Katekismus Gereja Katolik, 1-25

Tahun Iman merupakan momen yang tepat bagi umat katolik untuk memperdalam iman katoliknya. Oleh karena itu, Lux Veritatis akan menghadirkan kutipan-kutipan dari Katekismus Gereja Katolik yang diambil dari ekaristi.org (silakan klik kalimat ini).

Mengingat banyaknya materi Katekismus tersebut, maka tidak semua hal akan diposting di blog ini.

Selamat membaca dan belajar, bila ada pertanyaan silakan memberikan komentar pada postingan ini.

Katekismus Gereja Katolik

I. * Kehidupan Manusia – Mengenal dan Mencintai Allah

1. Allah dalam Dirinya sendiri sempurna dan bahagia tanpa batas. Berdasarkan keputusan-Nya yang dibuat karena kebaikan semata-mata, Ia telah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang bahagia. Karena itu, pada setiap saat dan di mana-mana Ia dekat dengan manusia. Ia memanggil manusia dan menolongnya untuk mencari-Nya, untuk mengenal-Nya, dan untuk mencintai-Nya dengan segala kekuatannya. Ia memanggil semua manusia yang sudah tercerai-berai satu dari yang lain oleh dosa ke dalam kesatuan keluarga-Nya, Gereja. Ia melakukan seluruh usaha itu dengan perantaraan Putera-Nya, yang telah Ia utus sebagai Penebus dan Juru Selamat, ketika genap waktunya. Dalam Dia dan oleh Dia Allah memanggil manusia supaya menjadi anak-anak-Nya dalam Roh Kudus, dan dengan demikian mewarisi kehidupan-Nya yang bahagia.

2. Supaya panggilan ini didengar di seluruh dunia, Kristus mengutus para Rasul yang telah dipilih-Nya dan memberi mereka tugas untuk mewartakan Injil: “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:19-20). Berdasarkan perutusan ini mereka “pergi memberitakan Injil ke segala penjuru dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Mrk 16:20).

3. Barang siapa dengan bantuan Allah telah menerima panggilan ini dan telah menyetujuinya dalam kebebasan, ia didorong oleh cinta kepada Kristus supaya mewartakan Kabar Gembira kepada seluruh dunia. Warisan bernilai yang diterima dari para Rasul ini dipelihara dengan setia oleh pengganti-pengganti mereka. Semua yang beriman kepada Kristus dipanggil supaya melanjutkannya dari generasi ke generasi, dengan mewartakan iman, dengan menghayatinya dalam persekutuan persaudaraan dan dengan merayakannya dalam liturgi dan dalam doa Bdk. Kis 2:42..

II. * Mewariskan Iman – Katekese

4. Gereja berusaha untuk menjadikan manusia murid-murid Kristus; ia hendak membantu mereka agar dapat percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah, supaya dengan perantaraan iman itu mereka memperoleh kehidupan dalam nama-Nya. Melalui pengajaran, Gereja berusaha mendidik manusia menuju kehidupan ini dan dengan demikian membangun Tubuh Kristus Bdk. CT 1;2.. Semua usaha ini sudah sejak dahulu disebut katekese.

5. Katekese ialah “pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dalam iman, yang pada khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, dan yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan kehidupan Kristen” (CT 18).

7. “Katekese erat sekali berkaitan dengan seluruh kehidupan Gereja. Bukan saja meluasnya lingkup geografis dan pertumbuhan jumlah anggotanya, melainkan terutama perkembangan rohaninya dan keselarasan hidupnya dengan rencana Allah secara hakiki tergantung pada katekese” (CT 13).

III. * Tujuan dan Sasaran Katekismus

11. Katekismus ini hendak menyampaikan dalam terang Konsili Vatikan II dan seluruh tradisi Gereja satu sintesis yang organis mengenai isi yang hakiki dan mendasar tentang ajaran iman dan kesusilaan Katolik. Sumber-sumber utamanya adalah Kitab Suci, bapa-bapa Gereja, liturgi, dan magisterium Gereja. Katekismus ini dimaksudkan sebagai “acuan untuk katekismus atau kompendium yang harus disusun di berbagai wilayah” (Sinode para Uskup 1985, Laporan Akhir II B a 4).

12. Katekismus ini diperuntukkan terutama bagi mereka yang bertanggung-jawab mengenai katekese: pada tempat pertama untuk para Uskup sebagai guru iman dan gembala Gereja. Katekismus ini diberikan kepada mereka sebagai bantuan kerja dalam tugas mengajar Umat Allah. Selain bagi para Uskup, katekismus ini juga dimaksudkan bagi pengarang katekismus, para imam, dan katekis. Tetapi diharapkan, agar juga merupakan bacaan berguna bagi semua warga Kristen yang lain.

IV. * Kerangka Katekismus

13. Katekismus ini disusun sesuai dengan keempat tiang utama dalam tradisi besar penyusunan katekismus: pengakuan iman pembaptisan (pengakuan iman atau syahadat), Sakramen-sakramen iman, kehidupan iman (perintah-perintah) dan doa orang beriman (Bapa Kami).

Pengakuan Iman (Bagian I)

14. Barang siapa bergabung dengan Kristus melalui iman dan Pembaptisan harus mengakui iman pembaptisannya di depan manusia Bdk. Mat 10:32; Rm 10:9.. Karena itu, katekismus ini berbicara pertama-tama mengenai wahyu, olehnya Allah berpaling kepada manusia dan memberikan Diri kepadanya, dan mengenai iman, dengannya manusia menjawab wahyu Allah itu (Seksi I). Pengakuan iman mencakup semua anugerah yang diberikan Allah kepada manusia sebagai pemrakarsa segala yang baik, sebagai penebus, dan sebagai pengudus. Pengakuan iman tersusun sesuai dengan tiga pokok utama iman pembaptisan kita yaitu: iman kepada Allah yang esa, Bapa yang maha kuasa, dan Pencipta; iman kepada Yesus Kristus, Putera-Nya, Tuhan kita, dan Penebus. Dan iman kepada Roh Kudus dalam Gereja yang kudus (Seksi II).

Sakramen-sakramen Iman (Bagian II)

15. Bagian kedua dari katekismus menguraikan bagaimana keselamatan, yang dikerjakan satu kali untuk selama-lamanya oleh Allah melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus itu, dihadirkan bagi kita melalui kegiatan-kegiatan kudus liturgi Gereja (Seksi I), terutama melalui ketujuh Sakramen (Seksi II).

Kehidupan dalam Iman (Bagian III)

16. Bagian ketiga menjelaskan tujuan akhir manusia yang diciptakan menurut citra Allah: kebahagiaan; bagian ini memperkenalkan juga jalan menuju ke tujuan itu: tindakan yang bebas dan tepat dengan bantuan petunjuk dan rahmat Allah (Seksi I). Tindakan ini ialah memenuhi hukum ganda cinta kasih seperti yang dikembangkan dalam sepuluh perintah Allah (Seksi II).

Doa dalam Kehidupan Iman (Bagian IV)

17. Bagian terakhir katekisrmus berbicara tentang arti dan nilai doa dalam kehidupan seorang beriman (Seksi I). Bagian ini ditutup dengan satu komentar singkat mengenai ketujuh permohonan doa Tuhan, “Bapa Kami” (Seksi II). Dalam permohonan-permohonan ini terdapat keseluruhan isi harapan kita yang akan dianugerahkan Bapa surgawi kepada kita.

V. * Petunjuk Praktis untuk Menggunakan Katekismus

18. Katekismus ini dimaksudkan sebagai satu penjelasan organis seluruh iman Katolik. Dengan demikian, orang harus membacanya sebagai satu kesatuan. Petunjuk yang banyak dalam catatan kaki dan pada tepi teks, demikian pula indeks pada akhir buku memungkinkan orang melihat tiap tema dalam hubungannya dengan iman secara menyeluruh.

19. Sering kali Kitab Suci tidak dikutip secara harafiah, tetapi hanya ditunjuk saja (pada catatan kaki). Membaca ulang teks-teks Kitab Suci yang bersangkutan sangat membantu suatu pengertian yang lebih mendalam. Penunjukan teks-teks Kitab Suci ini pun dimaksudkan sebagai bantuan untuk katekese.

20. Bagian yang dicetak dengan huruf kecil mengandung catatan historis atau apologetik atau juga penjelasan dan pelajaran yang melengkapi.

21. Kutipan-kutipan dengan huruf kecil diangkat dari sumber patristik, liturgi, magisterium, atau hagiografi guna memperkaya penjelasan ajaran. Sering kali teks-teks ini dipilih sekian, agar bisa langsung digunakan dalam katekese.

22. Pada akhir tiap tema, teks-teks singkat menyimpulkan isi ajaran yang hakiki dalam rumusan padat. Teks-teks itu ingin mendorong katekese lokal untuk merumuskan kalimat-kalimat singkat yang dapat dihafal.

VI. * Penyesuaian yang Perlu

23. Katekismus ini pada tempat pertama sekali bermaksud untuk menjelaskan ajaran. Gunanya ialah untuk memperdalam pengetahuan iman. Dengan demikian, ia bertujuan agar iman semakin matang, semakin berakar dalam kehidupan, dan semakin bercahaya dalam kesaksian Bdk. CT 20-22; 25..

Terutama – Cinta

25. Pada akhir pengantar ini perlu diingatkan lagi akan pedoman pastoral, yang dalam Katekismus Roma dirumuskan sebagai berikut:

“Seluruh nasihat dan pengajaran harus diarahkan kepada cinta yang tidak mengenal titik akhir. Jadi, kalau orang hendak menjelaskan sesuatu yang harus diimani, diharapkan atau dilaksanakan – maka selalu harus terutama cinta kepada Tuhan kita dianjurkan, supaya setiap orang dapat mengerti bahwa semua amal kebajikan kesempurnaan Kristen hanya bersumber pada cinta dan hanya mengenal satu tujuan, yaitu cinta” (Pengantar 10).

About these ads

About Cornelius

"The day will come, dear boy, when you must decide whether to die within the Church or outside the Church. I have decided to die within the Church." - Malcolm Muggeridge Lihat semua pos milik Cornelius

Pengunjung yang berkomentar bertanggung jawab atas tulisannya sendiri, semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengedit semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.645 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: