Arti Dari PraPaskah Dan Perempuan Samaria

Arti sesungguhnya dari PraPaskah

oleh: Dr. Marcelino D’Ambrosio

Arti dari praPaskah: Artikel ini, mula-mulanya ditulis sebagai refleksi dari bacaan Kitab Suci Minggu ke tiga dari praPaskah, melihat arti yang sesunggunya dari praPaskah di jaman Gereja perdana dan menunjukkan kpada kita bagaimana dialog Yesus dengan wanita Samaria di dekat sumur bisa membantu kita menambah dimensi lain kedalam pengertan kita dan pengalaman dari masa praPaskah ini.

PraPaskah adalah waktu untuk introspeksi. Kita membaca Kitab Keluaran, dan melihat umat Israel menggerutu, meskipun setelah Tuhan melakukan tidakan yang mengagumkan kepada mereka (Kel 17:3-7). Di dalamnya, kita mengenal diri kita sendiri. Kebanyakan dari kita, maka dari itu, praPaskah merupakan waktu untuk padanan spiritual dari resolusi Tahun Baru. Kita mengesampingkan karya pada diri kita sendiri selama empat puluh hari, jadi kita tidak berakhir mengembara di padang gurun selama 40 tahun. Kita melakukan sesuatu untuk membakar kelebihan lemak yang membuat berat kita turun, mencoba untuk memperbaiki diet spiritual kita, dan melakukan beberapa latihan spiritual yang berarti untuk memperkuat otot-otot yang kita sebuat “kebajikan.”

Tapi di jaman Gereja perdana, praPaskah tidak ada begitu banyak waktu untuk fokus kedalam. Saat itu merupakan jamannya Katolik untuk fokus keluar. Ini adalah waktu bukan untuk pertumbuhan pribadi, tapi untuk pertumbuhan Gereja.

Pada masa Bapa Gereja, apakah seluruh Gereja berpuasa, berdoa dan memberi amal selama empat puluh hari Paskah terdahulu? Tentu saja. tetapi Katolik melakukan terutama semata-mata ini untuk demi orang lain daripada diri mereka sendiri. Ada dua grup orang yang menjadi penerima manfaat utama dari doa ini dan penyesalan terhadap dosa: Katolik baru, harus di babtis pada saat Paskah dan Katolik yang tergelincir, diijinkan untuk kembali untuk bersatu. Orang-orang ini berdoa dan berpuasa selama praPaskah untuk menghancurkan kekuatan kegelapan didalam persiapan mereka untuk menyeberangi sungai Yordan ke Tanah Perjanjian melalui babtis dan penyesalan terhadap dosa.

Kita harus memulihkan tradisi kuno ini dan melakukan penyesalan terhadap dosa untuk dan dengan mereka yang berkehendak memasuki atau kembali kepada Gereja pada Paskah. tetapi ada suatu hal lain yang harus kita lakukan. Ada jutaan lebih yang harus kembali atau masuk. Kita perlu untuk memberitahu mereka tentang Yesus.

“Evangelisme? Itu bukan karisma ku, bukan kepribadianku.” “Pertama-tama. Aku perlu lebih banyak pendidikan.” “Aku mengevangelisasi dengan cara memberikan contoh.” Tapi Konsili Vatikan ke II dan semua Paus sejak mengajar bahwa semua Katolik dipanggil untuk mengevangelisasi di keduanya, perbuatan dan perkataan.

Benar, setiap orang bukanlah Fulton Sheen, dan setiap orang tidak bisa mengatur untuk mendapatkan gelar dalam teology. Tapi cerita tentang wanita Samaria (Yohanes 4) mengajarkan sejenis evangelisasi-isme bahwa kita semua bisa melakukannya.

Pertama, Yesus memberi contoh untuk kita. Dia datang ke kota dimana semua orang adalah anggota dari sekte bidaah dan duduk dekat sumur. Seorang perempuan datang untuk mengambil air. Orang Israel biasanya tidak berbicara kepada orang Samaria, apalagi minum dari bejana mereka yang kotor. Sebagai tambahan, pria biasanya tidak membuat percakapan dengan wanita. Tapi Yesus mengenali kehadirannya dan memastikan dia dengan bersedia untuk menerima minum dari dia. Begitu dia mendapatkan lebih dari keterkejutannya, sebuah dialog terjadi. Dimulai tentang air, sumur, orang Yahudi dan orang Samaria, tetapi Yesus mengajukan pertanyan kepada wanita itu yang sedikit membuat dia tersentak dan membuat dia berpikir. Yesus akhirnya menanyakan sebuah pertanyaan yang memimpin wanita itu untuk “mengakui” dan menerima kebutuhannya. Perempuan itu lapar akan kasih sayang, dan telah dijalaninya melalui beberapa pasangan, mencari sesuatu yang nyata. Jiwa Yesus menusuk pandangan, mengatakan kepada wanita itu bahwa Dia adalah cinta yang dia cari selama ini. Perempuan itu meninggalkan bejana airnya dan kembali ke kota untuk memberitahukan semua orang tentang Yesus.

Apakah dia menunggu sampai dia medapatkan gelar dalam teology? Apakah dia duduk dengan orang dan mendemonstrasikan dari Kitab Suci kenapa Dia adalah Mesias? Tidak. Perempuan itu hanya mengatakan kepada orang-orang, dengan gembira, percaya diri, dan meyakinkan, apa yang telah Yesus lakukan padanya. Dan dia mengundang orang-orang untuk datang dan ikut mengalami Dia untuk diri mereka sendiri.

Dan itulah bagaimana sebagian besar dari kota yang bidaah datang untuk percaya. Dan itulah bagaimana sebagian besar dari Kerajaan Romawi datang untuk percaya. Disana tidak ada perang salib di stadium, tidak ada pengkotbah di TV. Orang-orang Kristen dengan sederhana mendengarkan kepada tetangga dan rekan kerja dengan rasa hormat dan kasih, menanyakan pertanyaan untuk mencari tahu apa kebutuhan mereka, dan memberi tahu bagaimana Yesus telah memenuhi kebutuhan yang serupa didalam kehidupan mereka. Dan kemudian sebuah undangan telah dikeluarkan, untuk datang kemudian memeriksanya.

Salah satu resolusi masa praPaskah yang lebih bermakna pada tahun ini adalah kita harus mengatasi ketakutan kita untuk berbagi kabar baik, untuk sadar kebutuhan spiritual sekeliling kita,tebarkanlah kasih-Nya, dan undang mereka ke Gereja. Lebih banyak orang sedang mencari dari pada yang anda kira. “Ladang sudah menguning untuk di dituai.” (Yohanes 4:35)

Artkel ini [arti sesungguhnya dari praPaskah] mula-mula muncul di Our Sunday Visitor sebagai refleksi dari bacaan Kitab Suci dari Minggu ke 3 pada praPaskah, tahun A (Kel 17:1-7; Mzm 95, Rm 5:1-8 dan Yoh 4:5-42).

sumber: http://www.crossroadsinitiative.com/library_article/458/Original_Meaning_of_Lent.html

Rm 5:1-8
About these ads

About Andreas

"In modico fidelis! — faithful in little things. Your job, my son, is not just to save souls but to bring them to holiness, day after day, giving to each moment — even to apparently commonplace moments — the dynamic echo of eternity." ~ St. Josemaria Escriva Lihat semua pos milik Andreas

Pengunjung yang berkomentar bertanggung jawab atas tulisannya sendiri, semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengedit semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.661 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: