Mengenal Allah, Mengenal Diri Sendiri

Pengantar

Tulisan ini saya beri judul Mengenal Allah, Mengenal Diri Sendiri. Dengan mengenal Allah, diharapkan kita menjadi sadar seperti apa diri kita sekarang, dan semoga kita semakin menyadari bahwa kita dipanggil untuk menjadi sempurna, seperti Bapa yang adalah sempurna. Dan Bapa telah memberikan kita contoh yang sempurna, dengan mengutus putra-Nya ke dunia, yaitu Yesus.

=====================================

Sebaiknya saya menjadi pribadi yang seperti apa? Pertanyaan seperti ini mungkin pernah terlintas di dalam benak anda. Tulisan saya berikut ini adalah hasil refleksi saya terhadap pertanyaan tersebut.

Dalam psikologi kepribadian, aliran humanistik Carl Rogers, ada yang namanya real self (diri yang nyata) dan ideal self (diri yang diharapkan). Seringkali perbedaan atau jarak yang besar antara real self dan ideal self ini dapat membuat orang stres, memiliki gambaran yang buruk terhadap dirinya karena diri yang nyatga tidak mampu menjadi ideal self seperti yang diharapkan orang lain (orang tua, teman, dst) dengan segala tuntutan dan harapan mereka.

Nah, sebagai seorang katolik, apa yang harus kita lakukan?

Menurut saya, seorang katolik yang ingin mengenal dirinya, mengenal pribadinya, perlu mengenal dan memahami tentang Yesus. Kenapa? Seorang katolik sudah seharusnya berupaya untuk menyatukan nilai-nilai kristiani ke dalam kepribadiannya. Ideal self kita, seharusnya menjadi Christian-self, dalam istilah saya. Maksudnya adalah bahwa kita harus menyerupai Kristus. Titik. Tidak lebih, tidak kurang.

Yesus adalah Sabda Allah yang menjadi manusia, dan Para Kudus adalah terjemahan dari Sang Sabda Ilahi. Mereka adalah terjemahan Sang Sabda yang muncul di berbagai tempat dan dalam waktu yang berbeda. Mereka juga adalah pribadi yang sangat setia dalam menjalankan kehendak Allah. Biasanya mereka juga menghidup salah satu pesan injil secara radikal. Lihatlah St. Fransiskus Asisi, yang “meninggalkan semua miliknya” untuk mengikuti Yesus. Lihatlah Mother Teresa, yang dalam karya pelayanannya, selalu melhat bahwa orang-orang yang miskin dan menderita sebagai Yesus Kristus. “Ketika aku lapar, kamu memberi aku makanan, ketika aku haus kamu memnberi aku minum…barangsiapa yang melakukan sesuatu bagi mereka yang hina ini, itu kamu lakukan untuk aku”. Inilah kedua pesan yang dihidupi St. Fransiskus Asisi dan Mother Teresa secara radikal.

Bagi kita, apa yang dilakukan St. Fransiskus dan Mother Teresa tampak sangat tidak mungkin. Kalau harus seperti mereka, tampaknya itu sangat sulit. Apalagi bila kita melihat diri kita masing-masing saat ini. Tidak mungkin. Jaraknya terlalu besar untuk diseberangi. Tetapi…apakah benar demikian?

Jaraknya memang besar. Tapi kita dibantu untuk menyeberangi jarak tersebut. Rahmat Tuhan lah yang membantu kita.

Meskipun rahmat membantu kita, tapi perjalanan ini tidak mudah. Harus setahap demi setahap. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, pengharapan an kesetiaan dalam menjalaninya. Tapi, pertama-tama kita harus mengenal Yesus dahulu.

Ada banyak hal yang bisa digali, tapi untuk sementara yang ingin saya tekankan adalah ini : Yesus datang ke dunia, menjadi manusia, untuk melaksanakan kehendak Bapa. Inilah yang Ia lakukan sampai wafat-Nya di salib. Kita pun dipanggil demikian, dipanggil untuk melaksanakan kehendak Allah dalam hidup kita.

Ini adalah tahap pertama yang harus kita lakukan : Berusaha untuk mengetahui apa kehendak Allah bagi kita, dan menjalankannya dengan setia dalam kehidupan sehari-hari. Mempersembahkan semua yang kita lakukan bagi Allah.

Ingat kisah St. Petrus yang bekerja sepanjang malam menebar jala tapi tidak mendapatkan ikan? Yesus kemudian menyuruhnya menggeser perahunya sedikit lebih jauh dan menebarkan jala lagi dari tempat sebelumnya ia menangkap ikan. Petrus saat itu berkata,”Tuhan, telah sepanjang malam kami bekerja tapi tidak mendapatkan apa-apa, tapi atas perkataan-Mu lah aku akan menebarkan jala”

Lalu apa yang terjadi?

Petrus kemudian berhasil mendapatkan banyak ikan. Lalu ia pun berkata, “Tuhan, ampuni aku karena aku orang berdosa”.

Lihat, inilah yang terjadi ketika seseorang melaksanakan kehendak Yesus. Dari kisah St. Petrus, kita bisa menangkap sebuah pesan, yaitu bahwa seseorang yang melaksanakan kehendak Allah, dalam perbuataannya ia akan menghasilkan buah. Ia akan mendapatkan sesuatu. Ketika anda tidak mendapatkan apa-apa, mungkin itu karena anda belum meminta berkat kepada Allah. Oleh karena itu, mintalah berkat kepada-Nya atas apa yang akan anda lakukan sepanjang hari. Kenali kehendak Allah dalam doa, persembahkan semua yang anda lakukan sepanjang hari demi kemuliaan nama-Nya. Ini adalah langkah pertama, nilai awal yang harus anda satukan dalam pribadi anda, dalam hidup sehari-hari.

Dan kalaupun anda mungkin merasa tidak mendapatkan apa-apa, ingatlah bahwa anda bisa hidup sampai sekarang dengan semua yang anda miliki, semuanya itu karena kebaikan Allah semata. Kita ini manusia lemah, penuh dosa, dan ketika Allah begitu baik kepada kita , kita seharusnya semakin menyadari bahwa kita ini orang berdosa, butuh pengampunan. Meminta ampun kepada Allah secara personal, dan melalui sakramen tobat adalah cara yang efektif agar kita menjadi pribadi yang mampu bersyukur atas kebaikan Allah. Mengakukan dosa, sekecil apapun, adalah tanda kerendahan hati dihadapan Allah. Pengakuan dosa secara rutin (seminggu sekali, 2 minggu sekali atau sebulan sekali) adalah hal yang sangat baik, tapi sering diabaikan banyak orang. Ini juga adalah nilai awal yang harus kita satukan dalam hidup kita.

Jadi, berikut ini adalah ciri pribadi seorang katolik: siap dan setia melaksanakan kehendak Allah, selalu memohon berkat-Nya dalam segala perilakunya, serta seorang pentobat yang menyadari keberdosaannya dan berharap pada kerahiman dan pengampunan Allah melalui sakramen Tobat.

Pada tulisan berikutnya, mari kita melihat lebih dalam kehidupan Yesus, dan apa yang Ia ingin sampaikan pada kita, khususnya tentang kekuatan doa.

About these ads

About Cornelius

"The day will come, dear boy, when you must decide whether to die within the Church or outside the Church. I have decided to die within the Church." - Malcolm Muggeridge Lihat semua pos milik Cornelius

Pengunjung yang berkomentar bertanggung jawab atas tulisannya sendiri, semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengedit semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.619 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: