Category Archives: Argumen tentang Keberadaan Allah

PD : 5. Argumen Rancangan

Argumen jenis ini memiliki daya tarik yang luas dan abadi. Hampir semua orang mengakui bahwa refleksi terhadap keteraturan dan keindahan alam menyentuh sesuatu yang sangat mendalam didalam kita. Tapi apakah keteraturan dan keindahan adalah produk rancangan intelijen dan tujuan yang sadar? Bagi theist jawabannya adalah iya. Argumen-argumen rancangan adalah upaya untuk membuktikan kebenaran jawaban ini, untuk menunjukkan mengapa jawabn ini adalah jawaban yang paling masuk akal untuk diberikan. Argumen-argumen ini telah diformulasikan dalam cara yang kaya beragam seperti pengalaman didalamnya mereka diakarkan. Tulisan berikut ini menampilkan inti atau pemahaman pusatnya.

  1. Alam semesta memperlihatkan jumlah yang mengejutkan dari hal-hal yang dapat dimengerti, baik didalam benda-benda yang kita amati dan dalam cara dimana benda-benda ini berhubungan dengan hal lain diluar diri mereka. Maksudnya : Cara mereka ada dan hidup berdampingan memperlihatkan keteraturan indah yang rumit dan regularitas (keteraturan) yang bisa memenuhi pengamat yang paling sederhana dengan ketakjuban. Ini adalah norma di alam untuk banyak keberadaan berbeda yang bekerja bersama menghasilkan akhir yang bernilai – contohnya, organ-organ dalam tubuh bekerja untuk kehidupan dan kematian kita (lihat argument 8) Lanjutkan membaca

Argumen Pascal’s Wager

Berikut ini adalah lanjutan email dari seorang pembaca :

Dua orang teman saya yang lain, mempertanyakan agama, bahkan Tuhan. Padahal, mereka Katolik.
Tuhan harus bisa dilogika dan agama harus benar-benar menyatakan Tuhan, dalam hematnya.
Teman saya yang satu, kakaknya cukup aktif di Gereja dan ikut dalam persekutuan doa.
Teman saya yang lain, ibunya cukup aktif. Namun, saya juga mengetahui kalau ia pernah dikecewakan. Dulunya, ketika masih “punya” ayahnya sering memberikan sumbangan untuk Gereja. Ketika hampir bangkrut, pernah ayahnya meminta pinjaman ke Gereja, namun tidak dikabulkan. Singkat cerita, ayahnya pun bangkrut dan tak lama kemudian meninggal. Semenjak itu, ia kecewa dan kurang suka ke Gereja.
Pertanyaan yang sering mereka ajukan secara lepas adalah, “Untuk apa beragama itu?” dan “Apa buktinya kalau Tuhan ada?”.
Pernyataan yang pernah teman saya lontarkan, “Agama ada karena orang takut menghadapi kematian.”

Sudah ada beberapa artikel yang memberikan penjelasan tentang eksistensi Allah, diantaranya Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan itu ada oleh katolisitas. Lalu kami sendiri masih menerjemahkan argumen dari Prof. Peter Kreeft tentang eksistensi Allah, silakan klik : Argumen Keberadaan Allah

Nah, pada artikel ini saya akan mencoba menjelaskan argument Pascal’s Wager, untuk menunjukkan bahwa percaya kepada Allah, secara rasional lebih menguntungkan daripada tidak percaya kepada Allah. Lanjutkan membaca


PD : 3. Argumen dari Waktu dan Kemungkinan

 

  1. Kita menyadari disekitar kita hal-hal yang menjadi ada dan tidak ada. Pohon, sebagai contoh, tumbuh dari tunas kecil, berbunga dengan indah, kemudian memudar dan mati.
  2. Apapun yang menjadi ada atau tidak ada tidak harus ada, ketiadaan adalah kemungkinan yang nyata
  3. Anggaplah tidak ada yang harus ada, yaitu, bahwa ketiadaan adalah kemungkinan nyata untuk segalanya.
  4. Maka sekarang tidak ada sesuatu yang ada
  5. Karena jika alam semesta mulai ada, maka semua keberadaan harus menelusuri asalnya kepada momen masa lalu sebelum ia ada – secara literal – yaitu ketiadaan sama sekali.
  6. Tapi dari ketiadaan tidak ada yang muncul.
  7. Jadi alam semesta tidak bisa mulai ada
  8. Namun anggaplah alam semesta tidak pernah mulai ada. Maka, untuk durasi panjang yang tak terbatas dari sejarah kosmis, semua keberadaan yang telah dibangun – mungkin tidak terjadi.
  9. Tapi jika dalam waktu yang tidak terbatas kemungkinan itu tidak pernah disadari, maka itu tidak bisa menjadi kemungkinan yang nyata sama sekali.
  10. Jadi harus ada sesuatu yang harus ada, yang tidak bisa tidak ada. Keberadaan ini disebut necessary (mungkin bisa diterjemahkan sebagai sesuatu yang harus ada).
  11. Apakah keharusan ini bagian dari suatu hal dalam dirinya atau diturunkan dari yang lain. Jika diturunkan dari hal lain maka akhirnya harus ada sebuah keberadaan yang tidak diturunkan, yaitu, sebuah keberadaan penting yang absolut.
  12. Keberadaan absolut ini adalah Allah.

Pertanyaan 1 : Meskipun kamu tidak pernah melangkah keluar rumah sepanjang hari, adalah mungkin untuk melakukannya. Mengapa tidak mungkin bahwa alam semesta masih ada, sekalipun mungkin baginya untuk keluar dari keberadaan?

Jawaban : Dua kasus diatas tidak sungguh parallel. Untuk melangkah keluar rumah pada suatu hari adalah seseuatu yang bisa atau tidak bisa dipilih untuk dilakukan. Tapi jika ketidakberadaan adalah kemungkinan nyata bagimu, maka kamu adalah semacam keberadaan yang tidak bisa hidup selamanya. Di lain kata, kemungkinan ketiadaan harus dibangun – “diprogram,” dalam bagian pembentukan, properti yang perlu. Dan jika semua keberadaan seperti itu, maka bagaimana apapun tetap ada setelah berlalunya waktu yang tak terbatas? Karena waktu yang tak terbatas setiap waktu singkatnya (bit) adalah selama-lamanya. Jadi keberadaan harus memiliki apa yang diperlukan untuk ada selamanya, yaitu, untuk tinggal dalam keberadaan untuk waktu tak terbatas. Oleh karena itu harus ada dalam wilayah keberadaan sesuatu yang tidak cenderung keluar dari keberadaan. Dan keberadaan ini, seperti yang dikatakan Aquinas, disebut “Sesuatu yang harus ada (necessary)”


PD : 2. Argumen dari Kausalitas (Sebab-Akibat) Efisien

Kita perhatikan bahwa beberapa hal menyebabkan hal lain untuk terjadi (untuk mulai menjadi, untuk dilanjutkan menjadi, atau keduanya). Sebagai contoh, seorang pria memainkan piano menyebabkan sebuah musik terdengar di telinga kita. Jika ia berhenti, begitu juga musiknya.

Sekarang tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah semua hal yang sekarang ini ada karena hal lain saat ini? Anggaplah itu ada. Anggaplah tidak ada keberadaan yang tidak disebabkan oleh sebab yang lain, tidak ada Allah. Maka tidak ada yang bisa ada sekarang. Ingatlah, pada hipotesis tidak-ada Allah, semua hal membutuhkan sebab sekarang diluar diri mereka untuk ada. Jadi, sekarang, semua hal, termasuk hal-hal yang menyebabkan hal lain untuk ada, memerlukan sebuah sebab.  Mereka bisa memberi keberadaan selama mereka diberikan keberadaan. Segala hal yang ada, karenanya, pada hipotesis ini, perlu disebabkan untuk ada.

Tapi disebabkan oleh apa? Melampaui segalanya yang ada, tidak ada apa-apa. Tapi ini tidak masuk akal : semua realitas bergantung – bergantung pada ketiadaan! Hipotesis bahwa semua hal disebabkan, bahwa tidak ada keberadaan yang tidak disebabkan, adalah absurd.  Jadi harus ada sesuatu yang tidak disebabkan, sesuatu dimana semua hal memerlukan sebab keberadaan efisien yang dependen.

Keberadaan seperti hadiah yang diberikan dari sebab kepada akibat.  Jika tidak ada yang memiliki hadiah, hadiah itu tidak bisa diteruskan dalam rantai penerima, betapapun panjang atau pendeknya rantai tersebut. Jika setiap orang meminjam buku tertentu, tapi tidak ada satupun yang memilikinya, maka tidak ada seorangpun yang mendapatkannya.  Jika tidak ada Allah yang memiliki keberadaan melalui hakekatnya yang abadi, maka hadiah keberadaan tidak bisa diteruskan kepada rantai ciptaan dan kita tidak pernah menerimanya.  Tapi kita mendapatkannya, kita ada. Oleh karena itu harus ada Allah : Sebuah Keberadaan yang tidak disebabkan yang tidak harus menerima keberadaan seperti kita – dan seperti setiap mata rantai dalam rantai penerima.

Pertanyaan 1 : Mengapa kita membutuhkan sebab yang tidak disebabkan? Mengapa tidak bisa adanya serangkaian hal-hal yang tidak ada habisnya yang secara timbal balik menjaga keberadaan satu sama lain?

Jawaban : Ini hipotesis yang menarik. Pikirkan seorang yang mabuk. Ia tidak mungkin bisa berdiri sendiri. Tapi sekelompok pemabuk, semuanya saling mendukung satu sama lain, bisa berdiri. Mereka mungkin bisa berjalan di jalan. Tapi sadarilah : Katakanlah banyak pemabuk, dan ada tanah yang stabil, kita bisa mengerti bagaimana ketersandungan mereka bisa saling mengimbangi satu sama lain, dan bagaimana kelompok mereka bisa tetap berdiri secara relatif.  Kita tidak bisa mengerti mengapa mereka tetap berdiri jika tanah tidak mendukung mereka – jika, sebagai contoh, mereka melayan-layang beberapa kaki diatas tanah. Dan tentu, jika tidak ada pemabuk yang aktual, tidak ada apa-apa untuk dipahami.

Hal ini membawa kita pada argumen. Hal-hal harus ada agar bisa saling bergantung secara timbal balik; mereka tidak bisa bergantung satu sama lain untuk keseluruhan keberadaan mereka, karena mereka akan secara serentak saling menyebabkan dan mengakibatkan satu sama lain. A menyebabkan B, B menyebabkan C, dan C menyebabkan A. Ini tidak masuk akal. Argumen ini mencoba menunjukkan mengapa dunia yang disebabkan bisa menyebabkan – atau bisa berada disana – sama sekali. Dan hal ini secara sederhana menunjukkan L Jika hal ini hanya bisa ada karena sesuatu yang lain memberikan keberadaannya, maka harus ada sesuatu yang keberadaannya bukanlah hadiah. Jika tidak semuanya perlu pada waktu yang sama diberkan keberadaan, tapi tidak ada (tambahan untuk “semuanya”) yang ada untuk memberikannya. Dan itu berarti tidak ada yang secara aktual ada .

Pertanyaan 2 : Mengapa tidak bisa memiliki rangkaian sebab yang tanpa akhir yang merentang mundur ke masa lalu? Maka semuanya akan menjadi akutal dan akan seharusnya menjadi – walaupun sebab-sebab itu tidak aka nada lagi.

Jawaban : Pertama, jika argument kalam (argument 6) benar, tidak bisa ada serangkaian sebab yang tanpa akhir yang merentang sampai masa lalu. Tapi anggaplah rangkaian sebab tersebut ada. Argumennya tidak berkaitan dengan masa lalu, dan akan bekerja apakah masa lalu terbatas atau tidak terbatas. Ini berkaitan dengan apa yang ada sekarang.

Bahkan selagi kamu membaca ini, kamu bergantung pada hal-hal lain, kamu tidak bisa ada tanpa mereka sekarang. Anggaplah ada 7 hal. Jika ketujuh hal ini tidak ada, maka kamu tidak ada. Sekarang anggaplah ketujuh hal tersebut bergantung kepada hal lain. Tanpa hal lain tersebut, ketujuh hal yang kepadanya kita bergantung tidak akan ada – dan kamu juga tidak akan ada. Bayangkan bahwa seluruh alam semesta terdiri dari kamu dan ketujuh hal yang menunjangmu. Jika tidak ada yang lain selain alam semesta yang berubah, bergantung pad hal-hal, maka alam semesta – dan kamu sebagai bagian darinya – tidak bisa ada. Karena segalanya yang ada sekarang perlu diberikan keberadaan tapi tidak ada yang sanggup memberikannya. Dan kamu tetap ada. Jadi harus ada sesuatu selain alam semesta yang bergantung pada hal-hal lain – sesuatu yang tidak bergantung kepada hal lain.

Dan jika sesuatu tersebut harus ada, ia harus ada dalam cara ini. Dalam dunia kita tentu ada lebih dari tujuh hal yang diperlukan sekarang, untuk diberikan keberadaan. Tapi keperluan itu tidak hilang dengan keberadaan yang lebih dari tujuh hal tersebut. Selagi kita membayangkan mereka lebih dan lebih – bahkan dalam jumlah tak terbatas, jika itu mungkin – kita secara sederhana memperluas kelompok keberadaan yang memerlukan – Dan keperluan ini – untuk ada, untuk keberadaan, – tidak bisa ditemui dari dalam set yang dibayangkan. Tapi jelas bahwa ini telah ditemui, karena mahluk yang contingent (bergantung pada hal lain) ada. Karenanya harus ada sumber keberadaan dimana alam semesta material sekarang bergantung padanya.


Pengetahuan Dasar (PD) : Argumen tentang Keberadaan Allah

  1. Argumen dari Perubahan
  2. Argumen dari Kausalitas Efisien
  3. Argumen dari Waktu dan Kemungkinan
  4. Argumen dari Derajat Kesempurnaan
  5. Argumen Rancangan
  6. Argumen Kalam
  7. Argumen dari Kemungkinan (Contingency)
  8. Argumen dari  Dunia sebagai Keseluruhan yang Berinteraksi
  9. Argumen dari Mukjizat
  10. Argumen dari Kesadaran
  11. Pascal’s Wager

NB : Penulis hanya memilih 11 dari 20 argumen dengan tambahan Pascal’s Wager

Pada bagian ini anda akan menemukan argumen dari beragam bentuk dari keberadaan Allah. Dan kami membuatnya untukmu, para pembaca, sebuah daya tarik awal. Kami menyadari bahwa banyak orang, baik keduanya orang yang percaya maupun yang tidak percaya, yang meragukan keberadaan Allah bisa menerapkan atau bahkan memperdebatkan tentang ini. Anda mungkin adalah salah satu dari mereka. Anda mungkin pada kenyataannya memiliki pandangan yang cukup mantab yang tidak dapat diperdebatkan. Tapi tidak ada yang bisa meragukan perhatian terhadap argumen ini, yang memiliki tempat dalam setiap buku apologetik. Banyak yang percaya argument-argument tersebut adalah mungkin, dan bahwa beberapa dari mereka benar-benar bisa dipakai.

Mereka juga percaya bahwa efektivitas dari argumen rasional untuk keberadaan Allah adalah langkah awal yang penting dalam membuka pikiran pada kemungkinan dari iman – dalam membersihkan penghalang jalan dan puing yang menghalangi orang untuk mengambil ide dari wahyu ilahi dengan serius. Dan disini mereka mempunyai poin yang nyata. Andaikata yang terbaik dari kita dan refleksi yang paling jujur pada alam, pada sifat dari hal-hal yang memimpin kita untuk melihat materi alam semesta sebagai mandiri dan tak bersumber; melihat bentuk sebagai hasil dari gerakan yang acak, sama sekali tanpa rencana atau tujuan. Apakah anda kemudian terkesan karena membacanya di dalam buku kuno bahwa adanya Allah itu kasih, atau bahwa surga  menyatakan kemuliaan-Nya? Maukah anda mengatur untuk mengambil pesan itu secara serius? Lebih mungkin anda akan meminta maaf pada diri sendiri karena mengambil dengan serius apapun yang di klaim sebagai komunikasi dari Sang Pencipta. Seperti satu orang yang mengatakan: Saya tidak percaya bahwa kita adalah anak-anak Allah, karena saya tidak percaya bahwa ada seseorang yang akan mengadopsi.

Ini adalah semacam menjejali dan menarik cakrawala bahwa bukti diperkenalkan di bab ini adalah mencoba untuk memperluas. Mereka mencoba untuk berkonfrontasi dengan kita dengan ketidak cukupan radikal dari apa yang tak terbatas dan terbatas, dan untuk membuka pikiran pada level yang diluar dari jangkauan itu. Jika mereka sukses didalam ini – dan kita bisa mengatakannya dari pengalaman bahwa beberapa bukti yang berhasil dengan banyak orang – mereka tentu saja bisa menjadi sebuah nilai yang sangat berharga.

Anda mungkin tidak merasakan bahwa mereka terutama sekali sangat berharga bagi diri anda sendiri. Anda mungkin terberkati dengan sebuah indra tentang kehadiran Allah; dan itu adalah sesuatu yang akan sangat disyukuri. Tapi tidak berarti anda tidak memiliki kewajiban untuk mempertimbangkan argumen-argumen ini. Bagi banyak orang belum dapat berkat dengan cara seperti itu. Dan bukti yang dirancang untuk mereka – atau beberapa dari mereka – untuk memberi semacam bantuan yang mereka perlukan. Anda bahkan mungkin diminta untuk memberikan bantuan.

Lagipula, apakah dari kita sangat sedikit memerlukan bantuan seperti yang kita minta? Memang dalam diri kita ada semacam rasa skeptis.  Ada bagian dari dalam diri kita menggoda untuk percaya bahwa tidak ada yang nyata, yang jauh dari apa yang kita bisa lihat dan sentuh; untuk mencari dengan sedikit akal budi, melebihi kepastian dari Kitab Suci, untuk percaya bahwa ada lebih banyak. Kita memiliki keinginan untuk membuat klaim yang dibesar-besarkan untuk demonstrasi ini, atau untuk menolak “alasan yang baik” “dengan bukti ilmiah”. Tapi kita percaya bahwa banyak yang ingin dan membutuhkan jenis bantuan untuk bukti-bukti ini menawarkan lebih dari apa yang mereka bisa yang pada awalnya bersedia untuk mengakuinya.

Prakata tentang mengorganisir argumen. Kita telah mengorganisir mereka kedalam dua grup dasar: mereka yang mengambil data mereka di luar-argumen kosmologis-dan mereka yang mengambil dari dalam-argumen psikologis. Grup dari argumen kosmologis dimulai dengan versi dari “Aquinas” yang terkenal yaitu “lima jalan”. Hal ini bukanlah argumen yang mudah, dan bukanlah argumen yang meyakinkan bagi banyak orang. Urutan kita bukanlah dari yang efektif kepada yang paling tidak efektif. Argumen pertama, khususnya, sangat abstrak dan sulit.

Tidak semua argumen sama-sama demonstratif. Satu (Pascal Wager) bukanlah sebuah argumen bagi Allah sama sekali, tetapi sebuah argumen untuk iman di dalam Allah sebagai “petaruh”. Lainnya (argumen ontologis) kami anggap sebagai cacat fundamental; namun kita masukkan karena ini sangat terkenal dan berpengaruh, dan dapat diselamatkan oleh formulasi yang baru. Lainnya (argumen dari mukjizat, argumen dari pengalaman agama dan argumen persetujuan umum) mengklaim hanya kemungkinan yang kuat, bukan kepastian demonstratif. Kami telah memasukkan mereka karena mereka membentuk bagian yang kuat dari kasus kumulatif. Kami percaya bahwa hanya beberapa dari argumen ini, diambil secara individual dan terpisah, mendemonstrasikan adanya makhluk yang memiliki sifat yang hanya Allah yang dapat memilikinya (tidak ada argumen membuktikan semua sifat ilahi); tetapi semua argumen yang dikumpulkan bersama-sama, seperti tali yang dipintal benangnya, membuatnya menjadi  sangat kuat.

sumber


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.629 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: