Dasar Sebuah Persahabatan

Tulisan ini merupakan ringkasan dari artikel berseri yang didasarkan pada buku Men, Women and The Mystery of Love. Penulis aslinya, Edward P. Sri memberikan berbagai pemahaman yang mendalam tentang hubungan pria-wanita seperti yang terdapat pada buku Love and Responsibility yang ditulis oleh beato Yohanes Paulus II. Saya akan merangkum tulisan berseri tersebut dalam bahasa Indonesia. Artikel aslinya bisa dilihat disini.

Prinsip Personalistik

Menurut Romo Karol Wojtyla, prinsip mendasar dalam sebuah hubungan  pria dan wanita adalah prinsip personalistik, dimana seorang pribadi tidak boleh diperlakukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir kita sendiri.

Manusia adalah makhluk yang sanggup menentukan dirinya sendiri. Tidak seperti binatang yang bertindak berdasarkan insting, manusia bisa melakukan tindakan dengan bebas. Melalui refleksi diri, manusia bisa menyatakan “inner self” (diri batin) mereka kepada dunia luar melalui pilihan mereka. Memperlakukan manusia sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir kita berarti melanggar martabat manusia sebagai makhluk yang bisa menentukan diri (self-determining)

Mencintai atau Memanfaatkan?

Tantangan terbesar dalam menghidupi dan melaksanakan prinsip personalistik adalah adanya semangat utilitarianisme. Utilitarianisme adalah prinsip yang menjadikan kesenangan (pleasure) sebagai dasar bagi tindakannya, dan menghindari rasa sakit atau penderitaan. Tindakan manusia baru disebut berguna bila tindakan tersebut memberikan kesenangan.  Maksudnya, sesuatu yang berguna haruslah memaksimalkan kesenangan yang diperoleh dan sebisa mungkin menghindari rasa sakit, penderitaan, kerugian, kehilangan dst.

Dalam konteks hubungan pria-wanita, sebuah hubungan dievaluasi berdasarkan sejauh mana orang lain berguna dalam memberikan kesenangan yang kubutuhkan. Hal ini menjelaskan mengapa hubungan persahabatan (bahkan pacaran) sangat rapuh dan mudah rusak, karena bila seseorang tidak mendapatkan kesenangan dari orang lain, maka ia tidak lagi berguna bagiku.

Cinta dan Persahabatan

Terdapat tiga jenis persahabatan menurut Aristoteles :

  • Persahabatan karena kegunaan (friendship of utility) : Afeksi berasal dari keuntungan yang diperoleh dalam sebuah hubungan. Tiap orang mendapat keuntungan yang diinginkannya dalam sebuah hubungan, dan apa yang menyatukan hubungan ini adalah keuntungan yang bersifat timbal balik diantara dua orang atau lebih
  • Persahabatan yang menyenangkan (pleasant friendship) : Afeksi berasal dari teman, dimana teman dipandang sebagai orang yang memberikan kesenangan tertentu. Persahabatan jenis ini lebih memfokuskan tentang “bersenang-senang bersama”. Apa yang menyatukan hubungan ini adalah kesenangan atau “waktu yang baik” yang mereka rasakan bersama-sama
  • Persahabatan yang saleh (virtuous friendship) : Persahabatan antar dua orang atau lebih disatukan karena adanya pengejaran tujuan bersama : “kehidupan yang baik”. Persahabatan ini mengejar sesuatu diluar diri individu yang melampaui minat pribadi, berbeda dengan dua persahabatan sebelumnya dimana hal yang dikejar atau dijadikan tujuan adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri.Tujuan bersama ini, yang adalah kebaikan yang lebih tinggi nilainya, adalah hal yang menyatukan kedua individu. Kalau sebelumnya yang ditekankan adalah apa yang aku dapat dari sebuah hubungan, maka persahabatan ini menekankan apa yang terbaik bagi teman kita.

Fondasi yang Rapuh

Persahabatan jenis pertama dan kedua merupakan jenis persahabatan dengan fondasi yang sangat rapuh dan mudah rusak, karena yang menjadi dasar dari persahabatan tersebut adalah keuntungan atau kesenangan yang diperoleh, serta interest atau minat terhadap hal yang sama. Kedua hal ini merupakan sesuatu yang tidak akan bertahan lama, karena ketika keuntungan atau kesenangan yang sifatnya timbal balik ini tidak lagi diperoleh salah satu pihak, maka tidak ada lagi yang menyatukan persahabatan tersebut.

Begitu pula dengan minat, ketika minat seseorang mengalami perubahan, maka mereka tidak bisa lagi menghabiskan waktu untuk bersenang-senang bersama. Ketika pengalam bersenang-senang bersama tidak lagi dirasakan,  dengan demikian persahabatan tersebut akan memudar.

Apa yang Merusak Sebuah Hubungan

Cara untuk mencegah rusaknya sebuah hubungan dan menghindari prinsip utilitarianisme adalah dengan mengejar sebuah tujuan bersama, seperti pada persahabatan yang saleh (virtuous friendship). Jika orang lain melihat apa yang baik bagiku dan mengambilnya sebagai sebuah kebaikan bagi dirinya, maka “sebuah ikatan yang special didirikan antara aku dan orang itu : ikatan kebaikan bersama dan tujuan bersama” (hal. 28). Tujuan bersama inilah yang menyatukan seseorang secara internal. Ketika kita tidak menghidupi persahabatan ini, maka kita akan memperlakukan orang lain hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir, demi kesenangan atau kegunaan saja.

Persahabatan jenis ketiga ini juga harus ada dalam pernikahan. Ketika seseorang hanya memikirkan dirinya saja, maka orang tersebut menghendaki pasangannya untuk menuruti keinginannya, menjalankan rencananya dan keinginannya saja tanpa mempedulikan istri dan anak-anak. Contohnya, seorang ayah ingin semua pekerjaan rumah beres, ingin menonton sepak bola, membelanjakan uang untuk hal yang penting baginya, dst – tanpa memberi prioritas terhadap apa yang dibutuhkan istri dan anak-anaknya.

Persahabatan yang saleh ini penting dalam sebuah keluarga. Tujuan bersama pada persahabatan ini melibatkan persatuan antar suami-istri, masing-masing saling membantu untuk tumbuh dalam kekudusan, dan prokreasi serta edukasi anak-anak. Suami dan istri harus bekerja sama dalam mencapai tujuan ini serta menundukkan preferensi pribadi terhadap tujuan bersama pernikahan ini. Dengan demikian, seseorang bisa menghindar untuk tidak jatuh dalam prinsip utilitarianisme dimana orang lain digunakan hanya untuk memperoleh tujuan ataupun kesenangan semata.

Next : Dibalik Dorongan Seksual

About these ads

About Cornelius

"The day will come, dear boy, when you must decide whether to die within the Church or outside the Church. I have decided to die within the Church." - Malcolm Muggeridge Lihat semua pos milik Cornelius

Pengunjung yang berkomentar bertanggung jawab atas tulisannya sendiri, semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengedit semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.605 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: