dari Surat kepada jemaat di Ibrani adalah yang paling indah, yang berbicara tentang iman dan menekankan tokoh biblis besar yang hidup dan menjadi model bagi semua orang beriman :”Iman adalah realisasi dari apa yang diharapkan dan bukti terhadap hal-hal yang tidak terlihat”(11 :1). Mata iman karenanya mampu melihat yang tak terlihat dan bisa berharap melampui semua pengharapan, seperti Abraham, yang dikatakan Paulus dalam surat di Roma (percaya, berharap terhadap pengharapan)”(4:18) Continue reading


Katekese Tahun Iman : Menjadi Manusia

Di masa Natal ini kita memusatkan [perhatian] kita pada misteri agung Allah yang turun dari surga untuk menjadi manusia…Yesus menjadi manusia seperti kita, dan dalam melakukan ini Ia membuka pintu ke surga bagi kita, kepada perseketuan penuh dengan-Nya.

Pada hari ini, kata “inkarnasi” Allah…mengungkapkan realita yang kita rayakan saat Natal : Putra Allah menjadi manusia, seperti yang diucapkan dalam Syahadat. Apa arti dari kata ini, yang merupakan pusat dari iman Kristen?…St. Ignatius Antiokia, dan khususnya St. Ireneus telah menggunakan istilah ini yang direfleksikan di Pembuka Injil Yohanes, secara khusu pada ungkapan “Sabda menjadi manusia (flesh)” (Yoh 1:14). Disini kata “manusia”, menurut tradisi Yahudi, mengacu pada pribadi sebagai suatu keseluruhan dibawah aspek temporalitas dan kefanaan-Nya, kemiskinan dan ketergantungan-Nya. Maksudnya adalah keselamatan yang dikerjakan oleh Allah yang menjadi manusia dalam Yesus dari Nazareth menyentuh manusia dalam realitas konkret dan dalam setiap situasi. Allah mengambil kondisi manusia untuk menyembuhkan semua yang memisahkan kita dari-Nya, agar kita bisa memanggil-Nya, dalam Putra-Nya yang tunggal, oleh nama “Abba, Bapa” dan sungguh menjadi anak-anaknya. St. Ireneus berkata, “Inilah alasannya Sabda menjadi manusia, dan Putra Allah, Putra manusia : agar manusia, dengan memasuki ke dalam persatuan dengan Sabda dan karenanya menerima keputraan ilahi, dapat menjadi putra Allah” “(Adversus haereses, 3,19,1: PG 7.939; cf. Katekismus Gereja Katolik, 460).

Logos yang bersama Allah, Logos yang adalah Allah (Yoh 1:1), melaluinya semua ciptaan diciptakan (Yoh 1:3), yang menemani manusia dengan terang-Nya sepanjang sejarah (10:4-5, 1:9), menjadi manusia dan membuat tempat kediaman-Nya diantara kita, menjadi satu dari kita (1:14)… Merupakan hal penting, karenanya, agar kita menemukan kembali kekaguman kita dihadapan misteri ini, yang mengijinkan diri kita diselimuti oleh kebesaran peristiwa ini : Allah berjalan di jalan-jalan kita sebagai manusia, Ia masuk ke dalam waktu manusia, untuk menyampaikan diri-Nya bagi kita (1Yoh 1:1-4). Dan Ia melakukan ini tidak dengan kegemilangan dari sebuah kedaulatan, yang menundukan dunia dengan kekuatan-Nya, tapi dengan kerendahan hati seorang anak. Continue reading


Katekese Tahun Iman : Iman Maria

Sekarang saya ingin berefleksi bersamamu secara singkat tentang iman Maria, awal dari misteri agung Kabar Gembira [yang disampaikan Malaikat Gabriel]

“Chaire kecharitomene, ho Kyrios meta sou”, “Bersukacitalah, penuh rahmat, Tuhan besertamu” (Luk 1:28). Ini adalah kata-kata – yang dicatat Penginjil Lukas – yang disampaikan Malaikat Agung Gabriel kepada Maria. Sekilas, istilah chaîre“bersukcitalah”, terlihat seperti sapaan biasa,hal yang umum dalam dunia Yunani, tapi kata ini, ketika dibaca berlawanan dengan tradisi Biblis, memiliki makna yang lebih dalam. Istilah yang sama hadir empat kali dalam versi Yunani Perjanjian Lama, dan selalu sebagai proklamasi sukacita pada saat kedatangan Mesias. (cf. Zeph 3:14; Joel 2:21; Zech 9:9; Lam 4:21). Salam dari malaikat kepada Maria karenanya adalah undangan kepada sukacita, sukacita yang mendalam, ia mengumumkan akhir kesedihan bahwa ada di dunia ini di depan batas-batas kehidupan, penderitaan, kematian, kejahatan, kegelapan yang jahat yang tampaknya mengaburkan terang kebaikan ilahi. Ini adalah sambutan yang menandai awal Injil, Kabar Baik.

Tapi mengapa Maria diundang ke dalam sukacita ini? Jawabannya terletak pada bagian kedua dari sambutan ini :”Tuhan besertamu”. Disini juga, untuk memahami makna ungkapan ini kita harus kembali ke Perjanjian Lama. Dalam Kitab Zefanya, kita menemukan ungkapan ini “Bersukcitalah, Putri Sion…Raja Israel, Tuhan ada ditengah-tengah kamu…Tuhan, Allahmu, yang ada di tengah-tengahmu adalah Penyelamat yang berkuasa” (3:14-17). Dalam kata-kata ini ada janji ganda yang dibuat kepada Israel, kepada Putri Sion : Allah akan datang sebagai penyelamat dan akan berdiam di tengah umat-Nya, dirahim – seperti yang mereka katakan – di rahim Putri Sion. Dalam dialog antara malaikat dan Maria, janji ini dipenuhi : Maria disamakan dengan orang yang ditunangkan kepada Allah, ia sungguh Putri Zion dalam pribadi; didalam ia dipenuhi pengharapan akan kedatangan akhir Allah, didalam Ia Allah yang hidup berdiam. Continue reading


Katekese Tahun Iman : Tahap-Tahap Pewahyuan

“Allah datang kepada kita dalam hal-hal yang paling baik kita ketahui dan dapat diverifikasi dengan mudah, hal-hal dari rutinitas sehari-hari, terpisah darinya kita tidak dapat memahami diri sendiri ” (cf. John Paul II, Encyclical Fides et Ratio, n. 12).

St, Markus Penginjil mencatat kotbah Yesus dalam kata-kata yang singkat dan jelas :”waktunya telah tiba, dan kerajaan Allah sudah dekat” (Mark 1:15). Apa yang menerangi dan memberi kepenuhan makna kepada sejarah dunia dan manusia mulai bersinar di Gua Bethlehem; ini adalah Misteri yang…akan kita kontemplasikan saat Natal : keselamatan, yang dibawa dalam Yesus Kristus. Dalam Yesus dari Nazaret Allah menunjukkan wajah-Nya dan meminta manusia untuk memilih mengenal dan mengikuti Dia. Wahyu Allah sendiri dalam sejarah masuk ke dalam hubungan dialog kasih dengan manusia, memberi makna baru bagi seluruh perjalanan manusia. Sejarah bukanlah semata-mata keberlanjutan abad, tahun atau hari, tapi rentang waktu dari sebuah kehadiran yang memberikan kepenuhan makna dan membukanya untuk membunyikan harapan.

Dimana kita bisa menemukan tahap-tahap dari pewahyuan Allah ini? Kitab suci adalah tempat terbaik untuk menemukan proses ini, dan Saya… mengundang semua orang, dalam tahun  Iman ini, untuk membuka Kitab Suci lebih sering, untuk memegang, membaca dan melakukan meditasi padanya dan memberikan perhatian lebih besar pada Bacaan Misa MInggu; semua ini adalah makanan yang berharga bagi iman kita. Dalam membaca Perjanjian Lama kita bisa melihat bagaimana Allah ikut campur dalam sejarah umat pilihan, umat yang dengannya Ia membuat perjanjian : ini bukan peristiwa yang sekejap kemudian memudar hingga menjadi terlupakan, Melainkan, peristiwa ini menjadi ”ingatan (memori)”, yang secara bersama mereka membentuk “sejarah keselamatan”, tetap hidup dalam kesadaran umat Israel melalui perayaan peristiwa keselamatan. Karenanya dalam kitab keluaran, Tuhan memerintahkan Musa untuk merayakan Paskah Yahudi, peristiwa besar pembebasan dari perbudakan di mesir, dengan kata-kata ini :”Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu, dan kamu akan melaksanakannya sebagai pesta bagi Tuhan; di seluruh generasimu, kamu akan menaatinya sebagai sebuah ketetapan selamanya ” (12:14) Continue reading


Mengapa Saya Menerima Komuni di Lidah sambil Berlutut

Ada kontroversi tentang menerima komuni di tangan dan di lidah sambil berlutut. Namun saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan tersebut. Secara prinsip tidak ada masalah dalam menerima komuni di tangan, asalkan komuni tetap diterima dengan penuh hormat. Namun, saya ingin menawarkan kepada anda, suatu pandangan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh anda atau sebenarnya anda tahu tapi anda ragu untuk melakukannya, tapi saya akan berusaha membuat anda yakin dan segera mungkin melakukannya tanpa perlu lagi untuk ragu : yaitu bahwa berlutut dan menerima komuni di lidah memiliki makna yang sangat biblis, sangat berpusat pada Yesus Kristus, dan sangat mendalam.

Hal penting yang patut kita perhatikan dalam menghadiri Misa, khususnya saat menyambut Tubuh Kristus adalah pertanyaan berikut : Siapakah sebenarnya Yesus bagi anda?

Bagi saya, terdapat empat jawaban :

Yesus adalah Allah

Kita adalah ciptaan, dan Allah pencipta. Sudah merupakan kewajiban kita untuk menyembah Allah, walaupun Allah tidak perlu disembah. Apa yang kita lakukan tidak menambah kemuliaan Allah. Tetapi kita memerlukannya, karena atas kebaikan-Nya lah kita hidup, memperoleh rejeki, memiliki keluarga, teman, dsb. Tapi ini saja tidak cukup, oleh karena itulah kita akan masuk ke jawaban kedua dan ketiga :

Yesus adalah Penyelamat dan Kekasih Kita

“Kisah cinta teragung sepanjang sejarah terdapat dalam sebuah Hosti kecil”, kira2 begitulah kata Uskup Agung Fulton Sheen. Apa artinya? Yesus, yang adalah Allah, wafat di salib demi menebus dosa-dosa kita. Ia ingin menyelamatkan kita. Dan inilah yang dikehendaki Bapa : bahwa Putra-Nya harus disalibkan untuk menebus dosa manusia, manusia yang hina dan tak berguna ini. “Domine, non sum dingus!”; “Tuhan, tidak pantas Engkau datang pada saya!” Apa kita lupa bahwa kita ini bukan siapa-siapa dihadapan Tuhan? ”Terpisah dariku, kamu tidak dapat melakukan apa-apa”

Bapa menghendaki demikian karena Ia mengasihi kita. Yesus pun begitu, demikian besar kasih dan cinta-Nya sehingga Ia rela menyerahkan nyawa-Nya. Demi kita, manusia yang hina ini! Lalu apakah kita diam saja? Tentu tidak, kita harus menanggapi cinta Yesus. Ia adalah kekasih kita, yang memberikan diri-Nya sendiri di kayu salib.

Tak seorangpun yang mau mendengar perkataan “aku cinta kamu” tanpa menunjukkan bukti cintanya melalui perbuatan. Kalau kita mencintai seseorang, tentu kita akan memberikan dan menghendaki yang paling baik bagi orang itu. PALING BAIK, bukan lebih baik.

Yesus adalah Raja Semesta Alam

Dihadapan seorang Raja, apalagi Yesus sang Raja, kita tidak bisa bertindak sesuka hati kita. Hal pertama yang diberikan kepada Raja adalah : Rasa hormat, ketaatan dan kesetiaan kita kepada-Nya. Saya pernah melihat di film Confessions, ketika seseorang berhadapan dengan Raja, ia akan berlutut untuk menunjukkan rasa hormatnya. Bahkan ketika hendak meninggalkan Raja, ia pun berjalan mundur sambil menundukkan kepala. Betapa besar rasa hormat yang diberikan!

Lalu, apa hubungannya dengan menerima komuni di lidah sambil berlutut? Continue reading


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.170 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: