Arsip Kategori: Liturgi

“Liturgi kreatif…mengasingkan kita dari Allah dan menarik kita lebih dekat kepada dosa”

Dari wawancara bersama Mgr. Nicola Bux (bahasa Italia)

Maka dari itu, tidaklah terlalu mengejutkan, ia menegaskan: “kesadaran tentang dosa telah dilemahkan oleh pelemahan kesakralan dalam liturgi. Ada hubungan yang dekat antara ethos dan penyembahan (worship).” Apa maksud anda? “Bahwa sekarang kita telah kehilangan nilai karena kita sering tidak memberikan Allah sebuah penyembahan (worship) yang layak pada saat Misa. Dan begitu banyak ateis sebaliknya juga hidup seakan-akan jika Allah itu ada” (E molti anche atei dovrebbero vivere come se Dio esistesse) Tapi mari kita kembali kepada aspek liturgis: Continue reading


Salib di Tengah-Tengah Altar

Kompedium Katekismus Gereja Katolik menanyakan sebuah pertanyaan: “Apa itu liturgi?” dan jawabannya:

Liturgi adalah perayaan misteri Kristus, dan secara khusus misteri kebangkitan-Nya. Dengan melaksanakan imamat Yesus Kristus, liturgi menyatakan dalam tanda-tanda dan membawa pengudusasn bagi umat manusia. Pemujaan kepada Allah dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu oleh kepala dan para anggotanya. (no. 128)

Dari definisi ini, dapat kita mengerti bahwa Krsitus adalah Imam Mahatinggi yang Kekal dan Misteri Paskah dari Sengara-Nya, Kematian-Nya dan Kebangkitan-Nya adalah puat dari tindakan liturgi Gereja. Liturgi haruslah dirayakan secara jelas dari kebenaran teologis ini. Selama berabad-abad simbol yang dipilih oleh Gereja untuk mengarahkan hati dan tubuh selama liturgi digambarkan dari Yesus yang Tersalib. Continue reading


Pentingnya Aturan dalam Liturgi

Quote Liturgy

Dalam suatu diskusi tentang liturgi, khususnya tentang bagaimana berliturgi dengan benar, seringkali saya temui perlawanan dan penolakan untuk berliturgi dengan benar sesuai dengan hukum dan aturan liturgi yang berlaku secara universal. Apabila seseorang diingatkan tentang cara berliturgi yang benar, apabila mereka dikritik karena berliturgi secara keliru (misalnya memasukkan band dalam misa, mengganti homili dengan drama, memasukkan tarian dalam misa, dst), mereka akan cenderung marah dan menyampaikan beberapa respon, yang bisa dirangkum sebagai berikut :

  • Saya ingin memuji dan memuliakan Tuhan. Yang penting kan hati kita, tidak perlu terlalu kaku soal liturgi..toh itu kan buatan manusia. Jangan jadi orang yang fundamentalis…menafsirkan secara ketat aturan liturgi
  • Ah kalian itu mirip seperti orang Farisi yang ketat pada aturan, padahal yang penting bagaimana saya bisa lebih merasakan kehadiran Tuhan, bagaimana saya bisa mengalami Tuhan…
  • Tuhan kan melihat isi hati manusia…
  • Aturan2 liturgi itu gak penting, yang penting itu karya nyata…
  • dst

Lalu bagaimana seharusnya sikap seorang katolik dalam berliturgi?

Paus Benediktus XVI, dalam bukunya “The Spirit of Liturgy”, berkata bahwa hukum fundamental dari liturgi adalah “kami tidak tahu dengan apa kami harus beribadah kepada Allah” (Kel 10 : 26). Perhatikan bahwa pernyataan tersebut menunjukkan bahwa : manusia itu tidak bisa mengetahui dengan pasti, apakah yang dilakukannya sudah sesuai dengan kehendak Allah, kecuali Allah yang telah menyatakannya pada kita. Continue reading


Improperia

nuestro padre jesus en su presentacion

Antonio Castillo Lastrucci
Nuestro Padre Jesús en su Presentación al Pueblo
Parish Church of St. Benedict, Abbot, Seville

The Reproaches (Improperia)

I

1 dan 2 : Umatku, apa yang telah kulakukan padamu, apa salahku padamu? Jawablah aku!

1: Aku menuntunmu keluar dari mesir, dari perbudakan menuju kebebasan, tapi engkau menuntun Penyelamatmu ke salib

2 : Umatku, apa yang telah kulakukan padamu? Apa salahku padamu? Jawablah aku!

1 : Kuduslah Allah! 2: Kudus dan kuat! 1 : Allah yang kudus dan abadi, kasihanilah kami!

1 dan 2 : Selama 40 tahun aku menuntunmu dengan aman di padang pasir. Aku memberimu makan dengan manna dari surga, dan membawamu ke tanah yang berlimpah, tapi engkau menuntun penyelamatmu ke salib.

1 : Kuduslah Allah! 2: Kudus dan kuat! 1 : Allah yang kudus dan abadi, kasihanilah kami!

1 dan 2 : Apa yang telah aku lakukan padamu. Aku menanam engkau seperti anggur yang paling baik, tapi engkau hanya menghasilkan kepahitan : ketika aku haus engkau memberiku cuka untuk diminum, dan engkau menikam penyelamatmu dengan tombak.

1 : Kuduslah Allah! 2: Kudus dan kuat! 1 : Allah yang kudus dan abadi, kasihanilah kami!

II

Demi engkau aku mendera penyiksamu dan putra sulung mereka, tapi engkau membawa penderaanmu terhadap aku

Umatku, apa yang telah kulakukan padamu? Apa salahku padamu? Jawablah aku!

Aku menuntunmu dari perbudakan menuju kebebasan dan menenggelamkan orang yang menangkapmu, tapi engkau menyerahka aku kepada imam agungmu

Umatku, apa yang telah kulakukan padamu? Apa salahku padamu? Jawablah aku!

Aku membelah laut dihadapanmu, tapi engkau membelah lambungku dengan tombak

Umatku, apa yang telah kulakukan padamu? Apa salahku padamu? Jawablah aku!

Aku menuntun engkau di jalanmu dalam pilar awan, tapi engkau menuntun aku ke pengadilan Pilatus

Umatku, apa yang telah kulakukan padamu? Apa salahku padamu? Jawablah aku!

Aku membuatmu bertahan dengan manna di padang gurun, tapi engkau memukulku dan mendera aku

Umatku, apa yang telah kulakukan padamu? Apa salahku padamu? Jawablah aku!

Aku memberimu air yang menyelamatkan dari batu karang, tapi engkau memberiku empedu dan cuka untuk diminum

Umatku, apa yang telah kulakukan padamu? Apa salahku padamu? Jawablah aku!

Demi engkau aku menjatuhkan raja-raja Kanaan, tapi engkau memukul kepalaku dengan buluh

Umatku, apa yang telah kulakukan padamu? Apa salahku padamu? Jawablah aku!

Aku mengangkat engkau menuju ketinggian yang mulia, tapi engkau meninggikan aku di salib

Umatku, apa yang telah kulakukan padamu? Apa salahku padamu? Jawablah aku!

Sumber.


Mengapa Saya Menerima Komuni di Lidah sambil Berlutut

Ada kontroversi tentang menerima komuni di tangan dan di lidah sambil berlutut. Namun saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan tersebut. Secara prinsip tidak ada masalah dalam menerima komuni di tangan, asalkan komuni tetap diterima dengan penuh hormat. Namun, saya ingin menawarkan kepada anda, suatu pandangan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh anda atau sebenarnya anda tahu tapi anda ragu untuk melakukannya, tapi saya akan berusaha membuat anda yakin dan segera mungkin melakukannya tanpa perlu lagi untuk ragu : yaitu bahwa berlutut dan menerima komuni di lidah memiliki makna yang sangat biblis, sangat berpusat pada Yesus Kristus, dan sangat mendalam.

Hal penting yang patut kita perhatikan dalam menghadiri Misa, khususnya saat menyambut Tubuh Kristus adalah pertanyaan berikut : Siapakah sebenarnya Yesus bagi anda?

Bagi saya, terdapat empat jawaban :

Yesus adalah Allah

Kita adalah ciptaan, dan Allah pencipta. Sudah merupakan kewajiban kita untuk menyembah Allah, walaupun Allah tidak perlu disembah. Apa yang kita lakukan tidak menambah kemuliaan Allah. Tetapi kita memerlukannya, karena atas kebaikan-Nya lah kita hidup, memperoleh rejeki, memiliki keluarga, teman, dsb. Tapi ini saja tidak cukup, oleh karena itulah kita akan masuk ke jawaban kedua dan ketiga :

Yesus adalah Penyelamat dan Kekasih Kita

“Kisah cinta teragung sepanjang sejarah terdapat dalam sebuah Hosti kecil”, kira2 begitulah kata Uskup Agung Fulton Sheen. Apa artinya? Yesus, yang adalah Allah, wafat di salib demi menebus dosa-dosa kita. Ia ingin menyelamatkan kita. Dan inilah yang dikehendaki Bapa : bahwa Putra-Nya harus disalibkan untuk menebus dosa manusia, manusia yang hina dan tak berguna ini. “Domine, non sum dingus!”; “Tuhan, tidak pantas Engkau datang pada saya!” Apa kita lupa bahwa kita ini bukan siapa-siapa dihadapan Tuhan? ”Terpisah dariku, kamu tidak dapat melakukan apa-apa”

Bapa menghendaki demikian karena Ia mengasihi kita. Yesus pun begitu, demikian besar kasih dan cinta-Nya sehingga Ia rela menyerahkan nyawa-Nya. Demi kita, manusia yang hina ini! Lalu apakah kita diam saja? Tentu tidak, kita harus menanggapi cinta Yesus. Ia adalah kekasih kita, yang memberikan diri-Nya sendiri di kayu salib.

Tak seorangpun yang mau mendengar perkataan “aku cinta kamu” tanpa menunjukkan bukti cintanya melalui perbuatan. Kalau kita mencintai seseorang, tentu kita akan memberikan dan menghendaki yang paling baik bagi orang itu. PALING BAIK, bukan lebih baik.

Yesus adalah Raja Semesta Alam

Dihadapan seorang Raja, apalagi Yesus sang Raja, kita tidak bisa bertindak sesuka hati kita. Hal pertama yang diberikan kepada Raja adalah : Rasa hormat, ketaatan dan kesetiaan kita kepada-Nya. Saya pernah melihat di film Confessions, ketika seseorang berhadapan dengan Raja, ia akan berlutut untuk menunjukkan rasa hormatnya. Bahkan ketika hendak meninggalkan Raja, ia pun berjalan mundur sambil menundukkan kepala. Betapa besar rasa hormat yang diberikan!

Lalu, apa hubungannya dengan menerima komuni di lidah sambil berlutut? Continue reading


Te Deum

Ini adalah postingan terakhir, maksud saya postingan terakhir di tahun ini, beberapa jam lagi kita akan memasuki tahun yang baru, saya hanya ingin memperkenalkan kebiasaan lama yang mungkin saja anda tidak tahu (bahkan saya pun baru tahu tentang ini, shock…!!! dulu mereka mengajarkan kita apa yah…??? trims kepada internet), sebuah kebiasaan baik yang cukup kuno di hari terakhir tahun untuk mendaraskan atau menyanyikan sebuah hymne TE DEUM. Apa itu TE DEUM?

TE DEUM adalah hymne tradisional tentang sukacita dan rasa syukur, TE DEUM kadang juga disebut Hymne Ambrosinian karena berhubungan dengan St. Ambrosius. Pada awalnya disematkan kepada Santo Ambrosius, Agustinus atau Hilarius, dan sekarangdisematkan kepada Nicetas, seorang Uskup dari Remesiana (abad ke 4).

Dan tahukah anda jika mendaraskan atau menyanyikan TE DEUM baik di gereja atau diruang publik anda akan mendapatkan indulgensi penuh?

jangan lupa untuk mendaraskan atau menyanyikan TE DEUM sebagai rasa syukur kita kepada Allah yang telah menyokong kita selama sepanjang tahun. (Silahkan baca di Puji Syukur no. 669 atau Madah Bakti no. 491) NB : Ini lirik dari himne Te Deum yang dikutip dari Puji Syukur :

Allah Tuhan kami :
Engkau kami muliakan.
Dikau Bapa yang kekal :
Seluruh bumi sujud padaMu.
Para malaikat :
serta isi surga bermadah.
Kerubim dan serafim :
tak kunjung putus memuji Dikau,
Kudus, Kudus, Kuduslah :
Tuhan Allah segala kuasa;
Surga dan bumi penuh :
kemuliaanMu.
Engkau dimuliakan kalangan para rasul.
Engkau diluhurkan rombongan para nabi.
Engkau dipuji barisan para martir.
Engkau dipuji Gereja Kudus :
di seluruh dunia;
Bapa sungguh mahakuasa;
Putera Bapa yang tunggal yang patut disembah;
Roh Kudus pula, Penghibur umat Allah.
Kristus raja nan jaya.
Engkaulah Putera Bapa yang kekal.
Untuk menebus kami Kau jadi manusia:
sudi dikandung Santa Perawan.
Kuasa maut Kau kalahkan :
Kau buka pintu surga bagi umat beriman.
Kau yang bertahta dengan mulia di sisi kanan Bapa.
Dikaulah Hakim yang akan datang.
Maka kami mohon tolonglah hambaMu :
Yang kau tebus dengan darahMu sendiri.
Satukanlah kami dengan orang kudus dalam kemuliaanMu.

Selamatkanlah kami, Ya Tuhan :
berkatilah umat pilihanMu.
Rajailah kami dan angkatlah kami untuk selamanya.
Setiap hari, kami memuji Dikau;
Kami memegahkan namaMu untuk sepanjang masa.
Ya Tuhan, sudilah menjaga kami, agar hari ini luput dari dosa.
Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami.
Limpahkanlah kasih setiaMu :
kepada kami, sebab kami berharap kepadaMu.
Kepada Tuhan kami percaya:
kami tak kecewa selamanya.

LUX VERITATIS 7 MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU 2013

semoga di tahun yang baru ini berkat Tuhan selalu berlimpah buat kita semua.


Kardinal Ratzinger (Paus Benediktus XVI) tentang Penyembahan Kepada Allah

Dikutip dari buku The Spirit of Liturgy by Joseph Ratzinger, p 21-23 (penekanan dari saya), diterjemahkan oleh Marcello :

And so we come to a final reflection. Man himself cannot simply “make” worship. If God does not reveal himself, man is clutching empty space. Moses says to Pharaoh :”[We] do not know with what we must serve the Lord” (Ex 10 : 26). These words display a fundamental law of all liturgy. When God does not reveal himself, man can, of course, from the sense of God within him, build altars “to the unknown god” (Acts 17 : 23). He can reach out toward God in his thinking and try to feel his way toward him. But real liturgy implies God respond and reveals how we can worship him. In any form, liturgy includes some kind of “institution”. It cannot spring from imagination, our own creativity – then it would remain just a cry in the dark or mere self-affirmation. Liturgy implies a real relationship with Another, who reveal himself to us dan gives our existence a new direction.

In the Old Testament there is a series of very impressive testimonies to the truth that the liturgy is not a matter of “what you please”. Nowhere is this more dramatically evident than in the narrative of the golden calf (strictly speaking “bulf calf”). The cult conducted by the high priest Aaron is not meant to serve any of the false gods of the heaten. The apostasy is more subtle. There is no obvious turning away from God to the false gods. Outwardly, the people remain completely attached to the same God. They want to glorify the God who led Israel out of Egypt and believe that they may very properly represent his mysterious power in the image of a bull calf. Everything seems to be in order. Presumably even the ritual is in complete conformity to the rubrics. And yet it is falling away from the worship of God to idolatry. This apostasy, which outwardly is scarcely perceptible, has two causes. First, there is a violation of the prohibition of images. The people cannot cope with the invisible, remote, and mysterious God. They want to bring him down into their own world, into what they can see and understand. Worship is no longer going up to God, but drawing God down into one’s own world. He must be there when he is needed, and he must be the kind of God that is needed. Man is using God, and in reality, even if it is not outwardly discernible, he is placing himself above God. This gives us a clue to the second point. The worship of the golden calf is a self-generated cult. When Moses stays away for too long, and God himself becomes inaccessible, the people just fetch him back. Worship becomes a feast that the community gives itself, a festival of self-affirmation. Instead of being worship of God, it becomes a circle closed in itself : eating, drinking, making merry. The dance around the golden calf is an image of this self-seeking worship. It is a kind of banal self-gratification. The narrative of the golden calf is a warning about any kind of self-initiated and self-seeking worship. Ultimately, it is no longer concerned with God but with giving oneself a nice little alternative world, manufactured from one’s own resources. Then liturgy really does becomes pointless, just fooling around. Or still worse it becomes an apostasy from the living God, an apostasy in sacral disguise. All that is left in the end is frustration, a feeling of emptiness. There is no experience of that liberation which always takes place when man encounters the living God.

Dan kita datang kepada refleksi terakhir. Manusia sendiri tidak dapat “menciptakan” penyembahan. Jika Tuhan tidak menampakkan dirinya, manusia hanyalah seonggok ruang kosong. Musa berkata kepada Firaun: “[Kami] tidak tahu dengan apa kami harus melayani Tuhan” (Kel 10:26). Kata-kata ini menampakkan hukum fundamental dari segala liturgi. Ketika Tuhan tidak  menampakkan dirinya, manusia dapat, tentu saja, dengan merasakan kehadiran Tuhan didalamnya, membangun altar “kepada allah yang tak dikenal” (Kis 17:23). Dia dapat mencapai kehadapan Tuhan melalui cara berpikirnya dan mencoba untuk merasakan Tuhan. Tetapi liturgi yang sesungguhnya menunjukkan tanggapan dari Tuhan dan menunjukkan bagaimana kita selayaknya menyembahnya. Dalam bentuk apapun, liturgi juga menyediakan semacam “institusi”. Hal ini tidak dapat muncul dari sebuah imajinasi, atau kreativitas kita sendiri – maka itu semua hanya akan menjadi tangisan didalam kegelapan atau sekedar pengakuan-diri. Liturgi berarti sebuah hubungan dengan “Yang lain”, yang menampakkan dirinya kepada kita dan memberikan kita sebuah arah yang baru.  

Dalam Perjanjian Lama banyak tercatat kesaksian yang menarik bahwa liturgi bukanlah “apa yang kau inginkan”. Dimanapun juga, ini adalah sebuah kejadian yang dramatis daripada kejadian penyembahan lembu emas. Kultus yang dipimpin oleh Imam Besar harun tidak dimaksudkan untuk menyembah dewa kafir manapun. Penyesatan jelas saja lebih terlihat halus. Tidak ada kejelasan berpaling dari Tuhan kepada dewa kafir. Pada akhirnya, umat tetap setia kepada Tuhan yang sama. Mereka ingin memuliakan Tuhan yang memimpin Israel keluar dari Mesir dan mereka percaya bahwa itu semua dapat direpresentasikan dengan kekuatan misterius yang tergambarkan dengan sebuah “lembu emas”. Semuanya terlihat teratur. Bahkan nampaknya ritual tampak sesuai dengan rubrik yang ada. Dan ini semua tetap saja mengalihkan penyembahan kepada Tuhan kepada berhala. Penolakan (apostasy) ini, yang tampaknya kurang terlihat, memiliki dua sebab. Pertama, ada pelanggaran dari “pelarangan pengunaan simbol”. Manusia tidak dapat menaungi pemahaman akan Tuhan yang tidak kelihatan, jauh dan misterius. Mereka ingin membawa Tuhan turun ke dunia mereka supaya mereka melihat dan percaya. Penyembahan bukan lagi mengarah kepada Tuhan yang jauh tetapi membawa Tuhan turun ke dunia mereka. Dia harus berada disaat Dia dibutuhkan, dia harus seperti Tuhan yang setiap umat inginkan. Manusia memanfaatkanTuhan, dan kenyataannya, Tuhan itu sendiri tidak terlihat, manusia menempatkan dirinya diatas Tuhan. Hal ini memberikan kita petunjuk pada poin kedua. Penyembahan lembu emas adalah kultus yang terjadi dengan sendirinya. Ketika Musa pergi untuk waktu yang lumayan lama dan hal itu menghambat akses menuju Tuhan, umat berpaling dari Musa. Penyembahan menjadi pesta yang dimana tercipta untuk sebuah komunitas, sebuah festival pengakuan diri. Alih-alih menjadi sebuah penyembahan kepada Tuhan, prosesi itu menjadi sebuah lingkaran yang tertutup : makan, minum dan bersenang-senang. Tarian mengelilingi lembu emas adalah gambaran dari penyembahan sesuai keinginan mereka sendiri. Sebuah pemuasan diri yang dangkal. Kisah dari lembu emas adalah sebuah peringatan dari segala jenis penyembahan yang semaunya sendiri. Terlebih lagi, ini sudah tidak ada kaitan dengan Tuhan tetapi bagaimana memberi diri sendiri sebuah alternatif yang baik, menciptakan dari sebuah sumber. Kemudian liturgi menjadi tidak ada artinya, sia-sia. Atau lebih buruknya muncul sebuah penolakan (apostasy) yang memalingkan diri dari Allah yang hidup, sebuah penolakan (apostasy) berselubungkan kesucian. Yang tersisa nantinya hanyalah frustasi dan rasa kehampaan. Tidak ada pengalaman pembebasan yang selalu ada ketika manusia bertemu Allah yang Hidup.

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.242 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: