Berjalan Di Atas Air

oleh: Marcellino D’Ambrosio

Satu dari kisah yang terkenal di Kitab Perjanjian Baru adalah tentang Yesus yang berjalan diatas air. Jika ada kisah di Injil yang tidak pernah membosankan, ya kisah ini.

Danau tersebut sangatlah berat. Meskipun beberapa dari para Rasul menghabiskan banyak hidup mereka di kapal, mereka masih khawatir. Tetapi ketika mereka melihat hantu berjalan kearah mereka di atas ombak, mereka menjadi sangat ketakutan. Kemudian sosok tersebut berbicara dan mereka mengenali suara tersebut-itu adalah Tuhan!

Teringat pepatah lama “orang bodoh tergesa-gesa padahal para malaikat takut untuk melangkah?” Dan inilah Petrus: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Tuhan menerimanya. “Datanglah!” Ia berkata. Jadi Petrus mencobanya. Langkah-langkah pertama begitu baik dan ia bersemangat. Tetapi hal lucu-ketika Tuhan mengatakan kepadanya untuk datang, ia lupa untuk meredakan angin dan ombak. Dan Petrus, jauh dari kapal yang aman dan teman-temannya, menemukan dirinya sendiri diterjang oleh angin kuat dan gelombang yang berputar, ketakutan membuat ia sadar. Ia mulai tenggelam. Menginggat Yesus tidak begitu jauh, ia memiliki akal untuk berteriak keras “Tuhan, tolonglah aku!”

Tuhan mengambil ia keluar dan dengan lembut menegurnya. Yesus tidak berkata bahwa Petrus tidak memiliki iman. Malahan, ia memiliki banyak iman daripada kesebelas lainnya-setidaknya ia melangkah keluar dari kapal. Tetapi pernyataan Yesus mengatakan: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Saya pikir kita mencintai cerita ini karena kita bisa dengan mudah melihat hubungannya. Dalam beragam momen antusias yang saleh, kita menyerahkan hidup kita, keinginan kita, dan masa depan kita kepada Allah. “Katakanlah kepadaku Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan dan aku akan menurutinya.” Dan kemudian Ia mengejutkan kita sedikit dengan membawa kita pada tawaran kita. Tak takut, kita merespon panggilan. Bisa saja [merespon panggilan] pada Sakramen Perkawinan dimana memerlukan kesetiaan seumurhidup dan bermurah hati terbuka terhadap [kelahiran] anak. Bisa saja [merespon panggilan] untuk menjadi Imam dan biarawan dimana melibatkan selibat dan ketaatan kepada superior [pemimpin/ kepala biara]. Atau [merespon panggilan] terhadap program sarjana, atau perjalanan dinas pada angkatan bersenjata. Kita seringkali memulai perjalanan kita ditengah-tengah kemeriahan dan ucapan selamat. Kemudian realitas yang keras atas pekerjaan yang berat dan membosankan timbul. Selanjutnya datanglah jalan berbahaya yang tidak diduga-duga. Tidak lebih cepat seorang bayi lahir dengan masalah medis yang serius kemudian anda kehilangan pekerjaan. Sebuah bayi berubah menjadi remaja yang pemberontak yang menolak semua nilai-nilai anda, termasuk iman anda.

Jika kita jujur, kebanyakan dari kita menyadari betapa gelisahnya kita ditengah-tengah situasi seperti itu.

Apakah percaya berarti kebal terhadap perasaan takut dan keputus asaaan? Tidak. Yesus sendiri mengalami kesedihan yang mendalam dan rasa takut didalam Taman Getsemani. Tetapi patut dicatat bahwa Ia tidak dihalangi oleh itu. Ia tidak ragu atau bimbang seperti Petrus lakukan dan seperti yang kita biasanya lakukan.

Iman yang “kecil” berarti iman yang belum dewasa. Iman, agar menjadi dewasa, harus di tempa dengan keberanian, juga biasanya dikenal sebagai ketabahan/ keuletan. Keberanian hanya dimanifestasikan dalam menghadapi bahaya. Jika tidak ada bahaya, tidak ada ancaman, tidak ada pencobaan, maka tidak mungkin [muncul] keberanian. Iman yang dewasa berarti lebih percaya didalam apa yang tidak anda lihat, daripada [percaya] didalam ketakutan yang anda lihat. Itu berarti menjaga mata hatimu tetap pada tuan dari angin dan ombak bahkan saat anda merasakan percikan diwajah anda.

Frasa yang paling sering diulang didalam Injil adalah “Jangan Takut!” disini Tuhan tidak berbicara kepada emosi kita, karena anda tidak bisa memerintahkan emosi. Ia berbicara kepada keinginan kita. Kita harus membuat pilihan yang sadar, untuk tidak membiarkan ketakutan melumpuhkan kita. Petrus tenggelam karena ia berhenti berjalan. Iman berarti tetap berjalan meskipun lututmu bergetar.

 
Refleksi pada bacaan Minggu Biasa ke XIX, (1Raja 19:9, 11-13; Mzm 85;  Roma 9:1-5; Mat 14:22-33)

sumber

About these ads

About Andreas

"In modico fidelis! — faithful in little things. Your job, my son, is not just to save souls but to bring them to holiness, day after day, giving to each moment — even to apparently commonplace moments — the dynamic echo of eternity." ~ St. Josemaria Escriva Lihat semua pos milik Andreas

3 responses to “Berjalan Di Atas Air

  • Ide Bagus

    Sangat menarik ceritanya…bisa diceritain buat anak-anak ku…

  • philosopher

    Dikatakan disitu Tuhan lupa meredakan ombak dan angin? Bagaimana mungkin Tuhan bisa lupa? Apa itu lupa? Tuhan kehilangan akses terhadap memory-nya sementara? Atau Tuhan hilang kemampuan menentukan takdir apa yg akan terjadi jika ombak dan angin tidak diredakan? Tuhan tak sanggup menentukan apa yg akan terjadi dan terikat dg dimensi waktu? Mungkin penulis cerita ini yg lupa :)

    • Andreas

      Shalom,

      Artikel diatas adalah sebuah refleksi, dibuat semudah mungkin untuk dibaca, dipahami dan kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. “Badai” diartikel diatas bisa saja diartikan sebagai kesulitan/ cobaan yang sering kita hadapi di dalam kehidupan sehari-hari, dan terkadang Tuhan mengijinkan “badai” itu terjadi didalam kehidupan kita, bukan karena Tuhan sengaja/ lupa, tapi ada “pelangi” disetiap “badai” yang telah terjadi, yang kita perlukan hanyalah tetap setia dan berharap kepada-Nya.

      salam dan doa,

      andreas

Pengunjung yang berkomentar bertanggung jawab atas tulisannya sendiri, semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengedit semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.621 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: