Kardinal Ranjith Seputar Liturgi dan Inkulturasi (Part 5)

Dalam Anjuran no 62, paus menyarankan bahwa perayaan Misa dalam Bahasa Latin dan penggunaan Gregorian Chant dapat dilakukan pada kesempatan tertentu dalam bagian liturgi. Apa yang anda pikirkan tentang apa yang dirasakan umat katolik Asia tentang ini? Sudahkah anda mendeteksi keinginan untuk Misa dalam bahasa Latin diantara umat katolik Asia?

 

Sacrosanctum Concilium tidak pernah mendukng pengabaian total bahasa latin atau Gregorian chant. SC menyatakan bahwa “penggunaan bahasa latin, kecuali ketika hukum tertentu mengatur hal sebaliknya, harus dipertahankan dalam ritus latin…Tapi karena penggunaan bahasa pribumi…seringkali bisa menjadi keuntungan besar bagi orang-orang, penggunaan yang lebih luas dapat dibuat khususnya dalam pembacaan, instruksi dan beberapa doa dan chants (lagu pujian)” [SC 36 L 1-2]. Selain itu, SC mengharapkan “tempat yang pantas diberikan bagi bahasa pribumi dalam misa yang dirayakan dengan umat, khususnya dalam bacaan dan ‘doa umum’, dan juga sebagai kondisi lokal yang menjamin, dalam bagian-bagian yang menjadi bagian umat” [SC 54]

Dalam kutipan yang sama, Konsili menghendaki kepedulian diperhatikan “memastikan bahwa kaum beriman juga sanggup untuk mengatakan atau bernyanyi bersama dalam bahasa latin bagian-bagian ordinary Misa yang menjadi bagian mereka” [ibid].

Poinnya adalah bahwa bahasa pribumi bukanlah bahasa normal liturgi dari Sacrosanctum Concilium tapi bahasa Latin, dengan ijin yang diberikan bagi bahasa pribumi untuk digunakan dalam area yang khusus seperti bacaan, beberapa doa dan chants dan bagian-bagian umat. Apa yang menonjol adalah bahwa SC mendukung penggunaan bahasa Latin bahkan dalam “bagian-bagian Ordinari Misa yang menjadi bagian umat”

Sayangnya, pengabaian semu total dari Bahasa Latin terjadi hampir dimana-dimana segera setelah Konsili, jadi hanya generasi katolik lama di Asia yang memiliki gagasan penggunaan Bahasa Latin dalam liturgi dan Gregorian Chant. Dengan vernakularisasi liturgi yang kutan dan pembentukan seminari, penggunaan bahasa Latin hampir sama sekali menghilang dari sebagian besar Asia.

Aku tidak yakin jika ada kerinduan yang ditandai dengan kembalinya bahasa Latin dalam liturgi di Asia. Saya berharap demikian. Beberapa orang katolik yang menyadari keindahan bahasa Latin mengemukakan keinginan seperti itu. Mereka telah melihat atau datang untuk mengalami liturgi yang dirayakan dalam bahasa Latin di Roma atau tempat lain dan terpesona olehnya. Orang lain terpeseona oleh Ritus Latin lama, Misa Pius V sekarang dirayakan di beberapa tempat di Asia.

Tapi porsi umat katolik Asia, lebih besar masih tidak menyadari nilai bahasa Latin dalam Misa Kudus. Aku penasaran apa yang akan mereka katakana jika suatu bentuk bahasa latin diperkenalkan kembali. Mereka mungkin menyukainya, dan mengetahui semangat devosi yang dibawa umat katolik Asia dalam diri mereka, hal ini tentu membantu memperdalam iman mereka labih jauh. Umat kita tahu bahwa tidak semua realitas ilahi berada dalam jangkauan pemahaman manusia dan bahwa harus ada ruang untuk suatu kesadaran misteri spiritual dalam pemujaan.

Selain itu, hal ini baik untuk Gereja di Asia tidak untuk tetap memotong dari tren-tren baru yang muncul secara universal, salah satunya adalah apresiasi baru warisan Gereja Latin bi-milenial. Bukan dimaksudkan bahwa kita mengabaikan bahasa pribumi (vernakular) dan menerima Latin in toto. Suara dan penggunaan bahasa latin yang sungguh-sungguh, sejalan dengan SC, akan menjadi keuntungan bagi semua. Selain itu, di Asia beberapa agama lain mempertahankan bahasa “liturgis” resmi, seperti Sanskrit untuk Hinduisme dan Pali untuk Buddhisme. Ini bukanlah bahasa sehari-hari tapi hanya digunakan dalam pemuhaan. Bukankah mereka mengajarkan kita pelajaran bahwa “bahasa liturgis” yang tidak umum digunakan bisa lebih baik mengemukakan mistisisme batin dari “Kekudusan” dalam pemujaan?

About these ads

About Cornelius

"The day will come, dear boy, when you must decide whether to die within the Church or outside the Church. I have decided to die within the Church." - Malcolm Muggeridge Lihat semua pos milik Cornelius

Pengunjung yang berkomentar bertanggung jawab atas tulisannya sendiri, semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengedit semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.631 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: