Kontroversi Pentakosta

IMPRIMATUR
September 11, 1973
Most Rev. Charles R. Koester
Vicar General of St. Louis

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang orang yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata:”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata:”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yude dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Mereka semua tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?” Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel: Akan terjadi pada hari-hari terakhir – demikianlah firman Allah – bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunimu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu. Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.” (Kis 2:1-22)

Jelas bahwa pengalaman Pentakosta dari Para Rasul memberikan mereka kekuatan supernatural di dalam kondisi bahaya dan ancaman, kedamaian di tengah tengah kekacauan, dan kebahagiaan ketika disiksa dan dihina. Mereka melakukan mukjizat mukjizat, seperti menyembuhkan orang sakit; mereka bernubuat; mereka mengajar dengan kuasa; mereka berbicara dalam bahasa roh 1. (Cf. Kis 3:1-10; 4;30; 5:12-16) Semua kemampuan yang dimiliki umat Kristen pertama ini, disebut sebagai karunia karismatik, hadir secara berlimpah di (jaman) Gereja para rasul. Setelah kematian rasul yang terkahir, St. Yohanes, dan 50 tahun kemudian, kekuatan kekuatan ajaib seperti itu ‘umumnya’ tidak nampak lagi. Nubuat dan karunia lidah – dengan beberapa pengecualian pada hidup beberapa orang kudus – tidak lagi terdengar di Gereja Katholik sebagai fenomena masal – sampai dengan 5 tahun lalu.

Hari ini ada kelompok Katholik Pentakosta yang bersikeras bahwa ada pencurahan baru dari Roh Kudus dengan semua karunia KarismatikNya kepada Gereja Katholik. Cukup menarik untuk disimak, bahwa ada klaim yang serupa 70 tahun yang lalu oleh para pendiri denominasi Pentakosta.

Seorang profesor Jesuit, Pastur John Hardon, menjelaskan asal muasal (aliran) Pentakosta modern:

“Sebagai pecahan Kristen Protestant, Pentakostaisme bisa dilacak ke kepemimpinan Edward Irving (1782-1834), seorang imam gereja Presbiterian di London. Irving telah menunjukkan karunia lidah dan beberapa penyembuhan di Glasgow, Skotlandia. Ia melaporkan kepada kongregasinya di London bahwa jika saja orang orang berdoa dengan sungguh sungguh, mereka juga bisa, dipenuhi dengan karunia Roh. Tidak lama kemudian, beberapa anggota parokinya mulai berbicara dengan bahasa yang aneh dan melakukan nubuat…. Pada tahun 1832 ia telah membentuk kongregasi sendiri…. 2

Murid-muridnya, yang dikenal dengan sebutan Irvingites, dengan cepat diikuti oleh Quaker, Shaker dan Mormon, dan sekte sekte lainnya, yang sama sama mengajarkan bahwa tanda tanda eksternal adalah bagian yang penting dari kesatuan kepercayaan dan pengalaman orang Kristen. Di Amerika Serikat perbedaan doktrin yang tajam dimiliki oleh pengikut John Wesley, pendiri dari Methodisme. Catatan Pastur Hardon:

“… (mereka) tidak pernah peduli dengan pernyataan iman yang ortodoks. Pengalaman pertobatan dan buah karunia Roh selalu menjadi hal yang paling penting dalam aliran Wesley.”3

Ketika kelompok Kesucian dari Wesley yang menekankan pada pentingnya “Pembabtisan di dalam Roh Kudus” bertemu dengan murid murid Irving, maka lahirlah aliran Pentakosta Modern.

Aliran Pentakosta yang menekankan pada “Baptisan Roh” kelihatannya berasal dari doktrin Wesley terhadap kepenuhan kekudusan. Sedangkan kaum Puritan percaya bahwa kesempurnaan keKristenan tidak pernah terjadi di kehidupan sekarang, dan pengudusan seutuhnya terjadi hanya pada atau setelah kematian, Wesley berkeyakinan akan adanya kemungkinan orang percaya dapat menerima kepenuhan kekudusan dalam hidupnya. Dan Wesley juga mengamati adanya “penambahan karunia” secara bertahap, bahkan diantara jiwa jiwa yang “sempurna”, pemakaian istilah “pengudusan” yang keliru dimana maksud sebenarnya adalah “kepenuhan pengudusan”, cukup membuat kebingungan diantara pengikut pengikutnya.4

Menurut pengertian kaum Pentakosta awal, orang Kristen yang telah bertobat yang perlu bagi keselamatan, harus mencari sebuah “berkat kedua.” Ini adalah pengalaman lain yang lebih dalam dan memiliki makna sebagai pencapaian “kepenuhan kekudusan” dari orang beriman, yang membuatnya dapat hidup yang sempurna secara moral, tidak lagi terpengaruh oleh desakan “dosa asal.”5 Beberapa penulis dari sekte Kesucian terus menjelaskan pengalaman khusus ini sebagai “Pembabtisan di dalam Roh Kudus.” Meskipun berkat kedua ini lebih berwujud pengalaman emosional bagi orang yang menerimanya, tapi memiliki peran penting dan bersifat subjective. Para penulis ini tidak menyebutkan adanya kesadaran akan tanda eksternal dimana saksi mata bisa mengetahui bahwa “berkat kedua” sedang diberikan. Kemudian :

“Kejadian paling dramatis dalam sejarah aliran Pentakosta terjadi di malam Tahun Baru tahun 1900. Sebelum Charles Fox Parham, seorang penginjil pemula, pergi untuk sebuah perjalanan misi, ia menyuruh murid muridnya di Rumah Penyembuhan Bethel di Topeka untuk menyelidiki hal baptisan dalam Roh Kudus. Ketika ia kembali, mereka memberi tahu dia bahwa karunia lidah adalah (efek) yang pasti dari baptisan Roh ini. Mereka meminta dia untuk meletakkan tangannya di atas salah satu anggota, nona Oznam. Saat ia melakukannya, wanita tersebut “dipenuhi oleh Roh Kudus” dan mulai berkata kata dalam beberapa bahasa, disamping berbicara dalam bahasa lidah dimana tak seorang ahli bahasa pun bisa mengerti. Tidak lama kemudian, hampir semua murid di Bethel menjadi memiliki karunia yang sama, dan mereka pergi untuk mewartakan injil yang baru kepada semua orang yang mau mendengarkan mereka.”6

Dapat disimpulkan: (orang dari aliran) Pentakosta percaya bahwa pengalaman Pentakosta pertama dialami oleh Para Rasul seperti tertulis di Kisah Para Rasul di Perjanjian Baru, yang adalah pengalaman yang lumrah dialami oleh semua orang beriman pada Gereja Rasuli awal, dan bahwa semua orang beriman sekarang berhak, dan harus berusaha mendapatkan, pengalaman yang serupa yang diberi nama “Pembabtisan di dalam Roh Kudus.” Mereka kemudian juga percaya, bahwa pada hari Pentakosta, pencurahan Roh Kudus ditandai dengan tanda eksternal yaitu glossolalia, yaitu, kemampuan untuk berbicara dalam bahasa lidah yang aneh. Meskipun masih ada kebingungan diantara orang Protestant dan Katholik Pentakosta terhadap apakah glossolalia sebagai tanda pertama dari baptisan Roh harus benar benar dibedakan dengan karunia berikutnya, karunia lidah atau berdoa dengan bahasa roh yang bersifat permanen (yang mana tidak semua orang menerimanya), terlihat bahwa aliran Pentakosta mula mula tidak mengenal istilah “Baptisan di dalam Roh” kecuali disertai dengan tanda glossolalia7. Kemudian, pandangan Pentakosta inilah yang akhirnya memasuki pikiran religius dari Katholik Pentakosta – dan mempengaruhi seluruh pengalaman religius mereka.

Menarik untuk dicatat, bahwa aliran Pentakosta tumbuh dengan kecepatan yang mengagumkan di seluruh dunia. Pengikutnnya diperkirakan berkisar antara 14 sampai 20 juta orang. Mereka memiliki kebanggaan pada denominasi mereka karena faktanya gerakan mereka bertumbuh 9 kali lebih cepat daripada denominasi Kristen lainnya. Di Amerika Serikat, umat Katholik Roma yang terlibat langsung dalam Gerakan Pentakosta bervariasi antara 15 sampai 50 ribu orang (bahkan lebih menurut perkiraan beberapa penulis dan media).

Mungkin kita perlu membedakan antara:
1. Aliran Pentakosta (terdiri dari sekitar 200 kelompok Protestant di A.S. – yang paling menonjol adalah ‘Assembly of God’ yang memiliki setengah juta pengikut di A.S., dan satu juta pengikut di negara yang lain; peringkat kedua adalah ‘Church of God’);
2. Aliran Neo-Pentakosta di gereja gereja Protestant terkemuka (diperkirakan sekitar 1700 pastur dari aliran Episkopal, Lutheran dan gereja gereja lain mengajarkan konsep Pentakosta diantara pengikut pengikut mereka); dan
3. apa yang disebut Katholik Pentakosta yang memiliki 350 kelompok doa karismatik di A.S dan Kanada, yang menerbitkan majalah mereka sendiri ‘New Covenant’ yang disponsori oleh Komite Nasional bagi Gerakan Karismatik Katholik.8

Gerakan Katholik Pentakosta bermula ketika empat orang Katholik awam di Universitas Duquesne mengikuti perkumpulan doa Pentakosta yang diadakan oleh kelompok Episkopal dan Presbiterian di Pittsburgh bulan Februari 1967. Keempat orang Katholik ini meminta penumpangan tangan atas mereka. Sebuah kelompok doa kemudian didirikan di Universitas Notre Dame. Di bulan Januari 1971, diadakan sebuah Konferensi Pembaharuan Karismatik yang memiliki 4,000 anggota, seperempatnya adalah romo dan suster. Di bulan Februari 1973, 2,000 pemimpin kelompok Katholik Pentakosta di 13 negara bagian di Timur A.S, Kanada dan Puerto Rico menghadiri Konferensi Regional untuk Daerah Timur dari Gerakan Pembaharuan Karismatik. Kemudian dilaporkan 22,000 orang menghadiri pertemuan nasional Pentakosta di Universitas Notre Dame pada awal Juni 1973. Beberapa Uskup juga turut ambil bagian, dan Uskup Arthur J. O’Neil dari Rockford, Illinois telah membentuk paroki khusus bagi anggota “Komunitas Roh Kudus” yang memiliki “Perjanjian Umat Terjanji” (“Covenant Agreement”) berikut ini:

“Kami mengikat diri kami, oleh ajakan Tuhan untuk hidup bersama dengan kami, dalam Kristus Tuhan dan Penyelamat Kami, oleh kuasa Roh Kudus.

Kami setuju untuk menjadi sebuah komunitas basis Kristen, untuk mendapatkan dalam persaudaraan (fellowship, koinania [sic]) ini essensi dari Kehidupan di dalam Roh, dalam penyembahan dan sakramen sakramen (Eucharistia), panduan spiritual dan moral (kerygma dan didache), pelayanan dan aktifias kerasulan (diakonia).

Kami berharap Tuhan akan membangun semua struktur dan peraturan dalam komunitas ini melalui bimbingan karunia-karunia Roh Kudus, berdasarkan karunia yang diberikan kepada Para Rasul, pastur-pastur, nabi-nabi, guru-guru dan penginjil-penginjil.

Kami bertekad untuk mengikuti petunjuk dari Roh Kudus yang tinggal dan (berbicara) melalui bimbingan (karuni-karunia) ini dalam keharmonisan yang penuh dan juga dalam keharmonisan dengan dan dibawah bimbingan spiritual dari Uskup Rockford. Di titik ini, kami sebagai anggota umat terjanji (covenant), bertekad untuk secara terus menerus berdoa dan mencari Baptisan Roh Kudus.

Kami mengakui hubungan yang unik antar anggota di dalam (komunitas) kaum terjanji ini, dan juga antara tiap individu dengan komunitasnya (masing masing), dan (antara) komunitas kaum terjanji ini dengan semua orang beriman dalam Keuskupan Rockford.

Semua ini adalah bentuk tanggung jawab kami terhadap tugas yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita semua: untuk menjadi satu keluarga yang baru, anggota dari Tubuh yang sama, Saudara dan Saudari yang bekerja dalam misi yang sama yang dipercayakan olehNya kepada kita (semua) sebagai seorang Manusia.
Kami mengerti bahwa kami harus mendukung kehidupan komunitas dengan spiritualitas kami, (dalam bentuk) materi dan sumber-sumber keuangan.

Kami setuju untuk mengikuti jadwal-jadwal pertemuan, liturgis, doa, dan persahabatan (fellowship), dan berkomitment untuk (selalu) hadir kecuali karena alasan alasan yang benar benar mendesak.”9

Pada tanggal 14 November 1969, Komite Doktrin dari Konferensi Nasional Para Uskup Katholik mengeluarkan sebuah pernyataan yang dapat dikatakan mewakili kebijakan keseluruhan keuskupan tentang Katholik Pentakosta. (Pernyataan) tersebut bersifat memperingatkan, namun secara keseluruhan dapat dikatakan cukup disukai:

Agaknya terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan yang pasti tentang fenomena (yang terjadi) dan masih diperlukan penyelidikan ilmiah…… Harus diakui bahwa secara teologis gerakan ini memiliki alasan yang kuat untuk didirikan. (Gerakan ini) memiliki dasar alkitab yang kuat. Adalah mustahil untuk menghalangi karya Roh yang memanifestasikan dirinya sendiri secara melimpah ruah pada masa Gereja awal. Para pengikut gerakan Katholik Pentakosta mengklaim bahwa mereka menerima beberapa karunia karismatik. Dan diakui, bahwa ada penyalah-gunaan (karunia karunia karismatik tersebut), namun perbaikan (kesalahan kesalahan tersebut) tidak (secara otomatis) meniadakan kenyataan bahwa (kesalahan kesalahan tersebut) memang ada, melainkan hanya menunjukkan bagaimana cara yang benar (untuk menggunakan karunia karunia tersebut). Kita masih memerlukan penelitian lebih lanjut tentang karunia karunia karismatik. Tentunya, Konsili Vatikan yang terakhir mengasumsikan bahwa Roh (Kudus) aktif (berkarya) di dalam Gereja.

Mungkin cara paling praktis untuk mengetahui ke-valid-an gerakan Pentakosta adalah dengan mengamati efek yang terjadi pada orang orang yang ikut berpartisipasi dalam persekutuan doa. Ada banyak indikasi bahwa partisipasi mereka (dalam persekutuan persekutuan doa) membuat mereka lebih mengerti peran orang Kristen di dalam Gereja. Banyak orang telah mengalami kemajuan hidup spiritual. Mereka menjadi lebih tertarik untuk membaca kitab suci dan memperoleh pengertian yang lebih dalam akan imannya. Pola devosi mereka juga bertumbuh, seperti devosi terhadap Kehadiran Nyata (Ekaristi) dan (berdoa) rosario.

Komite Doktrin telah memutuskan bahwa pada saat ini tidak diperlukan pengekangan terhadap gerakan ini. namun tetap diijinkan untuk bisa berkembang dan menjadi dewasa. Namun perlu menunjukkan ke hati hatian. Bimbingan yang layak dapat secara efektif dilakukan jika para uskup selalu ingat akan tanggung jawab pastoral mereka untuk mengantisipasi dan membimbing gerakan ini di dalam Gereja. Kita harus menjaga mereka untuk tidak jatuh kedalam kesalahan klasik Pentakosta. Kita harus menyadari bahwa dalam kultur kita ada kecenderungan untuk menggantikan doktrin dengan pengalaman religius. Pada prakteknnya kami merekomendasikan para uskup untuk menunjuk pastur pastur yang cermat dan berhati hati untuk terlibat dalam gerakan ini. Penyertaan dan bimbingan ini akan diterima dengan baik oleh (gerakan) Katholik Pentakosta. 10

Keputusan dari komite para uskup sudah berumur tiga setengah tahun. Namun tidak kunjung menjadi sebuah keputusan yang wajib untuk dilaksanakan dan kelihatannya tidak dikomunikasikan kepada uskup uskup lain, theolog, dan seluruh umat yang, seperti akan ditunjukkan dibawah ini, memiliki alasan yang kuat tidak hanya untuk khawatir terhadap gerakan yang sejenis, namun juga mengharapkan agar kegiatan ‘karismatik’ yang mereka lakukan dievaluasi.

Juga, Cardinal Belgia Leo Joseph Suenens, yang sering berkunjung ke Amerika dan sering mendukung bermacam macam kegiatan harus mengucapkan kata kata berikut ini pada hari Minggu, 3 Juni 1973 pada acara pertemuan “roh” Pentakosta yang terbuka untuk umum di Notre Dame:

“Saya melihatnya [Pentakostalisme] memiliki kekuatan yang dahsyat, tumbuh dengan subur dimana mana… Dan bukan menjadi fenomena di Amerika Serikat saja, tapi juga di negara negara lain. Sekarang ini adalah fenomena dunia… Ini adalah trend pewartaan injil yang baru dalam realita yang sederhana (praktis). Ini adalah sebuah jawaban terhadap keinginan orang untuk melatih iman secara spontan dan mengekspresikannya sehingga mereka dapat merasakannya.”

Penulis dari AP religion, George W. Cornell menulis bahwa Cardinal Suenens:

“…[yang adalah] seorang pemimpin terkemuka dalam Gereja Katholik Roma dan seorang tokoh kunci reformasi yang dipelopori oleh Konsili Vatikan II tahun 1962-1965, berkata bahwa Konsili tersebut membuka jalan bagi pembaharuan, tapi “buah” dari roh menghadirkan isi yang essential baginya.” (Globe Democrat, 6/4/73)

Catatan berikut ini sangat penting artinya bagi fenomena Pentakosta dalam Gereja. Penulisnya berusaha menjelaskan bahwa ia tidak berusaha mengambil alih autoritas Gereja yang memiliki hak prerogative untuk menentukan apakah suatu fenomena karunia supernatural (yang terjadi) diantara umat beriman valid dan otentik (atau tidak). Ia juga tidak berusaha untuk bersikap netral dengan tidak ikut mengutuk motivasi dari orang orang yang terlibat dalam gerakan Katholik Pentakosta.

Penulis ini berusaha untuk mengingat catatan dari penulis spiritual Rusia yang bijak, Uskup Ignatius Brianchaninov, bahwa “Membenahi (kesalahan) teman dengan cara memarahi atau mengkritik dia tidak selalu tepat secara iman, namun adalah ungkapan amarah yang konyol, pendapat pribadi dan kesombongan.” Menghakimi seseorang itu adalah tanggung jawab dari mereka yang memiliki beban tugas untuk mengatur umat. Meskipun demikian, kisah kisah “charismatic” yang sedang terjadi di dalam Gereja – apapun bentuknya – mempengaruhi semua orang Katholik dengan satu cara atau lainnya karena keotentikan fenomena Pentakosta berasal dari luar komuni (persatuan) yang kelihatan dengan Tahta Petrus dapat membawa pertanyaan terhadap kredibilitas Gereja Katholik sebagai Gereja sejati yang satu dari Yesus Kristus. Dan jika (gerakan) “pembaharuan karismatik” dari (golongan) Katholik Pentakosta adalah perkembangan yang salah secara essensi dan berbahaya secara spiritual di era setelah Konsili, maka akan melukai Gereja dan umat. Karena alasan ini, maka umat diwajibkan untuk meneliti dengan seksama gerakan dari umat Katholik Pentakosta ini dengan penuh kehati hatian.

Pastur John Hardon, S.J., dalam jawabannya untuk Konferensi Tahunan para biarawan/wati Kesukupan Agung New York:

“Ada suara yang mengatakan bahwa kita harus mengijinkan gerakan Pentakosta dan melihat apa yang akan terjadi kemudian. Tapi ini tidak sesuai dengan budaya Kristen yang penuh kehati hatian. Jika, seperti yang saya percayai, Pentakosta jaman-akhir memiliki kesamaan secara essensi dengan Gnostikisme, Montanisme dan Illuminisme, kita tidak menghakimi orang secara moral tapi kita secara berhati hati menghakimi sebuah ideologi.”

Ideologi ini, disebut oleh Pastur Hardon, mengandung ketidak cocokan spiritual dengan doktrin Katholik dan semangat tradisional Katholik. Mungkin inilah masalah utamanya. Contoh-contoh gerakan heretik yang terjadi dalam sejarah ke-Kristenan yang mengandung penyimpangan mendasar – Gnostik dan Montainis pada masa Gereja awal, Illuminis dari periode Reformasi yang dibahas semuanya dalam karya klasik Pastur Ronal Knox “Entusiasme” – sekarang menjadi inti dari yang sekarang kita sebut dengan “pengalaman Pentakosta”; yaitu, bahwa kehadiran nyata Allah, yang dahulu bersifat iman, sekarang bersifat sebagai pengalaman sehari hari. Klaim dari Katholik Pentakosta kontemporer dijelaskan dengan gamblanng oleh Pastur Hardon:

Seperti Minggu Pentakosta, demikian juga kelunturan Roh menjadi terlihat nyata. Kenyataan ini menunjukkan dirinya sendiri dengan tiga cara:

a. Dalam pengalaman personal yang dirasakan seseorang karena Roh, yang ada pada orang orang yang menerima Dia. Kualitas dari (pengalaman personal) ini digambarkan secara beragam; namun dapat digolongkan menjadi satu atau lebih pengalaman internal berikut ini: kedamaian jiwa yang mendalam, kegirangan hati, penghapusan kegelisahan dan ketakutan, keyakinan yang kuat terhadap apa yang dipercayai, doa devosi, ketenangan emosi, merasa benar benar eksis secara spiritual, kemurahan hati, dan, secara umum, perasaan dekat dengan Tuhan, yang dikatakan, belum pernah dialami atau hanya sekali sekali dialami secara sporadis.
b. Bersama sama dengan fenomena batin, turut berperan juga dalam memberi karunia, manifestasi eksternal yang dapat dilihat oleh orang lain. Yaitu bahasa lidah yang asing, karunia bernubuat, dan kuasa penyembuhan, dan kelihatannya juga, segala macam karunia karismatik yang tertulis di Kisah Para Rasul dan surat surat St. Paulus.
c. Dari kedua fenomena, pengalaman internal dan manifestasi eksternal, muncul inspirasi yang diberikan oleh Roh untuk mengkomunikasikan karunia-karunia tersebut kepada orang-orang lain. Biasanya orang yang dirasuki oleh Roh menjadi media komunikasi; ia menjadi penerus pesan dari Roh kepada orang orang yang lain dan semangatnya dalam mengambil peran dalam karya misi adalah bagian dari perubahan yang diakibatkan oleh kunjungan Tuhan padanya.11

Dapat dicatat bahwa “baptisan Roh” yang dianggap memberikan sebuah pengalaman hubungan yang lebih dalam dan intim dengan Roh Kudus biasanya diperoleh melalui peletakan tangan, dan ini berada di luar acara persekutuan doa. Yang biasa terjadi adalah, seorang individu dapat meminta peletakan tangan kepada sebuah kelompok doa sebagai persiapan “baptisan Roh.”

Menarik untuk dicermati bahwa kelompok-kelompok Katholik Pentakosta seringkali mengadakan pertemuan pertemuannya di kampus universitas dan juga di ruang pertemuan Gereja dan rumah rumah pribadi. Urutan acara di pertemuan Pentakosta yang demikian bisannya adalah: Peserta mula-mula berdoa dalam hati dengan caranya sendiri-sendiri. Kemudian seorang anggota kelompok melengkapinya dengan doa syukur dan pujian. Kemudian akan dibacakan satu ayat Alkitab, dan kemudian doa secara spontan berdasarkan ayat yang baru dibaca. Seorang akan bermazmur atau bernyanyi, dan yang lainnya boleh ikut atau tidak ikut bernyanyi. Kemudian disampaikan beberapa kesaksian, misalnya, beberapa orang akan menceritakan beberapa kejadian yang menakjubkan yang terjadi pada mereka sehingga mereka menyadari pengampunan Tuhan, kasih, dan kehadiranNya. Banyak cerita “penyembuhan” ajaib yang patut dipertanyakan. Seorang anggota kemudian tiba tiba mulai bernyanyi dengan lembut dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti. Orang disebelahnya dapat mulai bernyanyi sebagai sebuah “interpretasi,” atau anggota yang lain akan menyampaikan “interpretasi.” Salah seorang akan menyampaikan “nubuat.” Alat musik seperti gitar dan drum biasanya dipakai, terutama jika pesertanya kebanyakan adalah kaum muda. Pada akhir pertemuan, mungkin mereka akan saling bertukar “ciuman perdamaian” termasuk pelukan kasih yang hangat dan ciuman. Hampir keseluruhan atmosphere persekutuan, meskipun tidak seemosional kelompok Protestannt, tidak bisa disangkal, dapat diberi label sebagai pertemuan kebangunan (rohani) (revivalist camp meeting).

Peran sentral dari “Baptisan Roh” yang ada dalam spiritualitas Pentakosta, seperti yang ditulis oleh Pastur F.A. Sullivan, S.J.:

….. “Baptisan Roh” ini menimbulkan sensasi baru kedekatan kepada Tuhan; kesenangan baru dalam doa dan membaca Alkitab; kemampuan baru untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai orang Kristen yang sebelumnya dirasa sulit atau tidak mungkin (dilakukan). Unsur yang selalu ada dalam semua arus baru ini mungkin paling tepat digambarkan sebagai satu kuasa yang tidak dimiliki seseorang sebelumnya dan hanya bisa dijelaskan olehnya sebagai karya Roh Kudus. Dalam banyak kasus kekuatan baru ini juga akan memunculkan diri dalam model karunia karismatik, yang paling sering adalah kemampuan berbahasa lidah.12

Sekali lagi kita berhadapan dengan problem fundamental: Apa yang kita mengerti dengan semua baptisan-Roh, glossolalia-Roh, penyembuhan-Roh, inspirasi-Roh, dan fenomena fenomena yang tidak lazim yang kelihatannya didapat melalui peletakan tangan oleh orang orang yang dipenuhi dengan Roh pada pertemuan pertemuan Katholik Pentakosta?

Di tahun 1971, Uskup Agung (sekarang Kardinal) Timothy Manning dari Los Angeles merasa tepat untuk menulis sebuah surat pastoral yang jelas memperingatkan orang Katholik karena “(keterlibatan) emosi yang keterlaluan, mudah ditipu, menyukai slogan-slogan karismatik (yang) mempertanyakan kehadiran aktif Roh (dalam baptisan air) dan memuja-muja tokoh yang kurang stabil.” Akhir-akhir ini, dalam Audensi Umum, 28 Feb 1973, Bapa Suci kita Paus Paulus VI mengkritik mereka yang menghargai “elemen Karismatik sebagai agama diatas institusi yang sebenarnya.” Ia melanjutkan untuk menegur mereka yang:

Terlibat dalam pencarian… fakta spiritual yang didalamnya terdapat sebuah energi asing yang tidak jelas, yang pada batas batas tertentu, memaksa mereka yang mengalaminya untuk percaya bahwa ia sedang berkomunikasi dengan Tuhan, atau lebih umum dengan keTuhanan, dengan Roh, yang tidak jelas. Apa yang dapat kita katakan dengan semua ini? Kita melihat bahwa kecenderungan seperti ini sangat beresiko, karena mengarah ke daerah dimana sugesti pribadi, atau pengaruh hal hal fisik yang tidak dapat diduga, dapat membawa (kita) kepada kesesatan spiritual.

Sangat besar kemungkinan adanya ilusi spiritual (ketika seseorang mencoba) untuk bisa merasakan rahmat (Tuhan). Para penulis spiritual terbaik dan ahli theologi tradisi Katholik, para Doktor Gereja yang hebat seperti St. Yohanes yang di Salib dan St. Teresia dari Avila, terus menerus memperingatkan umat beriman akan bahaya rayuan spiritual, kebohongan spiritual, dan menipu diri sendiri tentang adanya karunia spesial. Dengan kata lain, para ahli kehidupan spiritual secara terbuka menentang spiritualitas Pentakosta baru yang mementingkan pencarian tanda-tanda nyata (sebagai bukti) kehadiran dan tindakan Allah. Dan pendapat theolog-theolog besar tentang kehidupan spiritual seperti inillah yang dianggap tidak relevan oleh apologist (gereja) Pentakosta yang terkemuka seperti Pastur Edward D. O’Connnor.13

Sangat wajar bahwa di jaman dimana desakan kebingungan spiritual, keraguan dan kekuatiran, orang-orang mencari kepuasan spiritual dan kepastian, dengan mencari pembenaran dogma Kristen dalam hidupnya masing masing melalui “pengalaman Pentakosta”; namun ada banyak bahaya. Literatur Pentakosta mengakui kekeliruan-kekeliruan, kesalah pahaman, kesalahan dan ketidak teraturan yang menemani perjalanan spiritual dari entusiasme mereka – bukan oleh mereka yang disebut sebut sebagai cenderung anti-hierarki dan anti-institusi Gereja yang membentuk tingkah laku, contohhnya, Pastur Robert Wild yang pro-Pentakosta terpaksa mengakui:

….. adalah benar untuk berkata bahwa hampir semua tendensi-tendensi yang tidak sehat (interpretasi fundamental terhadap Alkitab, para-clericalisme, kekerasan moral yang memecah belah) ada dalam berbagai tingkat dalam (gerakan) pembaharuan karismatik hari ini, sama seperti yang terjadi di abad kedua. Hanya waktu yang dapat membuktikan apakah mereka – aliran-aliran dan sekte-sekte sesat yang tidak memiliki nama – akan menjadi besar dan makin masuk ke dalam kesesatan. Literatur-literatur yang ada dapat menunjukkan bahaya tersebut.14

Lebih lagi, efek dari baptisan bayi pada orang Kristen yang normal diabaikan atau dianggap tidak berarti dibandingkan dengan “Baptisan Roh Kudus” yang kurang alkitabiah yang secara theologi sebenarnya sangat membingungkan. Orang Katholik mengerti (dalam iman) bahwa seseorang yang sudah menerima sakramen Baptis telah hidup dalam sebuah kehidupan penuh rahmat meskipun Tuhan dan rencanaNya tidak hadir dalam bentuk fenomena yang luarbiasa. Dengan penekanan pada pentingnya “Baptisan Roh Kudus” yang dianggap (kualitasnya) jauh (lebih tinggi), Sakramen Baptis dan Penguatan benar benar diturunkan statusnya menjadi kelas kedua. Beberapa orang Katholik Pentakosta tidak sungguh-sungguh mengerti bahwa:

“karunia pertama (yang diterima dalam (Sakramen) Permandian Suci) biasanya memang tidak disertai dengan manifestasi karismatik; dan kriteria tersebut (manifestasi karismatik) tidak dapat dipandang sebagai kriteria seseorang mengalami kepenuhan hidup dalam Roh.”15

Praktek karunia lidah yang yang dilakukan oleh (gereja) Pentakosta ternyata tidak memiliki dasar theologis yang kuat. Di Kis 2:1-22, karunia lidah dapat lebih tepat disebut sebagai fenomena mukjizat. St. Petrus dan para Rasul lainnya berkata kata dengan suara yang lantang dan dengan bahasa yang jelas, dan berkat kuasa Tuhan, didengar juga dengan jelas dan dapat dimengerti oleh orang-orang asing yang hadir disitu. Karunia lidah yang dimiliki mereka bukanlah gumaman yang tidak jelas seperti yang terjadi di pertemuan pertemuan Pentakosta. Di 1 Korintus 14, referensi tentang bahasa lidah yang asing juga menyatakan (bahwa mereka) berucap dengan suara (bahasa) yang jelas. Dan, seperti penjelasan St. Paulus, bahasa asing yang diucapkan oleh mereka yang tidak pernah mempelajari (bahasa) tersebut, ditujukan oleh Tuhan sebagai tanda bagi orang orang yang tidak percaya. Bagaimana mungkin suara gumaman yang benar benar tidak jelas dapat menjadi sebuah tanda karya Tuhan bagi orang orang yang tidak pernah mengerti artinya. St. Paulus juga mengatakan kepada kita, bahwa “berkata kata dalam bahasa lidah yang asing” kurang bermanfaat jika dibandingkan dengan “karunia bernubuat,” dan bahwa ia lebih baik mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti kata kepada umat, untuk mengatur mereka, daripada 10,000 kata dalam “bahasa lidah.” Saatnya bagi umat Korintus, yang sedang diingatkan karena berbagai kekacauan dalam kehidupan gerejanya, untuk bersikap dewasa !

Juga perlu dicatat, terutama jika kita melihat apa yang benar benar terjadi di pertemuan Katholik Pentakosta, bahwa ajaran St. Paulus berikut ini telah diabaikan:

Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah (mereka berkata kata) dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat (Gereja) dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah…perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat (Gereja). Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat (Gereja).16

Point penting yang ingin ditekankan adalah bahwa sama sekali tidak ada bukti bahwa bahasa lidah yang digunakan pada [setiap] pertemuan Pentakosta termasuk dalam salah satu bahasa di planet ini yang (dapat) dimengerti. Padahal kejelasan sangat dibutuhkan ketika mengajarkan Alkitab!

Bagi banyak orang, hal yang paling menarik dari (hari) Pentakosta adalah berkata-kata dalam bahasa lidah seperti yang digambarkan di Kis 2:1-21. Banyak klaim yang berusaha memparalelkan kejadian ini dengan apa yang dialami orang-orang Kristen masa sekarang. Namun sekali lagi, kejadian kerasukan ini, seperti yang diyakini oleh sebagian besar ahli Alkitab terkemuka, bahwa kejadian Pentakosta terjadi pada Para Rasul (dan Bunda Tuhan), dan tidak dialami oleh 120 orang Kristen (awal) seperti yang disebutkan di Kis 1:15.17

Pada mulanya kejadian Pentakosta adalah sebuah manifestasi dari Roh diantara anggota-anggota hirarki Apostolik, dan jika kita ingin menganggapnya sebagai sebuah model bagi karunia lidah di masa depan, maka karunia lidah ini seharusnya juga (hanya) terjadi diantara anggota hirarki (Gereja)! – dan tidak kepada semua Tom, Dick dan Harry, atau, seperti sekali pernah dikatakan oleh Martin Luther:

“Tidak ada orang dusun yang sangat kasar kecuali ketika ia memiliki mimpi dan harta ia berpikir bahwa ia sendiri (telah) terinspirasi oleh Roh Kudus!”18

Sekarang mengenai definisi modern tentang karunia “nubuat” (kenabian) (dan kenabian / nubuat disini ditafsirkan secara alkitabiah, tidak mengarah kepada ramalan terhadap masa depan, tapi lebih kepada keberanian dan tekad untuk mewartakan fakta tentang Kristus kepada orang-orang), yang sangat meresahkan adalah dalam pertemuan pertemuan Katholik Pentakosta (yang sering juga dihadiri oleh banyak orang Protestant) doktrin-doktrin Katholik yang unik (hanya ada di Gereja Katholik), contohnya, (kepemimpinan) Paus, kesatuan Gereja yang kelihatan, devosi kepada Perawan Bunda Allah, penghormatan dan intersesi orang-orang Kudus, Kehadiran Nyata Kristus dalam (Sakramen) Ekaristi, dll, ternyata tidak pernah ada. Pada kenyataannya, doktrin-doktrin tersebut sama sekali tidak pernah disinggung, dan terkesan diredam dengan alasan untuk “kebersamaan eukumene” dimana konsep satu Gereja Kristen yang nyata dan kelihatan, yang terdiri dari umat yang sejati yang seharusnya menjadi prioritas bagi umat Katholik yang berpartisipasi (dalam pertemuan-pertemuan tersebut), yang mendasarkan diri pada institusi Gereja Katholik yang nyata dan selalu hadir sepanjang sejarah yang didirikan oleh Kristus sendiri diatas Petrus: Gereja yang (oleh Konsili) Vatikan II dikatakan memiliki “kepenuhan rahmat dan kebenaran Kristus.”19

Suatu hal yang merisaukan dan dapat menjadi bahan perenungan bahwa salah satu pendiri dan penulis terkemuka dari Gerakan Katholik Pentakosta adalah Kevin Ranaghan. Di tahun 1968 ketika “Humanae Vitae” diterbitkan oleh Tahta Petrus, Mr. Ranaghan termasuk salah satu dari 600 orang yang menandatangani pernyataan menentang doktrin yang diajarkan oleh ensiklik Paus! Apakah Mr. Ranaghan sedang dibimbing oleh Roh Kudus ketika ia melakukannya? [Untungnya, setelah Mr. Ranaghan diangkat sebagai deacon, ia menarik kembali (pernyataan) penolakannya. – J.L.]

Yang cukup merisaukan juga adalah adanya fakta bahwa Katholik Pentakosta percaya adanya kemungkinan untuk memperoleh pengalaman kehadiran Roh Kudus melalui “keajaiban yang instant” – seperti saklar tekan. Namun dari kisah hidup orang orang suci kita tahu bahwa karunia spesial untuk dapat mengenal dan mengerti Roh Kudus memang nyata; namun biasanya (didapatkan) setelah menjalani hidup suci yang ketat; yaitu, setelah banyak melakukan penyembahan, doa, menerima buah buah Sakramen, mati raga dan laku tobat yang lain.

Bukan rahasia lagi bahwa banyak anggota dari “gerakan karismatik” mempunyai latar belakang psycho-neurotic dan gangguan emosi dan/atau pernah mengalami kekeringan spiritual. Sangat dapat dimengerti jika mereka berusaha untuk menginterpretasikan segala sesuatu yang “baru,” mengugah gairah” atau “tidak biasa” sebagai (karunia) kharisma yang otentik.

Contohnya, Dr. Josephine Ford, salah satu pemimpin (kelompok/gerakan) Katholik Pentakosta di Universitas Notre Dame, telah menulis :

Banyak orang berbicara tentang “perminyakan” yang dilakukan Tuhan. Artinya ada perasaan tertentu ketika menerimanya. Beberapa orang merasa tangannya terbakar atau merasakan sebuah sensasi tertentu diantara kedua pundaknya… Walaupun perminyakan ini dapat benar benar terjadi, namun kelihatannya tidak mutlak diperlukan, dan kita harus berhati hati bahwa (sensasi) itu tidak muncul dari kebutuhan psikologis atau dari kebutuhan (untuk mendapatkan) identitas diri.19

Diatas tadi adalah nasihat yang baik, dan seharusnya berlaku untuk segala sesuatu yang dinamakan dengan fenomena Pentakosta. Jika nasihat tersebut benar benar dilaksanakan, hampir semua hal yang disebut sebagai “karunia” Pentakosta dapat dituntut untuk memberikan penjelasan yang semestinya. Ini tidak bermaksud mengingkari bahwa beberapa karunia benar benar telah diberikan kepada (umat) Pentakosta, dan bahwa beberapa kebutuhan spiritual telah dipuaskan. Seperti yang ditulis oleh Pastur Hardon, S.J., orang perlu berpendirian :

Pentakostalisme bukan hanya sekedar sebuah gerakan biasa saja; namun adalah sebuah ideology, ditandai dengan akhiran “isme” yang melekat padanya. Dan seperti (semua “isme” yang lain) menghasilkan lebih banyak problem obyektif daripada penyelesaian (problem) subyektif. Dengan kata lain, meskipun memberikan kelepasan simptomatik bagi sebagian orang, namun juga menghasilkan isue-isue yang baru, lebih dalam menggerogoti Iman Katholik dan ekspresi otentik dari umat.20

Tidak diragukan lagi bahwa salah satu dari isue (tentang iman) ini adalah keinginan dari karismatik kontemporer akan pengakuan bahwa mereka telah diperbaharui dan disembuhkan secara spiritual padahal mungkin sekali mereka tidak mengalaminya !

Sayangnya, banyak (kelompok/anggota) karismatik kita tidak dapat membandingkan pengalaman yang mereka alami sekarang dengan pengalaman orang-orang Kudus Allah – (karena) mereka tidak mengenal (cara) hidup dan hasil pekerjaan para Kudus. Jadi mereka tidak mungkin bisa membandingkan kemandegan status religius mereka dengan entusiasme Katholik yang sejati.

Seringkali, mereka tidak sadar bahwa Setan memiliki kemampuan untuk melakukan “tanda-tanda dan mukjizat” untuk menyesatkan bahkan umat terpilih (Mat 24:24) dan menciptakan ilusi perasaan spiritual yang menyenangkan agar keinginannya tercapai. St. Ignasius dari Loyola mengajarkan kita bahwa roh pendusta ini dapat menciptakan kebajikan-kebajikan semu – “kasih,” “kesabaran,” “kebahagiaan,” “harapan,” dll. – karena dia (setan) adalah pendusta yang hebat. Kesaksian dari sejarah (Gereja) Katholik adalah bahwa apa yang disebut dengan ilusi (seperti itu) yang tidak didasarkan pada iman dan kepatuhan kepada doktrin Apostolik dan autoritas (mengajar Magisterium) dibaliknya terkandung kesombongan dan keserakahan spiritual. Injil telah menegaskan bahwa Setan dan anak buahnya juga memiliki kekuatan untuk memutar balikkan kebenaran, untuk membingungkan, untuk mengada ada, untuk meniru pekerjaan Tuhan, dan mewujudkan diri sebagai “malaikat cahaya.” (2 Kor 4:3f.)

Dom Peter Flood, seorang yang terpelajar dari (kongregasi) Benediktus Inggris yang terpelajar, seorang dokter dan juga Doktor dalam Hukum Kanonik, menuliskan “kekuatirannya yang dalam” terhadap menyebarnya Petakostalisme diantara banyak orang katholik di Inggris:

Fenomena ini dalam banyak kejadian lebih menyerupai “hysteria massa.” Apa yang disebut dengan “bahasa lidah” tidak mungkin dapat disamakan dengan (fenomena) setelah Yesus diangkat ke Surga (Pentakosta) dimana para Rasul menerima (karunia) berkata kata dengan bahasa lidah, dimana setiap orang yang mendengar mereka berkata kata dalam bahasa mereka masing-masing. Orang orang yang pernah mengalami (karunia) itu di Amerika, telah menggambarkannya dengan baik sebagai gumaman tanpa arti. Semua gerakan tersebut memiliki prototipenya di “holly rollers,” “pengguncang (iman),” dan kebodohan kebodohan lain yang disukai oleh golongan yang kurang terpelajar. Mereka dengan mudah membiarkan diri mereka mengalami ilusi dan intervensi yang tidak bermutu. Saya mengenal pastur pastur yang kehilangan Iman mereka karena ikut serta dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Ada bahaya besar, orang bisa menipu diri sendiri, dan (kita) berharap umat tidak sampai terlena dengan enthusiasme dan (bisa menerima) bahwa tidak akan ada anggota hirarki yang akan menyetujuinya. Karena Roh Kudus tidak membimbing Gereja ke arah tersebut.21

Dom Flood menyinggung fakta dimana komentator-komentator lain telah menyatakan bahwa Pentakostalisme di dalam Gereja Katholik mengandung ide Protestant yang terbukti membawa umat Katholik keluar dari Gereja atau masuk kedalam indiferentisme agama. Ada cerita menarik, Dr. Josephine M. Ford, theology wanita di Universitas Notre Dame, tidak bisa menahan diri untuk menceritakan bagaimana ia telah “di-ekskomunikasi” oleh teman-teman Katholik Pentakostanya, yang telah mengucilkan dia dari pertemuan pertemuan mereka. Dr. Ford menyayangkan sikap elit, kesombongan spiritual, dan semangat sekte Protestant yang telah berkembang diantara rekan-rekannya dalam persekutuan dimana ia sendiri banyak berkontribusi dan memberi semangat. Rekan-rekan Pentakosta nya tidak lagi memberi “salam damai ekaristi” kepadanya ataupun kepada yang lain yang tidak berada dalam “in-group” mereka.22

Seorang lagi penulis tentang Katholik Pentakosta, Pastur Anselm Walker, menulis tentang sebuah isue (yang ditulis di) “Texas Catholic Herald” tahun 1971:

“Semua orang bisa melihat, dan seharusnya juga bisa dijadikan bukti bagi orang orang Katholik Pentakosta yang (selama ini) dibodohi, bahwa ini adalah sebuah serangan dari luar yang sekarang membakar hati Katholik, dan bahwa penghakiman Tuhan dan kebinasaan sudah menunggu mereka yang melakukannya.”

Pastur Anselm Walker, yang melakukan penelitian gerakan Pentakosta dalam Protestanteism, secara tajam mengkritik orang Katholik Pentakosta yang menggunakan peletakan-tangan untuk melakukan “Baptisan Roh”:

“Saya telah mengikuti beratus ratus persekutuan / pelayanan Pentakosta ketika saya masih muda, saya dapat mensharing pengalaman saya bahwa tingkah laku seperti demikian adalah sesuatu yang sama sekali baru, angan angan yang indah dan dipahami secara salah oleh kawan kawan Katholik Pentakosta kita. Tidak ada kebaktian Pentakosta apakah itu Assemblies of God atau Oneness Pentecostal Churches atau di sekte sekte lainnya, dimana saya pernah melihat orang meletakkan tangan pada orang lain untuk berkomunikasi dengan Roh Kudus… Karena orang orang Pentakosta dalam variasi keKatholikannya menyatakan bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan Roh Kudus, maka ini jelas adalah bukti sebuah inovasi, dan karena mereka mengklaim bahwa ini adalah efek dari (Sakramen) Baptis dan Penguatan yang telah diterima, maka ini akan merendahkan nilai sebuah Sakramen tidak peduli apa motivasi dan apa yang telah diterima oleh orang tersebut….”

Penerimaan terhadap gerakan Pentakosta di dalam Gereja Katholik akan menghalangi persatuan dengan gereja gereja Ortodoks Timur. Seorang pendeta Ortodoks Rusia ketika membandingkan dengan kekayaan tradisi monastic Timur secara blak-blakan menyatakan gerakan Pentakosta sebagai kesalahan / pembodohan spiritual :

Jika kita meninjau dengan seksama tulisan tulisan tentang “menghidupkan kembali (karunia) karismatik” kita akan menemukan bahwa gerakan ini menyerupai sekte sekte masa lalu yang sebagian besar atau malah seluruhnya didasarkan pada suatu doktrin yang aneh atau praktek religius tertentu. Satu satunya perbedaan adalah bahwa (gerakan Pentakosta ini) mendasarkan diri pada salah satu hal yang tidak pernah dianggap penting (relative baru) bagi sekte sekte yang pernah ada di masa lalu: bahasa lidah…. Ini sekali lagi adalah sebuah contoh penekanan yang berlebihan yang pasti tidak ditemukan di Perjanjian Baru, dimana bahasa lidah sudah dikatakan memiliki makna yang tidak penting, yang hanya bertujuan sebagai tanda turunnya Roh Kudus pada Hari Pentakosta (Kis 2) dan 2 peristiwa lainnya (Kis 10 dan 19). Setelah abad pertama atau kedua, tidak ada catatan sejarah sama sekali tentang (adanya fenomena) itu di sumber ortodoks manapun, dan tidak juga tercatat di antara Bapa bapa padang pasir Mesir, yang sangat penuh dengan Roh Allah dimana mereka melakukan banyak keajaiban yang mengagumkan – bahkan membangkitkan orang mati. Sikap yang ortodoks terhadap bahasa lidah yang otentik, dapat disimpulkan dari tulisan St. Agustinus (Penjelasan terhadap Yohanes 6:10): “Pada waktu itu Roh Kudus turun ke atas mereka yang percaya, dan mereka berbicara dengan bahasa yang tidak pernah mereka pelajari, seperti yang telah diberikan oleh Roh kepada mereka. Ini adalah tanda tanda yang akan ada di segala jaman. Tepatlah untuk mengatakan bahwa tanda dari Roh Kudus yang mengalir di semua lidah menunjukkan bahwa Injil Tuhan harus juga mengalir dari semua lidah di seluruh penjuru bumi. (Mukjizat) ini terjadi sebagai tanda, dan juga untuk dilanjutkan (kepada yang lain).” Dan seakan ingin menanggapi penekanan yang aneh yang dilakukan oleh (orang-orang) Pentakosta saat ini, St. Agustinus melanjutkan: “Dan sekarang kita berharap orang-orang yang mendapatkan peletakan tangan, harus berbicara dalam bahasa lidah? Dan ketika ia melihat bahwa mereka tidak (dapat) bicara dalam bahasa lidah, apakah ada diantara kamu yang tetap bersikeras untuk berkata – Orang-orang ini belum menerima Roh Kudus?”23

Pastur Anselm Walker juga memberi catatan:

“Orang-orang Pentakosta Modern, untuk membenarkan penggunaan karunia lidah yang mereka lakukan, mengacu hampir seluruhnya pada Surat Pertama St. Paulus kepada umat di Korintus (bab 12 – 14). Namun St. Paulus menulis hal tersebut karena “bahasa lidah” telah menjadi sumber kekacauan di Gereja di Korintus; dan meskipun ia tidak tidak melarang mereka, ia secara sengaja mengurangi signifikansinya. Jadi pasal ini, seharusnya, bukan pembenaran untuk menghidupkan kembali (karunia) “lidah,” malah sebaliknya, meragukannya – terutama ketika seseorang menemukan (seperti yang telah diakui sendiri oleh orang-orang Pentekostal) bahwa ada beberapa sumber karunia lidah selain Roh Kudus!”

Dan sang Theolog Ortodoks Rusia juga tidak ragu ragu untuk menyatakan bahwa Pentakostaisme berada di posisi “yang sangat berlawanan dengan tradisi Ortodoks dan nubuat”:

Adakah seorang Kristen yang bijaksana masih kebingungan (untuk membedakan antara) permainan psikis yang berbahaya ini dengan karunia-karunia Roh Kudus? Tidak ada satupun (unsur) Kristen, tidak ada sedikitpun (unsur) spiritual. Ini adalah dunia mekanisme psikis yang dapat diatur dengan teknik psikologis atau teknik fisik tertentu, dan juga “bahasa lidah” kelihatannya menempati peran penting sebagai “pemicu” dalam dunia ini. Di setiap kejadian, kita dapat memastikan tidak ada kemiripan sama sekali dengan karunia spiritual yang digambarkan di Perjanjian Baru dan, dan jika kita ingin membandingkan, mungkin lebih mirip dengan “bahasa lidah” di shamanisme, suatu upacara dalam agama primitive, dimana shaman atau dukun memiliki cara untuk menjadi kesurupan lalu memberikan sebuah pesan dari atau kepada seorang “tuhan” dalam bahasa yang asing baginya…. Pembandingan dengan shamanisme bukanlah sesuatu yang berlebihan, terutama jika kita mengerti bahwa shamanisme primitive memiliki sebuah ekspresi yang dapat dikatakan sebagai sebuah fenomena “agama”, yaitu mediumisme, yang tidak asing lagi bagi dunia modern barat, yang juga memiliki peran penting dalam kehidupan beberapa (denominasi) “Kristen”.24

Seorang penulis Katholik Byzantine, Helle Georgiadis, editor dari majalah eukumene, “Chrysostom”, juga memperkuat pendapat dari theolog Ortodoks Rusia diatas:

“Dari sudut pandang Timur, spiritualitas kontemporer dari gerakan Pentakosta dapat dilihat sebagai suatu lingkungan yang asing bagi pertumbuhan dalam hidup Roh. Sepintas terasa agak paradoks ketika spiritualitas dihubungkan secara dekat dengan theology kesurupan. Dimana Timur biasanya selalu memiliki nubuat dan penyembuhan dan manifestasi manifestasi sejenis dalam perjalanannya. Namun ada dua aspek dari Pentakostaisme yang sangat asing di tradisi Timur. Ungkapan tanpa kata kata banyak dilakukan, bahkan oleh orang-orang yang amat saleh, namun berusaha memasukkan “bahasa lidah” dalam kategori ini terasa seperti menolak martabat manusia yang telah ditebus, status ahli waris bersama sama dengan Kristus, dan misi Roh Kudus untuk menerangi pikiran dan hati manusia.

Aspek lainnya adalah penekanan terhadap (pentingnya) pengalaman yang ‘dapat dirasakan’ yang ditekankan oleh orang-orang Pentakosta. Sekali lagi, meskipun manusia benar benar bisa merasakan kehadiran nyata Roh Kudus, usaha untuk mencari sensasi pengalaman selalu dipandang berbahaya dan merupakan suatu tujuan yang tidak memiliki jaminan.”25

Masih banyak lagi yang dapat ditulis tentang bahaya spiritual yang berasal dari keterlibatan dalam Gerakan Katholik Pentakosta – dimana “kebajikan” dan fenomena fisik yang ditunjukkan sangat bertentangan dengan spiritualitas tradisional Katholik, baik di Barat maupun di Timur. Mungkin karya (tulis) terbaik yang dapat menunjukkan sifat ketidak ortodoks-an Pentakostaisme dan agama agama “entusiastik” yang mengarah pada perusakan spiritual adalah tulisan Pastur Ronald Knox “Entusiasme”.26 Ini tetap menjadi bahan bacaan wajib (bagi orang Katholik Pentakosta) hingga kini.

Sebagai kesimpulan, kita ingat tulisan tulisan Uskup Agung Portland, Robert Dwyer, baru baru ini, bahwa kesesatan-kesesatan Gnostik telah dihidupkan kembali dalam pengungkapan spiritual dari Katholik Pentakosta – yang tidak terlalu bergantung pada Gereja seperti (gerakan-gerakan) lainnya dan sepertinya tidak mengakui spiritualitas dan kebajikkan-kebajikan dari orang orang Kudus kita. Yang terasa mengganggu bagi sebagian pengamat Pentakostaisme dalam Gereja adalah bahwa sikap “laissez-faire” (membiarkan, membebaskan) di Negara kita dapat mengakibatkan kekacauan spiritual yang berlarut-larut dan luka emosional diantara orang-orang Katholik yang kurang mengerti (ajaran Gereja). Kemudian, fenomena bahasa “lidah” dalam beberapa kasus memiliki karakter roh jahat dan merusak, kekayaan spiritual dari mereka yang mengikuti aktifitas Pentakosta sebenarnya amat berbahaya.

Seperti yang dituliskan diatas, pernyataan yang dibuat oleh Komite Doktrin Uskup se-Amerika Serikat telah berumur lebih dari tiga setengah tahun. Tentunya, sudah waktunya untuk mencermati dan mengevaluasi kembali (konsep) Pentakostaisme dan kesimpulan kesimpulannya. [ Sekarang, tiga puluh tahun kemudian, masih ditemukan kesalahan doktrin dan spiritual dalam Gerakan Pembaharuan Karismatik, yang perlu untuk mendapatkan perhatian dari uskup-uskup Katholik, pastur dan umat. – J.L ]

Catatan kaki:

1. Cf. Acts 3:1-10; 4:30; 5-12-16.
2. John Hardon, S.J., Christianity in the Twentieth Century (Doubleday and Co., N. Y.; 1971), p. 211.
3. Ibid.
4. Cf. John L. Peter’s Christian Perfection and American Methodism (Abingdon Press, N. Y., 1956), p. 63.
5. Cf. the article by Father F. A. Sullivan. S.J., “Pentecostal Movement” in Gregorianum (Vol. 53 Fasc. 2, 1972), pp. 238-265.
6. John Hardon, S.J., op. cit., p. 211.
7. Cf. Father F. A. Sullivan, S.J., op. cit., p. 261.
8. This three-fold division is made by Father F. A. Sullivan, S.J., idem, pp. 238-240.
9. Cf. the brochure by William F. McMahon on the Community of the Holy Spirit, Geneva, Illinois, wherein is also stated that “Baptism in the Holy Spirit is normal expectation of members after instruction and prayer.” Also, “participating membership is open to those who wish to share in the life of the Community of the Holy Spirit, who are not members of the Catholic Diocese of Rockford; i.e., Catholics of other Dioceses, and other Christians of various Christian Churches. The degree of their participation is subject to the general and particular law of the Church and the Diocese.”
10. James Byrne, Threshold of God’s Promise: An Introduction to the Catholic Pentecostal Movement (Ave Maria Press, Notre Dame, Indiana; 1971), p. 78.
11. An address given by Father John Hardon, S.J., to the New York Archdiocesan Clergy, April 20-21, 1971.
12. Sullivan, op. cit.
13. Father Edward D. O’Connor, The Pentecostal Movement in the Catholic Church (Ave Maria Press, Notre Dame, Indiana; 1971), p. 180.
14. Cf. Father Robert Wild’s article “Is the Charismatic Renewal in the Church a New ‘Montanism’?” in Homiletic and Pastoral Review (Dec., 1972), pp. 67-72.
15. Cf. Father F. A. Sullivan, S.J., op. cit.
16. Cf. 1 Cor. 14:34-36.
17. Cf. the article “Charismatics and Pentecostals” in Christian Order (Oct. and Nov., 1972) wherein Father Joseph Crehan, S.J., notes: “modern commentators, e.g., G. W. Lampe and C. S. Williams agree on this way of taking the passage.” p. 572.
18. Werke, (Erl. ed. 53), p. 342.
19. Dr. Josephine Ford, The Pentecostal Experience (Paulist Press, N. Y.; 1970), p. 54.
20. Address, op. cit.
21. London Catholic Herald, Aug. 11, 1972.
22. National Catholic Reporter, July 15, 1972.
23. The Orthodox Word, March-April, 1972.
24. Ibid.
25. Chrysostom, (Winter, 1972-73), pp. 139-140.
26. Father Ronald Knox, Enthusiasm (Oxford University Press, N. Y.; 1961), p. 622.

sumber asli [bhs inggris]

diterjemahkan dari: ekaristi.org

About these ads

About Andreas

"In modico fidelis! — faithful in little things. Your job, my son, is not just to save souls but to bring them to holiness, day after day, giving to each moment — even to apparently commonplace moments — the dynamic echo of eternity." ~ St. Josemaria Escriva Lihat semua pos milik Andreas

Pengunjung yang berkomentar bertanggung jawab atas tulisannya sendiri, semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengedit semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.662 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: