Panggilan Hidup Kita Sebagai Orang Kristen

Mereka yang mengetahui bagaimana caranya membaca injil, tahu dengan jelas bahwa setiap orang dalam kehidupan sehari-hari dipanggil pada kesucian menurut pekerjaanya di lingkungan mereka sendiri! Namun demikian selama berabad-abad sebagian besar orang Kristen tidak mengerti hal yang penting y.i. kehidupan asketis dari banyak orang yang mencari kesucian tanpa meninggalkan rumah mereka;mereka menguduskan tugas hariannya dan menyucikan diri sendiri;justru ini tidak mereka laksanakan. Tidak lama kemudian, karena mereka tidak mempraktekkan ini, doktrin tentang kesucian dilupakan dan refleksi teologis terserap dalam studi mengenai gejala-gejala asketis lainnya dari injil.

Santo Josemaria Escriva, 9 Januari 1932.

*****

Sekali waktu saya berbicara dengan seorang pemuda, seperti saya berbicara dengan kalian sekarang. Saya berusaha meyakinkan dia mengenai kebutuhan hidup sebagai seorang Kristen y.i. sering menerima sakramen-sakramen, mempunyai jiwa pendoa, dan memusatkan semua kegiatan serta seluruh hidupnya pada kehidupan adikodrati. Saya mengatakan kepadanya bahwa Yesus membutuhkan jiwa-jiwa yang menghayati hidup Kristiani sehari-hari dalam dunia sekarang dengan kewajaran besar dan penyerahan diri secara kesatria. Tetapi matanya menunjukkan perlawanan dari dalam; dan jika dia berbicara dia berusaha mencari alasan mengapa dia tidak mau menerima gagasan yang saya kemukakan kepadanya. Beberapa menit kemudian dia mengutarakan semuanya secara serius (mungkin dia tidak pernah berfikir sebelumnya): “Saya tidak dapat menghayati hidup yang anda kemukakan, karena saya sangat ambisius.” Dan saya masih ingat jawaban saya: “Lihat, disini di depan anda ada seorang yang jauh lebih ambisius, seorang yang ingin menjadi Santo. Karena ambisiku begitu besar, sampai tidak ada suatu di dunia yang dapat memuatnya: saya berambisi memiliki Yesus Kristus. Allah sendiri, dan surga, yang merupakan kemuliaan dan kebahagiaan-Nya dan kehidupan kekal.”

Biarkan saya sekarang melanjutkan pembicaraan itu disini. Apakah kalian tidak mengira bahwa kita orang kristen semua mempunyai keinginan berambisi semacam itu? Panggilan hidup kristiani adalah panggilan menuju kepada kesucian. Semua orang kristen kenyataannya (tidak peduli kedudukkanya, pekerjaannya, dimana saja mereka berada) mempunyai kewajiban mencintai Allah melebihi segala-galanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk 10:27) Tetapi gagasan sederhana dan terang ini, yang merupakan hukum pertama dan rangkuman semua hukum Allah kehilangan dayanya; sekarang hukum itu mempunyai sedikit pengaruh pada kebanyakkan kehidupan para murid Kristus.

Tuhan, betapa kerdil kelihatannya cita-cita kristen dalam kehidupan para murid-Mu. Yesus, kelihatannya mereka berfikir bahwa cita-cita kesucian terlalu tinggi bagi mereka dan bahwa tidak semua hati orang kristen dapat mencapainya. Saya begitu sering mendengar hal itu; kesucian – itu adalah suatu yang harus dicapai oleh para imam, dan juga oleh mereka yang menerima panggilan khusus dalam biara. Kita, orang-orang di dalam dunia sangat bergembira jika kita menghayati kehidupan kristen yang tak berpretensi dan sederhana; kita mundur dengan rendah hati menghindari lonjakan jiwa, sekalipun ini berarti bahwa kadang-kadang kita mendapatkan perasaan mandul yang samar-samar dan pesimis. Kesucian (banyak orang berkata pada diri sendiri, karena prasangka dan ketidak-tahuan) bukan untuk kita; adalah sombong, angkuh, gelisah, tidak pantas, fanatik bagi kita untuk mencari itu. Jadi, mereka menyerah sebelum perjuangan dimulai. Saya ingin berseru kepada banyak orang kristen: “Agnosce, christiane, dignitatem tuam: orang kristen ketahuilah martabatmu.” Dengarkan saya, saudaraku: bebaskan dirimu dari gagasan yang menyesatkan dan bukalah pikiranmu pelan-pelan. Panggilan kristen adalah panggilan kepada kesucian. Umat kristen menurut kata-kata Petrus – kita semua, tanpa perkecualian – adalah bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat milik Allah (1 Ptr 2:9). Umat kristen pertama, yang sadar akan martabatnya, berbicara dengan orang lain sebagai orang-orang suci.

Saudaraku, bilamana kalian akan melepaskan kekuatan akan kesucian? bilamana kalian akan sadar bahwa Allah ingin agar kalian menjadi kudus? Bagaimanapun juga lingkungan kalian, apa saja pekerjaan kalian, tidak peduli berapa umur kalian atau keadaan kesehatan kalian, tidak tergantung pada kegiatan dan jabatan kalian dalam masyarakat, jika kalian orang-orang kristen. Allah kita menghendaki kalian menjadin suci, menjadi santo.

“Haruslah kamu sempurna, sama seprti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” (Mat 5:48). Yesus mengarahkan kata-kata itu kepada setiap orang, kepada setiap pengikut-Nya. Dia menunjukkan tujuan yang sama. Jalannya berbeda-beda, karena dalam rumah Bapa ada banyak tempat tinggal, tetapi tujuan, cita-cita itu satu dan sama untuk semua orang kristen, yaitu kesucian.

Karena itu, sesudah agama kristiani berumur dua ribu tahun, kita orang-orang kristiani harus sungguh-sungguh sehati sepikir dalam menuju kesucian, justru seperti orang-orang kristiani yang pertama: “Kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa.” (Kis 4:32). Keyakinan yang kuat dan cermelang didukung oleh kata-kata ini yang oleh Santo ditujukan kepada semua umat beriman: “Inilah kehendak Allah:pengudusanmu.” (1Tes 4:3). Kalian dituntut dan diwajibkan menjadi suci berdasarkan demikian banyak alasan: pembaptisan, yang membuat kita menjadi anak-anak Allah dan ahli waris kemuliaan-Nya; penguatan, yang membuat kita menjadi tentara Kristus; Ekaristi kudus, dalam Ekaristi Allah memberikan diri-Nya kepada kita; sakramen tobat, dan perkawinan. Semuanya merupakan panggilan yang begitu banyak untuk menjadi suci. Perhatikan itu semua.

Dan jika prasangka demikian pada suatu saat lenyap dan budi kita disinari oleh terang baru, maka mudahlah untuk meneguhkan tekad kita untuk membuat soal kesucian yang jadi sangat konkrit dan menjadikannya soal pribadi, membuat soal ini menjadi soal “kita”. Tuhan Allah kita – secara sungguh-sungguh dan mendalam kita menjadi sadar akan hal ini – ingin agar kita menjadi orang kudus, karena kita orang-orang kristiani.

Marilah kita mengangkat mata, hati dan kehendak kita kepada Allah. Rasakan hal-hal yang ada di atas, carilah hal-hal yang diatas (bdk Kol’3:1): martabat kita sebagai kristiani membuka didepan cakrawala yang takterbatas dan cerah. Marilah kita mengambil nafas dari udara segar yang berasal dari tanah yang jauh; masa mudah kita menjadi baru, seperti dikatakan oleh kitab suci bahwa masa mudah rajawali menjadi baru (Maz 103:5).

Marilah untuk terakhir kali menyadari kehampaan gagasan kita yang menyedikan, dan meninggalkannya. Marilah kita menyesali yg kita hambur-hamburkan yg membuang ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Kita tidak takut lagi terhadap kesucian dan sekarang kita akhirnya mengakui bahwa hati kita, seperti dikatakan pemazmur, terlalu sering ketakutan padahal kita ada rasa untuk takut.

Marilah kita menyerahkan diri kepada Bunda Maria, Ratu semua orang kudus dan takhta kebijaksanaan, agar gagasan tentang kesucian yang kita miliki makin menjadi jelas, kuat dan lebih konkrit dalam hidup kita.

Kiriman : Elizabeth
Dari Buku Meditasi : Yesus Sebagai Sahabat
sumber

About these ads

About Andreas

"In modico fidelis! — faithful in little things. Your job, my son, is not just to save souls but to bring them to holiness, day after day, giving to each moment — even to apparently commonplace moments — the dynamic echo of eternity." ~ St. Josemaria Escriva Lihat semua pos milik Andreas

Pengunjung yang berkomentar bertanggung jawab atas tulisannya sendiri, semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengedit semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.623 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: